LOGIN
Malam ini Aurora tengah disibukkan dengan pekerjaannya di dalam sebuah paviliun pribadi, sebuah bangunan modern minimalis yang terpisah di halaman belakang rumah utama keluarga. Paviliun yang biasa menjadi guest house itu ia sulap menjadi ruang kerja yang lengkap dengan segala fasilitasnya.
Tok.. tok.. tok... "Masuk aja, pintunya nggak aku kunci," Aurora menyahut sedikit keras dari balik meja kerjanya. "Malam sayang," sapa Martha saat melangkah masuk. "Malam, Bunda." Aurora menoleh sekilas. Setumpuk kertas berisi sketsa gaun berserakan di mejanya, ia sibuk memilah-milah. "Ini sudah malam lho, Ra. Harusnya kamu sudah istirahat." Martha mendudukan dirinya di sofa ruang kerja putrinya itu. "Iya, Bun. Sebentar lagi ya, soalnya ini tanggung." Martha mendengus, sedikit melongok ke meja kerja. "Buat acara apa emangnya?" "Oh, ini untuk koleksi terbaru minggu depan. Aku masih mau milih mana yang paling cocok." Hening sebentar, sebelum akhirnya Martha kembali bersuara. "Aurora, sayang... bisa ke sini sebentar." Martha meminta dengan intonasi serius sambil menepuk sofa di sampingnya. Mendengar permintaan dengan intonasi seperti itu, Aurora langsung waswas. Gerakan tangannya yang sedang memilah sketsa terhenti seketika. "Aurora?" panggil Martha, suaranya lembut namun terkesan tegas. "Hah? Oh iya bisa, sebentar." Aurora akhirnya menghampiri dan duduk di samping bundanya. "Ada apa, Bun?" Martha mendaratkan tangan kirinya pada paha kiri Aurora. "Gini... Bunda ingin kamu bertemu dengan putra temennya Bunda." "Lagi, Bunda?" balas Aurora cepat. "Seriously?" Ia menatap bundanya tak percaya. "Kali ini beda, Sayang." Martha mengelus punggung putrinya. "Menurutku sama saja, Bun." Martha menghela napas panjang. "Terserah kamu mau bilang apa, intinya Bunda mau kamu ketemu sama anak sahabat Bunda itu. Titik." Aurora mendelik aneh. "Tadi katanya temen, sekarang sahabat. Jadi mana yang betul, Bun?" Martha tampak berpikir sejenak. "Ya... sama saja kan?" "Ya ampuuun... beda dong. Lagian temen Bunda yang mana sih? Soalnya hampir semua temen Bunda, sahabat Bunda itu semuanya aku tahu." "Hampir kan? Berarti belum semuanya kamu tahu." "Iiiih Bundaaaa." Aurora memelas seraya menggelengkan kepalanya. "Bunda ingat terakhir kali aku ketemu anak temen Bunda? Nggak berhasil. Jadi, jangan aneh aneh lagi deh." "Itu karena kamu tidak ada niat dan kamu terlalu cuek," balas Martha. "Kan memang dari awal aku bilang nggak mau. Lagi pula, aku masih muda, masih mau berkarier, belum mau terikat dengan siapa pun." "Setidaknya kamu harus mencoba dulu. Yang ini, Bunda jamin kamu bakalan suka deh," ucapnya sedikit antusias. "Dengarkan Bunda, Ra. Peraturannya masih sama dengan yang lalu. Kalau kamu ngerasa nggak match atau dia yang menolak, maka pertemuan itu cukup sampai di situ saja." "Lagian... Bunda juga nggak habis pikir sih. Kenapa Anak cantik, cerdas dan membanggakan seperti kamu bisa-bisanya ditolak. Apa jangan-jangan kamu yang mengancam mereka?" tanya Martha penuh selidik. Aurora mendengus pelan, ia langsung bangkit berdiri. "Bunda pikir aku mafia? Segala ada ancam-ancam. Jangan ngaco ah." Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. "Kalo nggak ada yang mau dibicarakan lagi. Aku mau lanjutin kerjaan dulu yaa." Martha mendengus geli, selalu seperti ini. "Ya sudah, silakan lanjutkan, nanti kita bicarakan lagi. Jangan terlalu malam, ingat! Kamu itu manusia, bukan robot. Butuh istirahat juga." "Iya, Bun." "Bunda tetap mengharapkan pertemuan antara kamu dan anak sahabat Bunda itu terjadi," ucap Martha sambil bangkit dari sofa lalu keluar. Selepas wanita paruh baya itu keluar, Aurora termenung sesaat. Ia menghela napas berat. "Maafkan aku, Bun, aku tidak bermaksud membangkang. Aku hanya tidak ingin menambah luka di hatiku lagi." Aurora Iskandar Meschach adalah anak pertama dari salah satu pasangan dokter paling dihormati di kota itu. Ayahnya, Fattah Iskandar Meschach, adalah seorang dokter ahli bedah kardiotoraks legendaris yang kini memimpin sebuah rumah sakit swasta miliknya sendiri. Sementara ibunya, Martha Adinda Meschach, adalah seorang dokter bedah saraf yang brilian. Tumbuh di tengah dunia medis yang penuh presisi dan kecerdasan, Aurora justru memilih jalan yang berbeda. Alih-alih mengikuti jejak orang tuanya, ia lebih memilih menjadi seorang desainer busana dan merintis usahanya sendiri. Dan, di usianya yang sudah menginjak seperempat abad ini, ia sudah menjadi pemilik sebuah butik yang mulai dikenal masyarakat luas.Hello, there! Salam hangat, aku Bintang Jatuh. Terima kasih sudah menyempatkan mampir ke cerita pertamaku. Semoga kalian menikmati setiap alurnya, ya 🥰
