ログインSelamat membaca dan semoga suka dengan 3 bab kita hari ini, Myre. Semangat. IG:@deasta18
"Yang kau sebut Kakek nenek itu orang tuaku. Jadi sama saja!" ketus Luke. "Hahaha … Ayah lucu yah," respon Anaya, lagi-lagi tertawa hambar dan getir. "Udahal, aku cape. Kalau memang Ayah tidak mau bantu aku, tidak masalah. Toh, aku sudah biasa menyelesaikan masalahku sendirian. Aku kan …-" Anaya mengedikkan pundak, berkata dengan parau dan lagi-lagi dengan air mata yang berjatuhan. Anaya tak melanjutkan perkataannya, segara beranjak dari sana sambil tertawa getir. "Anaya, kalau kamu memohon dan bicara baik-baik ke Ayah, mungkin Ayah mau mempertimbangkan," seru Tifany, cukup kasihan pada putri ke-duanya tersebut. "Aku tidak sudi menolong anak sialan itu!" ucap Luke dengan nada ketus dan kesal. Anaya yang masih mendengar, seketika berhenti melangkah. Dia membalik tubuh, menatap ke arah seluruh keluarganya lalu berakhir menatap ke arah ayahnya. "Tenang saja, Pak Luke Yodian, sekalipun aku mati karena masalah ini, aku juga tidak akan mau meminta tolong padamu. Percuma soalny
"Ta-tapi nama Dominic bukan hanya nama Tuan saja," jawab Anaya. Kali ini dia harus berani karena dia tidak bisa menghapus novel tersebut. Novel tersebut telah terkontrak dengan salah satu aplikasi dan juga pihak penerbit. Novel tersebut sudah tamat dan dalam proses pembukuan. Itu satu-satunya novel best seller milik Anaya, novel yang membawanya pada puncak kejayaan di dunia kepenulisan dan pernovelan. Jika dia ingin menghapus novel tersebut dari platform ia menulis, maka Anaya harus mengganti rugi tiga kali lipat dari penghasil bersih yang ia terima dari novel tersebut. Lalu jika dia membatalkan penerbitan novel tersebut, Anaya juga harus membayar kerugian yang tak main-main. Sebenarnya uang dari novel tersebut masih ada dan sama sekali belum Anaya sentuh. Dia menabung uang tersebut untuk modalnya membuka toko cookies–impiannya. Tetapi sekalipun dia punya uangnya dan harus merelakan impiannya, tetap saja denda yang harus ia bayar kurang. "Aku tidak mau tahu, Nona Anaya. Kau
"An …-" panggil Rain, akan tetapi sahabatnya tersebut lebih dulu melarikan diri–berlari sekencang mungkin, seperti seseorang yang sedang kebelet ingin berak. Tapi apa iya Anaya ingin BAB? Rain menggaruk tengkuk lalu menatap muram pada Reno Saitama, kepercayaan sang Dominic Rhazes Theodora yang terkenal bijaksana. Rain cengengesan, merasa kikuk dan cukup gugup. "Hehehe … temanku yang tadi memang begitu, Pak. Dia mungkin memang sakit perut. Ja-jadi buru-buru." Reno tak mengatakan apa-apa akan tetapi mendekat ke arah mobil untuk melapor pada sang tuan. Setelah itu, dia kembali menghadap pada Rain. "Baiklah. Sepertinya temanmu memang tidak bisa diajak berdiskusi," ujar Reno secara tegas. "Memangnya Anaya … ada masalah apa dengan Pak Reno?" tanya Rain, cukup penasaran. "Temanmu bermasalah dengan Tuan Muda Dominic. Dia mencemarkan nama baik Tuan." "Tidak mungkin!" Rain langsung menyangkal, "Anaya itu perempuan baik-baik." "Kenyataannya memamg begitu." Rain berkata datar, se
"Nih, tuaknya." Tiba-tiba saja seseorang menyerahkan sebotol minuman dingin pada Anaya, membuat Anaya menoleh lalu menatap botol minuman tersebut dengan ekspresi muram. "Makasih, Nyet," jawab Anaya. Sebenarnya yang menyerahkan minuman tersebut adalah bos sekaligus sahabatnya, Rain Kalingga Mor, "tuak apaan? Ini mah minuman soda. Nggak ada efek mabuk-mabuknya sama sekali." "Anak di bawah umur dilarang minum tuak," ucap Rain, pemilik toko bunga yang lumayan besar di kota ini, sahabat sekaligus bos Anaya. Pria tampan dengan wajah ramah tersebut duduk di sebelah Anaya. Bedanya dia duduk lebih elegan dibandingkan dengan Anaya yang sudah seperti gembel. "Kepalamu di bawah umur. Orang udah seperempat abad juga," ucap Anaya dengan nada berang. Dia membuka botol minuman tersebut lalu meneguknya hingga habis. Kebetulan dia haus. "Widih, langsung habis. Haus, Neng?" tanya Rain sambil tertawa kecil. Anaya menganggukkan kepala secara pelan, setelah itu kembali diam sambil menatap ke arah j
--25 tahun kemudian--- "Tidak di novel, tidak di kantor kita … yang namanya Dominic memang kejam yah." "Sepertinya ini kisah nyata deh. Kekejaman dan sikap dingin Tuan Domonic di novel ini sama persis dengan Big Boss." "Jangan-jangan Tuan Dominic–Big Boss kita, juga sama dengan si Dominic di novel ini. Punya perempuan yang ditawan dan kurung di mansion mewahnya." "Bukannya Tuan Dominic anti romance yah?" "Kita kan nggak tahu. Di novel ini, si Tuan Dominic-nya juga dikenal sebagai pria dingin yang tidak pernah dekat dengan perempuan. Tapi kenyataannya, dia menculik kekasih orang lalu menjadikannya pemuas nafsunya." "Jahat banget yah. Aku merinding loh baca bagian itu." "Iya, karakter Tuan Dominicnya sungguh jahat dan bastard. Obsesinya terlalu gila." "Hah, di mana-mana yang namanya Dominic kenapa kejam yah? Nggak di novel, nggak di kantor kita, semuanya pada seram." Beberapa staff perempuan di perusahaan King'Theo Grub, sedang membicarakan sebuah novel yang punya nama
"Baik, Nak," jawab Elena, "bayi di perutnya tidak kenapa-napa, hanya saja kondisinya lemah." "Beby di sini yah?" tanya Alisha tiba-tiba, mendapat anggukan dari Aeza. "Kok aku nggak tahu yah? Kapan dia di sini, Ibu?" "Beby sudah dua minggu di sini," jawab Elena, "Ibu kira kamu tahu. Kan minggu kemarin kamu datang ke rumah dan Beby muncul loh." "Sepertinya aku tidak sadar, Ibu." Alisha menggaruk pipi sambil cengengesan pada ibunya, "trus Beby kenapa, Ibu?" "Jatuh," jawab Elena seadanya, "gih, jenguk Kakak angkatmu. Siapa tahu setelah dijenguk kamu, si Beby jadi lebih semangat." "Enggak ah, malas berurusan sama orang si paling sok," jawab Alisha, memutar bola mata secara jengah laku menampilkan ekspresi muram. "Kasihan tahu. Saat dia jatuh, suaminya sama sekali nggak nolongin. Dia nolong Beby setelah dibentak sama Mas Alaric. Pantas, yah, selama ini Beby caper banget dan hauuus perhatian. Soalnya suaminya kayak begitu," ucap Aeza, tanpa sadar mulai menggosip. "Eih, siapa tahu suam







