Share

Bab 4

Author: Citra Lestari
Selama hari-hari berikutnya, Eliska sangat jarang keluar. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengejar ketinggalan dalam studinya di ruang kerja.

Beberapa hari sebelum kembali ke akademi, Dwiana baru mengajak Eliska ke Paviliun Raksi untuk mengunjungi Gayatri.

Paviliun Raksi, tempat tinggal Gayatri, ditanami pohon osmanthus di kedua sisinya. Meskipun bunganya sudah layu, pohon-pohon itu masih menyebarkan aroma segar samar, sangat pantas menyandang nama Paviliun Raksi.

"Nenek!" panggil Eliska, bahkan sebelum dirinya masuk ke dalam.

"Sayang, cepat kemari, duduk di sebelah nenek," ujar Gayatri.

Segera setelah Eliska duduk, pelayan yang sedang melayani Gayatri memberinya sebuah penghangat tangan.

Gayatri mengamati gadis itu selama beberapa saat, lalu berkata, "Kamu kelihatan energik hari ini."

Dwiana yang berada di sebelah berucap sambil tersenyum, "Beberapa hari lagi, dia akan kembali ke akademi. Aku sengaja membawanya ke sini untuk memberi tahu Ibu."

Gayatri mengernyit, hatinya sedikit sedih saat berkata, "Kesehatan Eli baru saja membaik, kenapa harus terburu-buru?"

Masih sambil mengulum senyum, Dwiana menjelaskan, "Bu, tiga bulan lagi akan diadakan ujian enam seni. Eli belum lulus seni memanah. Bagaimana dia bisa berhasil kalau nggak didesak? Jangan sampai nama keluarga adipati dipermalukan nanti."

Meski para wanita biasa di Yardin lebih mementingkan kebajikan daripada bakat, para gadis bangsawan di ibu kota tetap harus mengenyam pendidikan berat dan lulus ujian enam seni.

Enam seni itu mencakup etiket, musik, memanah, berkuda, kaligrafi, dan berhitung. Gadis yang gagal dalam enam bidang itu akan membawa aib bagi nama keluarga. Sebaliknya, gadis yang lulus dengan nilai baik akan dianugerahi gelar "Gadis Berbakat" dan membawa kehormatan besar bagi keluarganya.

Pada waktu yang sama di kehidupan lampau, keterampilan memanah dan berkuda Eliska kurang baik karena fisiknya lemah. Itu sebabnya dia kehilangan kesempatan untuk dipilih sebagai "Gadis Berbakat".

Setelah beberapa bulan menikah, Eliska baru belajar berkuda dan memanah dari Arjuna. Keterampilannya ternyata cukup baik. Dia mungkin bisa memperjuangkan gelar "Gadis Berbakat" di kehidupan kali ini.

Hal yang paling dipedulikan Gayatri adalah kehormatan keluarga adipati. Pemuda bangsawan juga tidak akan mau menikahi gadis yang belum lulus ujian enam seni. Jadi, meski hatinya masih sedikit enggan, dia tidak mencegah Eliska kembali ke akademi lagi.

"Nenek, aku sudah nggak apa-apa sekarang. Nenek nggak perlu khawatir," hibur Eliska sambil menggenggam tangan Gayatri.

Gayatri menepuk kening Eliska dan mengomel, "Kalau sudah nggak apa-apa, kenapa kamu nggak datang berkunjung dari beberapa hari lalu?" Meski kata-katanya berisi omelan, nadanya terdengar lembut.

Eliska membalas, "Aku terus memikirkan Nenek. Tapi, ada banyak tugas yang masih tertunggak, jadi aku terpaksa harus menyelesaikannya dulu."

Gayatri menasihatinya dengan sungguh-sungguh, "Kali ini kamu harus lulus ujian memanah. Jangan sampai Nenek malu saat bertamu di tempat orang lain."

Eliska tahu betul betapa Gayatri sangat memperhatikan reputasi keluarga adipati. Dia pun berjanji, "Nenek, aku pasti akan pulang dengan nilai yang bagus."

Gayatri mengangguk puas. Dia lalu menyuruh Leya mengantar Eliska ke ruangan sebelah untuk menikmati camilan.

