Share

Bab 6: Takut

Penulis: HyFaa
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-13 14:44:53

 "Mana coba? Enggak ada, kan?" tanya Dinda balik.

 "Tapi, aku yakin banget kok sumpah, Din. Aku ngeliat sendiri ada pesan bentuknya itu voice note, tapi pas aku puter suaranya itu nyeremin. Emang kamu enggak denger apa pun? Aku dengerinnya pake suara yang full loh."

 Amel menjelaskan hal itu, dengan kedua mata yang menoleh kanan dan kiri, memastikan jika di dalam indekosnya tak ada hal-hal yang menakutkan lagi. Pasalnya, ia baru pertama kali ini mendapati hal-hal yang ghaib seperti itu.

 Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Amel, Dinda hanya menggelengkan kepala saja. Setelah itu ia memilih untuk meletakkan ponsel miliknya begitu saja.

 "Jadi, ibu kos aku itu enggak ada karena hantu. Eits, tapi ini baru dugaan aku aja ya, karena yang terakhir interaksi sama ibu kos, ya hantu itu," tutur Dinda, mulai bercerita tentang apa yang menimpa Tanti.

 "Hantu?"

 "Iya, jadi ceritanya itu tadi kemarin siang ditemuin jasad perempuan cantik yang gantung diri di dalam kamarnya. Enggak jauh kok kamarnya dari kamar aku, tapi masalahnya adalah tadi malem aku ngeliat sendiri dia ada di depan kamarnya ibu kos."

 "Tadi malem itu enggak ada yang di indekos, cuman ada tiga orang sama aku kalau enggak salah. Ditambah ibu kos, jadi ada empat, masing-masing ada di dalam kamar, tapi aku tau kalau dari tadi ibu kos itu ada di ruang tamu."

 "Nah, setelah aku denger suara ketawa yang kenceng banget, ibu kos langsung nutup pintu kamar dan aku yakin ibu kos udah masuk kamar."

 "Abis itu semuanya hening, tapi tiba-tiba aja pintu kamar aku diketuk. Enggak tau sama siapa, tapi logika aku udah jalan, karena kan ibu kos juga tadi udah nutup pintu, rasanya enggak mungkin kalau itu ibu kos aku, kan?"

 Amel menganggukkan kepalanya, sangat sabar sekali mendengar cerita dari Dinda, meskipun ia harus berkali-kali mengusap tengkuknya karena merasa sedikit merinding. "Tapi, kamu enggak sampai buka pintu kamar kan?"

 "Ya enggak dong, aku juga mikirnya itu tuh hantu perempuan yang tadi bunuh diri. Abis itu aku ngedenger ketukan pintu di kamar yang lain, aku enggak tau pasti itu ada di mana, tapi yang pasti ngetuknya agak keras."

 "Nah, sialnya itu aku ngedenger sahutan dari ibu kos, kalau dia nanyain siapa yang ngetuk pintu. Di situ aku udah deg-degan banget sumpah. Ternyata bener dong, besoknya ibu kos ditemukan udah enggak bernyawa."

 "Hantu bisa sampai bunuh orang kah? Kalau iya, kok serem banget ya." Amel diam, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Tanti. Pasti sangat menyeramkan.

 Dinda dan Amel sama-sama diam, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Apalagi Dinda, ia kembali terbayang bagaimana kejadian semalam dan bagaimana ia melihat keadaan jasad dari Tanti.

 Cara tewasnya Tanti juga sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Leni. Benar-benar sama, hingga luka memar di bagian leher pun sama.

 "Tunggu. Apa korban selanjutnya itu kamu ya, Din?" celetuk Amel, yang tentu saja langsung terkena cubitan dari Dinda.

 "Kamu tuh ya, kalau ngomong suka asal keluar aja sih. Nyebelin banget! Emang kamu mau aku yang jadi korban selanjutnya, terus aku terror kamu deh." Dinda tertawa dengan sangat puas, kala ia mendapati raut wajah Amel yang mulai ketakutan.

 "Mau tau enggak, hantu itu ketawanya kayak gimana?" Dinda kembali mencoba untuk menakut-nakuti Amel, tetapi suara notifikasi yang berasal dari ponsel milik Dinda langsung membuat mereka berdua saling bertatapan.

