LOGINBeberapa hari berlalu sejak makan malam penuh drama itu. Aurora berpikir, mungkin Rasya hanya menggertak nya saja, dan ia berharap masalah perjodohan ini akan terlupakan. Karena setelah insiden itu, Rasya tidak pernah menghubungi Aurora, dan Bundanya pun tidak menyinggung soal perjodohan lagi semenjak Aurora bilang bahwa makan malamnya dengan Rasya tidak berjalan lancar.
Aurora saat ini sedang menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, ia tengah mempersiapkan sebuah acara besar—baginya. Acara fashion show dua bulan lagi adalah kesempatan emas untuk butiknya. Ia harus berhasil memperkenalkan butiknya ke pangsa pasar yang lebih luas. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Bunda Martha masuk dengan senyum paling manis dan paling mencurigakan yang pernah Aurora lihat. Di tangannya ada sebuah map dokumen. "Sayang," sapa Martha dengan nada riang. "Bunda punya kabar super bagus buat acara fashion show-mu!" Aurora mengernyit curiga, tapi kabar baik soal fashion show terlalu menggiurkan untuk diabaikan."Kabar apa, Bun?"
"Bunda berhasil mendapatkan sponsor utama untuk acaramu! Sponsor besar, Ra. Ini bakal bikin acaramu jadi sorotan media nasional! Atau bahkan sampai internasional." Mata Aurora sempat berbinar sesaat, sebelum dia akhirnya tersadar. "Bunda, maaf sebelumnya. Sejak kapan Bunda ikut campur sedalam ini soal butik Aurora?" tanya Aurora dengan nada penuh ke hati-hatian. Alih-alih tersinggung, Martha malah tersenyum. "Sejak malam dimana kamu bilang belum dapat sponsor utama. Kamu sendiri yang menolak bantuan ayah. Jadi bunda berinisiatif untuk membantu." "Aaah.. Lupakan soal hal itu—" Martha meletakkan map yang dia pegang di atas meja dan membukanya, menunjukan proposal yang sudah ditandatangani. Aurora melihatnya sekilas. "Dan sponsor utamanya adalah ..." Martha sengaja memberi jeda dramatis, "...Aetherion Group" Mata Aurora terbelalak mendengar nama perusahaan yang di sebut oleh Bundanya. Siapa yang tidak kenal Aetherion Group? Aetherion Group bukan sekedar perusahaan biasa, tapi sebuah holding company raksasa. Tidak hanya bergerak pada satu bidang, tapi memiliki dan mengendalikan banyak perusahaan lain di bawah payung mereka. "Kok bisa bunda dapet sponsor dari perusahaan sebesar itu?" tanya Aurora antusias. Aurora langsung meraih map di meja, melihatnya dengan seksama. Namun alisnya megernyit ketika melihat nama CEO yang tertera disana. Darmawan Aetherion Pradana. Aurora sepertinya tak asing dengan nama belakang itu. Ia lantas melirik Bundanya dengan raut penuh tanda tanya. "Bunda, ini?" tanya Aurora, berharap apa yang dibenaknya salah. Martha menjawab dengan senyum kemenangan. "Perusahaan milik keluarga Pradana. Keluarganya Rasya." "Lalu Darmawan Aetherion Pradana?" "Oh.. itu ayahnya Rasya." Perasaan membuncah yang tadi ia rasakan langsung lenyap tak bersisa. Aurora menatap bundanya, lalu proposal yang ia pegang ia lempar pelan ke meja, seolah tidak percaya. "Enggak," ucapnya singkat, dingin, dan tegas. Martha sedikit terkejut melihat reaksi dan penolakan Aurora. "Enggak? Maksud kamu apa, Ra? Ini kesempatan emas!""Aku nggak mau, Bun. Tolong batalkan."
