Share

Bab 7. Menghina

last update Last Updated: 2025-10-18 00:54:53

"Sandra, sini dong," panggil mereka lagi.

Sandra mendekat ke arah mereka berempat. Dia meletakan tas belanjaan di dekat kakinya. 

"Ayo duduk sini," suruh Tika.

Sekarang posisi duduk Sandra berhadapan dengan Dewi. Sedangkan Tika berhadapan dengan Evi dan Anita. 

Dewi menatap Sandra dengan harap-harap cemas. Dia takut kalau Sandra akan menyinggung status mereka. Dewi tidak mau jika teman-teman tahu jika dia hanya istri kedua. Apalagi Sandra yang menjadi istri pertama. Martabat dia bisa jatuh.

"Terima kasih," ucapan Sandra setelah duduk dengan nyaman.

"Kamu ngapain di sini, Sandra? Apa hanya melihat-lihat saja?" tanya Tika memulai membully Sandra.

"Itu barang kamu banyak amat. Jangan bilang kamu habis dijajanin sama om-om lagi. Upss … maaf Sandra, aku keceplosan ya," hina Evi.

"Oh ini, ini barang punya nenek yang aku jaga kok," jawab Sandra tidak sepenuhnya berbohong. 

"Aduh, kasihan sekali kamu. Kamu hanya belanja untuk nenek yang kamu asuh ya. Apa kamu jadi pembantu?" sahut Anita sambil tersenyum meledek.

Sandra mengabaikan semua perkataan mereka. Dia akan melihat sampai mana mereka akan membully nya. Dia akan langsung membalas semuanya nanti sekaligus. Apalagi Sandra sudah mengetahui suami Tika yang bekerja sebagai manager di perusahaan milik Farel. Dia bisa mengurusnya nanti. 

Tika akan terkejut jika mengetahui kalau dia jadi pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja. Sedangkan suami Evi dan Anita bekerja di cabang perusahaan milik keluarga Farel juga. Sandra ingin tahu bagaimana reaksi mereka sebulan lagi saat tahu jika dia sudah jadi miliarder.

"Iya, aku hanya bisa lihat-lihat tanpa bisa beli. Kan aku tidak punya uang," sahut Sandra melirik ke arah Dewi.

"Nasib kamu memang jelek dari dulu Sandra. Persis seperti wajah kamu," ujar Evi.

"Apa kamu mau aku kenalin sama om aku. Dia sudah ada istri sih, tapi dia pasti akan tertarik sama kamu. Kamu bisa jadi simpanan om aku. Hitung-hitung buat permak muka kamu. Haha ….," kata Tika dengan bangga.

"Tika, bukannya om kamu sudah berumur lima puluh tahunan ya. Kamu bisa saja menjodohkan om kamu sama Sandra," sahut Anita.

"Tidak apa kalau tua Sandra. Yang penting kamu bisa dapat uang, ya nggak."

Sandra bersabar dengan tiga teman Dewi yang terus memojoknya. Sekarang matanya beralih ke arah Dewi. Dewi menatapnya dengan takut-takut. Dia sama sekali tidak berani bersuara. 

"Apa yang kamu lihat Sandra. Oh kamu melihat kalung baru Dewi ya," kata Tika yang salah mengartikan arah pandang Sandra.

Mata Sandra beralih ke arah kalung yang dipakai oleh Dewi. Dia tadi tidak melihat kalung yang dipakai dewi kalau Tika tidak menyinggungnya.

"Kalung Dewi itu keluaran baru. Dia baru membelinya berapa hari yang lalu. Katanya Dewi berhasil menikah dengan calon pemilik perusahaan nomor satu di kota kita. Calon istri bos baru," ujar Tika sang ember.

Dewi segera menutup kalungnya agar tidak dilihat oleh Sandra. Tapi Sandra sudah duluan melihat kalung itu. Dewi jadi semakin berkeringat dingin.

"Kalungnya bagus. Berapa harganya Dewi?" tanya Sandra menatap Dewi dengan datar.

"Ini … ini tidak mahal kok," dalih Dewi.

"Aduh Dewi, kamu jangan malu-malu gitu. Tidak apa kalau Sandra tahu harga kalung itu. Dia pasti tidak akan mampu membelinya."

"Kasih tahu aja Dewi, biar Sandra tidak bisa tidur mikirin harga kalung kamu."

"Sandra … Sandra tidak perlu tahu harganya kan. Ini hanya imi …."

"Harganya itu tujuh puluh lima juta," potong Tika.

Dewi rasanya ingin menenggelamkan Tika di air comberan. Mulut Tika tidak ada saringan sedikit pun. Dia sudah masih matian berusaha agar Sandra tidak mengetahui harganya. Dia bahkan berniat bilang jika itu hanya kalung imitasi. Dia takut jika Sandra tahu asal usul kalung itu.

"Enak bener jadi kamu ya Dewi. Kamu bisa mendapat kalung semahal itu dari suami kamu. Sedangkan aku tidak dibelikan apapun oleh suami aku," ucap Sandra dengan berpura-pura sedih.

Dewi semakin mati kutu. Katakata Sandra seperti ancaman baginya.

