MasukGu Qingran masih berada di istana, di suasana yang sama. Namun setelah kabut putih membawanya, dia kembali terdampar, mungkin hanya beda beberapa hari saja dari saat kemarin ia bertemu dengan Gu Jixuan, dan Gu Qingran muda. Kali ini dia diperlihatkan dengan pemandangan anak-anak bangsawan yang berbaris memakai hanfu berwarna putih. Mungkin itu adalah seragam Akademi Kekaisaran. "Aku masih berada di sini? Wajah-wajah muda itu, mereka sangat serius belajar, dan tata krama masih sangat kental," ujar Gu Qingran. Wanita itu melangkah dengan hanfunya yang terseret, namun masih sama, semua orang tak mampu melihatnya karena dia hanya jiwa yang terdampar di distorsi ruang dan waktu. Sampai tiba-tiba matanya melihat sosok Gu Qingran yang bersembunyi di balik pilar, di saat yang lain sibuk berbaris dan mendengarkan ceramah sifu di pagi hari. Tetapi, Gu Qingran malah berkeliaran sendiri. "Apa dia sudah sebandel itu saat remaja." Gu Qingran dewasa menggeleng-gelengkan kepala. Niatnya melihat
Dunia ini terasa aneh pada Gu Qingran. Dia berjalan ke arah istana, tetapi para pengawal seperti tidak melihatnya. Dia berpikir, apakah dia semacam jiwa transparan yang terlempar ke distorsi ruang dan waktu. Sungguh sialan, kehidupan macam apa ini. Dia yang jatuh pingsan di ruang operasi, lalu jiwanya masuk ke dalam tubuh Gu Qingran, istri Gu Jixuan, mengungkap misteri sialan yang membuat hidupnya berantakan. Namun, di balik semua itu dia senang karena menemukan kehangatan sebuah keluarga. Tetapi, tidak sampai di sana, kini dia terjebak di distorsi ruang dan waktu menyaksikan kehidupan lampau si pemilik tubuh asli. "Mungkin aku akan mendapatkan petunjuk di sini." Dia melangkah mendekat, pada sosok anak remaja sekitar berusia dua belas tahun duduk sendiri di bawah pohon magnolia yang tengah mekar. Anak itu adalah Gu Jixuan di waktu muda. "Gu Jixuan, dia memang sudah tampan sejak kecil." Gu Jixuan tampak duduk tenang sembari membaca gulungan, mungkin itu adalah gulunga
Malam merangkak di Kediaman Gu. Lu Anxi kini ditahan di ruang tahanan bawah tanah keluarga Gu. Meskipun keluarga Lu sempat mendesak Gu Jixuan untuk melepaskan nona muda mereka, tetapi sesuai aturan, wanita itu harus ditahan, sembari menunggu keputusan dari Kaisar. Gu Qingran duduk di tepi ranjang, napasnya terhela pasrah beberapa kali. Dia berpikir jika Lu Anxi mulai mencurigainya. "Apa aku terlalu mencolok? Ah, mana mungkin. Tetapi Nona Lu mulai curiga padaku, padahal alur sialan ini belum kupecahkan." Dia lalu mengacak rambutnya karena frustrasi. "Arghh, entahlah. Kepalaku pusing." "Kau sakit?" Gu Qingran langsung menoleh, ketika menatap ke arah pintu, sosok Gu Jixuan tampak melangkah mendekat. Dadanya berdebar, dia takut suaminya mendengar apa yang ia ucapkan. "Qingran, kenapa diam?" Wajah lelaki itu berkilau di bawah temaram lentera kamar. Sungguh tampan sekali, membuat rona samar di wajah Gu Qingran menjalar di pipi seputih pualamnya, dan membuat bibirnya kelu. "Tidak,
"Kau, apa yang kau katakan! Berani menuduh istriku dengan tuduhan tak berdasar!" Lu Anxi tertawa semakin keras. Tawa itu menggema di seluruh aula, membuat para pelayan saling berpandangan dengan wajah pucat. Meskipun rambutnya masih berada dalam genggaman Gu Qingran, wanita itu sama sekali tidak terlihat takut. Justru sorot matanya dipenuhi kemenangan, seolah akhirnya berhasil menemukan celah untuk menyerang balik. Gu Qingran tidak melepaskan jambakannya. Tatapannya tetap tenang, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Jadi, Mo Chu benar-benar telah mengatakan sesuatu pada Lu Anxi. Namun, seberapa banyak yang sebenarnya mereka ketahui? "Omong kosong apa yang kau bicarakan?" suara Gu Jixuan terdengar kembali. Dalam satu langkah dia sudah berdiri di samping Gu Qingran, lalu menarik perlahan tangan istrinya agar menjauh dari Lu Anxi. Tanpa sadar, pria itu berdiri di depan Gu Qingran, melindunginya dari tatapan semua orang. Lu Anxi menyeringai. "Kak Jixuan, kau benar-benar ti