Setelah itu, Gayatri menoleh ke arah Dwiana dan berkata, "Kudengar kamu akan berkunjung ke Kediaman Raja Kawiswara besok. Aku sudah menyiapkan hadiah."

"Terima kasih sudah repot-repot, Bu," ujar Dwiana.

Gayatri berucap lagi, "Suamimu nggak mewarisi gelar adipati, jadi dia hanya bisa menggantungkan masa depannya di karier resmi pemerintahan."

"Raja Kawiswara disukai Kaisar, kalau Raditya dan Putra Ketiga menginginkan karier yang lancar, mereka butuh dukungan Raja Kawiswara. Jadi, bagaimana kita bisa mengabaikan Keluarga Raja Kawiswara? Hadiah yang kusiapkan secara pribadi akan menunjukkan ketulusan kita," tambah Gayatri.

Putra ketiga yang disebut Gayatri adalah Raynar, putra Dwiana dan kakak Eliska.

"Ibu perhatian sekali," puji Dwiana.

Dalam hati, Dwiana tahu bahwa Gayatri melakukan hal ini bukan hanya demi keluarga cabang, tetapi karena keluarga inti juga ingin mengambil hati Raja Kawiswara.

Keluarga Adipati Madaharsa sedang mengalami kemerosotan. Ini merupakan fakta yang tidak bisa disangkal.

Keluarga inti awalnya berniat menjadikan Gita menantu Keluarga Raja Kawiswara. Mereka sudah berusaha keras demi tujuan itu.

Sayangnya, usaha mereka sia-sia karena ditolak oleh Talita yang memiliki standar tinggi. Tentu saja, alasan utamanya karena Arjuna juga tidak menyukai Gita.

Gita adalah putri sah Sadali, adipati dari Keluarga Madaharsa. Dengan paras elok dan bakatnya, tadinya dia adalah gadis yang angkuh. Namun, dia merendahkan diri untuk menulis surat permohonan agar Arjuna bersedia menemuinya. Miris, pemuda itu bahkan tidak repot-repot untuk membalas suratnya.

Gita patah hati dan depresi cukup lama karena hal ini. Belakangan, akhirnya dia menikah dengan putra Keluarga Pradaya.

Demi menjaga reputasi Gita, keluarga inti merahasiakan masalah ini. Meski begitu, Dwiana tetap mengetahuinya.

"Tahun depan Eli sudah mencapai usia dewasa. Apa kamu sudah punya rencana atas pernikahannya?" tanya Gayatri tiba-tiba.

Dwiana tidak menjawab secara langsung, melainkan berkata, "Bu, sekarang aku sudah cukup dipusingkan dengan studi Eli. Bagaimana aku sempat untuk memikirkan hal lain? Masalah pernikahan bisa kita pikirkan saat waktunya tiba."

Gayatri berucap penuh arti, "Pernikahan Eli akan memengaruhi seluruh keluarga adipati. Kamu harus memikirkannya baik-baik."

Dwiana hanya tersenyum sebagai tanggapan. Dalam hati, dia memutuskan tidak akan membiarkan Eli menjadi batu loncatan bagi keluarga adipati.

Udara pagi itu dingin menusuk tulang. Eliska baru merasa sedikit hangat setelah naik ke kereta kuda.

Widya, nyonya dari Keluarga Bramantya sedang pergi mengunjungi keluarganya. Jadi, hari ini Eliska hanya perlu mengunjungi Kediaman Raja Kawiswara.

"Dandananmu sederhana sekali hari ini," ucap Dwiana, merasa sangat puas.

"Aku masih muda, belum pantas mengenakan perhiasan berkilau. Lebih cocok kalau Ibu yang pakai. Mulai sekarang Ibu harus lebih sering memakainya, Ayah juga pasti suka melihatnya," sahut Eliska.

Eliska berharap hubungan kedua orang tuanya bisa membaik. Dengan begitu, tidak ada yang bisa memanfaatkan celah di antara mereka.

Dwiana mendengus dan membalas, "Hati ayahmu nggak tertuju pada Ibu."

