LOGINLangit Jakarta sudah berubah menjadi jingga keunguan saat mobil Rasya memasuki pelataran rumah keluarga Meschach.
"Mau mampir sebentar?" tanya Aurora sambil melepas sabuk pengamannya."Bunda bikin Asinan Bogor tadi siang."Rasya mematikan mesin mobil. "Tawaran yang sulit ditolak. Tapi..."Rasya tampak ragu. Ia melirik jam tangannya, lalu melihat pantulan dirinya di kaca spion tengah. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan."Meeting tadi cWaktu di Paris menunjukkan pukul lima sore. Rasya sedang berada di ruang kerjanya, sementara di kamar utama yang terletak tak jauh dari sana, Aurora tengah terlelap damai setelah terkuras emosinya siang tadi. Rasya berdiri menghadap jendela kaca, menatap langit sore Paris dengan segelas French Bloom di tangan kirinya. Pikirannya masih dipenuhi oleh janji berat yang baru saja ia buat kepada Aurora. Getaran pelan dari ponsel di atas meja kerja memecah keheningan. Rasya meletakkan gelasnya dan meraih ponsel itu. Sesuai dugaannya, panggilan berasal dari asisten kepercayaannya. Di belahan bumi lain, langit Jakarta sudah diselimuti kepekatan malam. Rasya menekan tombol terima dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Ya, Raka." "Selamat sore, Pak," sapa Raka dari seberang telepon. Suaranya terdengar jernih, membawa aura kemenangan yang dingin. "Insting Bapak sama sekali tidak meleset. Leonil sudah buka suara. Dalang di balik penyerangan Nyonya Aurora di Paris memang Dio Anggara.
Akhirnya, dua mobil SUV itu meninggalkan area perumahan.Di kursi belakang, Raka duduk bersandar dengan mata terpejam, membiarkan deru mesin mobil sedikit meredakan ketegangan di pelipisnya. Otaknya sedang bekerja keras menyusun langkah antisipasi dari sayembara yang baru saja ia sebar ke seluruh dunia bawah tanah Jakarta.Namun, keheningan di dalam kabin mobil itu tak bertahan lama.Terdengar bunyi dengung statis dari earpiece di telinga kanan Raka. Detik berikutnya, sebuah rintihan putus asa dan jeritan parau yang diiringi gemelutuk gigi menusuk tajam pendengarannya."B-bunuh saja aku! T-tembak kepalaku sekarang, keparat! Tapi hentikan rasa dingin ini! HENTIKAN!" Mata Raka terbuka seketika. Ia mendengarkan raungan putus asa itu dengan wajah tanpa ekspresi. Di seberang saluran, napas Leonil terdengar begitu putus-putus, seolah paru-parunya mulai membeku dari dalam."Aku menyerah! K-keluarkan aku dari lemari es ini! Aku akan bic
Langit malam Jakarta memayungi konvoi dua SUV antipeluru berwarna hitam pekat yang bergerak tanpa suara. Kendaraan itu menepi tepat di depan sebuah hunian mewah bergaya Eropa klasik di salah satu kawasan perumahan elit ibu kota.Namun, kontras dengan jejeran rumah tetangganya yang benderang dan asri, rumah tiga lantai di hadapan mereka tampak suram bak nisan raksasa.Lampu tamannya mati total. Cat pilar-pilarnya mulai kusam, dan rumput di pekarangan tumbuh liar tak tersentuh mesin pemotong. Di pagar besi yang menjulang tinggi, tergantung sebuah plang bertuliskan: DIJUAL. Hubungi Agen.Raka melangkah turun dari SUV, menatap nanar ke arah bangunan mati tersebut. Earpiece-nya berdengung pelan."Perimeter luar aman, Pak Raka," lapor Dean dari sisi lain pagar. "Tidak ada pergerakan, tidak ada cahaya dari dalam. Kamera termal tidak mendeteksi anomali suhu. Semuanya senyap.""Masuk. Sisir setiap sudut," perintah Raka dengan nada datar.Enam algojo Aetherion bersenjata lengkap melompati pagar
Rasya mengerjap. Pria itu mengulum bibir sejenak, lalu menoel puncak hidung Aurora untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Aku tidak menyelidiki, Baby. Aku hanya mencari tahu," ralat Rasya dengan gengsinya yang khas. "Lagi pula, dulu yang aku fokuskan itu hanya kamu, segala yang terjadi sama kamu sebelum bertemu denganku. Pokoknya semua tentang kamu. Aku sama sekali tidak tertarik membuang waktu menguliti kehidupan pribadi bajingan itu. Kalaupun iya, itu hanya sebatas rekam jejak bisnis dan kiprahnya di dunia profesional." Aurora mendengus geli mendengarnya. Pembelaan diri suaminya terdengar begitu arogan sekaligus manis di saat yang bersamaan. Namun, senyum di bibir Aurora perlahan memudar saat pikirannya mulai menerawang jauh, menggali kepingan memori usang bertahun-tahun silam. "Setelah diingat-ingat, aku rasa aku tidak terlalu banyak tahu tentang latar belakang kehidupan Dio, Mas," suara Aurora terdengar lebih pelan, seo
Bagaimana bisa tidur? Baru juga empat jam lalu ia bangun. Mata Aurora tetap terbuka menatap lurus ke arah jendela kamar. Napasnya memang sudah berembus teratur, namun pikirannya masih berkecamuk. Ia menumpukan sebelah pipi pada kedua tangan yang terlipat nyaman di bantal.Sementara itu, lengan kokoh Rasya melingkar posesif memeluknya dari belakang. Telapak tangan pria itu bertengger lembut di perut Aurora yang masih rata.Menyadari napas dan bahasa tubuh istrinya belum sepenuhnya rileks, Rasya tahu Aurora sama sekali belum terlelap. Ia mengelus perut Aurora dengan ibu jarinya, lalu mengecup kembali tengkuk sang istri dengan penuh kasih sayang."Maafkan aku, Baby," bisik Rasya parau. "Aku tahu aku salah karena tidak terus terang sama kamu."Aurora masih diam, ia malah memejamkan mata."Kamu benar, alasan utamanya karena aku nggak mau kamu kepikiran," lanjut Rasya, nada suaranya terdengar sarat akan rasa bersalah. "Aku mau kamu tenang selama masa pemulihan ini. Tapi, sepertinya tindakan
"Satu-satunya keluarga Adyasan yang aku tahu..." Aurora sengaja menggantung kalimatnya, menatap suaminya ragu. "Tapi janji, kamu jangan marah kalau aku sebut orang ini.""Iya, Aurora," jawab Rasya, nada suaranya terdengar sedikit tak sabar.Aurora menghela napas pelan. "Omnya mantan aku."Deg!Jantung Rasya seolah merosot jatuh menghantam dasar perutnya. Rahangnya mengeras seketika di balik wajahnya yang masih terlihat tenang. Benar sekali dugaannya.'Dio?' batin Rasya. 'Keparat itu?'Namun, Rasya harus memastikannya tanpa celah. Ia tidak boleh salah target. "Tepatnya siapa itu, Baby?"Aurora mendengus geli, memutar bola matanya pelan. "Ih, Mas, aku kan cuma punya satu mantan, lho."Darah di dalam nadi Rasya mendidih hingga ke titik didih tertinggi. Rasya mengerahkan seluruh kendali diri agar aura membunuhnya tidak tercium oleh sang istri. Ia berusaha keras menjaga ekspresinya tetap tenang."Kenapa tiba