Langkah Gu Jixuan langsung terhenti. Pria itu membalikkan tubuhnya perlahan, sorot matanya tajam bagai bilah pedang yang baru diasah. Sementara Gu Qingran yang berdiri di sampingnya diam-diam ikut menegang. Rahasia? Apa lagi yang disembunyikan novel sialan ini darinya? Dia tidak tahu, sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan si penulis padanya. Entahlah, takdir macam apa yang sebenarnya terjadi. Apa tidak cukup, dia membuat novel dengan konflik sederhana. Suaminya jahat, dia masuk ke dalam tubuh wanita bodoh, lalu balas dendam. Seperti pada alur novel pasaran yang bertebaran di beberapa platform, dan toko buku yang menjual banyak novel dengan alur yang nyaris sama. Lalu, ini apa? "Apa maksudmu?" suara Gu Jixuan terdengar dingin. Mengalihkan atensi Gu Qingran yang tadi terfokus pada Lu Anxi. Lu Anxi tertawa pelan. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, tetapi tatapannya justru dipenuhi kegilaan. Saat ini dia tahu dirinya sudah tidak memiliki jalan keluar. Maka sebelum jatu
Di aula utama Kediaman Gu, tempat itu sudah ramai dipadati oleh para pengawal, dan keluarga besar Gu. Gu Jixuan berdiri di depan, dengan Lu Anxi yang dipaksa berlutut oleh para pengawal. Gu Yanli hanya bisa diam, sembari menutup mulutnya tak percaya. Dia kira, Lu Anxi si wanita putih teratai adalah wanita lemah lembut, ternyata dia menyimpan bangkai di dalamnya. Tidak jauh di sana, Nyonya Tua Gu—Gu Lanying—mencengkeram tongkat gioknya, nyaris membuat urat-urat di tangannya mencuat. Wajahnya memerah, bagaimanapun dia sangat menyukai Lu Anxi dan menganggap hal ini adalah fitnah keji. "Jixuan, apa yang kau lakukan! Nona Lu adalah wanita terhormat, tapi kau malah menyeretnya seperti sampah. Kau membuatnya malu, Jixuan!" teriak Gu Lanying. Tongkatnya dihentakkan beberapa kali, hingga belum sempat Gu Jixuan menjawab, sosok Gu Qingran muncul sembari menggandeng tangan Gu Jinyi. "Memalukan? Ibu apa tidak tahu apa yang wanita ini lakukan padaku?" "Qingran, jangan coba memfitnah
Gu Qingran menatap kotak kayu tua itu tanpa berkedip. Entah kenapa, jantungnya berdetak semakin cepat setiap detiknya. Perasaan tidak nyaman perlahan memenuhi dadanya. Seolah ada sesuatu di dalam kotak itu yang akan mengubah seluruh hidupnya. "Bukalah," perintah Gu Qingran. Dia harus tahu apa isi
"Kenapa kau melamun malam-malam, Jinghe?" Xiao Jinghe yang sejak tadi berdiri di tepi kolam teratai langsung menoleh begitu mendengar suara itu. Cahaya bulan purnama memantul di atas permukaan air yang tenang, menerangi sosok wanita tua yang berjalan perlahan dengan tongkat giok di tangannya. K
"Apa?!" Suaranya menggema di seluruh ruangan. Wajah wanita itu memucat dalam sekejap. Tangannya yang berada di atas lutut mengepal begitu erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk beberapa saat, dia bahkan tidak mampu bernapas dengan normal. "Apa yang baru saja kau katakan?" suaranya bergeta
"Nyonya, kenapa Anda melamun?" Gu Qingran yang sejak tadi duduk di jendela kamarnya menghadap kolam teratai yang tenang di bawah cahaya bulan purnama langsung tersentak. Dia menoleh cepat, dan mendapati Chen Duhan berdiri dengan makanan di atas nampan. "Duhan, aku tidak melamun." Chen Duhan me