Eliska berucap, "Bu, Ayah tampan dan menawan. Kalau Ayah menyukai Lestari, mana mungkin Lestari masih mencari kekasih gelap? Ayah hanya menikahi Lestari karena dipaksa Nenek. Kalau hubungan kalian nggak membaik, Nenek pasti akan kembali memaksa Ayah mengambil selir lain."

Raditya mencintai Dwiana. Hanya saja, dia tidak tahan terus diperlakukan dengan dingin.

Eliska tahu bahwa ayahnya tidak pernah menyentuh Lestari. Namun, dia khawatir ibunya akan terkejut jika mendengar hal ini.

"Bu, kalau Ibu mau bersikap hangat pada Ayah, dia pasti senang," ujar Eliska lagi.

"Ibu nggak mau mendengar omong kosong ini lagi," tandas Dwiana.

Meski berkata begitu, Dwiana mempertimbangkan nasihat putrinya. Bagaimanapun, jika sang suami memihaknya, dia bisa merencanakan masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Satu jam kemudian, kereta kuda berhenti di depan kediaman raja.

Kediaman Raja Kawiswara adalah kediaman yang diberikan secara pribadi oleh Kaisar. Letaknya berada di wilayah paling makmur di ibu kota, yakni di ujung Jalan Giribangun.

Birainya diukir dengan rumit, bangunannya dihias indah, dindingnya dicat merah cerah, dan ubin gentingnya berkilauan di bawah sinar matahari. Secara keseluruhan, kediaman ini mewah sekaligus elegan.

Para pelayan menyambut Dwiana dan Eliska masuk ke Kediaman Raja Kawiswara. Mereka menyusuri sebuah taman kecil yang dipenuhi deretan bunga di kedua sisi. Aroma bunga segar di udara membuat hati terasa gembira.

Setelah berjalan masuk lebih dalam, mereka tiba di Paviliun Kemuning. Eliska melihat Talita dan seorang wanita lain di sebelahnya. Wanita itu adalah Sartika, istri dari adik Raja Kawiswara dan ibu Banyu.

Tahun ini Talita berusia 40 tahun. Penampilannya sangat sederhana, tetapi fitur wajahnya sangat menawan. Arjuna jelas mewarisi pesona ibunya.

Talita juga memandangi Eliska. Baru enam bulan tidak bertemu, gadis yang tadinya masih hijau itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Postur tubuhnya yang indah samar-samar mulai terlihat. Lekuk tubuhnya juga memancarkan keanggunan. Dua tahun mendatang, entah seberapa eloknya dia nanti.

Namun, kecantikan wanita yang terlalu mencolok bukanlah hal yang terlalu baik. Pria selalu mudah tergoda dengan nafsu.

Talita sudah berpengalaman dan tahu betul betapa banyak kesempatan yang Raja Kawiswara lewatkan karena dirinya. Meskipun hal itu terasa manis, dia tidak ingin putranya jatuh ke dalam perangkap serupa.

"Eli makin cantik saja sekarang," puji Talita sambil tersenyum.

"Apa artinya kecantikan seorang wanita? Bakat masih lebih penting," balas Dwiana. Meski berkata begitu, dalam hati dia merasa sangat bangga.

Di kehidupan lampau, mungkin demi menebus sikap dingin Arjuna, ibu mertua Eliska ini memperlakukannya dengan cukup baik. Jadi, Eliska juga benar-benar peduli padanya.

"Kudengar Ratu mengalami ruam belum lama ini. Apa Ratu sudah pulih?" tanya Eliska dengan perhatian.

Talita tidak menyambut keramahan Eliska. Di matanya, gadis itu hanya berusaha untuk menjilatnya demi tujuan tertentu. Dia menyahut dengan tenang, "Sudah lumayan sembuh. Dari mana Eli tahu aku punya ruam?"

Eliska sudah memikirkan cara menjawab pertanyaan ini. Dia segera menyahut, "Waktu tabib memeriksa denyut nadiku sebelumnya, dia berkata sambil lalu kalau dirinya datang dari kediaman raja. Aku mengobrol sebentar dengannya, dari situlah aku tahu."

Talita tidak bertanya lebih jauh dan mulai mengobrol santai dengan Dwiana.

Sartika tersenyum ramah dan berucap, "Kalau bosan, Nona Eliska bisa berkeliling kediaman dengan pelayan."

