เข้าสู่ระบบSelamat membaca dan semoga suka dengan 3 bab kita, MyRe. Sehat selalu buat kalian semua. Semangat! IG:@deasta18
"Apa itu Halo dek, Ana?" tanya Dominic. Anaya menggaruk pelipis lalu mengerjap bebarapa kali. "Ya … sejenis Mas dapat nomorku atau sosial mediaku dari seseorang habis itu Mas kirim pesan 'halo dek. Begitu, Mas," jelas Anaya. "Tujuannya?" Dominic menaikkan sebelah alis. "Awal mula pdkt." "Apa cara seperti itu berhasil?" "Tergantung." "Kau suka halo dek?" tanya Dominic tiba-tiba. Jangan-jangan Anaya suka tipe yang seperti itu makanya Anaya menyinggung. "Tergantung." Anaya menjawab seadanya. "Berapa banyak pria yang mengirim pesan seperti itu padamu?" Dominic bertanya dengan suara dingin. "Lumayan ba …-" Anaya ingin menjawab yang sejujurnya, akan tetapi melihat raut muka Dominic yang tak bersahabat, Anaya seketika buru-buru meralat, "lumayan dikit." "Ouh." Suara Dominic terkesan dingin dan menusuk, tatapannya berubah tajam dan mendadak ada aura mengerikan yang menguar dari dirinya. "Lumayan dikit, Mas!" pekik Anaya, sontak meletakkan tangan di dada bidang Dominic yan
Anaya diam sejenak dengan perasaan yang campur aduk. Ada senang mendengar ucapan Dominic, tetapi ada perasaan deg-degekan secara bersamaan juga. Pria ini seolah sangat menantikannya, tapi kenapa? "Itu … karena Kak Elma bilang kalau Perusahaan Mas Dominic sudah memblacklist-ku. Makanya aku tidak pernah melamar kerja ke sana atau ke perusahaan lainya juga. Karena … mungkin aku sudah masuk dalam daftar hitam King'Theo Grub, jadi bakalan sulit untukku menerima pekerjaan di manapun," ucap Anaya pada akhirnya. "Kenapa Mas Dominic menungguku? Apa sebelumnya kita saling … kenal?" tanyanya kemudian dengan ragu. Dominic menganggukkan kepala. "Lebih tepatnya, aku mengenalmu." "Mengenalku?" Anaya mengerutkan kening, "gimana caranya? Perasaan aku tidak magang di perusahaan Mas deh. Dan … bukannya kita saling kenal gara-gara novelku yah?" "Seminar di universitas-mu." Dominic berkata dengan nada rendah, "sejak saat itu aku mengenalmu." "Hah?" Anaya cengang mendengarnya. "Maksudnya, Mas?" "A
"Beristirahatlah." Anaya menganggukkan kepala, segera berjalan ke arah ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana. Saat ini dia berada di sebuah penginapan, di luar kota untuk menemani suaminya. Yah, pada akhirnya Anaya bersedia ikut ke sini karena paksaan Dominic. Dominic merapikan koper lalu setelah itu ikut bergabung ke ranjang dengan Anaya. Dia naik ke atas ranjang, memeluk pinggang Anaya lalu menelusup pada ceruk leher perempuan itu. "Aku tidak lapar tetapi aku sangat ingin memakanmu, Ana," ucap Dominic dengan nada serak dan rendah, menggigit pelan daun telinga Anaya. Anaya meringis, perlahan menarik kepala–berniat menjauhkan telinga dari Dominic. Dia merasa geli dan … terganggu. Tingkah Dominic yang seperti ini selalu berhasil membuat jantung Anaya berdebar kencang. "Sayang sekali kau sedang kelelahan, jika tidak … aku mungkin sudah memakanmu, Ana," ucap Dominic lagi, mengangkat kepala lalu bertopang pada tangannya sebagai sandaran setelah itu menatap istrinya dengan leka
"Tadi siang kau makan banyak?" tanya Dominic, di mana saat ini dia ada di kamar, bersama dengan Anaya yang sedang merajut. Ck, istrinya ini memang serba bisa. Pantas saja seseorang menggilainya. Orang itu adalah …- "U'um." Anaya menganggukkan kepala sambil senyum manis pada Dominic, "aku makan banyak. Tenang saja, Mas." "Aku tidak." Dominic berkata datar, meraih gulungan benang wol lalu melempar pelan ke arah wajah Anaya. Anaya mendongak, menatap campur aduk pada Dominic. Ck, ada apalagi dengan pria ini? Perasaan Dominic sangat suka menggangunya, apapun kegiatan Anaya. Kemarin, saat Anaya membaca novel, Dominic merebut novelnya lalu menbolak-balik secara acak. Sekarang, saat Anaya merajut, pria ini juga mengganggu. "Kalau kau marah, berarti kau ingin kucium," ujar Dominic, menyunggingkan smirk tipis sambil menatap Anaya yang sedang memasang wajah kesal. Dominic menganbil gulungan benang wol warna lain kemudian kembali melemparnya ke arah Anaya. "Aku tidak marah kok, Mas. Ta
"Mereka pernah dekat?" tanya Dominic dengan nada dingin, ekspresinya mulai tak bersahabat–marah sendiri karena membayangkan istrinya pernah dekat dengan pria bajingan itu. "Mereka pernah berpacaran?" Rain menggelengkan kepala. "Jangankan dekat dan pacaran dengan Alka, Tuan, melihatnya saja Anaya tidak sudi," jawab Rain dengan enteng. Dominic menaikkan kedua alis, tiba-tiba senyum tipis karena merasa senang. Jangankan dekat dan pacaran, melihatnya saja Anaya tak sudi! Cih, kalimat ini entah kenapa terdengar sangat menghibur di telinga Dominic. "Jadi mereka bermusuhan?" tanya Dominic lagi. Rain lagi-lagi menggelengkan kepala. "Bukan juga, Tuan. Lebih ke … Anaya sekadar tahu Alka tetapi Alka menaruh perasaan pada Anaya." Dominic mengerutkan kening, tetapi ekspresinya lebih serius dari yang sebelumnya. "Aku tidak bermaksud apa-apa, Tuan. Aku mengatakan ini … karena kemarin aku melihat Alka dan aku cukup mengkhawatirkan Anaya. Kebetulan Tuan bertanya jadi sekalian saja kuka
Larisa memegang pipinya yang ditampar penuh amarah oleh Elma. Larisa memerlihatkan ekspresi kaget, menatap tak percaya pada Elma. Anaya dan Elma adik kakak? Rasanya sulit dipercaya mengingat keduanya sangat berbeda. Tapi … pantas saja selama ini Elma menghalanginya setiap kali bertemu dengan Dominic, ternyata Elma adalah kakak Anaya. Larisa ingin menjawab dan berniat kembali marah pada Elma karena lancang memukulnya. Akan tetapi niatannya tersebut ia urungkan ketika melihat Anaya datang.Jika ada Anaya di sini, berarti Dominic juga di sini bukan?"Ke-kenapa kamu memukulku, Elma?" ucap Larisa dengan nada sedih, tiba-tiba menarik tangan Elma. Sengaja supaya Elma kesal lalu mendorongnya. "Lepaskan tanganku, Murahan!" ketus Elma, menarik tangannya cukup kuat. Namun, tiba-tiba saja Larisa menjauhkan dirinya. Bug'"Auu …." Larisa meringis sakit, dia jatuh tepat di sebelah Anaya yang baru datang. Elma mengerutkan kening, menatap Larisa dengan ekspresi campur aduk. Perasaan, dia hanya m







