Share

Bab 39

Penulis: Anju
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-18 10:13:12

Matahari baru naik seperempat ketika kampus mulai padat.

Mahasiswa berlalu-lalang, sebagian masih mengantuk, sebagian sibuk foto OOTD, sebagian lain ngopi sambil lari-lari mengejar kelas pagi.

Tapi di tengah keramaian normal itu—

ada sesuatu yang tidak normal.

Sesuatu yang sangat salah.

NADIA — Tatapan yang Tidak Seharusnya Ada

Nadia berjalan menuju gedung ekonomi bersama Clarissa.

Meski wajahnya dipaksa tersenyum, hatinya masih bergetar setiap kali mengingat ucapan itu:

“Beta sudah bangun.”

Clarissa meliriknya.

“Lo pucet banget, Nad. Sampai sekarang masih mimpi buruk?”

Nadia membuka mulut…

tapi tiba-tiba tubuhnya kaku.

Dia berhenti berjalan.

Mata melebar.

Ada seseorang berdiri di bawah pohon besar dekat gedung perpustakaan.

Hoodie hitam.

Tangan dimasukkan ke kantong.

Kepala sedikit menunduk.

Tidak terlihat wajahnya.

Tapi… ada sesuatu pada sosok itu.

Dia tidak bergerak.

Bahkan tidak bernapas.

Namun terasa… hidup.

“Clar… lihat itu…”

Clarissa mengikuti pandangan Nadia.

“Yang hoodie? Ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 72

    Malam turun tanpa hujan.Lampu kamar Nadia masih menyala, tapi tirainya tertutup rapat. Ia duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang, lutut ditekuk, tangan memeluk diri sendiri. Di luar kamar, apartemen terasa terlalu sunyi Kevin tidak bergerak, tidak mengetuk, tidak mencoba masuk.Seperti janji diam-diam yang ia tepati.Nadia menutup mata.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak mencoba menahan apa pun.Ia tidak menekan sensasi hangat di dadanya.Tidak mengusir tekanan halus di pelipisnya.Tidak berusaha menjadi normal.“Kalau ini aku,” bisiknya pelan, “tunjukin.”Awalnya hanya gelap.Lalu seperti suara jauh yang muncul dari balik air—ia mendengar detak.Bukan jantung.Detak itu lebih teratur. Lebih dingin. Seperti mesin yang sangat sabar.Napas Nadia melambat tanpa ia sadari.Di balik kelopak matanya, ruang terbentuk.Bukan ruangan nyata lebih seperti konsep. Bidang luas tanpa dinding, berwarna abu-abu pucat, dengan garis-garis cahaya tipis yang berdenyut seirama de

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 71

    Nadia pulang dengan langkah pelan.Bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terlalu penuh. Setiap suara di lorong apartemen terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap pantulan bayangan di kaca lift membuatnya refleks menoleh.Ia merasa… diamati.Bukan oleh orang.Oleh kemungkinan.Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung tahu Kevin sudah di dalam.Bukan karena sepatu di rak.Bukan karena lampu menyala.Ia tahu karena udara di ruangan itu terasa berbeda lebih berat, lebih padat, seperti medan yang kembali menguat.Kevin berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Nadia. Jaket hitamnya masih dipakai, rambutnya sedikit berantakan. Ia belum lama sampai.“Nad,” katanya tanpa menoleh. “Lo ke mana?”Nada itu bukan marah.Lebih berbahaya dari itu.Tenang.Nadia menutup pintu perlahan. “Ketemu temen.”Kevin tertawa kecil, tanpa humor. Ia berbalik.“Jangan bohong,” katanya. “Sinkronisasi kita turun satu level pas jam sepuluh.”Nadia menghela napas. Tidak membela diri. Tidak menghindar

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 70

    Pagi itu tidak hanya sunyi; ia terasa hampa, seolah udara di apartemen itu berhenti mengalir.​Nadia duduk di tepi ranjang, membiarkan jemarinya tenggelam di permukaan seprai yang dingin. Cahaya matahari menerobos celah tirai, menyorot debu-debu yang menari di udara, tapi tak ada kehidupan di luar itu. Tidak ada denting sendok beradu dengan cangkir kopi. Tidak ada derap langkah berat yang biasanya memenuhi ruang tengah. Yang paling mengganggunya adalah hilangnya sensasi itu tatapan waspada Kevin yang biasanya membakar tengkuknya bahkan sebelum cowok itu menampakkan diri.​Kevin sudah pergi.​Nadia tidak butuh firasat atau grafik sinkronisasi untuk merasakannya. Ia tahu karena untuk pertama kalinya, dadanya terasa seperti rumah kosong yang pintunya dibiarkan terbuka. Bukan dingin, bukan sakit. Hanya… lowong.​Ponselnya bergetar di atas nakas, memecah keheningan dengan kasar.​10.00. Kafe Ardent. Meja paling belakang.​Pesan itu singkat, tanpa basa-basi, tanpa ancaman. Justru kesopana