"Yani, bawa Nona Eliska berkeliling," perintah Talita.

Eliska berterima kasih, lalu mengikuti Yani ke bagian belakang kediaman.

Raja Kawiswara menyukai aneka bunga, tanaman, dan pepohonan di kediamannya. Bahkan taman di istana pun tidak bisa menandinginya. Biarpun sudah musim gugur, taman di kediaman ini masih sangat hidup.

Namun, berhubung Eliska sudah tinggal selama tiga tahun di kediaman ini, dia tidak lagi merasa takjub.

Eliska hanya melirik sekilas saat melewati Paviliun Ramaya, tempat tinggalnya di kehidupan lampau. Berbagai pikiran hinggap di benaknya.

"Itu tempat tinggal Putra Bangsawan Arjuna." Yani menjelaskan sambil tersenyum, "Putra Bangsawan Arjuna bukannya sangat menyukai ketenangan, tapi dia memilih paviliun yang tenang ini sendiri. Ratu sering menggodanya, berkata kalau dia memilih paviliun ini untuk pendampingnya di masa depan."

Eliska tidak menyukai Paviliun Ramaya. Orang yang menyukai desain paviliun seperti ini mungkin adalah Adelia. Talita maupun Arjuna jelas tidak pernah menyangka bahwa yang akan menjadi menantu Keluarga Raja Kawiswara pada akhirnya bukanlah Adelia.

"Nona Eliska mau naik ke bukit batu dan melihat-lihat?" tanya Yani.

Eliska membeku, lalu memandang ke arah bukit batu familier di depannya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan datang ke sini.

Ini adalah lokasi tempat Eliska mengalami kecelakaan. Rasa sendu datang tanpa diundang ke dalam hatinya.

"Nona Eliska?" panggil Yani, khawatir melihat gadis itu melamun.

"Aku nggak naik," ucap Eliska sambil tersenyum ramah, menyembunyikan kesedihannya. "Aku sedikit trauma karena pernah jatuh dari tempat tinggi."

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengulangi hidupnya. Kali ini, Eliska harus menghargai nyawanya.

....

Di atas bukit batu, Arjuna dan Banyu sedang bermain catur. Dari meja batu, mereka bisa leluasa melihat Eliska yang berjalan pergi.

"Kenapa Nona Eliska terlihat sedih tadi?" tanya Banyu dengan bingung.

Arjuna menaruh pion putih dan berucap perlahan, "Aku justru penasaran bagaimana dia bisa begitu familier dengan lingkungan di kediaman ini."

Banyu teringat ketika Eliska memasuki taman mendahului pelayan tanpa mengambil jalan yang salah. Pemikiran ini membuatnya mengernyit.

Sebelum Arjuna mencapai usia dewasa, seorang gadis pernah menyuap pelayan untuk mendapatkan peta tata letak kediaman raja. Selama jamuan makan di kediaman raja, gadis itu menyelinap ke kamar Arjuna, mencoba untuk memfitnah Arjuna telah menodainya.

Dengan begitu, gadis itu bisa menuntut pertanggungjawaban Arjuna. Untungnya, rencananya terbongkar dan krisis bisa dihindari tepat waktu.

"Sepertinya Keluarga Adipati Madaharsa sudah bertekad untuk menjadikan salah satu putri mereka sebagai pendampingmu. Nona Gita saja belum cukup, sekarang juga datang Nona Eliska," kata Banyu.

Arjuna melirik saudaranya dan membalas, "Aku bukan satu-satunya tuan muda di kediaman raja ini."

Banyu mengerti maksud ucapannya dan berkata, "Aku akan hati-hati. Kamu juga harus lebih waspada, jangan sampai termakan tipuannya."

Selain tidak disukai Kaisar, Raditya juga pendukung Taraka. Hanya tunggu waktu hingga dia disingkirkan. Walau apa pun yang terjadi, kediaman raja tidak boleh dikaitkan dengan keluarganya.

"Apa yang sebenarnya dipikirkan Keluarga Adipati Madaharsa? Nona Gita adalah putri sah Adipati Sadali, tapi Nona Eliska hanyalah putri dari keluarga cabang. Bakatnya bahkan nggak sebaik Nona Gita. Kamu sudah menolak Nona Gita, jadi mana mungkin kamu mau menerima Nona Eliska?" ujar Banyu lagi.

