Share

Bab. 201

Author: Yu.Az.
last update Last Updated: 2026-01-27 23:57:05

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Kanaya.

"Ugh!"

Kanaya mengerang pelan saat sinar matahari mengenai wajahnya. Kelopak matanya bergerak sulit sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya kabur, kepalanya terasa pening seolah dipukul berkali-kali. Seluruh tubuhnya panas, keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya.

“Apa … ini .…” gumamnya lemah.

Ia mencoba bangkit, tetapi baru sedikit mengangkat tubuhnya, rasa nyeri langsung menjalar dari dada hingga ujung ja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 226

    Pagi itu ibukota Solaria sudah ramai sejak matahari belum tinggi. Suara roda kereta, pedagang yang memanggil pembeli, dan langkah kaki orang-orang bercampur menjadi satu irama hidup yang sibuk.Di dalam kereta, Elena duduk berhadapan dengan Cani. Di samping pintu, Madi ikut menumpang, kepalanya sesekali menengok ke luar jendela dengan mata berbinar.“Ramai sekali,” gumam Madi sambil tersenyum lebar. “Baru kali ini aku melihat ibukota Solaria seperti ini.”Elena meliriknya sekilas, ikut tersenyum tipis. “Kau terlihat senang.”Madi tertawa kecil, lalu wajahnya berubah sedikit serius. Ia menatap Elena dengan sungguh-sungguh.“Nona Elena,” katanya pelan. “Aku … merasa tidak enak kalau harus terus menumpang di kediamanmu.”Elena mengerutkan kening. “Maksudmu?”Madi menghela napas. “Aku tidak ingin hidup gratis. Bolehkah aku mendapatkan pekerjaan? Apa saja. Setidaknya aku merasa berguna.”Elena terdiam sejenak, menimbang. Lalu ia mengangguk mantap. “Kau bisa menjadi pengawalku.”Madi terkej

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 225

    Adipati Dirgantara menatap keduanya bergantian. Alisnya berkerut, sorot matanya tajam menangkap kegelisahan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyanya pelan agar suaranya tak terdengar keluar. “Kenapa wajah kalian terlihat begitu gelisah?”Kanaya tersentak. Jarinya kembali mencengkeram kain lengan bajunya.“Ayah .…” suaranya bergetar. “Wajahku kini rusak. Aku takut … aku takut Yang Mulia Putra Mahkota Daniel akan membenciku. Bagaimana jika beliau membatalkan pertunangan kami?”Adipati Dirgantara menatap putrinya lama, lalu suaranya mengeras.“Bagaimana dengan elemen cahayamu, Kanaya?” Ia melangkah setapak lebih dekat. “Apa kau sudah bisa menggunakannya?”Kanaya membeku. Dadanya naik turun cepat. Ia melirik Permaisuri Lola dengan tatapan memohon, seolah meminta diselamatkan.Melihat putrinya terdiam, Adipati Dirgantara berkata lebih tegas, “Katakan saja. Aku ini ayahmu.”Keheningan semakin terasa di kamar itu. Akhirnya Permaisuri Lola membuka mu

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 224

    Tubuh Kanaya langsung menegang. Jari-jarinya mencengkeram kain seprai hingga berkerut.“Ayah …” suaranya nyaris tak terdengar, serak dan rapuh. “Aku … aku tidak bisa sekarang.”Putra Mahkota Daniel menatapnya dengan alis terangkat, sorot matanya tajam dan dingin.“Kenapa tidak bisa?” tanyanya datar. “Bukankah tadi kau begitu yakin bisa menyembuhkan orang lain. Saat gadis yang mirip Elena itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menusuk. “Atau jangan-jangan benar apa yang pernah dikatakan Caspian waktu itu.”Kanaya tersentak. Ia buru-buru memalingkan wajah, rahangnya mengeras.“Tidak, Yang Mulia,” katanya cepat, sedikit gemetar. “Elemen cahayaku masih ada. Aku hanya … hanya terlalu lelah. Elemenku tidak stabil.”Tabib yang sedang mengoleskan ramuan di wajah Kanaya berhenti sejenak. Ia menunduk hormat sebelum bicara.“Ampun, Yang Mulia Putra Mahkota. Hamba mohon izin menyela. Jika elemen cahaya digunakan dalam kondisi emosi yang tidak stabil, hasilnya justru bisa berbahay