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 69

    Malam itu, Nadia tidak bisa tidur.Lampu apartemen sudah dipadamkan sejak satu jam lalu, tirai ditutup, suara kota diredam kaca tebal. Tapi gelap tidak pernah benar-benar gelap ketika pikiran menolak diam.Ia berbaring menyamping, menatap bayangan samar di langit-langit.Setiap kali ia memejamkan mata, muncul kembali wajah-wajah itu—mahasiswa yang menatapnya dengan takut, petugas yang menuliskan namanya di map, komentar anonim yang menyebutnya bahaya.Tangannya mengepal di bawah selimut.Hangat itu masih ada.Tidak menghilang.Tidak melemah.Seperti denyut kecil yang menunggu diperhatikan.Dari ruang tengah, terdengar suara langkah pelan. Kevin.Ia belum tidur sejak pagi. Nadia tahu itu tanpa harus melihat jam atau membaca bahasa tubuh. Ia bisa merasakannya—ketegangan di udara berubah setiap kali Kevin mendekat, seperti medan yang saling menyesuaikan.Kevin berhenti di ambang pintu kamar.“Nad,” panggilnya pelan. “Lo bangun?”Nadia membuka mata. “Iya.”Kevin masuk tanpa menyalakan lam

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 68

    Pagi itu, nama Nadia Mahendra sudah tidak lagi milik Nadia.Ia menyadarinya saat membuka HP.Bukan satu notifikasi. Bukan dua.Puluhan.Pesan masuk dari nomor tak dikenal. Grup kampus yang biasanya sepi mendadak aktif. Mention bertubi-tubi di media sosial. Bahkan akun gosip nasional yang biasanya membahas selebriti—muncul di layar ponselnya.Tangannya berhenti bergerak.Judul video itu terpampang jelas:“MAHASISWI ANGKAT LEMARI BESI SAAT KEBAKARAN — MANUSIA ATAU BUKAN?”Nadia menutup mata.Detik berikutnya, video itu sudah diputar jutaan kali.Ia tidak perlu menontonnya untuk tahu isinya. Ia sudah mengingat setiap detik kejadian itu dengan terlalu jelas panas, asap, berat yang tiba-tiba tidak terasa berat.Komentar-komentar bergulir cepat:Itu pasti editan.Nggak mungkin manusia biasa.Ini hoaks buat nutupin kelalaian kampus.Cewek ini bahaya.Bahaya.Kata itu menusuk lebih dalam dari hinaan mana pun.“Nad.”Suara Kevin memecah keheningan ruangan.Ia berdiri di dekat jendela apartemen

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 67

    Kampus tidak pernah sebising itu sebelumnya.Sirene pemadam masih meraung di kejauhan, bercampur dengan suara langkah tergesa, tangis tertahan, dan bisik-bisik yang menyebar lebih cepat daripada api yang baru saja dipadamkan. Asap tipis masih menggantung di udara, membuat mata perih dan dada terasa sesak.Nadia berdiri di tengah kekacauan itu.Tubuhnya utuh. Tidak terluka. Tidak terbakar.Tapi ia tahu—sesuatu di dalam dirinya sudah patah.Tangannya masih gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena ingatan akan sensasi itu belum pergi. Sensasi ketika lemari besi itu terangkat, ringan—terlalu ringan—di tangannya.Bukan dorongan adrenalin.Bukan keberanian sesaat.Itu terasa… alami.Kevin berdiri di depannya, bahunya sedikit membungkuk seolah melindungi. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia, seakan takut ia akan menghilang jika dilepas sedetik saja.“Nad,” panggilnya pelan. “Liat gue.”Nadia menatap Kevin.Di mata itu tidak ada kebingungan. Tidak ada kaget.Yang ada hanya satu hal: ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status