Arjuna teringat pada buku ilustrasi berani tempo hari. Tampaknya Eliska memiliki beberapa keahlian dalam merayu pria. Namun, ini bukanlah keterampilan yang seharusnya dimiliki wanita baik-baik.

Banyu berpikir sejenak, lalu menyarankan, "Kurasa sebaiknya pernikahanmu dengan Nona Adelia segera ditetapkan. Itu cara terbaik untuk menghindari masalah yang nggak perlu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Heryani Yeni
bngung tokoh bnyk bnget
goodnovel comment avatar
Syafira Alhasni
Terlalu banyak Tokoh dalam cerita ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 483

    Jika penyelidikan mengungkapkan sesuatu dari kasus Bagas, Yanuar tidak akan pernah bisa membersihkan reputasinya sekalipun dia mati. Selain itu, Taraka juga tidak mungkin melepas kesempatan bagus untuk menjatuhkannya.Malam itu, Yanuar diam-diam menemui Zuhair, lalu menceritakan secara rinci segala sesuatu yang menyangkut kematian Buala."Bedebah!" maki Zuhair sambil menampar Yanuar. Matanya memelotot marah. "Kamu berani menyimpan niat seperti ini pada putri Kediaman Adipati! Kamu bahkan ketahuan oleh Arjuna. Kalau Kediaman Raja nggak memihakmu, kamu pikir bisa lolos dari bencana ini?"Yanuar berlutut diam, tidak berani bergerak. Katanya, "Aku mengaku salah.""Katakan, apa salahmu," perintah Zuhair."Aku mengincar sesuatu yang nggak seharusnya kuincar sebelum sayapku tumbuh sempurna. Sekalipun aku menginginkan Nona Eliska, sekarang bukan waktu yang tepat. Aku terlalu nggak sabar," kata Yanuar.Zuhair melirik putranya. Tipu daya adalah bagian tak terpisahkan dari konflik internal istana

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 482

    Zuhair bukan hanya sekali menyinggung tentang urusan pengangkatan putra mahkota di depan orang Kediaman Raja Kawiswara.Kediaman Raja Kawiswara mendukung Yanuar. Meski mereka tidak sepenuhnya loyal, selama dia menjadi putra mahkota, takdir mereka akan terikat. Kediaman Raja akan sepenuhnya memihak Yanuar. Lagi pula, posisi putra mahkota hanya selangkah lagi dari takhta.Mendukung orang lain akan memicu kecurigaan adanya kudeta. Kediaman Raja tidak mungkin mengambil risiko seperti itu. Selama mereka menggunakan kekuasaan militer di tangan mereka untuk melindungi Yanuar, itu akan dianggap jasa besar di mata Kaisar. Ini jauh lebih mudah daripada menanggung tuduhan berkhianat.Raja Kawiswara maupun Arjuna tidak akan mungkin mempertaruhkan masa depan Kediaman Raja."Campur tangan Kediaman Raja masih dibutuhkan dalam pengangkatan putra mahkota," ujar Zuhair.Arjuna menyahut tanpa mengubah ekspresinya, "Yang Mulia nggak perlu khawatir.""Taraka bukan satu-satunya yang harus diwaspadai," kata

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 481

    Eliska mencibir dalam hati, merasa Arjuna terlalu pintar berpura-pura. Namun, saat ini dia tidak berani mengurai pelukannya, takut jatuh bila dia melepaskannya.Arjuna adalah tipe orang yang belajar dengan cepat. Meski baru beberapa kali melakukannya, dia sudah cekatan memakaikan pakaian pada Eliska.Wajah Eliska masih merona. Bukan karena malu, tetapi karena kelelahan."Besok aku harus membawamu olahraga pagi," ujar Arjuna, teringat pada keterampilan berkuda dan memanah Eliska. Di kehidupan lampau, mungkin dia memiliki alasan egois dengan mengajari gadis itu, yakni untuk memperkuat tubuhnya.Eliska meliriknya sekilas. Di mata Arjuna, lirikan ini sarat kasih sayang dan sangat menawan."Sebaiknya Putra Bangsawan fokus bekerja saja," ucap Eliska. Setiap hari dia sudah sangat lelah, mengapa pemuda itu masih mengajaknya olahraga?"Pekerjaanku nggak banyak belakangan ini, bukannya lebih baik kalau aku lebih sering menemanimu?" balas Arjuna. Dia memikirkannya sejenak, lalu melanjutkan, "Lagi

