MasukSetelah meninggalkan area kedai, suasana di sekitar mereka perlahan kembali tenang. Jalanan pagi itu dipenuhi lalu lalang kereta kuda dan para pedagang yang mulai membuka toko. Namun berbeda dengan Elena yang masih memikirkan pertemuannya dengan Daniel, Caspian justru terlihat terus tersenyum kecil sejak tadi.Elena akhirnya melirik pria di sampingnya dengan heran. “Ada apa?” tanyanya pelan. “Kenapa kau terus tersenyum seperti itu?”Caspian menoleh menatap Elena. Senyum di bibirnya justru semakin jelas, membuat wajah dinginnya terlihat jauh lebih hidup dari biasanya. “Tidak ada,” ujarnya santai. “Aku hanya sedang senang.”“Senang?” Elena mengernyit bingung.Caspian tiba-tiba berhenti melangkah. Sebelum Elena sempat bertanya lagi, pria itu langsung menarik pinggang Elena mendekat ke arahnya hingga jarak mereka nyaris tidak menyisakan ruang.“Elena ....” suara Caspian terdengar rendah di dekat telinganya. “Aku ini kekasihmu, jadi ....”Deg!Jantung Elena langsung berdegup kacau. Napas h
“Elena!” suara Putra Mahkota Daniel terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya. Tatapannya penuh ketidakpercayaan saat memandang gadis di belakang Caspian itu. “Katakan sesuatu. Dia pasti bohong, bukan? Dia hanya mengada-ada.” Daniel menatap Elena seolah berharap mendapatkan jawaban berbeda. Ada kegelisahan yang begitu jelas di wajahnya, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari seorang putra mahkota. “Kalian pasti hanya berpura-pura ... benar begitu?” Elena terdiam sesaat. Angin pagi berembus pelan memainkan helaian rambutnya, sementara mata beningnya menatap Daniel tanpa sedikit pun kelembutan seperti dulu. Lalu perlahan, bibirnya terbuka. “Sayangnya ....” Elena tersenyum tipis. “Dia memang kekasihku.” Kalimat itu menghantam Daniel tanpa ampun. Wajah pria itu langsung berubah pucat sebelum perlahan memerah menahan emosi yang bercampur dengan rasa sakit. Tatapannya bergetar saat memandang Elena dan Caspian bergantian. “Tidak!” Daniel menggeleng pelan seolah menolak mempercayainya.
Langkah Elena terhenti sesaat. Gadis itu memejamkan mata sebentar seolah menahan rasa kesal sebelum akhirnya berbalik perlahan. “Apakah Yang Mulia memiliki urusan penting?”Daniel menatap Elena cukup lama. Wajah tampannya terlihat jauh lebih letih dibanding biasanya. “Kau bahkan tidak mau menatapku sekarang?”“Saya rasa tidak ada yang perlu dilihat.” Suara Elena terdengar datar, tetapi dingin. “Jika Yang Mulia hanya ingin membicarakan masa lalu, maka maaf, saya tidak punya waktu.”Rahang Daniel mengeras. Ia melangkah lebih dekat, namun Caspian langsung berdiri di samping Elena dengan tatapan tajam. Meski tidak berkata apa-apa, sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Daniel bertindak sembarangan.“Aku tidak sedang mencari masalah denganmu, Caspian,” ucap Daniel dingin tanpa mengalihkan pandangan. “Aku hanya ingin bicara dengan Elena.”“Dan saya tidak ingin berbicara.” Elena memotong cepat. “Bukankah semuanya sudah jelas sejak lama?”Tatapan Daniel berubah rumit. Ada p
Elena tidak menunggu lebih lama setelah mengatakan semua yang ingin ia katakan. Gadis itu langsung berbalik dan melangkah keluar dari ruangan privat kedai dengan wajah tenang tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Caspian segera berdiri lalu mengikuti Elena keluar. Bahkan makanan dan teh yang disiapkan di meja sama sekali tidak disentuh.Di dalam ruangan itu, hanya tersisa Rangga dan Nyonya Andini yang terdiam dengan hati penuh sesak. Sedangkan langkah Elena terus menjauh tanpa keraguan sedikit pun.Suasana di luar kedai jauh lebih ramai dibanding ruangan tadi. Orang-orang berlalu-lalang sambil berbincang, namun Elena tetap berjalan tenang di samping Caspian.Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka. Namun akhirnya Elena menoleh pelan ke arah pria di sampingnya.“Apa aku kejam?” tanya Elena tiba-tiba.Langkah Caspian sedikit melambat. Ia menatap Elena beberapa detik sebelum tersenyum kecil.“Kau tidak kejam sama sekali.”Elena terdiam.Caspian memasukkan kedua tangan
