Share

Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion
Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion
Author: Bintangjatuh

1. Perjodohan, Lagi?

Author: Bintangjatuh
last update Last Updated: 2025-10-07 17:30:35

Malam ini Aurora tengah disibukkan dengan pekerjaannya di dalam sebuah paviliun pribadi, sebuah bangunan modern minimalis yang terpisah di halaman belakang rumah utama keluarga. Paviliun yang biasa menjadi guest house itu ia sulap menjadi ruang kerja yang lengkap dengan segala fasilitasnya.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Tok.. tok.. tok...

"Masuk aja, pintunya nggak aku kunci," ucapnya agak teriak.

"Malam sayang," sapa bunda Aurora yang bernama Martha.

"Malam bun." Aurora menoleh sekilas lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Setumpuk kertas berisi sketsa gaun berserakan di mejanya, dan di tangannya sibuk memilah mana yang akan masuk ke koleksi terbaru.

"Ini sudah malam loh, harusnya kamu sudah istirahat." Martha mendudukan dirinya di sofa ruang kerja putrinya itu.

"Iya bun, sebentar lagi ya, soalnya ini tanggung."

Martha mendengus. "Kebiasaan."

"Buat acara apa emangnya?"

"Bukan buat acara apa-apa bun. Ini untuk koleksi terbaru minggu depan. Aku masih mau milih mana yang paling cocok."

Martha mengangguk mengerti. "Oh iya.. untuk acara Fashion Show kamu itu. Gimana perkembangannya? Apa sekarang sudah dapat sponsor utama?"

Aurora menggeleng pelan. "Belum bun, masih nyari. Hana juga masih terus ngajuin proposal ke beberapa perusahaan. Ada banyak perusahaan yang tertarik, tapi mereka belum bisa ngasih yang aku mau. Belum bisa meng-cover seluruh anggaran yang aku butuhkan. Mereka nggak berani, terlalu takut mengambil risiko."

Martha mengangguk mengerti. "Bagaimana jika... kamu terima saja tawaran ayah waktu itu?"

"Bunda, sudah aku katakan sebelumnya. Meskipun ayah bertindak sebagai sponsor/investor, aku tidak ingin memakai dana dari keluarga Meschach," ucap Aurora hati-hati, takut menyinggung sang Bunda.

Bundanya menggeleng. Putrinya ini memang benar-benar berprinsip dan juga keras kepala. Mengingatkan dirinya di masa muda.

Hening sebentar, lalu ....

"Aurora, sayang.. bisa ke sini sebentar.." Martha meminta dengan intonasi serius sambil menepuk sofa di sampingnya.

Mendengar permintaan itu, Aurora langsung tak enak hati, pasalnya jika sang bunda sudah berbicara dengan intonasi seperti itu, akan ada hal serius yang menyangkut kehidupannya.

"Aurora?" panggilnya dengan suara yang lembut namun terkesan tegas.

"Hah? Oh iya bisa bun."

Aurora mengampiri bundanya dengan raut wajah yang tak terbaca. Lantas dia duduk di samping Bundanya.

"Ada apa, bun?"

Martha mendaratkan tangan kirinya pada paha putrinya itu.

"Gini... Bunda ingin kamu bertemu dengan putra temennya bunda..."

"Bunda, aku tidak mau di jodohkan," balasnya cepat.

"...bukan menjodohkan. Bunda cuma pengen kamu ketemu dulu orangnya. Habis itu kamu boleh menentukan mau melanjutkan ke hubungan yang lebih serius atau tidak," sambung Martha

"Itu sama saja dengan menjodohkan bun," ucap Aurora ketus.

"Beda dong, ini mempertemukan bukan menjodohkan, sayang." Martha mengelus punggung putrinya.

"Menurutku sama saja bun."

"Kamu memang keras kepala. Intinya bunda mau kamu ketemu sama anak sahabat bunda titik," sambungnya cepat

Aurora mendelik aneh. "Tadi katanya temen, sekarang sahabat. Jadi mana yang betul bun?"

Martha tampak berpikir sejenak. "Ya.. pokoknya intinya sama."

"Ya ampuuun... beda dong bun,"

"Lagi pula temen bunda yang mana sih, bun? Hampir semua temen bunda, sahabat bunda itu semuanya aku tau."

"Hampir kan? berarti belum semuanya kamu tau."

"Iiiih bundaaaa." Aurora memelas seraya menggelengkan kepalanya.

"Bunda ingat terakhir kali aku ketemu anak temen Bunda? nggak berhasil bun. Jangan aneh aneh lagi deh. Pokoknya rencana bunda menjodohkan aku nggak akan berhasil, serius deh bun." Aurora mengerling kepada Bundanya.

"Itu karena kamu tidak ada niat dan kamu terlalu cuek."

