Share

8. Menawarkan Ke'mitra'an

Author: Bintangjatuh
last update Last Updated: 2025-10-15 10:00:03

Kantor Aurora terbilang sangat luas, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama, ia gunakan untuk butiknya. Dan lantai kedua, ia gunakan untuk area meeting, area menerima tamu VVIP, dan ruangan pribadinya.

Akhirnya, mereka sampai di depan sebuah pintu kayu solid. Alih-alih membawa Rasya ke area VVIP, kakinya malah membawanya ke ruang pribadinya.

Aurora membuka pintu ruangan itu dan masuk lebih dulu, menahan pintu untuk Rasya agar bisa masuk lebih dulu ke dalam ruangan.

"Silahkan." ucap Aurora tegas.

Setelah Rasya masuk, Aurora menutup pintu di belakangnya, lalu berbalik dan menyilangkan tangan di dada. Sebuah postur defensif.

"Oke, kita sudah berdua. Apa yang ingin anda bicarakan, Pak Rasya? Babak kedua dari ujian tadi?"

Rasya tidak langsung menjawab. Matanya berkeliling mengamati ruangan Aurora—sketsa-sketsa desain yang tertempel di dinding, tumpukan majalah mode, sampel kain yang berwarna-warni. Ruangan ini terasa sangat personal, sangat "Aurora".

Akhirnya, ia berhenti dan menat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   129.

    Langit di luar jendela kaca setinggi langit-langit itu masih gelap gulita. Menara Eiffel di kejauhan hanya terlihat siluetnya dengan lampu yang sudah dimatikan. Kota Paris masih tertidur lelap dalam selimut kabut dini hari.​Namun, di dalam penthouse mewah bergaya Haussmann itu, kehidupan sudah dimulai.​Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari dapur modern, bercampur dengan dinginnya udara pagi.​Aurora terbangun karena sisi ranjang di sebelahnya dingin. Ia mengerjapkan mata, melirik jam digital di nakas. Pukul 04.30 pagi.​Ia bangun, mengenakan kimono tidurnya, dan berjalan keluar kamar mengikuti cahaya lampu yang remang-remang dari ruang tengah.​Pemandangan di sana membuatnya berhenti sejenak.​Rasya duduk di ujung meja makan marmer panjang yang kini telah beralih fungsi menjadi pusat komando.​Meja itu penuh. Tiga layar monitor portabel menyala terang, menampilkan grafik saham Aetherion Group yang bergerak liar dan live feed CCTV proyek PIK. Sebuah headset nirkabel terpasang di

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   128.

    Suasana di Private Lounge itu hening dan dingin, kontras dengan gemuruh di kepala Rasya. Hanya terdengar denting sendok teh yang beradu dengan piring kecil dan suara ketikan agresif di laptop.​Rasya duduk di sofa kulit hitam, berkas-berkas logistik berserakan di meja marmer di hadapannya. Raka berdiri di sampingnya, tablet di tangan, wajahnya tegang seolah baru melihat hantu.​"Pesawat kargo dari London sudah standby di Heathrow, Pak," lapor Raka dengan suara rendah, takut terdengar staf lounge.​"Tapi ada masalah baru. Intel saya bilang, Imigrasi Prancis di Le Bourget mendadak memperketat pemeriksaan untuk penerbangan non-komersial minggu ini. Isu terorisme."​Rahang Rasya mengeras. Tangan kanannya berhenti memutar pulpen Montblanc-nya.​"Seberapa ketat?" tanya Rasya dingin tanpa menoleh.​"Sangat ketat. Mereka memeriksa manifes penumpang satu per satu. Kalau mereka melihat 20 warga negara Inggris tanpa visa kerja masuk dengan pesawat carteran..."​Raka tidak melanjutkan kalimatnya

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   127.

