LOGINSeminggu setelah proposal sponsornya secara "ajaib" disetujui oleh Aetherion Group dalam waktu singkat, hari pertemuan pertama itu pun tiba.
Ruang meeting di kantor Aurora sudah siap. Timnya sudah berkumpul, sedikit tegang karena aura bos mereka yang sangat serius. Presentasi sudah siap di layar. Air mineral dan snack sudah tersaji. "Bisa kita mulai, Pak Frans?" tanya Aurora pada salah satu staf Aetherion Group. Perwakilan dari Aetherion Group—yang ternyata adalah tim dari Elysian Media—datang dengan tiga orang perwakilan; seorang manajer marketing dan dua stafnya. Mereka sudah saling memperkenalkan diri begitu tiba di kantor Aurora. Dalam perkenalan singkat itu, Aurora sedikit terkejut ketika sang manajer menjelaskan bahwa seluruh urusan terkait fashion show akan diawasi langsung oleh CEO mereka, CEO Elysian Media, yang merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan Aetherion Group. Elysian Media akan menjadi mitra media promosi untuk keseluruhan acaranya. Namun, bukan nama atau jabatannya yang membuat Aurora terkejut—ia sudah menduga itu dari risetnya. Melainkan frasa "diawasi langsung" dalam dunia bisnis, itu adalah sebuah anomali. Seorang CEO biasanya berada di puncak menara gading, menerima laporan. Terlibat secara "langsung" berarti Rasya akan ikut campur dalam detail-detail terkecil sekalipun. Sejauh inikah dia akan memainkan permainannya? "Baik, Bu Aurora. Silahkan dimulai." Meeting dimulai. Aurora, yang tadinya super tegang karena mengira akan langsung berhadapan dengan Rasya, perlahan mulai rileks saat sadar pria itu tidak ada di sana. Dalam hati, ia sedikit menertawakan kegugupannya. 'Mungkin yang dimaksud "mengawasi langsung" itu dia hanya akan menerima laporan atau ikut dalam rapat-rapat besar saja,' batinnya, mencoba menenangkan diri. 'Tentu saja orang sepenting dia tidak akan repot-repot datang ke rapat teknis pertama seperti ini.' "Terima kasih atas waktu dan kesempatannya," mulai Aurora, suaranya tenang dan berwibawa. "Seperti yang bapak-bapak ketahui, acara ini bukan hanya sekedar peragaan busana, tapi sebuah penegasan identitas merek. Tema besar koleksi ini adalah 'Metamorfosis'." Dia melanjutkan, menjelaskan filosofi di balik tema itu. "Secara komersial," lanjut Aurora, beralih ke slide berikutnya, "ini juga akan menjadi momen peluncuran resmi untuk koleksi kapsul pria (menswear capsule collection) kami." "Selama ini, Butik 'Aurora Meschach' memang dikenal dengan busana wanitanya, namun lini busana pria yang berfokus pada setelan jas modern (tailoring) adalah segmen baru yang sedang kami kembangkan dengan serius. Koleksi fashion show ini akan menampilkan 20 look wanita dan 5 look pria, semuanya dalam satu narasi visual yang utuh." Ia menjelaskan konsep fashion show-nya dengan penuh semangat. Ia berada di elemennya. Auranya sebagai pemimpin yang kompeten benar-benar keluar. Meeting sudah berjalan sekitar 30 menit. Tim Elysian Media terlihat sangat terkesan dengan materi presentasi Aurora yang brilian, dan di bawakan dengan penuh percaya diri. Aurora merasa... menang. Ia berhasil memisahkan bisnis dan urusan pribadi. Namun... Di tengah-tengah presentasi, tepat saat Aurora sedang memaparkan bagian konsep visual panggung, terdengar suara gagang pintu ditekan. Klik. Pintu ruang meeting terbuka pelan Semua orang menoleh, termasuk Aurora. Kalimatnya terputus di tengah jalan. Di sanalah.. Rasya masuk dengan diantar salah satu staf Aurora. "Maaf saya terlambat," ucapnya dengan nada tenang, seolah tidak mengintrupsi apapun. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat seisi ruangan hening. Matanya langsung tertuju pada Aurora. Tim Elysian Media langsung mengubah posisi duduk mereka, menjadi lebih tegak dan hormat. "Pak Rasya..." sapa pak Frans, sedikit kaget dengan kehadiran Rasya yang mendadak. Lalu ia berdiri. "Bu Aurora. Perkenalkan ini Pak Rasya Aetherion Pradana. CEO Elysian Media." ucapnya, menghadap ke arah Aurora dan Rasya bergantian. Dunia bisnis lebih mengenalnya sebagai Rasya Pradana—sang jenius berdarah dingin. Tangan kanannya adalah kalkulator, dan otaknya adalah papan catur strategi. Ia bukan CEO utama Aetherion Group—posisi itu masih dipegang oleh ayahnya—namun ia adalah sang putra mahkota yang telah membangun kerajaannya sendiri di dalam imperium raksasa itu. Di bawah kendalinya, ada dua pilar terkuat industri gaya hidup dan kemewahan: Prestige Properties, yang menguasai lokasi-lokasi ritel paling strategis di negara ini termasuk mal-mal paling mewah, dan Elysian Media, yang mendikte selera pasar lewat majalah fashion paling berpengaruh di portal berita gaya hidup nomor satu. Singkatnya, Rasya adalah sang penjaga gerbang. Tak ada brand yang bisa menjadi besar tanpa melewati dan mendapat persetujuan darinya. Dia memegang kunci distribusi sekaligus publisitas. Kehadirannya secara pribadi di rapat sponsor sebuah butik yang sedang naik daun seharusnya tidak perlu. Timnya bisa menangani ini. Tapi Rasya punya alasan sendiri. Penolakan ketus dari seorang Aurora Iskandar Meschach di malam pertemuan pertama mereka bukanlah hinaan baginya, melainkan sebuah tantangan yang menarik. Dan Rasya Pradana tidak pernah lari dari tantangan. Sebaliknya, ia akan memastikan ia memenangkannya. Kehadiran Rasya membuat seluruh momentum Aurora hancur. Di bawah tatapan tajam pria yang ingin sekali ia hindari, kepercayaan dirinya sedikit goyah. Darah Aurora berdesir panas melihat senyum tipis di wajah Rasya, tapi kepalanya tetap dingin. 'jangan biarkan dia menang' bisik hatinya. Mengabaikannya akan terlihat kekanakan. Panik adalah tanda kekalahan. Profesional. Hanya itu senjatanya sekarang. Setelah hening selama beberapa saat, Aurora menarik napas pelan, mengumpulkan kembali seluruh fokusnya yang sempat buyar. Ia mengangkat dagunya sedikit. "Selamat datang, Pak Rasya," suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa emosi sama sekali. Ia berjalan menyambut sang CEO dan mengulurkan tangannya. Rasya menerima uluran tangan itu, menjabat tangan Aurora. "Terima kasih." "Silahkan duduk." ucap Aurora, sambil hendak melepaskan tangannya. Namun ketika setengah jabatan tangan itu terlepas, Rasya kembali menariknya. Pandangan mereka refleks bertemu. Hanya dua detik, Aurora langsung tersadar dimana mereka berada. Tanpa memberinya kesempatan untuk berekspresi lebih jauh, Aurora langsung melepas paksa jabatan tangan itu dan memutar tubuhnya, mengalihkan perhatiannya kembali ke layar presentasi dan anggota tim lainnya. "Baik, mohon maaf atas intrupsinya. Saya lanjutkan." Rasya begitu menikmati permainannya. Ia tersenyum tipis, lalu beralih duduk. Aurora kembali menekan tombol pointer-nya, melanjutkan penjelasannya tentang konsep panggung. Kata-kata keluar dengan presisi yang tajam dan terukur, meskipun kesan hangat yang tadi ia rasakan saat presentasi kini telah digantikan oleh