"Kan memang dari awal aku bilang nggak mau. Lagi pula, aku masih muda, masih mau berkarir, belum mau terikat dengan siapapun."

"Setidaknya kamu harus mencoba dulu. Yang ini, bunda jamin kamu bakalan suka deh," ucapnya sedikit antusias.

"Dengarkan Bunda, Ra. Peraturannya masih sama dengan yang lalu. Kalau kamu ngerasa nggak match atau dia yang menolak, maka pertemuan berakhir di kali pertama kalian bertemu."

"Lagian... Bunda juga nggak habis pikir sih. Kenapa Anak cantik, cerdas dan membanggakan seperti kamu bisa-bisanya di tolak. Apa jangan-jangan kamu yang mengancam mereka?" tanya Bundanya penuh selidik.

Aurora lantas bangkit dari duduk nya seraya berucap, "Apa sih Bun? jangan ngaco ah."

Aurora lalu berjalan ke arah meja kerjanya. "Bun, kalo nggak ada yang mau disampaikan lagi. Aku mau lanjutin kerjaan dulu yaa."

Martha mendengus geli, selalu seperti ini.

"Yasudah silahkan lanjutkan, nanti kita bicarakan lagi. Jangan terlalu malam, ingat! Kamu itu manusia, bukan robot. Butuh istirahat juga."

"Iya bun."

"Bunda tetap mengharapkan pertemuan antara kamu dan anak sahabat bunda itu terjadi," ucap Martha sambil bangkit dari sofa lalu keluar.

Selepas Bundanya keluar, lantas Aurora termenung sesaat. "Maafkan aku bun, aku tidak bermaksud membangkang. Aku hanya tidak ingin menambah luka dihatiku lagi"

Aurora Iskandar Meschach adalah anak pertama dari salah satu pasangan dokter paling dihormati di kota itu. Ayahnya, Fattah Iskandar Meschach, adalah seorang dokter ahli bedah kardiotoraks legendaris yang kini memimpin sebuah rumah sakit swasta miliknya sendiri. Sementara ibunya, Martha Adinda Meschach, adalah seorang dokter bedah saraf yang brilian.

Tumbuh di tengah dunia medis yang penuh presisi dan kecerdasan, Aurora justru memilih jalan yang berbeda.

Alih-alih mengikuti jejak orang tuanya, ia lebih memilih menjadi seorang Desainer Busana dan merintis usahanya sendiri, ia menjadi pemilik sebuah butik yang mulai dikenal masyarakat luas. Dan, diusianya yang sudah menginjak seperempat abad ini, dia masih nyaman dengan status lajangnya. Bukan tidak mau membuka hati untuk para pria diluaran sana, hanya saja kejadian di masa lalu membuatnya berfikir ribuan kali untuk menjalin suatu hubungan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   154.

    Setelah Galaxy kembali sibuk dengan dunia mayanya di sofa, Aurora melanjutkan sarapannya. ​Setelah beberapa suap, Rasya menyendokkan bubur lagi, lalu mendekatkannya ke bibir Aurora. ​"Satu suap lagi ya, Baby?" bujuk Rasya lembut. ​Aurora menggeleng pelan, menutup mulutnya rapat. "Udah, Mas. Perut aku rasanya penuh banget." ​Rasya melirik mangkuk bubur yang sebenarnya masih tersisa seperempat. Kalau dalam kondisi normal, ia pasti akan memaksa istrinya makan lebih banyak. Namun, ia tahu kondisi pencernaan Aurora pasca operasi belum sepenuhnya normal. ​"Oke, nggak apa-apa," ucap Rasya pengertian. Ia meletakkan mangkuk itu ke meja nakas. Rasya lalu mengambil gelas berisi air putih dengan sedotan, membatu Aurora minum beberapa teguk untuk membilas mulutnya. ​Setelah selesai, Rasya mengambil tisu, membersihkan sisa air di sudut bibir istrinya dengan gerakan sangat hati-hati. ​Perlakuan manis itu membuat Aurora memejamkan mata, menikmati sentuhan suaminya. Rasya menyingkirkan

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   153.

    Rasya duduk di tepi ranjang, dengan telaten menyuapi bubur halus ke mulut Aurora. Setiap suapan ia tiup dulu dengan sabar, memastikan tidak terlalu panas.​Sementara itu, di sofa panjang, Galaxy sedang rebahan santai dengan kaki menyilang, matanya terpaku pada layar ponsel.​"Oiya, Kak Rara. Hampir lupa," celetuk Galaxy tiba-tiba, memecah keheningan sarapan itu.​Aurora menelan buburnya, lalu menoleh pada adiknya.​"Apa, Gal?"​Galaxy bangun dari posisinya, duduk tegak dengan mata berbinar.​"Selamat ya. Kak Rara beneran gila," Galaxy menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Sumpah, Kakakku ini sinting."​"Kak Rara tau nggak? Kemarin pagi Head Nurse di bangsal aku—yang biasanya galak kayak singa betina dan nggak peduli dunia luar—tiba-tiba ngomongin 'The Rebirth' pas lagi visit pasien."​Mata Aurora sedikit melebar. Sendok di tangan Rasya berhenti di udara.​"Serius? Sampe Jerman?" tanya Aurora tak percaya.​"Bukan cuma Jerman. Tuh..." Galaxy menyodorkan HP-nya dari kejauhan. "Satu Ero

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   152.