 Tanpa ada suara dari mereka berdua, Dinda langsung meraih ponsel miliknya yang sedari tadi diletakkan begitu saja. "Ada notifikasi lagi, dari Bu Tanti."

 "Ibu kos kamu itu lagi?" Dinda mengangguk, membenarkan pertanyaan dari Amel barusan.

Secara otomatis, bulu kuduk mereka berdua langsung berdiri. Rasanya sangat tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi tangan kanan Dinda tetap bergerak untuk membuka notifikasi tersebut.

"Kamu bisa liat kan, kalau ini ada pesan dari Bu Tanti? Bukan aku aja kan yang bisa ngeliat?" 

Amel menganggukkan kepala, kala ia sudah melihat dengan jelas jika menang benar ada satu pesan dari Tanti. Namun, ia sudah parno sendiri karena memang sudah memiliki pengalaman menyeramkan.

Layar ponsel milik Dinda saat ini tengah berada di room chat dengan Tanti, memang benar ada satu pesan terbaru, dengan bentuk voice note, tetapi Dinda sama sekali tak berani untuk memutar voice note tersebut.

Entah, keberanian dari mana datangnya, tiba-tiba saja tangan Amel bergerak menyentuh untuk memutar pesan voice note tersebut.

"Nak Dinda...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 16: Merinding

    Dinda tersentak, napasnya tersengal seperti habis dikejar binatang buas. Lampu neon masih menyala stabil, kuning pucat, menerangi wajah Amel yang cemas di depannya. Bau anyir itu lenyap seketika, berganti aroma vanila dan kopi instan yang tadi malam tercium begitu menenangkan.“Mel … tadi aku mimpi buruk,” gumam Dinda, suaranya serak. Tubuhnya masih gemetar, sebab rasa takut itu benar-benar menghantui dirinya. “Aku cium bau darah lagi dan kamu matanya hitam pekat. Kamu juga tadi sempet bilang, kalau aku nggak bisa lari.”Amel langsung memeluk Dinda erat, tangannya mengusap punggung sahabatnya itu pelan-pelan. “Sst, itu cuma mimpi, Din. Kamu aman di sini sama aku. Aku juga nggak ke mana-mana. Lihat, mataku normal kan?” Ia mundur sedikit, menatap Dinda dengan mata cokelat hangat yang selalu membuat Dinda merasa pulang.Dinda menatap lama, mencari-cari celah kegelapan yang tadi ia lihat. Tak ada. Hanya pantulan lampu neon di kornea Amel. Ia mengangguk pelan, tapi jantungnya masih berdeg

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    bab 15: kos amel

    Dinda mengetuk pintu kamar nomor 7 dengan tangan yang masih gemetar, kardus berisi barang miliknya berada di sisi kanan, sementara tas ransel masih digendong oleh Bayu di belakangnya. Malam semakin larut, angin malam menyusup melalui koridor indekos Amel yang lebih ramai dibanding kosan lamanya Dinda."Mel, ini Dinda!" panggilnya lagi, suaranya sedikit lebih keras supaya terdengar sampai ke dalam.Pintu terbuka pelan, memperlihatkan wajah Amel yang mengantuk, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun dari tidur yang nyenyak. Ia memakai kaus longgar dan celana pendek, mata sipitnya melebar saat melihat Dinda dan Bayu di depan pintu. "Din? Jam segini? Ada apa?"Bayu meletakkan tas ransel di depan pintu. "Aku anterin Dinda ke sini dulu, Mel. Dia nggak bisa terus ada di kosan lama. Ceritanya panjang, boleh enggak kalau Dinda di sini dulu?"Amel mengangguk cepat, lalu langsung menarik lengan Dinda untuk cepat masuk. "Masuk dulu, Din. Kamu keliatan pucat banget. Bayu, makasih ya udah ante