Aiden duduk di kursi tingginya, belepotan saus barbeque."Enak, Dad! Dagingnya empuk!" puji Aiden sok tahu."Jelas dong. Resep rahasia Daddy," sahut Rasya bangga.Sementara itu, Altair dan Lyra sudah tertidur pulas di dalam kamar karena kelelahan bermain seharian.Aurora melangkah mendekat membawa nampan berisi es kelapa muda. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu berdiri di samping Rasya yang sedang mengolesi jagung."Anak-anak kembar sudah tidur?" tanya Rasya setengah berbisik."Sudah tepar. Baterainya habis total," jawab Aurora terkekeh.Kini tinggal mereka berdua, ditemani Aiden yang kini tengah sibuk mengunyah jagung bakar. Suasana menjadi jauh lebih romantis dan tenang.Rasya meletakkan kuas bumbunya. Pria itu menoleh, lalu menarik pinggang Aurora mendekat dalam satu gerakan halus. Cahaya api unggun memantul di wajah mereka, menciptakan siluet keemasan yang hangat."Sejak Papa Dar
Aetherland Private Island - 3 Tahun Kemudian Langit di atas Aetherland bersih tanpa awan, menyatu dengan laut turquoise yang jernih. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma garam yang familier. Di hamparan pasir putih itu, terdengar suara tawa yang nyaring. "Daddy! KEJAR AIDEN! WLEEE!" Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Rhaiden Aetherion Pradana—Aiden—berlari kencang dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Dia mengenakan celana renang bermotif hiu dan kacamata hitam yang kebesaran. Di belakangnya, Rasya berlari mengejar. Sang CEO tidak lagi mengenakan jas mahal. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek kargo, memamerkan tubuh atletisnya yang kini sedikit lebih tan karena sengatan matahari. "Awas ya kalau ketangkap! Daddy gelitikin sampai nyerah!" seru Rasya sambil tertawa. Hap! "Kena kamu, Jagoan Kecil!" seru Rasya sambil mengangkat tubuh Aiden tinggi-tinggi, lalu memutarnya. Aiden tertawa terbahak-bahak. "Ampuuun, Dad! Ampuuun!" Saat Aiden tertawa le
Angin malam berembus lembut, membawa serta aroma khas kota Paris yang berpadu dengan udara segar dari Sungai Seine. Di atas perairan yang tenang itu, sebuah yacht pribadi mewah berwarna putih gading meluncur membelah arus, meninggalkan riak air yang memantulkan gemerlap lampu kota. Rasya benar-benar menepati janjinya. Di sisa waktu mereka sebelum kembali ke realita Jakarta, pria itu memastikan dunia hanya berputar untuk Aurora. Ia menyewa seluruh kapal pesiar tersebut secara eksklusif, meninggalkan Raka dan para bodyguard di dek bawah agar tak ada satu pun yang menginterupsi waktu mereka. Di dek atas yang terbuka, sebuah meja bundar telah ditata begitu elegan. Taplak meja berbahan linen putih bersih, hiasan bunga lily yang mekar sempurna, dan pendar cahaya keemasan dari lilin-lilin tinggi menciptakan suasana romantis yang pekat. Aurora berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menatap takjub pada mahakarya arsitektur kota Paris yang melintas di depan matanya. Lampu-lampu jalanan kuno y
Pagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba. Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk memeriksa bekas luka operasi Aurora dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan. "Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran. "Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
"Beberapa hari lalu Leon meneleponku... menangis panik. Dia bilang teman baiknya tidak sengaja menabrak orang di jalanan Paris dan ditahan polisi. Dia memohon padaku untuk membantu temannya..." Mendengarnya, napas Ferdi seakan terhenti. Firasat buruk yang sangat gelap langsung mencekik lehernya.
Mata Rasya menyipit. Di layar, seorang pria bertopi dan bermasker hitam tampak berdiri kaku tak jauh dari pintu IGD. Saat seorang perawat yang mendorong brangkar berteriak, pria itu terlihat mematung. Sedetik kemudian, ia mundur beberapa langkah dengan gerakan panik yang kentara, sebelum akhirnya b
Di kejauhan, pendar keemasan yang menyelimuti kerangka besi menara Eiffel berkedip untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Ribuan lampu yang menghiasi ikon kota Paris itu mati secara serentak, menelan siluet raksasa tersebut ke dalam pekatnya langit malam. Dan di balik dinding
"Ya, Tuan. Nyonya Pradana sudah dibolehkan pulang pagi ini," jawab suara di seberang sana, informan dalam rumah sakit yang ia bayar dengan harga mahal.Pria itu menegakkan punggungnya. "Bagaimana bisa secepat itu? Lalu ke mana mereka pergi? Apa langsung pulang ke negaranya?""Sepertinya tidak, Tuan