Kedai yang dipilih Rangga berada tidak jauh dari pusat kota akademi. Tempat itu cukup tenang dan tertutup, biasa digunakan para bangsawan atau murid elit untuk berbicara tanpa gangguan. Pelayan segera membukakan pintu ruangan khusus yang sudah dipesan sebelumnya. Aroma teh hangat dan makanan memenuhi ruangan, namun suasananya justru terasa kaku dan menekan. Elena masuk lebih dulu dengan wajah tenang lalu duduk di salah satu kursi tanpa banyak bicara. Caspian duduk di sampingnya sambil menyandarkan tubuh santai, meski tatapannya tetap waspada mengawasi Rangga dan Nyonya Andini. Sedangkan Rangga dan ibunya duduk di sisi berlawanan. Tidak ada yang langsung berbicara. Hening beberapa saat memenuhi ruangan itu. Namun Elena akhirnya memecah keheningan dengan suara datar. “Ada apa?” Tatapannya lurus ke arah Rangga tanpa sedikit pun emosi hangat. Nada suaranya juga dingin dan penuh jarak. Rangga terlihat sedikit gugup menerima tatapan itu. Ia melirik makanan yang baru saja disusun pela
Pagi di Akademi Pedang Langit terasa ramai seperti biasanya. Para murid berjalan keluar masuk gerbang akademi sambil membawa pedang ataupun buku teknik kultivasi.Di antara keramaian itu, Elena terlihat berjalan santai bersama Caspian di jalur batu menuju gerbang utama. Gadis itu mengenakan seragam akademinya dengan rambut panjang yang diikat sederhana, membuat wajah cantiknya terlihat semakin lembut di bawah cahaya matahari pagi.Sedangkan di sampingnya, Caspian berjalan dengan kedua tangan di belakang kepala sambil sesekali melirik Elena dengan senyum tipis.“Aku sudah memikirkan sesuatu sejak tadi malam,” ucap Caspian tiba-tiba.Elena menoleh sekilas. “Apa?”Pria itu tersenyum penuh misteri.“Aku ingin membuatkanmu sesuatu.”Elena mengangkat alis bingung.“Membuatkan apa?” tanyanya heran.Caspian terkekeh kecil. “Rahasia.”Elena menggeleng sambil tertawa pelan. “Kenapa kau tiba-tiba seperti anak kecil?”“Karena aku sedang berusaha membuat seseorang senang,” jawab Caspian santai. “D
Elena dan Caspian melangkah keluar dari aula sidang Kekaisaran. Lorong istana terasa lebih lengang dibanding tadi, hanya suara langkah mereka yang menggema pelan.“Sidangnya cukup melelahkan,” ucap Caspian sambil melirik ke samping.“Kau baik-baik saja?”Elena mengangguk kecil. “Tidak ada yang perl
Kanaya membeku di tempatnya setelah mendengar ucapan sang ayah. Tubuhnya terasa kaku, seolah darah di nadinya berhenti mengalir. Aula terasa semakin sunyi, tekanan di udara membuat napasnya sesak. Kaisar Noah menatapnya tajam dari singgasana. “Apa yang akan kau lakukan sekarang, Nona Kanaya?” tany
Keesokan paginya, suasana di kediaman keluarga Mahardika terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi penjagaan ketat, tidak ada wajah-wajah muram penuh ketakutan. Udara pagi terasa ringan, seolah beban besar akhirnya terangkat.Kereta yang membawa Elena berhenti di depan gerbang u
Pagi itu, udara begitu menusuk. Di halaman depan kediaman Adipati Dirgantara, Elena dan Cani tampak bergegas menuruni tangga batu keluar dari Paviliun Selatan, jubah mereka berkibar ditiup angin dingin. Seorang kusir tua sudah menunggu di samping kereta kuda sederhana. Cani menggosok-gosok lenganny