fokus sedingin es. Dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Rasya yang masih terkunci padanya. Ia tidak tahu apakah pria itu terkesan atau justru meremehkan, dan ia tidak peduli. Aurora bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan goyah lagi. Tidak di depan pria ini. Aurora berhasil menemukan kembali ritmenya. Dia mengabaikan tatapan Rasya dan fokus pada apa yang paling ia kuasai. Dia mulai menjelaskan kembali tentang konsep visual panggung yang tadi sempat terhenti. Bagaimana nanti temanya, sumber inspirasinya, dan bagaimana setiap detail akan menciptakan sebuah pengalaman magis bagi para penonton. Gairah dalam suaranya kembali terdengar. Tim Elysian Media tampak terbawa suasana, mengangguk kagum. Aurora hampir lupa kalau ada 'predator' yang sedang mengawasinya di ruangan yang sama. Tepat saat Aurora berhenti sejenak untuk mengambil napas setelah menjelaskan panjang lebar... "Saya punya pertanyaan." Suara Rasya yang tenang namun dalam itu memotong keheningan, membuat semua orang di ruangan itu menoleh padanya.Setelah Galaxy kembali sibuk dengan dunia mayanya di sofa, Aurora melanjutkan sarapannya. Setelah beberapa suap, Rasya menyendokkan bubur lagi, lalu mendekatkannya ke bibir Aurora. "Satu suap lagi ya, Baby?" bujuk Rasya lembut. Aurora menggeleng pelan, menutup mulutnya rapat. "Udah, Mas. Perut aku rasanya penuh banget." Rasya melirik mangkuk bubur yang sebenarnya masih tersisa seperempat. Kalau dalam kondisi normal, ia pasti akan memaksa istrinya makan lebih banyak. Namun, ia tahu kondisi pencernaan Aurora pasca operasi belum sepenuhnya normal. "Oke, nggak apa-apa," ucap Rasya pengertian. Ia meletakkan mangkuk itu ke meja nakas. Rasya lalu mengambil gelas berisi air putih dengan sedotan, membatu Aurora minum beberapa teguk untuk membilas mulutnya. Setelah selesai, Rasya mengambil tisu, membersihkan sisa air di sudut bibir istrinya dengan gerakan sangat hati-hati. Perlakuan manis itu membuat Aurora memejamkan mata, menikmati sentuhan suaminya. Rasya menyingkirkan
Rasya duduk di tepi ranjang, dengan telaten menyuapi bubur halus ke mulut Aurora. Setiap suapan ia tiup dulu dengan sabar, memastikan tidak terlalu panas.Sementara itu, di sofa panjang, Galaxy sedang rebahan santai dengan kaki menyilang, matanya terpaku pada layar ponsel."Oiya, Kak Rara. Hampir lupa," celetuk Galaxy tiba-tiba, memecah keheningan sarapan itu.Aurora menelan buburnya, lalu menoleh pada adiknya."Apa, Gal?"Galaxy bangun dari posisinya, duduk tegak dengan mata berbinar."Selamat ya. Kak Rara beneran gila," Galaxy menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Sumpah, Kakakku ini sinting.""Kak Rara tau nggak? Kemarin pagi Head Nurse di bangsal aku—yang biasanya galak kayak singa betina dan nggak peduli dunia luar—tiba-tiba ngomongin 'The Rebirth' pas lagi visit pasien."Mata Aurora sedikit melebar. Sendok di tangan Rasya berhenti di udara."Serius? Sampe Jerman?" tanya Aurora tak percaya."Bukan cuma Jerman. Tuh..." Galaxy menyodorkan HP-nya dari kejauhan. "Satu Ero
