공유

9. Tiada Akhir

작가: Bintangjatuh
last update 게시일: 2025-10-15 22:00:44

Mereka kembali ke titik awal, dalam sebuah perang dingin di ruangan pribadi Aurora.

Kalimat terakhir Rasya 'Tapi sepertinya, kamu lebih suka cara yang sulit' terngiang di telinga Aurora.

Ruangan itu kembali hening, tapi kali ini dipenuhi oleh perang batin di dalam kepala Aurora.

Amarah. Itulah yang pertama ia rasakan. Amarah pada pria di depannya, pada orang tuanya, pada takdir yang membuatnya terpojok seperti ini. Rasanya ia ingin berteriak dan mengusir Rasya keluar dari ruangannya.

Tapi k
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   196.

    Siang yang tegang kini telah berganti menjadi sore yang terasa luar biasa panjang. Di ruang tamu hôtel particulier, suasana terasa pekat oleh kecemasan. Sejak kepergian Rasya, Bunda Martha telah menyita ponsel Aurora dan dengan tegas melarang siapa pun menyalakan televisi. Wanita paruh baya itu tidak ingin Aurora terpapar berita miring yang bisa membebani pikiran dan memengaruhi kondisi kandungannya. Martha sendiri duduk di sofa single, ibu jarinya tak henti-hentinya menekan tombol tasbih digital kecil yang melingkar di telunjuknya, diiringi bibir yang terus bergerak merapal doa lirih. Sementara itu, Miranda berdiri di dekat jendela kaca riben, mengawasi gerbang depan yang sudah bersih dari wartawan serta paparazzi. Aurora yang duduk memeluk bantal sofa akhirnya tak tahan lagi. Ia menatap bundanya dengan raut wajah memohon. "Bunda..." panggil Aurora pelan, suaranya bergetar menahan cemas. "Sudah hampir empat

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   195.

    Ferdi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata kehancuran, menatap Rasya dengan tatapan nanar. "A-apa lagi yang kamu inginkan?"​Rasya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ferdi lurus-lurus.​"Kalian ingin tahu dari mana aku mendapatkan video jernih itu, bukan?" tanya Rasya, nadanya merendah menjadi bisikan yang mematikan."Aku mendapatkannya dari keponakan kandungmu, Ferdi. Dari Dio."​Darah Ferdi seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya dengan keras. "Dio...?"​"Ya. Dio," lanjut Rasya, memastikan setiap kata terucap dengan jelas. "Kisah keluargamu benar-benar menggelikan, Ferdi. Kau rela membesarkan Leonil, anak haram dari pria yang telah menghancurkan kewarasan adik kandungmu sendiri, sementara keponakanmu menyimpan dendam kesumat dari balik bayang-bayang."Suara Rasya berhenti mengalun, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekik.Ferdi bersi

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   194.

    Keterkejutan di wajah Helene hanya bertahan selama beberapa detik.Wanita itu bangkit berdiri, menatap Rasya dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Kelembutan yang selalu ia tampilkan, kini habis tak bersisa."Beraninya kamu menerobos masuk ke rumahku seperti preman jalanan?!" teriak Helene, suaranya melengking memenuhi ruang tamu. Ia menoleh pada suaminya. "Ferdi! Panggil keamanan utama! Hubungi polisi sekarang juga!"Ferdi baru saja meraih gagang telepon rumah dengan tangan gemetar, namun suara kokangan senjata dari salah satu anak buah Rasya yang berdiri di dekatnya membuat pria paruh baya itu kembali membeku di tempat.Rasya sama sekali tidak terganggu oleh teriakan Helene. Dengan gerakan yang teramat santai dan elegan, ia melangkah maju, melepaskan kancing jasnya, lalu duduk di sofa single tepat di hadapan Helene, mengambil alih posisi tuan rumah secara mutlak."Simpan tenagamu, Helene. Berteriak hanya akan membuat

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   193.

    Di kediaman keluarga Adyasan, sebuah Manor House bergaya Eropa klasik yang megah, suasana pagi itu terasa sangat kontras.Di ruang tamu yang didominasi pilar marmer putih dan lampu gantung kristal raksasa, Helene Adyasan duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas sofa velvet berwarna maroon. Sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat berada di tangannya. Senyum puas terukir jelas di bibir wanita paruh baya itu, merasa telah memenangkan peperangan tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.Di seberang ruangan, Ferdi Adyasan, tampak mondar-mandir dengan gurat wajah yang sangat lelah dan penuh kecemasan."Berhentilah mondar-mandir seperti orang bodoh, Ferdi. Kamu membuatku pusing," tegur Helene dingin, meletakkan cangkirnya ke atas meja kaca. "Semuanya sudah berakhir. Jam segini, monster sombong dari Asia itu pasti sedang menunduk memohon ampun di ruang interogasi polisi, atau setidaknya sedang berkeringat dingin di depan meja Mousier Luca."

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   192.

    Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal. Namun, pemandangan di dalam gedung kepolisian justru berbanding terbalik 180 derajat dengan ekspektasi publik. Alih-alih digiring ke ruang interogasi yang pengap, Rasya dikawal masuk ke dalam ruangan VIP milik Kepala Kepolisian Distrik. Di dalam sana, tim pengacara elit Aetherion cabang Eropa yang mengenakan setelan jas rapi sudah berdiri menanti bersama kepala polisi yang tampak sedikit tegang. "Monsieur Pradana," sapa Polisi itu seraya mengulurkan tangan, raut wajahnya menyiratkan rasa segan yang sangat kental. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan siang ini. Anda tahu bagaimana tekanan media lokal. Laporan Nyonya Helene memaksa kami melakukan prosedur formal

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   191.

    Di saat yang bersamaan, di teras ruang kerja, Rasya masih memegang ponsel di telinga, mendengarkan suara berat Darmawan Pradana dari ujung sambungan lintas benua."Tenang saja, Pa. Aku akan ingat itu," ucap Rasya dengan nada rendah dan penuh hormat. "Aku akan segera membereskan semuanya."Tepat saat Rasya memutus panggilan tersebut, sayup-sayup terdengar suara riuh dari arah luar gerbang depan hôtel particulier. Suara teriakan, decit rem mobil, dan disusul oleh lengkingan raungan sirine yang memecah kedamaian kawasan elit Le Marais.Alis Rasya bertaut tajam. Tanpa membuang sedetik pun, ia membuka pintu kaca penghubung dan melangkah cepat kembali ke dalam ruang kerjanya.Di dalam, Raka dan Aurora menoleh ke arahnya. Keduanya tampak sama bingungnya, mendengar kegaduhan yang mendadak pecah di luar sana.Rasya langsung menghampiri Aurora, menangkup kedua bahu istrinya dengan gerakan cepat namun protektif."Aurora, dengarkan aku. Temu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status