Share

Bab 14

Author: Yuki Norin
Akan tetapi, semuanya juga terasa begitu asing.

Dulu, Nikita pernah mengira bahwa tempat ini akan menjadi rumahnya seumur hidup.

Hanya saja sekarang ....

Nikita menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju pintu.

Begitu Nikita mendorong pintu hingga terbuka, yang menyambutnya bukan lagi suara lembut seperti biasanya, melainkan tangan ibu asuhnya, Evelyn, yang sudah terangkat tinggi di udara.

Plak!

Tamparan keras dan nyaring darinya menghantam w
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 98

    Namun dibandingkan rasa sakit di tubuhnya, rasa nyeri di dalam hati Nikita jauh lebih parah. Rasa sakit yang tumpul itu menyebar begitu rapat hingga membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.Nikita menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Pemuda yang baru saja dia jaga sepanjang malam.Pemuda yang dulu Nikita rawat dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.Hanya saja, Dariel tetap menatapnya dengan penuh rasa muak. Dia menunjuk ke arah pintu dan membentaknya dengan suara keras, "Lebih baik kamu segera bercerai saja dengan Kak Darwis. Setelah keluar dari Keluarga Susanto, kamu bukan siapa-siapa lagi. Memangnya aku butuh kebaikan palsumu? Nggak usah repot-repot datang menjengukku!""Dariel." Suara Darwis terdengar dingin dan berat. "Diam. Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini?"Darwis pun menoleh kepada Nikita. "Salah kamu yang memanjakanku."Nikita sampai hampir tertawa karena marah. "Anggota keluarga kalian memang sudah begitu dari sananya. Memangnya masih perlu diaj

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 97

    Di mata Darwis, Nikita tidak lebih dari seorang pengangguran yang tidak melakukan apa-apa. Semua hal baik yang ada di rumah itu tidak ada hubungannya dengannya.Kebetulan Nikita kembali lagi untuk mengambil tasnya. Kalimat itu terdengar jelas olehnya.Langkahnya langsung terhenti. Dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul dengan keras. Rasa sesak dan sakit perlahan menyebar.Sungguh konyol.Setelah bertahun-tahun menahan diri, berusaha, dan mencemaskan segala hal, semua itu ternyata sama sekali tidak bernilai bagi Darwis."Niki." Begitu Nirina mendongak, dia langsung melihat Nikita. Wanita itu sontak memperlihatkan senyum lembut. "Kamu sudah kembali. Tadi, aku sedang membicarakanmu dengan Kak Darwis."Darwis juga menoleh untuk melihatnya. Ekspresinya tetap datar, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bersalah ataupun merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah.Ekspresi Nikita sangat dingin. "Kalau memang semuanya diurus pembantu, lalu saat Dariel demam, untuk apa aku ditel

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 96

    "Kemarin, kamu sembarangan makan apa di luar?"Tatapan Dariel beralih ke arah lain. Dia langsung merapatkan bibirnya dan tidak mengatakan apa-apa.Semalam, Nirina datang menjenguknya dan membawakan banyak camilan serta minuman dingin yang biasanya dilarang keluarganya untuk dikonsumsi. Dia pun langsung menyantap cukup banyak dalam sekali waktu.Dariel tidak berani mengatakan hal tersebut karena takut dimarahi.Melihat sikapnya yang menghindar seperti itu, Nikita langsung tahu apa yang terjadi. Dia pun malas bertanya lebih jauh.Nikita berdiri sambil berujar, "Karena kamu sudah bangun, berarti kondisimu baik-baik saja. Kakakmu sebentar lagi akan datang. Aku pergi dulu."Dirinya dan Keluarga Susanto sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Apalagi, dia tidak punya kewajiban untuk terus menjaga Dariel.Usai Nikita berkata demikian, pintu ruang rawat terbuka.Darwis dan Nirina masuk satu demi satu.Nirina segera berjalan cepat ke sisi ranjang dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Dariel, gi

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 95

    Belakangan ini, Nikita memfokuskan dirinya dalam penelitian obat-obatan.Dia memulai dari akar persoalan yang paling mendasar.Setiap harinya, Nikita memeluk laptopnya sambil berulang kali melakukan perhitungan. Jika tidak, dia akan berada di ruang rapat untuk berdiskusi dengan tim.Sepulang kerja, Nikita tetap menemani neneknya di ruang rawat. Hari-harinya terasa padat, tetapi juga terasa bermakna.Hingga pukul sembilan malam, dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi memutus alur pikirannya.Dia menerima panggilan masuk dari ….Darwis.Sebenarnya Nikita sudah memblokir nomor ponsel pria itu, tetapi berhubung mereka masih belum bercerai, memang masih ada yang perlu dibicarakan lagi.Nikita tidak ingin mengangkatnya, tetapi Darwis sangat jarang berinisiatif untuk menghubunginya. Setiap kali menelepon pasti ada tujuannya.Nikita terdiam sesaat, baru mengangkatnya. Nada bicaranya terdengar datar. “Ada urusan?”“Dariel demam. Dia lagi di klinik sekolah. Kamu pergi jaga dia sebentar.” Langsung

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 94

    “Sedang makan malam dengan teman,” jawab Nikita. Setelah terdiam sejenak, dia berkata pelan, “Dulu aku sempat masuk bekerja di Evergreen Biotech, tapi dipecat oleh Adler.”Evelyn mengernyitkan keningnya. “Dengan latar belakang dan pendidikan sepertimu, apa perlu kamu dipilih-pilih orang? Lagi pula ada Darwis, kamu bisa bekerja di mana saja.”“Aku ingin mengandalkan kemampuanku sendiri,” jawab Nikita dengan tenang, “Hanya saja, aku nggak menyangka Ibu akan bekerja sama dengan Evergreen Biotech. Tadinya aku kira Pak Adler hanya akan selalu memihak Nikita ….”“Memihak dia?” Evelyn tersenyum dingin. “Apa dia bisa dibandingkan dengan kamu?”“Kalau bukan karena dia, kamu dan Darwis yang sudah bersama sejak kecil pasti sudah bersama. Mana mungkin dia dapat giliran menjadi Nyonya Susanto.”“Adikmu itu memang terlalu pencemburu. Aku sudah memperlakukannya seperti anak kandung, memberinya begitu banyak selama belasan, bahkan hampir dua puluh tahun, tapi dia tetap tidak bisa menerimamu. Justru ka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 93

    Rasa mabuk perlahan mulai menyerang. Nikita bersandar di dekat jendela lorong untuk menghirup udara segar.Suasana di dalam ruang VIP begitu bising. Nikita benar-benar merasa sesak berada di sana, sehingga mencari alasan untuk keluar sejenak.Jamuan makan malam yang dihadiri Evergreen Biotech kali ini untuk membahas pengadaan peralatan laboratorium.Adler juga harus berusaha memperoleh arus kas yang cukup bagi perusahaan agar dapat mendukung penelitian berikutnya, apalagi peralatan laboratorium tersebut memang sangat dibutuhkan.Mereka tidak seperti lembaga pemerintah yang memiliki pendanaan stabil. Bagi mereka yang memilih merintis usaha sendiri, setiap pemasukan terasa sangat berharga.Angin malam berembus sepoi-sepoi dan langsung menyadarkan Nikita.Di sekitar sana, tiba-tiba terdengar suara tawa. Nikita spontan mengangkat pandangannya.Darwis dan yang lain sedang berjalan ke dalam restoran. Nirina bersandar di sisi Darwis, sementara Devina dan yang lain mengikuti dari belakang.“Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status