"Oh Aurora.. Kamu sadar kan jika ini di batalkan, dampaknya akan seperti apa? Bukan hanya butikmu yang malu tapi keluarga kita, nak." "Sekali ini saja jangan keras kepala. Sponsor sebesar ini nggak datang dua kali. Mereka menanggung hampir semua biaya yang kamu butuhkan. Kamu tau kan apa artinya ini untuk butikmu." Aurora menahan segala gejolak yang ia rasakan. dadanya sesak dengan rasa kesal. "Aku sebaiknya cari sponsor lain, Bun. Atau mentok, aku bisa pakai uang tabunganku sendiri daripada harus berutang budi sama keluarganya. Aku nggak sudi." "Utang budi apa? Ini murni bisnis, sayang! Mereka lihat potensi di acaramu." "Aku nggak percaya. Ini pasti ada hubungannya sama perjodohan itu, kan? Ini cara dia buat mengontrol aku dan memperlihatkan kekuasaanya. Aku nggak akan masuk perangkapnya," ucapnya sedikit emosi. Tapi Martha tidak ikut emosi. Sebaliknya, beliau menghela napas, wajahnya menampakan raut kecewa, yang justru lebih menusuk bagi Aurora. "Baiklah kalau begitu," ucap Martha dengan nada tenang. "Batalkan saja." Aurora menatap bundanya tak nyaman, sedikit serba salah. "Tapi Bunda cuma mau kamu tahu," lanjut Martha sambil menatap lurus ke mata putrinya. "Bunda kira kamu membangun butik ini untuk membuktikan pada kami, kalau kamu adalah seorang profesional. Seorang pebisnis sejati." Martha berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya diresapi oleh putrinya. "Seorang profesional tidak akan membuang kesempatan terbaik dalam karirnya hanya karena masalah pribadi. Mereka memisahkan ego dengan bisnis." "Lagi pula.. Aetherion Group tidak serta merta menyetujui. Ini hanya langkah awal persetujuan. Kamu masih harus mempresentasikan visi dan misi acaramu. Bukankah, begitu?" "Justru Ini kesempatanmu, Aurora. Kesempatan untuk membuktikan pada dunia bahwa kamu desainer hebat dan sangat layak di perhitungkan." Entah sengaja men-trigger Aurora atau tidak, tapi kalimat yang di ucapkan Bundanya itu langsung mengena di hatinya. "Buktikan juga kepada Rasya kalau kamu bisa memimpin proyek ini dengan kepala dingin. Bisa memisahkan antara masalah pribadi dan bisnis. Kalau kamu menolak, itu sama saja memberinya kemenangan. Dia akan berpikir dia berhasil membuatmu takut dan lari dari tantangan." Martha lalu tersenyum tipis. "Jadi, mana yang akan kamu pilih? Menunjukkan padanya siapa Aurora Meschach si pebisnis ulung, atau membiarkan dia menang bahkan sebelum perang dimulai?" Pintu ruangan kerja Aurora tertutup, meninggalkan keheningan. Tapi di dalam kepala Aurora, perangnya baru saja dimulai. Dia benci mengakui ini, tapi ibunya benar. Lari dari masalah ini hanya akan memberinya kepuasan sesaat karena telah menolak sebuah perusahaan besar, tapi kekalahan dalam jangka panjang. Dia tidak akan lari. Ia akan menghadapi ini. Aurora mengambil napas dalam-dalam. Bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk mengumpulkan seluruh emosinya yang campur aduk—marah, gengsi, terpojok—dan mengubahnya menjadi energi dingin yang terfokus. Aurora menekan tombol intercom di mejanya. "Hana, tolong ke ruangan saya," ucapnya dengan nada yang datar dan terkontrol. Beberapa saat kemudian, asistennya masuk. "Iya, ada apa Bu Aurora?" "Kamu yang sudah memberikan berkas proposal pengajuan sponsor kepada Bunda saya?" tanya Aurora tanpa basa-basi. Hana terlihat sedikit segan dan takut, lalu ia mengangguk. "Iya, Bu. Maafkan saya karna tidak bilang." Aurora menghela napas. "Ya sudah.. pasti Bunda yang nyuruh kamu untuk nggak bilang sama saya, kan?" Hana mengangguk ragu-ragu. "Kali ini saya maafkan. Tapi untuk kedepannya, apapun yang menyangkut butik ini, kamu harus bilang dulu sama saya, even itu keluarga saya sekalipun. Kalau mereka bilang jangan kasih tau saya, kamu harus tetap bilang. Kamu bekerja untuk saya, bukan untuk mereka." Hana mengangguk paham. "Baik, Bu. Saya mengerti." "Baik, kalo gitu. Kalau kamu sudah paham, mari kita kembali ke pekerjaan." Aurora memberi intruksi pada Hana untuk duduk di depannya. "Kita sudah dapat sponsor utama untuk acara fashion show," ucap Aurora, tanpa sedikit pun nada gembira. "Aetherion Group." Aurora menatap lurus asistennya yang terkejut