ログインSeminggu setelah proposal sponsornya secara ajaib disetujui oleh Aetherion Group dalam waktu singkat, hari pertemuan pertama itu pun tiba.
Ruang meeting di kantor Aurora sudah siap. Timnya sudah berkumpul, sedikit tegang karena aura bos mereka yang sangat serius. Presentasi sudah siap di layar. Air mineral dan snack sudah tersaji.
"Bisa kita mulai, Pak Frans?" tanya Aurora pada salah satu staf Aetherion Group.
Perwakilan dari Aetherion Group—yang ternyata adalah tim dari Elysian Media—hadir membawa tiga anggota, seorang manajer marketing dan dua orang staf.
Mereka sudah saling memperkenalkan diri begitu tiba di kantor Aurora. Dalam perkenalan singkat itu, Aurora sedikit terkejut ketika sang manajer menjelaskan bahwa seluruh urusan terkait fashion show akan diawasi langsung oleh CEO mereka, CEO Elysian Media, yang merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan Aetherion Group. Elysian Media akan menjadi mitra media promosi untuk keseluruhan acaranya.
Namun, bukan nama atau jabatannya yang membuat Aurora terkejut—ia sudah menduga itu dari riset kilatnya. Melainkan frasa "diawasi langsung" itu sendiri.
Dunia bisnis mengenal sosok Rasya Pradana sebagai jenius berdarah dingin. Tangan kanannya adalah kalkulator, dan otaknya adalah papan catur strategi. Ia memang bukan CEO utama Aetherion Group—posisi itu masih dipegang oleh ayahnya—namun Rasya adalah sang 'putra mahkota' yang telah membangun kerajaannya sendiri di dalam imperium raksasa itu.
Di bawah kendalinya, berdiri dua pilar terkuat industri gaya hidup dan kemewahan: Prestige Properties, yang tidak hanya merajai lokasi ritel dan mal supermewah di dalam negeri, melainkan juga berekspansi pesat hingga ke mancanegara. Serta Elysian Media, yang bukan sekedar portal fashion dan gaya hidup nomor satu, tapi juga raksasa media massa yang mendikte pasar lewat portal berita ekonomi, bisnis, dan investasi.
Singkatnya, Rasya Pradana adalah sang penjaga gerbang. Tak ada brand yang bisa menjadi besar tanpa melewati dan mendapat persetujuanya. Ia memegang kunci distribusi sekaligus publisitas masif.
Maka dari itu, diawasi langsung terasa seperti anomali. Seorang CEO yang kekuasaannya menggurita hingga ke mancanegara biasanya duduk nyaman di puncak menara gading, dan hanya menerima laporan akhir. Terlibat secara "langsung" berarti pria itu akan ikut campur dalam detail-detail kecil sekalipun. Sejauh inikah Rasya akan memainkan permainannya?
"Baik, Bu Aurora. Silakan dimulai," ucap Pak Frans, membuyarkan lamunan Aurora.
Meeting dimulai. Aurora, yang tadinya super tegang karena mengira akan langsung berhadapan dengan Rasya, perlahan mulai rileks saat sadar pria itu tidak ada di sana. Dalam hati, ia sedikit menertawakan kegugupannya.
'Mungkin yang dimaksud "mengawasi langsung" itu dia hanya akan menerima laporan atau ikut dalam rapat-rapat besar saja,' batinnya, mencoba menenangkan diri.
'Tentu saja orang sepenting dia tidak akan repot-repot datang ke rapat teknis pertama seperti ini.'
"Terima kasih atas waktu dan kesempatannya," mulai Aurora, suaranya tenang dan berwibawa.
"Seperti yang bapak-bapak ketahui, acara ini bukan hanya sekedar peragaan busana, tapi sebuah penegasan identitas merek. Tema besar koleksi ini adalah 'Metamorfosis'."
Ia melanjutkan, menjelaskan filosofi di balik tema itu.
"Secara komersial," lanjut Aurora, beralih ke slide berikutnya, "Ini juga akan menjadi momen peluncuran resmi untuk menswear capsule collection kami."
"Selama ini, Butik 'Aurora Meschach' memang dikenal dengan busana wanitanya, namun lini busana pria yang berfokus pada setelan jas modern adalah segmen baru yang sedang kami kembangkan dengan serius. Koleksi fashion show ini akan menampilkan 20 look wanita dan 5 look pria, semuanya dalam satu narasi visual yang utuh."
Aurora menjelaskan konsep fashion show-nya dengan penuh semangat. Ia berada di elemennya. Auranya sebagai pemimpin yang kompeten benar-benar keluar.