    Jarum jam dinding menunjuk angka satu dini hari.Di ranjang pasien, napas Aurora terdengar teratur. Wajahnya damai, seolah tidak baru saja melewati pertarungan hidup dan mati.Pintu kamar mandi ruang inap itu terbuka.Rasya keluar dengan rambut basah dan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos bersih dan celana bahan yang lebih nyaman. Aroma sabun maskulin menguar, sedikit menyamarkan bau antiseptik rumah sakit yang seharian menempel di badannya.Rasya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, lalu berjalan mendekati sofa panjang di dekat jendela.Di sana, Galaxy duduk bersandar sambil memainkan ponsel, menjaga shift-nya sesuai janji. "Aurora udah tidur lagi?" bisik Rasya, melirik ke arah ranjang.Galaxy mengangguk, sekilas mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Pules banget. Efek cokelat sama obat tidur. Aman. Bang Rasya istirahat aja."Rasya menghela napas panjang, lalu meng

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   151.

    Hujan gerimis memukul kaca jendela, menciptakan irama yang sendu di dalam ruangan yang hening itu.Rasya duduk di kursi samping ranjang, menunduk dalam, tangannya masih menggenggam tangan Aurora yang tertidur pulas karena pengaruh obat yang disuntikkan dokter dua jam lalu.Tiba-tiba, pintu kamar tersentak terbuka, membentur stopper karet di dinding, sebelum ditahan oleh tangan yang gemetar.Seorang pria muda menerobos masuk. Napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya, dadanya naik turun di balik hoodie abu-abu yang ditumpuk coat tebal.Rambutnya lepek terkena hujan, dan ada tas ransel sedang yang menggantung miring di bahunya.Galaxy berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di sosok wanita yang terbaring lemah di ranjang.Melihat Aurora—yang tampak tenggelam di antara selang oksigen dan selimut rumah sakit—bahu Galaxy merosot. Topeng ceria yang biasa ia pakai, retak sejenak."

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   150.

    Roda brankar berdecit halus saat didorong masuk ke dalam ruangan luas itu.Berbeda dengan ruang pemulihan yang dingin dan penuh alat, ruangan ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Lantainya berlapis parket kayu hangat, ada sofa kulit panjang di sudut, pantry kecil, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan langit malam Paris.Namun, bagi Rasya, kemewahan itu nomor sekian. Yang terpenting adalah kenyamanan istrinya."Hati-hati," tegur Rasya tajam saat perawat hendak memindahkan tubuh Aurora dari brankar ke tempat tidur pasien."Tolong pelan-pelan. Jangan ada guncangan di perutnya," perintah Rasya dalam bahasa Inggris yang fasih namun penuh penekanan.Para perawat itu mengangguk patuh, bekerja ekstra hati-hati memindahkan Aurora. Rasya ikut memegangi kepala dan bahu istrinya, memastikan pergerakannya seminimal mungkin.Setelah Aurora berbaring sempurna di kasur empuk itu, Rasya langsung memeriksa semuanya. Ia membetulkan l

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   149.

    Isak Aurora membuat dada Rasya sesak. Melihat keputusasaan di mata istrinya adalah siksaan terberat. Rasya menggeleng cepat. Ia tersenyum, lalu membawa tangan Aurora, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas perut wanita itu yang kini terbalut perban pasca operasi. "Dia masih di sini," ucap Rasya, menekan lembut tangan Aurora ke perutnya sendiri. Aurora terdiam, menatap suaminya bingung. Air matanya terus menetes. "Hah?" "Anak kita kuat banget, Baby. Persis Ibunya. Dia masih di dalem. Jantungnya masih berdetak." Mata Aurora membelalak lebar. Bibirnya gemetar hebat. "Bo... hong..." "Aku nggak bohong demi Allah," Rasya terisak bahagia, mencium punggung tangan istrinya bertubi-tubi. "Dia bertahan. Dia selamet. Kamu berhasil lindungin dia." Mendengar itu, tangis Aurora pecah. "Ya Allah..." Aurora menangis tersedu-sedu, memeluk perutnya sendiri dengan protektif meski tangannya gemetar. "Anakku... anakku masih ada..." "Anak kita, Baby," koreksi Rasya, memeluk kepala Aurora,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status