Mag-log inAurora melangkah masuk ke lobi sebuah restoran bintang lima. Kehadirannya langsung menarik perhatian.
Ia mengenakan dress sabrina lengan pendek berwarna maroon yang memancarkan keanggunan. Gaun ini adalah hasil perdebatan alot dengan sang Bunda. Aurora sebenarnya tidak ingin terlihat spesial malam ini. Namun, ia akhirnya mengalah dengan syarat gaunnya harus tetap 'wajar' dan leluasa. Baginya, penampilan bukan sekedar keindahan, tapi juga soal otoritas dan kenyamanan.
Aurora menghampiri meja resepsionis dengan langkah mantap. Di sana ada dua staf yang langsung mengangguk ramah. "Selamat malam, Bu," sapa salah satu staf. "Sudah ada reservasi?" Aurora mengangguk singkat. "Atas nama Rasya." Staf itu mengetik sebentar di komputernya. "Maaf, Bu. Di sini ada dua reservasi atas nama Bapak Rasya. Boleh kami tahu nama lengkapnya?" Aurora terdiam. Sialnya, ia mendadak lupa nama belakang pria yang akan ditemuinya malam ini.'Konyol... kenapa bisa lupa di saat seperti ini?' rutuknya dalam hati.
Resepsionis itu menunggu dengan sabar. Aurora mencoba mengingat-ingat, dan sebuah nama acak muncul di kepalanya. Ia mengucapkan dengan nada seyakin mungkin. "Emm.. atas nama Rasya Wijaya." 'Eh, apa iya ya Wijaya?' tanya batinnya. Resepsionis tersebut mengernyit bingung. "Maaf, Bu, tidak ada reservasi atas nama Rasya Wijaya di sini." Aurora tersenyum canggung. Wajahnya sedikit panas karena malu, tapi ia tidak berekspresi berlebihan. "Oh maaf, sepertinya saya salah ingat," ucapnya dengan tenang."Bisa tolong sebutkan kedua nama belakangnya? Salah satunya pasti benar."
Permintaan yang lugas dan penuh kendali membuat resepsionis itu mengangguk cepat. "Tentu, Bu. Di sini tertera atas nama Rasya Alatas dan Rasya Pradana." "Nah.. yang kedua. Rasya Pradana," ucap Aurora tanpa jeda. "Baik, Bu. Mari saya antar," ucap staf lain yang berdiri di sebelahnya. Aurora mengekor langkah staf itu menuju area privat room. Begitu mereka tiba di ruangan yang dituju, sang staf langsung pamit undur diri. Aurora mendudukkan dirinya. Ternyata orang yang akan ditemuinya belum datang, terlihat di ruangan itu hanya ada dirinya seorang. Aurora melirik jam tangannya. Sudah lewat lima menit. "Ck! sangat tidak disiplin," gumamnya pelan. 'Lupa nama lengkapnya aja sudah buat aku kesel.' batinnya sinis. 'Dan sekarang, dia terlambat. Benar-benar tidak profesional.' Lima belas menit berlalu, yang ditunggu tak kunjung tiba. Aurora mulai menerka-nerka tabiat pria itu. Pasti dia tipe laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan sulit dipegang janjinya. Terbukti dari hal kecil seperti ini saja dia gagal.Atau mungkin, Rasya memang tidak mau bertemu dengannya? Hati Aurora sedikit lega, itu artinya dia tidak perlu meneruskan rencana Bundanya untuk perjodohan ini. Maka Aurora terbebas, dan bisa memberikan alasan yang pasti untuk menolak.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Semoga Rasya benar-benar tidak datang.
