Teilen

8. Menawarkan Ke'mitra'an

last update Zuletzt aktualisiert: 15.10.2025 10:00:03

Kantor Aurora terbilang sangat luas, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama, ia gunakan untuk butiknya. Dan lantai kedua, ia gunakan untuk area meeting, area menerima tamu VVIP, dan ruangan pribadinya.

Akhirnya, mereka sampai di depan sebuah pintu kayu solid. Alih-alih membawa Rasya ke area VVIP, kakinya malah membawanya ke ruang pribadinya.

Aurora membuka pintu ruangan itu dan masuk lebih dulu, menahan pintu untuk Rasya agar bisa masuk lebih dulu ke dalam ruangan.

"Silahkan." ucap Aurora t
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   173.

    Keesokan paginya, cahaya matahari yang keemasan menembus jendela-jendela kaca tinggi di ruang makan utama hôtel particulier.Setelah perdebatan kecil yang diwarnai rayuan maut, Aurora akhirnya berhasil membujuk Rasya untuk mengizinkannya sarapan di luar kamar.Di atas meja marmer yang panjang, Mbak Jayanti dengan cekatan menata piring-piring porselen. Di hadapan Aurora, ia menyajikan semangkuk Nasi Tim Ayam Jamur yang masih mengepulkan uap panas, teksturnya dibuat sangat lembut dengan siraman kaldu ayam kampung yang kaya nutrisi, khusus untuk memulihkan stamina sang nyonya.​Sementara itu, untuk Rasya, tersaji sepiring Nasi Goreng Rempah dengan telur mata sapi yang bulat sempurna dan berpinggiran lembut, ditemani potongan daging wagyu tipis sebagai pelengkap.​Aroma gurih kaldu, bawang putih goreng, dan semilir wangi minyak wijen menguar memenuhi udara, sangat menggugah selera.Aurora menatap hidangan di depannya dengan mata berbinar, lalu mendongak menatap kedua staf yang sudah meraw

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   172.

    Di ruangannya, Raka bersandar di kursi sambil menatap langit-langit tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak cemas melihat Leonil yang memilih bungkam dan memohon kematian. Biarkan saja ruangan bersuhu minus derajat itu yang bekerja menguliti kewarasan putra konglomerat itu.Raka menegakkan punggungnya. Fokusnya kini tertuju pada tablet di tangannya, menatap lekat-lekat pada sebuah titik koordinat merah yang berkedip di atas peta digital.Saat membeberkan bukti kepada Leonil tadi, ada satu kepingan informasi krusial yang sengaja Raka tahan dan tidak ia ucapkan. Sebuah keanehan yang terlalu sensitif untuk dilempar ke meja interogasi begitu saja.Semuanya bermula saat para algojo menyerahkan barang bawaan Leonil yang mereka sita kepadanya. Mengabaikan hukum privasi, Raka langsung mengambil ponsel pemuda itu dan menghidupkannya.​Ponsel itu tampak seperti perangkat baru, terlihat dari antarmuka dan isi galerinya yang masih kosong melompong. Namun

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   171.

    Leonil gemetar hebat. Udara dingin di ruangan itu seakan menusuk langsung ke sumsum tulang belakangnya. Di saat itulah, ia menyadari sebuah fakta bahwa mereka tidak tahu tentang sepupunya. Mereka mengira ini murni rencananya."A-aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!" bantah Leonil dengan suara bergetar, berusaha meronta meski sabuk kulit tebal itu mengunci pergelangan tangannya tanpa ampun. "Itu... itu murni kecelakaan! Temanku mabuk dan kehilangan kendali! Aku hanya membantunya karena tidak tega dia berada di penjara! Aku bersumpah tidak tahu kalau wanita yang ditabrak temanku itu istri Rasya Pradana!"Di seberang layar monitor raksasa, wajah Raka tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Ia hanya menatap Leonil dalam diam selama beberapa detik. ​Raka lalu menghela napas pendek, sebuah desahan sarat akan kekecewaan yang sangat merendahkan. ​"Sangat disayangkan," respons Raka dengan nada datar. "Bos saya paling benci orang yang mem

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   170.

    Leonil berusaha menerobos, namun tangan besar pria di belakangnya langsung mencengkeram lengan dan bahunya dengan kekuatan baja yang menyakitkan. "Sebuah kehormatan bisa menyambut kedatangan Anda di Jakarta," lanjut pria di depannya, mengabaikan sama sekali kepanikan Leonil. Sudut bibirnya berkedut, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. "Tuan Rasya Pradana sudah menyiapkan tempat istirahat yang sangat istimewa untuk Anda."Mendengar nama itu disebut, lutut Leonil seketika lemas tak bertulang. Wajahnya pias pasi. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar, tergantikan oleh kengerian yang mencekik nadinya. 'Mustahil. Ini mustahil!' jerit Leonil dalam hati. 'Bagaimana iblis itu bisa tahu?!' "I-ini salah paham!" ronta Leonil putus asa, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak kenal—" "Tolong jangan membuat keributan di tempat umum, Tuan Adyasan," potong pria itu dengan suara rendah, tatapannya menyiratkan peringatan terakhir. "Ikut kami secara sukarela, atau kami har

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   169.

    Hawa panas dan pengap memenuhi sebuah ruangan yang terlihat tak terawat. Asbak yang menggunung oleh puluhan puntung rokok begitu mencolok. Di tepi ranjang yang berantakan, seorang pria duduk membungkuk. Tangan kirinya mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel ke telinga. Matanya memerah, dilingkari warna hitam yang pekat akibat kurang tidur berhari-hari. 'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silakan coba—' "Bangsat!" umpat pria itu, melempar ponselnya ke atas kasur. Ini sudah panggilan kelima belasnya dalam dua jam terakhir, dan orang di seberang sana sama sekali tidak bisa dihubungi. Napasnya memburu. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meletup-letup. Kepengecutan sepupunya itu benar-benar di luar batas toleransinya. Leonil berani mengabaikan panggilannya di saat krusial seperti ini? Dengan gerakan kasar, pria itu kembali menyambar ponselnya. Jari jempolnya bergerak cepat di atas l

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   168.

    ​Aurora mengangguk semangat. Senyum manis tak lepas dari bibirnya. "Udaranya seger banget. Rasanya kayak baru hidup lagi setelah kemarin-kemarin mencium bau obat rumah sakit." ​Tangan Aurora kemudian turun, menangkup kedua pipi Rasya yang berada tepat di hadapannya. Ia mengusap rahang tegas suaminya itu dengan ibu jarinya. ​"Makasih ya, Mas," ucap Aurora, kali ini nada suaranya berubah jauh lebih pelan dan sarat akan emosi yang tulus. ​Rasya tersenyum tipis. "Berhentilah berterima kasih, Aurora. Aku suamimu, ini sudah menjadi tugasku." ​Aurora menggeleng pelan. "Aku tetap harus bilang, Mas. Itu bentuk kecil penghargaanku untuk kamu. Makasih untuk semuanya. Untuk penjagaanmu, ketegasanmu, dan untuk selalu menempatkan aku di atas segalanya. Aku tahu, pikiranmu pasti lagi penuh banget sekarang memikirkan urusan di luar sana. Tapi saat kamu di depanku... kamu selalu berhasil bikin aku merasa jadi satu-satunya hal yang paling penting di dunia ini." ​Mendengar penuturan tulus itu,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status