LOGIN"Kau yakin?" sahut Julian untuk memastikan omongan Wawan. "Saya yakin sekali, Pak. Soraya Hartanto itu wanita muda kaya raya, ada yang bilang dia cucu konglomerat. Cuma pastinya saya tidak tahu pasti siapa kakeknya. Dulu ada yang bilang Soraya Hartanto mati bunuh diri. Tapi entah mana yang benar. Yang jelas wanita udah lama meninggal. Apa Pak Julian tidak pernah mendengar nama Soraya Hartanto? Dia memang jarang diliput media, karena dia sangat introvert, pernah lihat langsung?" tanya Wawan saat melihat wajah Julian yang sedang memikirkan sesuatu. "Aku pernah mendengar nama itu, bahkan aku sudah bertemu dengannya!" jawab Julian dengan napas panjang. Wawan membulatkan matanya dan kaget dengan pengakuan Juian. "Apa, Pak? Anda pernah bertemu dengan Soraya Hartanto? Tidak mungkin itu, Pak. Soraya Hartanto sudah nggak ada. Pasti itu bukan dia. Itu pasti setan!" jawab Wawan yakin. "Setan gimana? Aku malah bertemu dan bicara langsung dengan dia. Bukan cuma itu saja. Aku juga berhubungan i
Julian melototkan matanya. Bagiamana bisa Wawan berpikir jika istri Julian sedang hamil. Apa hubungannya dengan dirinya yang tiba-tiba suka es doger. "Ah, itu nggak mungkin. Istriku tidak hamil," kata Julian sambil tersenyum. "Ya, itukan cuma dugaan saya saja, Pak. Oh iya, sebelumnya saya turut berduka cita atas kepergian Bu Nadine. Pasti Pak Julian sangat sedih ditinggalkan wanita yang sangat Anda cintai. Saya juga tidak menyangka BU Nadine bisa pergi dengan tragis!" ucap Wawan. Julian mengela napas panjang. "Ya, kamu benar. Aku memang sangat terpukul dengan kepergiannya yang mendadak. Tapi semua itu sudah takdir. aku harus ikhlas, meskipun aku berharap dia masih hidup," ucap Julian. Wawan sendiri tahu bagaimana kesedihan Julian. Nadine dan Juki memang pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Tiba-tiba Wawan bercerita tentang pengalamannya yang tidak sengaja pernah melihat sosok yang mirip Nadine waktu di rumah sakit saat sedang menunggui ibunya sakit. "Saya sendiri juga berharap se
Soraya yang nampak panik, wanita itu berkacak pinggang melihat eksprei Julian yang taknkunjung pergi. "Kamu tunggu apa lagi, Mas? Katanya mau pergi!" tanya Soraya. Juian terkesiap dan langsung mengangguk."Ah iya, aku akan pergi. Yakin lewat sini aman?" tanya Julian untuk memastikan. "Aman! Pokoknya kamu percaya aku saja!" jawab Soraya. Julian mulai melangkahkan kakinya masuk ke lorong yang gelap itu. "Baikalah, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik!" ucap pria itu sambil mengusap wajah Soraya sebelum dirinya masuk ke lorong. Soraya tersenyum senang. "Kamu juga hati-hati! Jaga dirimu baik-baik!" Julian segera masuk ke dalam lorong itu. Soraya memperhatikan kepergian suaminya dengan penuh doa dan harapan semoga mereka segera bersatu lagi dalam kebahagiaan. Hanya sekitar tiga puluh detik saja. Julian sudah sampai di ujung lorong yang terletak di jalan seberang. Pria itu segera keluar dari sana. Namun apa yang terjadi selanjutnya. Julian dibuat hampir setengah mati saat terden
"Em... bukan apa-apa, lupakan!" sahut Julian nampak salah tungkah.Sementara itu di tempat lain, Ana yang sudah sampai di rumahnya. Wanita itu langsung membanting pintu. Rasanya ia ingin sekali membunuh Soraya saat itu juga. "Brengsek kau perempuan jalang! Aku tidak bisa diginiin. Aku sangat yakin sekali jika Mas Julian ada di rumah perempuan itu. Mama! Sepertinya aku harus telepon Mama. Hanya perempuan tua itu yang bisa menolongku!" Ana segera mengambil ponselnya, setelah itu ia segera menelepon nomor Nyonya Ratih untuk mengadu. Hanya dalam bebrapa menit saja, sambungan telepon terhubung. "Halo, sayang! Ada apa lagi? Apa Julian digoda lagi sama perempuan itu?" Suara Nyonya Ratih langsung mendominasi. Ana memulai sandiwaranya. Ia mulai menyiapkan drama air mata buayanya untuk mengelabuhi Nyoya Ratih. "Hiks! Iya, Ma. Mas Julian pergi ke rumah perempuan itu lagi!" jawab Ana dengan memasang suara sedihnya. "Apa! Julian ke rumah perempuan itu lagi? Sepertinya Mama harus tegas dan mel
Hampir saja jantung Julian copot. Susah payah dirinya berusaha keluar dari rumah Soraya. Justru ada yang memergokinya. Pria itu terdiam sesaaat, ia belum berani membalikkan badannya. Hingga akhirnya, pria itu dibuat lega ketika ia mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya."Mas, kamu masih di sini?"Ya, itu adalah suara Nadine. Julian spontan menoleh dan akhirnya ia melihat Carlota yang sedang berdiri di samping Nadine."Carlota! Kamu kok ada di sini?" tanya Julian nampak gugup dan sedikit malu."Ya saya ke sini karena saya resign jadi pelayan Bapak, saya udah nggak cocok lagi bekerja untuk Nyonya Ana. Maaf Pak, saya belum pamitan dulu sama Bapak, saya langsung ke sini aja, Bu Soraya bersedia kok menampung saya!" jawab Carlota apa adanya."Oh, jadi begitu! Nggak masalah, kamu boleh bekerja di sini, selagi Soraya bersedia, aku sih terserah kalian. Senyamanmu saja!"Julian nampak manggut-manggut. Lalu, Carlota bertanya lagi kepada pria itu. Tapi kali ini pertanyaanya cukup membuat
Ana langsung memaki-maki Soraya saat wanita itu menyindirnya minta sumbangan."Hei perempuan gatal! Minta sumbangan pala lu! Di mana Mas Julian kamu sembunyikan? Cepat bawa dia padaku!" seru Ana dengan paksa. Soraya tertawa kecil mendengarnya."Suamimu hilang kok datang padaku? Mana aku tahu dia ada di mana!" jawab Soraya dengan santainya."Cuih! KAmu pikir aku percaya? MInggir! Biar aku yang cari sendiri!" Ana memaksa untuk masuk ke dalam rumah Soraya. Namun segera Carlota menarik tangan wanita itu."Nyonya, sebaiknya Anda pulang! Jangan bikin malu. Pak Julian nggak ada di sini!" ucap Carlota sambil terus menahan tangan Ana. Spontan Ana menepis tangan Carlota dengan ketus."Ck! Pelayan nggak tahu diri! Kamu pasti sudah bersekongkol dengan perempuan ini, iya, kan?" umpat Ana dengan menatap Carlota dan Soraya secara bergantian.Carlota benar-benar melindungi Nadine dari serangan Ana. Wanita itu berdiri di depan Nadine dan tidak akan membiarkan Ana menyakiti sang majikan."Saya tidak ak
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