Aurora bersandar sejenak, menatap kosong ke depan. Detik berikutnya, sebuah senyum menghiasi wajah wanita itu saat pikirannya melayang ke kejadian tiga hari lalu. Tepatnya saat sang Bunda memperlihatkan foto anak temannya, yang sukses membuat Aurora menggelengkan kepala sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Aurora, jangan sampai lupa ya. Bunda ingetin lagi, Sabtu malam, di Aetherna Gastronomy," ucap Martha antusias. Fattah, Aurora, dan Martha saat itu sedang berada di ruang keluarga. Rutinitas mereka setelah makan malam adalah bersantai ria di ruangan ini. Sekedar ngobrol-ngobrol santai setelah seharian beraktivitas. "Bunda terus aja bahas itu." Aurora mengerucutkan bibirnya sebal. "Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang." Martha mengelus puncak kepala Aurora. "Bunda.. jangan terlalu memaksanya," ucap Fattah menyela, yang dihadiahi delikan protes dari istrinya itu. "Tuh Ayah aja nggak maksa." Aurora tersenyum lebar ke arah Ayahnya. "Maksud Ayah, jangan terlalu memaksa bukan berarti tidak setuju. Ayah setuju dengan pertemuan itu, hanya saja tidak perlu dengan paksaan," ralat Fattah seraya melirik ke arah Martha. Mendengar itu, Aurora kembali mengerucutkan bibir. "Ayah gitu deh." "Sayang, Bunda yakin dia bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri." "Bun, tanpa dia atau tanpa siapapun itu, aku bisa menjadi apa saja yang Bunda dan Ayah inginkan. Lagi pula, aku nggak butuh seorang pendamping untuk hidup aku. Bagiku, Ayah dan Bunda selalu ada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup." "Ya ampun, Aurora. Jangan berbicara seperti itu. Mau sampai kapan kamu terus berpikir seperti itu, Nak? Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Kamu masih sakit hati tentang masa lalumu, Bunda mengerti, sangat mengerti, tapi mau sampai kapan kamu terkungkung oleh masa lalu. Kamu harus mulai bisa membuka hatimu lagi, terlepas dari siapapun itu meskipun bukan dengan pria yang Bunda jodohkan denganmu." Aurora menunduk tidak berniat untuk merespons ucapan Martha. "Selama ini Bunda hanya menghargai keinginan teman-teman Bunda agar anaknya bisa dikenalkan denganmu. Dan Bunda tidak pernah maksa kalo kamu memang tidak cocok. Tapi untuk kali ini saja, Bunda mohon sama kamu untuk menerima permintaan ini, setidaknya saling mengenal satu sama lain dulu." Aurora masih tidak bergeming. "Percayalah, Sayang. Segala yang Bundamu lakukan, itu yang terbaik untukmu." Fattah mengelus lembut puncak kepala putrinya. "Aurora Sayang, Bunda dan Ayah sudah semakin tua, Nak. Bunda ingin melihatmu menikah, dan bahagia bersama keluarga kecil kalian nantinya. Umur tidak ada yang tahu kan?" Martha tersenyum lembut. Kali ini Aurora mendongak menatap Martha dan Fattah bergantian. "Aku nggak suka kalo Bunda udah bicara kayak gitu." "Bunda juga tidak suka kamu terus seperti ini," balas Martha. Aurora menghela napas dalam-dalam. "Baiklah Bunda, aku akan penuhi keinginan Bunda dan Ayah." "Nah gitu dong." Martha tersenyum senang. "Oh ya, sebentar." Martha bangkit dari duduknya mengambil sesuatu di laci ruang tamu dan kembali ke ruang keluarga. "Ini dia orangnya. Namanya Rasya Pradana." Martha menyodorkan sebuah foto kehadapan Aurora. Aurora mengambil foto itu. Saat melihatnya, ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Tawa yang tak pernah Aurora perlihatkan sebelumnya. Fattah dan Martha melihat putrinya dengan tatapan heran. "Ayah, lihat yah. Masa Bunda mau aku ketemu sama balita." Fattah melihat foto yang disodorkan putrinya, lantas ia ikut tertawa, yang menyebabkan Martha mendengus sebal. "Itu waktu Rasya umur 4 tahun, Ra. Sekarang dia sudah berumur 29 tahun." "Lagian Bunda, apa tidak ada fotonya yang sekarang?" Fattah ikut bersuara. "Tidak ada, Yah. Miranda bilang anaknya tidak suka difoto. Jadi ya cuma itu yang ada." "Tapi, Miranda pernah mengirimkan fotonya yang sekarang. Foto formal sih. Ada di ponsel Bunda di atas. Kamu mau lihat, Ra?" tanyanya pada Aurora. Aurora menggeleng sambil terus menertawakan foto di tangannya itu. Namun, tawanya perlahan surut saat menyadari satu hal. Kenapa ia malah merasa senang menertawakan foto ini? Ia berdehem pelan, buru-buru menetralkan ekspresinya menjadi datar kembali. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, balita yang ada di foto itu memang menggemaskan, berpose tersenyum lebar dengan salah satu giginya yang ompong."Terima kasih sudah menunggu." Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi lamunan Aurora.