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 223

    “Kaisar Ethan!”Panggilan itu memecah keheningan paviliun. Lamunan Kaisar Ethan buyar seketika. Ia berbalik dan mendapati Tuan Bastian berdiri di ambang pintu, wajahnya serius namun tenang.Kaisar Ethan langsung melangkah cepat menghampiri mertuanya. Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.“Ayah,” suaranya ditekan, tapi jelas bergetar. “Ayah sudah tahu, bukan? Siapa sebenarnya Elena?”Tuan Bastian menghela napas pelan, belum sempat menjawab.“Kenapa ayah begitu tenang saat melihatnya?” lanjut Kaisar Ethan, nada suaranya meninggi. “Kenapa Elena memanggil ayah … kakek? Dan kenapa ayah tidak terlihat terkejut seperti aku?!”Pertanyaan itu beruntun, tajam, tak memberi celah.Tuan Bastian mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat agar Kaisar Ethan menenangkan diri.“Tenanglah dulu, Ethan,” katanya dengan suara berat namun terkendali. “Aku mengerti perasaanmu. Percayalah, saat pertama kali melihat wajah Elena… aku juga terkejut.”Ia terdiam sejenak, matanya menerawang. “Wajahn

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 222

    Kereta kuda berhenti perlahan tepat di depan kediaman Elena. Lentera di depan gerbang bergoyang tertiup angin malam.Caspian turun lebih dulu, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Elena untuk membantunya turun. Sentuhan itu membuat Elena tersentak kecil.Caspian langsung menoleh. “Ada apa?”Elena tidak langsung menjawab. Ia menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam, lalu perlahan menarik tangannya sendiri. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sejak tadi ia pendam.“Katakan saja sejujurnya,” lanjut Caspian, suaranya lembut namun serius. “Apa yang mengganjal di hatimu?”Elena menghela napas pelan. Ia menatap Caspian, matanya sedikit bergetar.“Aku … entah kenapa merasa Kaisar Ethan memiliki ikatan denganku,” katanya akhirnya. “Perasaan itu sangat kuat. Tapi aku takut ini hanya perasaanku saja. Takut aku salah.”Ia mengepalkan jemarinya sendiri.“Guru Orion bilang 'kemungkinan' besar orang tuaku telah tewas.”Caspian tersenyum kecil, senyum yang tenang dan menenangkan.“Guru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 221

    Elena membantu Kaisar Ethan berdiri perlahan. Tangannya kecil namun hangat, menopang lengan pria paruh baya itu dengan hati-hati. Saat jemari mereka bersentuhan, ada getaran aneh yang menjalar di dada Elena. Perasaan asing, akrab, seolah pria di depannya bukan sekadar seorang kaisar, melainkan seseorang yang seharusnya selalu ada dalam hidupnya, perasaan kerinduan seorang anak pada sangg, Ayah. Elena tertegun sesaat. 'Kenapa rasanya seperti ini?' Ia segera menggelengkan kepala pelan, berusaha menyingkirkan perasaan itu. Dalam benaknya terngiang suara Guru Orion, yang dengan tegas drmengatakan bahwa kedua orang tuanya kemungkinan besar telah lama tewas. Logika itu seharusnya cukup untuk menenangkan hatinya.Namun sudut kecil di dalam dadanya tetap bergetar. 'Bagaimana jika mereka masih hidup?' Elena menarik napas dalam, lalu melepaskannya perlahan. Ia melangkah mundur setengah langkah dan membungkuk hormat dengan sikap sempurna.“Yang Mulia Kaisar Noah,” ucapnya tenang. “Hamba mohon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status