    Pintu kamar utama terbuka pelan.Rasya melangkah masuk dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa remuk redam setelah seharian bergelut dengan logistik dan mafia. Niatnya hanya satu: membersihkan diri, tidur sejenak, lalu bangun pagi-pagi sekali untuk menjemput Aurora di paviliun rumah mertuanya.Ia menatap ranjang King Size yang gelap itu dengan tatapan nanar. Ia sudah siap mental untuk tidur sendirian lagi malam ini.Namun, langkah Rasya terhenti mendadak.Matanya menyipit, menembus keremangan cahaya bulan yang masuk dari celah tirai. Ada gundukan selimut di sana.Jantung Rasya berdesir hebat.Di atas ranjang, Aurora tertidur meringkuk memeluk guling. Napasnya teratur, namun ada sisa guratan lelah di wajah cantiknya yang terkena bias cahaya bulan. Rambutnya berantakan menutupi bantal.Rasya terpaku di tempatnya. Rasa tak percaya dan lega bercampur aduk memenuhi dadanya hingga terasa sesak.Aurora pulang.

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   126.

    Suasana di ruangan Rasya dingin dan tegang. AC disetel ke suhu terendah.​Rasya duduk di balik mejanya, kemeja putihnya sudah tidak memakai dasi, lengan digulung sampai siku. Di hadapannya, Raka meletakkan sebuah dokumen tebal dengan stempel "URGENT".​"Likuidasi saham Blue Chip Bapak di Singapore sudah disetujui. Dana tunai masuk ke rekening penampungan 10 menit yang lalu," lapor Raka, suaranya terdengar lelah tapi profesional.​Rasya tidak tersenyum. Ia mengambil pulpen Montblanc-nya, lalu menandatangani dokumen transfer itu dengan goresan tegas dan cepat.​"Pecah transaksinya jadi tiga termin supaya tidak mentrigger alarm bank sentral Eropa," perintah Rasya tanpa keraguan.​"Baik, Pak. Dan pihak 'The Greatest'?"​"Mereka minta uang muka 50% cair hari ini sebelum jam 12 siang waktu London. Atau pesawat kargonya batal terbang."​Rasya menatap Raka tajam.​"Pastikan uang itu sampai. Aku tidak mau dengar alasan 'siste

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   125.

    ​"Aurora? Ini Bunda, Sayang."Aurora panik. Ia buru-buru mengambil kacamata bacanya (untuk menutupi mata bengkak), merapikan baju kusutnya, dan memasang wajah "sibuk".​"Masuk, Bun! Nggak dikunci!" seru Aurora. Ia buru-buru bangkit dari lantai, menyambar meteran kain, dan berpura-pura sedang mengukur bahu manekin.​Pintu terbuka. Martha masuk membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng madu kesukaan Aurora.​Mata tajam Martha langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada wajah putrinya. Sebagai ibu, ia tahu persis mata itu habis menangis. Tapi ia ingat pesan suaminya tadi pagi: Jangan diinterogasi. Rasya sudah izin.​"Bunda liat dari jendela dapur kok tirai paviliun kebuka," ujar Martha santai, meletakkan nampan di meja. "Kirain hantu, ternyata anak gadis Bunda."​"Hehe, iya Bun..." Aurora tertawa canggung, menghindari kontak mata. "Kaget ya?"​"Sedikit," Martha duduk di sofa kecil, menatap Aurora lembut.

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   124.

    Rasya menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya yang berat. Uang aman. Paris aman.​Tapi kata-kata terakhir ayahnya menghantuinya. Rumah yang tenang.​Rasya melirik jam tangan. Pukul 17.00.Ia menyambar kunci mobil dan jasnya. Ia harus pulang. Ia harus memeluk Aurora dan menjelaskan bahwa semuanya sudah terkendali.​Mobil sedan Rasya menderu masuk ke garasi rumah baru mereka.​Rumah itu gelap.​Hanya lampu taman dan lampu teras yang menyala otomatis. Tidak ada cahaya hangat dari ruang tengah maupun kamar tidur utama di lantai dua.​Jantung Rasya berdetak tidak enak.​Ia membuka pintu utama dengan fingerprint.​"Aurora?" panggil Rasya saat melangkah masuk.​Hening.​Suara langkah kakinya menggema di lantai yang dingin. AC sentral menyala, membuat udara terasa dingin menusuk tulang.​"Baby? Aku pulang."​Tidak ada jawaban. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada suara TV.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status