"Kamu sudah menikah, Sandra?" 

"Iya." 

"Siapa suami kamu?"

"Suami kamu pasti hanya buruh bangunan ya. Atau tukang kredit sapu keliling? Haha …."

"Suami aku bukan buruh bangunan," sanggah Sandra.

"Terus?" 

"Suami aku hanya pegawai kantoran biasa." 

"Kamu memang tidak pernah berubah Sandra. Miskin tetap miskin." 

"Makanya, kamu setuju saja untuk menjadi simpanan om aku. Kan lumayan bisa buat tambahan uang belanja. Istri om aku sangat galak. Kamu hanya perlu jangan sampai ketahuan saja."

"Maaf Tika, tapi sekarang aku lagi berusaha untuk mempertahankan suami aku agar tidak diambil oleh perempuan lain," ujar Sandra dengan raut wajah sangat lelah.

"Apa? Suami kamu selingkuh?" 

"Bukan selingkuh, dia menikah lagi dengan perempuan lain," sahut Sandra melirik ke arah Dewi.

'Gawat, jangan-jangan Sandra mau membocorkan rahasia aku. Aku tidak boleh membiarkan Sandra seperti ini,' batin Dewi sambil menggigit jari.

"Ya ampun, kasihan sekali nasib kamu. Kamu sudah menikah dengan orang miskin, diduakan lagi. Ckck," ujar Evi berdecak lidah senang.

"Kami doakan agar yang menjadi perempuan kedua itu digigit tikus sampai busuk," doa Anita tidak suka sama pelakor.

"Kalau aku diposisi kamu, aku sudah jambak rambut perempuan itu. Aku kutuk dia jadi cewek mandul. Sekalian saja burung suami aku, aku potong. Berani sekali dia menikah lagi," sambung Tika.

'Dasar teman setan. Beraninya kalian mengutuk aku. Mulai sekarang aku tidak mau berteman dengan kalian,' batin Dewi kesal.

Sandra menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap heran dengan respon temannya. Tadi mereka dengan semangat menyuruh dia jadi simpanan. Sekarang mereka malah mengutuk perempuan perebut laki orang. Ternyata sejahat-jahatnya mereka, mereka juga tidak akan membela pelakor.

"Makanya, kamu cari suami seperti Dewi dong. Dia itu sudah menikah dengan anak calon bos di perusahaan nomor satu di kota ini. Dia begitu mencintai Dewi dan membelikan apapun yang diminta oleh Dewi," terang Evi.

"Benarkah?"

"Iya, bulan depan dia akan dilantik menjadi bos di perusahaan," sambung Tika yang sudah tahu bocoran dari sang suami.

"Wah Dewi, kamu dapat suami yang kaya raya ya. Bukan seperti aku yang hanya 'karyawan kantoran biasa'," kata Sandra dengan menekan kata karyawan kantor biasa.

"Bukan kok, suami aku hanya pegawai kantoran biasa," sanggah Dewi berkeringat dingin.

"Kamu jangan merendah seperti itu, Dewi. Susah loh, seorang calon bos menyamar jadi seorang manager. Suami aku juga salah satu manajer di kantor yang sama dengan suami kamu Dewi. Pasti mereka saling kenal."

"Bisa jadi," jawab Dewi gagap.

Dewi meraih minumannya. Temannya terlalu banyak bicara. Dia menyesal menceritakan tentang Farel yang ditambahkan dengan kebohongan. Dewi tidak mau jika temannya tahu jika Farel menyamar sebagai karyawan kantoran biasa, jadi dia bilang sama temannya sebagai manajer dan akan dilantik sebagai bos segera. 

Padahal masalah itu masih rahasia perusahaan. Dewi takut jika kabar ini sampai ke telinga Farel dan nek Ningsih. Mereka pasti akan langsung mencium bau ada orang yang membocorkan rahasia perusahaan. Jika diselidiki lebih lanjut akan sangat merugikan dia.

Sandra kembali menatap Dewi. Dia ingin tahu seberapa banyak rahasia perusahaan yang diketahui oleh Dewi. Dia akan segera melaporkan masalah ini segera ke nek Ningsih. Masalah ini bukan lagi masalah kecil. Sudah ada tikus besar yang berkeliaran di kantor. Tidak rugi dia bergabung dengan Dewi.

Bersambung ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 22. Posesif

    Beberapa tahun kemudian, kehidupan Tika selama itu banyak mengalami perubahan. Dia jatuh miskin karena ditipu oleh laki-laki brengsek. Dia masih saja sombong dan tidak belajar dari pengalaman. Sedangkan Evi dan Anita sudah menyadari kesalahannya. Mereka berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka. Mereka tidak lagi bersikap sombong kepada orang-orang. Mereka lebih menghargai orang lain, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hidup mereka juga jauh lebih baik daripada dulu. Kemudian, hubungan Sandra dan Farel semakin baik. Mereka hidup layaknya keluarga normal pada umumnya. Mereka juga sudah memiliki seorang putra yang berusia tiga tahun. Putra mereka sangat mirip dengan Farel dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Sandra sempat membenci Farel selama seminggu setelah dia melahirkan. Dia merasa tidak adil. Dia yang sudah capek-capek mengandung dan melahirkan anak mereka, malah anak mereka copy paste dari sang suami. Sejalan dan beriring waktu Sandra malah sangat bersyukur a