dengan apa yang didengarnya. "Aetherion Group?" tanya Hana setengah tidak percaya. Aurora sedikit mengangguk. "Ya, kamu nggak salah dengar, Hana." "Saya mau kamu hubungi perwakilan mereka hari ini juga untuk konfirmasi. Atur pertemuan pertama di sini, di kantor kita, paling lambat awal minggu depan." Sengaja dia menekankan kata "di sini". Itu adalah penegasan kecil, bahwa ini adalah wilayah kekuasaanya. "Siapkan semua materi presentasi, timeline proyek, dan draf anggaran. Saya mau semuanya sempurna. Dan kita harus usahakan, tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun saat meeting nanti. Mengerti?" Setiap kalimatnya tajam dan penuh perintah. Ini bukan lagi soal kolaborasi. Ini soal menunjukan siapa yang memegang kendali. Aurora sedang membangun benteng profesionalismenya setinggi mungkin. Setelah Hana keluar dari ruangan, meninggalkan Aurora sendirian dengan keheningan, Aurora kembali bersandar di kursinya. Tatapan dinginnya terpaku pada logo Aetherion Group yang tergeletak angkuh di atas mejanya. Tidak mungkin ini kebetulan. Pikirannya langsung menyusun kepingan puzzle dengan cepat. Aetherion. Rasya. Perjodohan. 'Bunda,' batinnya. Ia memejamkan matanya sesaat. Rasa tak percaya bercampur dengan kekesalan yang membara. 'Aku tidak menyangka Bunda akan sejauh ini.' Menggerakkan sebuah korporasi raksasa dan mempertaruhkan nominal yang tidak sedikit hanya untuk memaksanya berkenalan lebih jauh dengan seorang pria? Ini bukan lagi perjodohan biasa. Ini adalah sebuah invasi. Dan Aurora sadar betul akan hal itu. Dia merasa terjebak. Di satu sisi, ada amarah karena dimanipulasi—in a good way. Di sisi lain, proposal di hadapannya adalah kesempatan emas yang terlalu berharga untuk dilewatkan oleh sisi profesionalnya. Sebuah jebakan yang sempurna. Dengan rasa penasaran yang bercampur was-was, ia membuka laptopnya. Jari-jemarinya yang dingin bergerak cepat di atas keyboard. Dia mengetik tiga kata kunci ke dalam mesin pencari: "Rasya Pradana Aetherion". Hasil pertama yang muncul adalah profil LinkedIn-nya, lengkap dengan foto korporatnya yang tajam. Jawabannya terpampang jelas di sana. Rasya Aetherion Pradana CEO at Elysian Media (a subsidiary of Aetherion Group) Chairman at Prestige Properties Mata Aurora terpaku pada baris pertama: CEO, Elysian Media. Aurora menutup laptopnya dengan pelan. "Jadi begini permainannya?" Ia mendengus pelan. "Baiklah, bagaimanapun, ini adalah kesempatan. Dan aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin."Setelah Galaxy kembali sibuk dengan dunia mayanya di sofa, Aurora melanjutkan sarapannya. Setelah beberapa suap, Rasya menyendokkan bubur lagi, lalu mendekatkannya ke bibir Aurora. "Satu suap lagi ya, Baby?" bujuk Rasya lembut. Aurora menggeleng pelan, menutup mulutnya rapat. "Udah, Mas. Perut aku rasanya penuh banget." Rasya melirik mangkuk bubur yang sebenarnya masih tersisa seperempat. Kalau dalam kondisi normal, ia pasti akan memaksa istrinya makan lebih banyak. Namun, ia tahu kondisi pencernaan Aurora pasca operasi belum sepenuhnya normal. "Oke, nggak apa-apa," ucap Rasya pengertian. Ia meletakkan mangkuk itu ke meja nakas. Rasya lalu mengambil gelas berisi air putih dengan sedotan, membatu Aurora minum beberapa teguk untuk membilas mulutnya. Setelah selesai, Rasya mengambil tisu, membersihkan sisa air di sudut bibir istrinya dengan gerakan sangat hati-hati. Perlakuan manis itu membuat Aurora memejamkan mata, menikmati sentuhan suaminya. Rasya menyingkirkan
Rasya duduk di tepi ranjang, dengan telaten menyuapi bubur halus ke mulut Aurora. Setiap suapan ia tiup dulu dengan sabar, memastikan tidak terlalu panas.Sementara itu, di sofa panjang, Galaxy sedang rebahan santai dengan kaki menyilang, matanya terpaku pada layar ponsel."Oiya, Kak Rara. Hampir lupa," celetuk Galaxy tiba-tiba, memecah keheningan sarapan itu.Aurora menelan buburnya, lalu menoleh pada adiknya."Apa, Gal?"Galaxy bangun dari posisinya, duduk tegak dengan mata berbinar."Selamat ya. Kak Rara beneran gila," Galaxy menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Sumpah, Kakakku ini sinting.""Kak Rara tau nggak? Kemarin pagi Head Nurse di bangsal aku—yang biasanya galak kayak singa betina dan nggak peduli dunia luar—tiba-tiba ngomongin 'The Rebirth' pas lagi visit pasien."Mata Aurora sedikit melebar. Sendok di tangan Rasya berhenti di udara."Serius? Sampe Jerman?" tanya Aurora tak percaya."Bukan cuma Jerman. Tuh..." Galaxy menyodorkan HP-nya dari kejauhan. "Satu Ero