Meeting sudah berjalan sekitar 30 menit.
Tim Elysian Media terlihat sangat terkesan dengan materi presentasi Aurora yang brilian, dan dibawakan dengan penuh percaya diri.
Aurora merasa.. menang. Ia berhasil memisahkan bisnis dan urusan pribadi.
Namun...
Di tengah-tengah presentasi, tepat saat Aurora sedang memaparkan bagian konsep visual panggung, terdengar suara gagang pintu ditekan.
Klik.
Pintu ruang meeting terbuka pelan.
Semua orang menoleh, termasuk Aurora. Kalimatnya terputus di tengah jalan.
Di sanalah.. Rasya masuk dengan diantar salah satu staf Aurora.
"Maaf saya terlambat," ucapnya dengan nada tenang, seolah tidak menginterupsi apa pun. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat seisi ruangan hening.
Seketika mata pria itu tertuju pada Aurora.
Tim Elysian Media serempak mengubah posisi duduk mereka, menjadi lebih tegak dan hormat.
"Pak Rasya..." sapa Pak Frans, sedikit terkesiap dengan kehadiran bos besarnya yang mendadak. Ia buru-buru berdiri.
"Bu Aurora, perkenalkan, ini Pak Rasya Aetherion Pradana. CEO kami," ucapnya, menghadap ke arah Aurora dan Rasya bergantian.
Kehadiran Rasya membuat seluruh momentum Aurora yang tadinya memuncak, kini hancur berantakan.
Di bawah tatapan tajam pria yang ingin sekali ia hindari, kepercayaan diri Aurora sempat goyah.
Darah Aurora berdesir panas melihat senyum tipis di wajah Rasya, tapi kepalanya tetap dingin. 'Jangan terintimidasi. Jangan biarkan dia menang.'
Mengabaikannya akan terlihat kekanakan. Panik adalah tanda kekalahan. Profesional. Hanya itu senjatanya sekarang.
Setelah hening selama beberapa saat, Aurora menarik napas pelan, mengumpulkan kembali seluruh fokusnya yang sempat buyar. Ia mengangkat dagunya sedikit.
"Selamat datang, Pak Rasya," suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa emosi sama sekali.
Aurora berjalan menyambut sang CEO dan mengulurkan tangannya.
Rasya menerima uluran tangan itu, menjabat tangan Aurora. "Terima kasih."
"Silakan duduk," ucap Aurora sambil hendak melepaskan tangannya.
Namun, saat jabatan tangan itu hampir terurai, Rasya menahannya. Pandangan mereka refleks bertemu. Hanya dua detik, Aurora buru-buru tersadar di mana mereka berada.
Tanpa memberi Rasya kesempatan untuk berekspresi lebih jauh, Aurora langsung melepas paksa jabatan tangan itu dan memutar tubuhnya, mengalihkan perhatiannya kembali ke layar presentasi dan anggota tim lainnya.
Rasya tersenyum tipis melihat respon Aurora, lalu ia beralih duduk.
"Baik, mohon maaf atas interupsinya. Saya lanjutkan."
Aurora kembali menekan tombol pointer-nya, melanjutkan presentasi. Ia mulai menjelaskan tentang konsep visual panggung yang tadi sempat terhenti. Bagaimana nanti temanya, sumber inspirasinya, dan bagaimana setiap detail akan menciptakan sebuah pengalaman magis bagi para penonton. Gairah dalam suaranya kembali terdengar.
Tim Elysian Media tampak terbawa suasana, mengangguk kagum. Aurora hampir lupa kalau ada 'predator' yang sedang mengawasinya di ruangan yang sama.
Dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Rasya yang masih terkunci padanya. Ia tidak tahu apakah pria itu terkesan atau justru meremehkan, dan ia tidak peduli. Aurora bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan goyah lagi. Tidak di depan pria ini.
Tepat saat Aurora berhenti sejenak untuk mengambil napas setelah menjelaskan panjang lebar...
"Saya punya pertanyaan."
Suara Rasya yang tenang namun dalam itu memotong keheningan, membuat semua orang di ruangan itu menoleh padanya.