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    bab 14: merinding

    Dinda bersandar di pintu kamarnya yang baru saja dikunci rapat-rapat. Napasnya tersengal, dada naik-turun seakan baru saja berlari maraton. Di luar kamar, keheningan menyelimuti indekos yang hampir sepenuhnya gelap, sebab memang tidak ada penghuni di indekos tersebut, yang tersisa hanyalah Dinda seorang.Tak ada langkah kaki, juga tawa Lina. Hanya bau anyir yang perlahan-lahan mulai memudar, seolah ikut lenyap bersama sosok yang tadi menyamar sebagai kekasihnya—Bayu.Ponselnya bergetar pelan di genggaman tangan yang masih gemetar. Pesan masuk dari Bayu."Aku udah di depan gerbang, Sayang. Kamu di kamar 12, kan? Aku naik sekarang."Dinda mengetik dengan jari-jari yang masih bergetar, begitu juga hatinya berdegup kencang."CEPET, SAYANG. AKU TAKUT!"Pesan gagal terkirim, tiba-tiba sinyal menghilang, membuat Dinda kembali merasakan ketakutan luar biasa.Dinda menempelkan telinga ke pintu. Sunyi. Lalu, suara motor Bayu terdengar samar dari kejauhan mendekat ke gerbang depan. Ia menahan

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 13: Bingung

    Baru saja Dinda akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, ponsel yang saat ini masih berada di genggaman tangannya berdering dan tentu saja tanpa membuang waktu, Dinda segera mengangkat panggilan tersebut.Panggilan dari sang kekasih, yang memang sedari tadi sudah ditunggu kabarnya oleh Dinda."Sayang, kenapa dari tadi aku hubungin kamu enggak bisa terus? Kamu lagi ada di mana sih?" tanya Dinda, dengan wajah yang menunjukkan raut muka sebal, meskipun tidak dapat terlihat oleh sang kekasih."Aku loh dari tadi ada di kosan kamu, muter-muter aku, Sayang nyari di mana kamar kamu, tapi enggak ketemu sama sekali," sahut Bayu, juga dengan raut wajah yang bingung.Pasalnya, saat ini ia sungguh-sungguh merasa bingung, Sedari tadi ia mengitari penjuru kos guna menemui sang kekasih yang berada di dalam kamar, tetapi tidak ada sama sekali."Ngomong apa sih, Sayang. Kok bisa enggak ketemu sama kamar aku.""Beneran sayang, sekarang aja aku deh yang keluar ya dari kamar, biar bisa ketemu sa

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 12: Kekecewaan

    Setelah mengatakan hal itu, hantu Lina langsung pergi begitu saja, membuat Dinda yang tadinya merasa takut, justru semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."Din, ke mana perginya hantu itu?" tanya Amel, yang langsung mendekat ke arah Dinda.Respon dari hanya gelengan kepala saja, seraya mengangkat kedua bahu, pertanda jika dirinya tidak tahu ke mana perginya Lina."Ya udah, yuk sekarang kita bawa barang-barang kamu ke depan dan sementara kamu ke kosan aku aja dulu," ajak Amel, tetapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Dinda."Kayaknya aku milih tetap di sini aja deh, Mel, aku rasa ada sesuatu yang harus aku cari tahu kebenarannya bagaimana," ucap Dinda, membuat Amel langsung mengerutkan kening, heran.Amel menatap kedua mata Dinda dengan cukup serius, mencari jawaban dari ucapan Dinda tadi. "Kenapa, Mel? Kamu ngira kalau aku bercanda?"Amel mengangguk. "Aku beneran, mau di sini aja. Aku mau cari tahu apa yang terjadi di sini, sampai-sampai Lina bisa mengakhiri hidupn

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 11: Ada apa sebenarnya?

    Benar saja apa yang dikatakan oleh Dinda, karena ketika ia nekat untuk membuka gorden indekos kamarnya, justru ia mendapati wajah pucat yang menyeramkan, hanya dipisahkan oleh kaca jendela saja.Saat itu juga Dinda langsung menutup gorden yang masih berada di genggaman tangannya itu. Dinda terduduk lemas, ia menetralkan degup jantung yang saat itu benar-benar sudah tidak karuan.Amel yang sedari tadi hanya mengamati gerak-gerik Dinda, sudah dapat menebak jika di depan indekos temannya itu masih ada hantu tersebut.Rasa takut yang juga menyelimuti diri Amel sedari tadi membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mendekat ke arah Dinda.Dua orang perempuan yang tengah berada dalam satu ruangan, kini sibuk dengan diri masing-masing."Kenapa juga sih semuanya seperti ini?" gumam Dinda, dengan suara yang bergetar lirih, tetapi Amel masih dapat mendengar apa yang dikeluhkan oleh sahabatnya tersebut."Din, kamu ke sini dong. Aku takut kalau kita jauh-jauhan kayak gini," pinta Amel, seraya meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status