Aiden duduk di kursi tingginya, belepotan saus barbeque."Enak, Dad! Dagingnya empuk!" puji Aiden sok tahu."Jelas dong. Resep rahasia Daddy," sahut Rasya bangga.Sementara itu, Altair dan Lyra sudah tertidur pulas di dalam kamar karena kelelahan bermain seharian.Aurora melangkah mendekat membawa nampan berisi es kelapa muda. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu berdiri di samping Rasya yang sedang mengolesi jagung."Anak-anak kembar sudah tidur?" tanya Rasya setengah berbisik."Sudah tepar. Baterainya habis total," jawab Aurora terkekeh.Kini tinggal mereka berdua, ditemani Aiden yang kini tengah sibuk mengunyah jagung bakar. Suasana menjadi jauh lebih romantis dan tenang.Rasya meletakkan kuas bumbunya. Pria itu menoleh, lalu menarik pinggang Aurora mendekat dalam satu gerakan halus. Cahaya api unggun memantul di wajah mereka, menciptakan siluet keemasan yang hangat."Sejak Papa Dar
Aetherland Private Island - 3 Tahun Kemudian Langit di atas Aetherland bersih tanpa awan, menyatu dengan laut turquoise yang jernih. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma garam yang familier. Di hamparan pasir putih itu, terdengar suara tawa yang nyaring. "Daddy! KEJAR AIDEN! WLEEE!" Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Rhaiden Aetherion Pradana—Aiden—berlari kencang dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Dia mengenakan celana renang bermotif hiu dan kacamata hitam yang kebesaran. Di belakangnya, Rasya berlari mengejar. Sang CEO tidak lagi mengenakan jas mahal. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek kargo, memamerkan tubuh atletisnya yang kini sedikit lebih tan karena sengatan matahari. "Awas ya kalau ketangkap! Daddy gelitikin sampai nyerah!" seru Rasya sambil tertawa. Hap! "Kena kamu, Jagoan Kecil!" seru Rasya sambil mengangkat tubuh Aiden tinggi-tinggi, lalu memutarnya. Aiden tertawa terbahak-bahak. "Ampuuun, Dad! Ampuuun!" Saat Aiden tertawa le
Angin malam berembus lembut, membawa serta aroma khas kota Paris yang berpadu dengan udara segar dari Sungai Seine. Di atas perairan yang tenang itu, sebuah yacht pribadi mewah berwarna putih gading meluncur membelah arus, meninggalkan riak air yang memantulkan gemerlap lampu kota. Rasya benar-benar menepati janjinya. Di sisa waktu mereka sebelum kembali ke realita Jakarta, pria itu memastikan dunia hanya berputar untuk Aurora. Ia menyewa seluruh kapal pesiar tersebut secara eksklusif, meninggalkan Raka dan para bodyguard di dek bawah agar tak ada satu pun yang menginterupsi waktu mereka. Di dek atas yang terbuka, sebuah meja bundar telah ditata begitu elegan. Taplak meja berbahan linen putih bersih, hiasan bunga lily yang mekar sempurna, dan pendar cahaya keemasan dari lilin-lilin tinggi menciptakan suasana romantis yang pekat. Aurora berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menatap takjub pada mahakarya arsitektur kota Paris yang melintas di depan matanya. Lampu-lampu jalanan kuno y
Pagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba. Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk memeriksa bekas luka operasi Aurora dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan. "Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran. "Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
Suasana di ruangan Rasya dingin dan tegang. AC disetel ke suhu terendah.Rasya duduk di balik mejanya, kemeja putihnya sudah tidak memakai dasi, lengan digulung sampai siku. Di hadapannya, Raka meletakkan sebuah dokumen tebal dengan stempel "URGENT"."Likuidasi saham Blue Chip
"Aurora? Ini Bunda, Sayang."Aurora panik. Ia buru-buru mengambil kacamata bacanya (untuk menutupi mata bengkak), merapikan baju kusutnya, dan memasang wajah "sibuk"."Masuk, Bun! Nggak dikunci!" seru Aurora. Ia buru-buru bangkit dari lantai, menyambar meteran kain,
Rasya menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya yang berat. Uang aman. Paris aman.Tapi kata-kata terakhir ayahnya menghantuinya. Rumah yang tenang.Rasya melirik jam tangan. Pukul 17.00.Ia menyambar kunci mobil dan jasnya. Ia harus pulang. Ia harus memeluk Aurora da
Di dalam mobil kantor yang hening, Aurora duduk termenung. Pak Ruslan, sopir pribadi Rasya, sesekali melirik cemas lewat spion tengah tapi tidak berani bertanya.Kalimat Rasya terngiang di kepala Aurora: "Pulanglah ke rumah kita."Tapi, untuk saat ini Aurora tidak sanggup. Rumah mereka itu penuh