Aiden duduk di kursi tingginya, belepotan saus barbeque."Enak, Dad! Dagingnya empuk!" puji Aiden sok tahu."Jelas dong. Resep rahasia Daddy," sahut Rasya bangga.Sementara itu, Altair dan Lyra sudah tertidur pulas di dalam kamar karena kelelahan bermain seharian.Aurora melangkah mendekat membawa nampan berisi es kelapa muda. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu berdiri di samping Rasya yang sedang mengolesi jagung."Anak-anak kembar sudah tidur?" tanya Rasya setengah berbisik."Sudah tepar. Baterainya habis total," jawab Aurora terkekeh.Kini tinggal mereka berdua, ditemani Aiden yang kini tengah sibuk mengunyah jagung bakar. Suasana menjadi jauh lebih romantis dan tenang.Rasya meletakkan kuas bumbunya. Pria itu menoleh, lalu menarik pinggang Aurora mendekat dalam satu gerakan halus. Cahaya api unggun memantul di wajah mereka, menciptakan siluet keemasan yang hangat."Sejak Papa Dar
Aetherland Private Island - 3 Tahun Kemudian Langit di atas Aetherland bersih tanpa awan, menyatu dengan laut turquoise yang jernih. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma garam yang familier. Di hamparan pasir putih itu, terdengar suara tawa yang nyaring. "Daddy! KEJAR AIDEN! WLEEE!" Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Rhaiden Aetherion Pradana—Aiden—berlari kencang dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Dia mengenakan celana renang bermotif hiu dan kacamata hitam yang kebesaran. Di belakangnya, Rasya berlari mengejar. Sang CEO tidak lagi mengenakan jas mahal. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek kargo, memamerkan tubuh atletisnya yang kini sedikit lebih tan karena sengatan matahari. "Awas ya kalau ketangkap! Daddy gelitikin sampai nyerah!" seru Rasya sambil tertawa. Hap! "Kena kamu, Jagoan Kecil!" seru Rasya sambil mengangkat tubuh Aiden tinggi-tinggi, lalu memutarnya. Aiden tertawa terbahak-bahak. "Ampuuun, Dad! Ampuuun!" Saat Aiden tertawa le
Angin malam berembus lembut, membawa serta aroma khas kota Paris yang berpadu dengan udara segar dari Sungai Seine. Di atas perairan yang tenang itu, sebuah yacht pribadi mewah berwarna putih gading meluncur membelah arus, meninggalkan riak air yang memantulkan gemerlap lampu kota. Rasya benar-benar menepati janjinya. Di sisa waktu mereka sebelum kembali ke realita Jakarta, pria itu memastikan dunia hanya berputar untuk Aurora. Ia menyewa seluruh kapal pesiar tersebut secara eksklusif, meninggalkan Raka dan para bodyguard di dek bawah agar tak ada satu pun yang menginterupsi waktu mereka. Di dek atas yang terbuka, sebuah meja bundar telah ditata begitu elegan. Taplak meja berbahan linen putih bersih, hiasan bunga lily yang mekar sempurna, dan pendar cahaya keemasan dari lilin-lilin tinggi menciptakan suasana romantis yang pekat. Aurora berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menatap takjub pada mahakarya arsitektur kota Paris yang melintas di depan matanya. Lampu-lampu jalanan kuno y
Pagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba. Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk memeriksa bekas luka operasi Aurora dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan. "Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran. "Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
Naina menunjuk pintu ganda tertutup dengan lampu indikator merah di atasnya. "Mereka... mereka bawa Aurora masuk lima menit lalu," isak Naina. "Bagaimana keadaannya? Lukanya parah?" desak Rasya, mencengkeram bahu Naina. Naina menggeleng lemah, air matanya bercampur dengan noda darah di pipi
"Ayo. Gue udah nggak sabar, lo siapin mental, Ora," ucap Naina semangat.Naina melempar beberapa lembar Euro di meja, lalu menggandeng Aurora keluar dari restoran. Udara siang Paris terasa segar. Matahari bersinar cerah, seolah merestui kemenangan mereka atas Dubois tadi."Apoteknya di seberang san
"Kami emang sepakat nggak nunda. Mas Rasya malah antusias banget pengen punya anak. Aku senang, Nai. Sumpah, aku sayang sama Mas Rasya dan aku mau wujudin mimpi dia." Aurora menatap Naina dengan pandangan nanar. "Tapi sekarang, pas kemungkinan itu ada di depan mata... aku malah nge
Aurora duduk bersandar di sofa, matanya tak lepas dari layar tablet yang memuat daftar tugas panjang. Wajahnya sedikit pucat tanpa riasan, namun sorot matanya tetap tajam dan fokus. Di hadapannya, Hana dan Mbak Ratih duduk dengan punggung tegak sempurna. Keduanya diam, terpaku menunggu titah.







