LOGIN“Oke, aku langsung ke rumahnya, Kak,” jawab Alisha tanpa pikir panjang."Kamu nggak lagi repot kan?" Danesh tinggal seorang diri di Jakarta sejak Iin dan suaminya pindah ke Surabaya, jadi tak ada lagi kerabat yang mereka miliki di ibukota. Namun dengan adanya Alisha, sedikit banyak Iin terbantu jika ada sesuatu yang genting terkait dengan adik lelakinya itu."Nggak, Kak. Aku udah beres ngantor, ini lagi otw ke parkiran." Bagi Alisha, Danesh dan Iin adalah malaikat penolong di saat dirinya benar-benar terpuruk beberapa tahun lalu. Memberi sedikit bantuan seperti ini bukanlah hal yang perlu ia pusingkan.Panggilan Iin terputus setelah ia mengucapkan banyak terima kasih karena Alisha bersedia membantunya. Berjalan cepat menuju tempatnya memarkirkan motor di basement, Alisha hampir lupa untuk menghubungi Arya untuk membatalkan rencana mereka bertemu."Arya," sapa Alisha setelah mengucap salam. Sambil menyalakan motornya ia meletakkan ponsel di telinga kanan."Iya, Sha, baru aja mau aku te
Alisha harus menerima kenyataan, bahwa apa yang didengar dari Hanami semalam bukanlah sebuah mimpi. Arya dan kedua orang tuanya memang datang menemui ayahnya di Banten. Bukan sekedar berkunjung, meminta maaf lalu membahas hubungan kedua anak mereka. Namun Adiyatma dan Hanami dengan tegas langsung melamar Alisha begitu Faris menanyakan keseriusan Arya. “Mama seneng banget akhirnya dua anak mama bakalan menikah secepatnya. Setelah Irawan mulai nampak kejelasan, sekarang Arya dan kamu sudah ada titik terang.” Alisha teringat kalimat yang diutarakan Hanami sesaat sebelum perempuan paruh baya itu pamit undur diri. "Menikah ya? balikan aja masih rencana, ini malah langsung ngomongin nikah."Alisha sadar kalau ia akan terlihat aneh karena berbicara seorang diri di depan cermin. Namun setidaknya kegiatannya berbicara dengan pantulan dirinya sendiri bisa mengurangi sedikit pikirannya yang berkelana liar.Saat ini perempuan cantik itu sedang berada di dalam toilet
Alisha nampak termangu sambil menopang dagunya di tool bar. Meski sedang menatap sang sahabat yang tengah memasak mie instan, pikirannya berkelana tak tentu tujuan."Seharian ini gue nggak lihat si Arya, May," ucap Alisha membuka percakapan.Seperti janjinya pada sang ayah, Alisha benar-benar mengajak Maya untuk tinggal di rumah kontrakannya. Meski awalnya enggan, Alisha berhasil juga membujuk sahabat baiknya itu dengan iming-iming akan menjadi pendukung Maya di depan Pak Yasir, boss besar Alisha yang digadang-gadang akan menjadi calon mertua Maya. Tadi, keduanya pulang kerja bersama setelah terlebih dahulu mampir ketempat kost Maya untuk mengambil baju ganti dan keperluan lainnya."Udah lo samperin ke kantornya?" Maya hanya melirik sekilas ke arah Alisha karena tak ingin mie yang sedang ia rebus akan terlalu matang nantinya."Ya nggak lah! cari mati banget gue kalau sampai naik ke atas demi nyariin dia.""Ya kali aja lo rindu berat, samperin makanya!"Alisha hanya mengerucutkan bibir
"Pokoknya aku nggak jadi ikut ke Banten, Yah. No, besok hari penentuan karirku di Less Giant, karena ada boss besar yang datang dari Singapore."Sebenarnya Alisha hanya sedang beralasan agar tak ikut pulang ke Banten. Namun juga tak sepenuhnya berbohong, karena esok hari Alisha harus menyelesaikan deadline-nya tepat waktu. Soal kedatangan boss besar itu juga tak membual, Alisha hanya merubah redaksinya saja."Lalu ayah harus ninggalin kamu sendirian di sini?""Aku nggak akan macam-macam, Yah." Alisha menunduk dalam sambil meremas jemarinya. Persis seperti anak TK yang baru saja mendapat hukuman dari orang tuanya."Iya, Ayah percaya ... tapi dia ka—""Aku akan ajak Maya tinggal di sini. Tapi aku tetap nggak akan ikut ke Banten malam ini, ya?"Alisha teguh pada keinginannya. Memang pikirannya tentang dinikahkan secara paksa dengan Arya mungkin terlalu jauh. Tapi tetap saja, Alisha enggan mengambil resiko tersebut jika ikut bersama ayahnya malam ini.Faris tak punya pilihan lain. Bekerja
"Ayah..." mencebik, Alisha gegas turun dari tempat tidur dan memeluk lengan sang ayah dengan begitu eratnya. "Maafin Alisha, Ayah masih marah?"Menoleh pelan, Faris justru tersenyum samar lantas mengecup kening putri satu-satunya. "Bagaimana bisa ayah marah terlalu lama sama putri kesayangannya ini," ujarnya dengan suara berat. Mengusap puncak kepala sang putri sambil sesekali memberinya kecupan sayang."Tapi Alisha salah, udah bikin ayah kecewa lagi." Alisha menyandarkan kepala ke pundak sang ayah."Sudah tau kan salahnya apa?"Alisha mengangguk tanpa suara."Kalau sudah tau salahnya apa, harus berani tanggung jawab ya, Nak."Alisha kembali mengangguk meski tak terlalu paham dengan kalimat sang ayah."Ya sudah sekarang kamu sholat dulu, habis itu ikut pulang ke Banten sama ayah."Alisha mendongak seketika. Bisa jadi ayahnya sudah kehilangan kepercayaan padanya, karena itulah beliau ingin membawanya pulang ke Banten. "Yah, aku kerja hari ini.""Kalau begitu ayah tunggu sampai kamu pul
Entah sudah berapa lama Alisha tergugu sambil bersimpuh memeluk lutut sang ayah. Tak kata lain yang keluar dari bibirnya selain kata maaf diselingi lelehan air mata. Tak jauh berbeda, hanya berjarak beberapa jengkal darinya, Arya juga melakukan hal sama. Bersimpuh di depan Faris sembari memohon ampun karena pria separuh baya tersebut harus menyaksikan hal yang tak semestinya ia lihat sebagai orang tua. “Ayah…” panggil Alisha lagi karena sedari tadi Faris terdiam sambil menekan-nekan pelipisnya dengan kedua jari tangan. “Ayah, maafin kami, Yah,” imbuhnya lagi lantas merebahkan kepala di atas pangkuan sang ayah. “Sha, apa nggak cukup penderitaanmu dulu? kamu mau mengulang hal yang sama lagi, hah?” Akhirnya Faris buka suara dengan nada cukup tegas. “Ar- Arya nggak kayak dulu lagi, Yah. Dia udah berubah,” jawab Alisha masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata. Sedangkan Arya yang mendengar kalimat Alisha n