Jarum jam dinding menunjuk angka satu dini hari.Di ranjang pasien, napas Aurora terdengar teratur. Wajahnya damai, seolah tidak baru saja melewati pertarungan hidup dan mati.Pintu kamar mandi ruang inap itu terbuka.Rasya keluar dengan rambut basah dan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos bersih dan celana bahan yang lebih nyaman. Aroma sabun maskulin menguar, sedikit menyamarkan bau antiseptik rumah sakit yang seharian menempel di badannya.Rasya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, lalu berjalan mendekati sofa panjang di dekat jendela.Di sana, Galaxy duduk bersandar sambil memainkan ponsel, menjaga shift-nya sesuai janji. "Aurora udah tidur lagi?" bisik Rasya, melirik ke arah ranjang.Galaxy mengangguk, sekilas mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Pules banget. Efek cokelat sama obat tidur. Aman. Bang Rasya istirahat aja."Rasya menghela napas panjang, lalu meng
Hujan gerimis memukul kaca jendela, menciptakan irama yang sendu di dalam ruangan yang hening itu.Rasya duduk di kursi samping ranjang, menunduk dalam, tangannya masih menggenggam tangan Aurora yang tertidur pulas karena pengaruh obat yang disuntikkan dokter dua jam lalu.Tiba-tiba, pintu kamar tersentak terbuka, membentur stopper karet di dinding, sebelum ditahan oleh tangan yang gemetar.Seorang pria muda menerobos masuk. Napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya, dadanya naik turun di balik hoodie abu-abu yang ditumpuk coat tebal.Rambutnya lepek terkena hujan, dan ada tas ransel sedang yang menggantung miring di bahunya.Galaxy berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di sosok wanita yang terbaring lemah di ranjang.Melihat Aurora—yang tampak tenggelam di antara selang oksigen dan selimut rumah sakit—bahu Galaxy merosot. Topeng ceria yang biasa ia pakai, retak sejenak."
Roda brankar berdecit halus saat didorong masuk ke dalam ruangan luas itu.Berbeda dengan ruang pemulihan yang dingin dan penuh alat, ruangan ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Lantainya berlapis parket kayu hangat, ada sofa kulit panjang di sudut, pantry kecil, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan langit malam Paris.Namun, bagi Rasya, kemewahan itu nomor sekian. Yang terpenting adalah kenyamanan istrinya."Hati-hati," tegur Rasya tajam saat perawat hendak memindahkan tubuh Aurora dari brankar ke tempat tidur pasien."Tolong pelan-pelan. Jangan ada guncangan di perutnya," perintah Rasya dalam bahasa Inggris yang fasih namun penuh penekanan.Para perawat itu mengangguk patuh, bekerja ekstra hati-hati memindahkan Aurora. Rasya ikut memegangi kepala dan bahu istrinya, memastikan pergerakannya seminimal mungkin.Setelah Aurora berbaring sempurna di kasur empuk itu, Rasya langsung memeriksa semuanya. Ia membetulkan l
Isak Aurora membuat dada Rasya sesak. Melihat keputusasaan di mata istrinya adalah siksaan terberat. Rasya menggeleng cepat. Ia tersenyum, lalu membawa tangan Aurora, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas perut wanita itu yang kini terbalut perban pasca operasi. "Dia masih di sini," ucap Rasya, menekan lembut tangan Aurora ke perutnya sendiri. Aurora terdiam, menatap suaminya bingung. Air matanya terus menetes. "Hah?" "Anak kita kuat banget, Baby. Persis Ibunya. Dia masih di dalem. Jantungnya masih berdetak." Mata Aurora membelalak lebar. Bibirnya gemetar hebat. "Bo... hong..." "Aku nggak bohong demi Allah," Rasya terisak bahagia, mencium punggung tangan istrinya bertubi-tubi. "Dia bertahan. Dia selamet. Kamu berhasil lindungin dia." Mendengar itu, tangis Aurora pecah. "Ya Allah..." Aurora menangis tersedu-sedu, memeluk perutnya sendiri dengan protektif meski tangannya gemetar. "Anakku... anakku masih ada..." "Anak kita, Baby," koreksi Rasya, memeluk kepala Aurora,