Jarum jam dinding menunjuk angka satu dini hari.Di ranjang pasien, napas Aurora terdengar teratur. Wajahnya damai, seolah tidak baru saja melewati pertarungan hidup dan mati.Pintu kamar mandi ruang inap itu terbuka.Rasya keluar dengan rambut basah dan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos bersih dan celana bahan yang lebih nyaman. Aroma sabun maskulin menguar, sedikit menyamarkan bau antiseptik rumah sakit yang seharian menempel di badannya.Rasya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, lalu berjalan mendekati sofa panjang di dekat jendela.Di sana, Galaxy duduk bersandar sambil memainkan ponsel, menjaga shift-nya sesuai janji. "Aurora udah tidur lagi?" bisik Rasya, melirik ke arah ranjang.Galaxy mengangguk, sekilas mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Pules banget. Efek cokelat sama obat tidur. Aman. Bang Rasya istirahat aja."Rasya menghela napas panjang, lalu meng
Hujan gerimis memukul kaca jendela, menciptakan irama yang sendu di dalam ruangan yang hening itu.Rasya duduk di kursi samping ranjang, menunduk dalam, tangannya masih menggenggam tangan Aurora yang tertidur pulas karena pengaruh obat yang disuntikkan dokter dua jam lalu.Tiba-tiba, pintu kamar tersentak terbuka, membentur stopper karet di dinding, sebelum ditahan oleh tangan yang gemetar.Seorang pria muda menerobos masuk. Napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya, dadanya naik turun di balik hoodie abu-abu yang ditumpuk coat tebal.Rambutnya lepek terkena hujan, dan ada tas ransel sedang yang menggantung miring di bahunya.Galaxy berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di sosok wanita yang terbaring lemah di ranjang.Melihat Aurora—yang tampak tenggelam di antara selang oksigen dan selimut rumah sakit—bahu Galaxy merosot. Topeng ceria yang biasa ia pakai, retak sejenak."
Roda brankar berdecit halus saat didorong masuk ke dalam ruangan luas itu.Berbeda dengan ruang pemulihan yang dingin dan penuh alat, ruangan ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Lantainya berlapis parket kayu hangat, ada sofa kulit panjang di sudut, pantry kecil, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan langit malam Paris.Namun, bagi Rasya, kemewahan itu nomor sekian. Yang terpenting adalah kenyamanan istrinya."Hati-hati," tegur Rasya tajam saat perawat hendak memindahkan tubuh Aurora dari brankar ke tempat tidur pasien."Tolong pelan-pelan. Jangan ada guncangan di perutnya," perintah Rasya dalam bahasa Inggris yang fasih namun penuh penekanan.Para perawat itu mengangguk patuh, bekerja ekstra hati-hati memindahkan Aurora. Rasya ikut memegangi kepala dan bahu istrinya, memastikan pergerakannya seminimal mungkin.Setelah Aurora berbaring sempurna di kasur empuk itu, Rasya langsung memeriksa semuanya. Ia membetulkan l
Isak Aurora membuat dada Rasya sesak. Melihat keputusasaan di mata istrinya adalah siksaan terberat. Rasya menggeleng cepat. Ia tersenyum, lalu membawa tangan Aurora, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas perut wanita itu yang kini terbalut perban pasca operasi. "Dia masih di sini," ucap Rasya, menekan lembut tangan Aurora ke perutnya sendiri. Aurora terdiam, menatap suaminya bingung. Air matanya terus menetes. "Hah?" "Anak kita kuat banget, Baby. Persis Ibunya. Dia masih di dalem. Jantungnya masih berdetak." Mata Aurora membelalak lebar. Bibirnya gemetar hebat. "Bo... hong..." "Aku nggak bohong demi Allah," Rasya terisak bahagia, mencium punggung tangan istrinya bertubi-tubi. "Dia bertahan. Dia selamet. Kamu berhasil lindungin dia." Mendengar itu, tangis Aurora pecah. "Ya Allah..." Aurora menangis tersedu-sedu, memeluk perutnya sendiri dengan protektif meski tangannya gemetar. "Anakku... anakku masih ada..." "Anak kita, Baby," koreksi Rasya, memeluk kepala Aurora,