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 480

    Sejak berdirinya Yardin, belum pernah ada insiden di mana penguji mati secara tidak wajar setelah ujian istana berakhir. Hal ini mengakibatkan seluruh istana jatuh dalam kekacauan.Namun, tampaknya ada yang sengaja menutupi masalah ini sehingga berita kematian Bagas tidak tersebar keluar."Apa Yang Mulia yang menutupi masalah ini?" tanya Eliska pada Arjuna."Yang Mulia adalah orang yang tajam dan curigaan. Dia pasti bisa menebak kalau pembunuhan Bagas itu menargetkan Yanuar atau dilakukan oleh Yanuar sendiri. Apa pun kebenarannya, dia akan melindunginya," papar Arjuna.Eliska hanya diam. Jika mengatakan Yanuar membunuh Bagas untuk menghilangkan ancaman di masa depan, sebenarnya itu cukup masuk akal. Selama Bagas hidup, kelemahan Yanuar masih tetap berada di tangan orang lain. Bukankah itu pula alasan sang Pangeran menyingkirkan Buala?Namun, Eliska tidak percaya Bagas bisa begitu lengah, terutama setelah melihat kematian Buala. Katanya, "Bagas nggak mati di kehidupan lampau."Saat ini

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 479

    "Tampaknya masalah ini hanya akan Yang Mulia anggap enteng," ujar Eliska.Bahkan jika penyelidikan membuktikan bahwa Yanuar memanipulasi ujian, Zuhair pasti akan mencari cara melindunginya.Arjuna berkata, "Mungkin ada baiknya kita menunggu perkembangan situasi sembari menguji sikap Yang Mulia. Kamu juga jangan ikut campur lagi dalam hal ini."Eliska memikirkannya sebentar, lalu bertanya, "Yang Mulia pasti sudah bertekad untuk mengangkat putra mahkota ya?""Ya, tapi itu nggak sepenuhnya buruk," sahut Arjuna.Eliska terdiam. Taraka sudah tidak memiliki peluang untuk naik takhta. Baik itu Yanuar maupun Yervan yang akan duduk di singgasana, Arjuna tetap diuntungkan. Kekuasaan di tangannya sama sekali tidak akan terpengaruh.Hanya saja, Eliska membenci Yanuar. Dia tidak ingin orang itu mendapatkan takhta. Sekalipun hanya menjadi kaisar boneka, Yanuar masih bisa hidup nyaman tanpa kekhawatiran."Aku nggak berada di pihak Yanuar. Jangan terlalu dipikirkan, aku di pihakmu. Apa pun yang terjad

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 478

    Eliska menatap pemuda yang masih bergerak di atas tubuhnya, tak kuasa untuk mengeluh dalam hati. Sudah begitu lama, apa Arjuna tidak lelah? Dia sendiri sudah letih setengah mati."Aku lelah sekali." Eliska memeluk leher Arjuna erat-erat, sengaja bertanya dengan nada manja, "Apa Putra Bangsawan nggak lelah?"Arjuna mengerjap jenaka. Dia menunduk dan mencium bibir Eliska, lalu berkata, "Panggil aku sayang dulu."Eliska memelotot. Arjuna curang sekali, mengancamnya dengan hal ini.Namun, ekspresi Eliska di mata Arjuna justru terlihat begitu manis. Seolah-olah dia sedang bermanja-manja padanya.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk makin mencintainya. Dia berkata, "Kalau kamu memanggilku sayang, aku akan penuhi apa pun maumu.""Kamu pasti bohong," ujar Eliska, tidak memercayainya sedikit pun.Arjuna tertawa kecil dalam hati, merasa Eli sangat memahaminya. Namun, dia tetap memasang ekspresi serius saat berkata, "Mana mungkin? Aku nggak pernah berbohong pada Eli." Tentu saja, urusan ranjang a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status