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 21. Semuanya Kembali Normal

    "Dewi, mulai detik ini kamu aku ceraikan. Kamu tunggu saja surat cerai kita dari pengadilan," ujar Farel. "Farel, Farel aku mohon, maafkan aku. Aku masih mencintai kamu. Aku selama ini dihasut oleh Deni," kata Dewi mengkambing hitam putihkan Deni. "Mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat dengan aku lagi. Kamu pergi dari sini sebelum kesabaran aku habis," ujar Farel marah. "Dasar perempuan tidak tahu malu." "Sudah ketahuan masih saya berbohong." "Mana menyalahkan orang lain lagi." Dewi yang terlanjur malu pergi dari sana. Dia tidak sanggup lagi berada di sana. "Pak, jangan biarkan Deni dan Dewi keluar dari sini. Cegat mereka berdua," suruh nek Ningsih pada sekretaris Has. "Baik Nyonya. Saya akan menyuruh para petugas untuk menahan mereka sambil menunggu polisi datang ke sini," sahut sekretaris Has. "Polisi? Ada apa ini?" tanya Farel tidak tahu apapun. "Farel, kamu lihat video tadi kan. Mereka berdua ingin mencelakai kita semua," ujar Sandra. "Tapi video itu belum cukup seba

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 20. Semuanya Terbongkar

    "Baiklah, saya akan memanggil cucu saya. Untuk cucu saya, silahkan naik ke atas panggung, Farel," suruh nek Ningsih. Nek Ningsih memanggil Farel naik ke atas panggung. "Oh iya, sekalian sama istri kedua Farel," sambung nek Ningsih. Para karyawan melihat ke arah yang ditunjuk oleh nek Ningsih. Mereka tidak menyangka jika Farel yang mereka kenal sebagai orang biasa adalah cucu dari pemilik perusahaan. Di antara mereka ada orang-orang yang pernah membully Farel, mereka jadi panik. Mereka tidak menyangka jika Farel adalah orang penting. Mereka takut dipecat. Farel dan Dewi naik ke atas panggung. Dewi dengan sengaja mengandung Farel mesra. Tapi tingkah Dewi membuat istri pejabat dan lain yang ada di sana jadi berbisik tentangnya. Mereka yakin jika yang dimaksud nek Ningsih tadi adalah dia. Dewi berada di atas panggung. Dia bermuka tebal dan menulikan telinga dari bisikan nyonya-nyonya tadi. Dia tidak peduli, yang penting sekarang dia adalah istri dari yang memegang kuasa. Urusan

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 19. Hadiah untuk Dewi

    "Farel, kenapa Sandra yang menjadi bos baru. Seharusnya kan kamu," protes Dewi. "Apa kamu lupa, kalau nek Ningsih telah membuat surat penyerahan semuanya kepada Sandra. Jadi semuanya milik Sandra sekarang," terang Farel. "Jadi itu serius? Bukan bohongan?" tanya Dewi masih tidak percaya. "Nenek aku tidak pernah bermain-main dalam mengambil keputusan. Kenapa kamu jadi kaget seperti ini," ujar Farel yang bersikap biasa saja. Farel percaya dengan keputusan neneknya. Neneknya tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Para tamu undangan tidak kalah kaget. Mereka berbisik-bisik, bertanya-tanya kenapa nek Ningsih menyerahkan pemilik perusahaan kepada cucu menantunya, bukan cucu kandungnya. Setahu mereka, cucu kandung nek Ningsih kuliah di luar negeri dan sedang mengurus perusahaan yang ada di luar negeri. Mereka menduga-duga kalau Sandra menjadi pemimpin perusahaan lantaran cucu dari nek Ningsih masih di luar negeri. Hanya itu alasan yang masuk akal daripada alasan yang lain. Tika,

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 18. Malam Pelantikan

    Sekretaris Has dengan cepat berlari dan menarik nek Ningsih beserta Sandra. Terlambat sedikit saja Sandra dan nek Ningsih sudah ditabrak dengan keras. Mobil itu gagal menabrak Sandra dan nek Ningsih. Kemudian mobil itu langsung lari dari sana. Meninggalkan jejak. "Kalian tidak apa-apa?" tanya sekretaris Has. "Nek, bagaimana keadaan Nenek tanya?" tanya Sandra khawatir. "Nenek tidak apa-apa. Nenek hanya kaget. Untung ada kamu yang menyelamatkan kami, Has," ujar nek Ningsih dengan syukur. "Itu pasti orang suruhan dari Deni dan Dewi. Mereka sudah mulai bergerak." "Sandra tidak menyangka jika mereka akan bergerak secepat ini." "Mungkin karena acara pelantikan sudah dekat," sahut nek Ningsih. "Itu bisa saja terjadi. Saya akan menyuruh bawahan saya untuk segera menyelidiki kasus ini. Jika memang benar-benar terbukti kalau Deni dan Dewi yang melakukan semua ini, maka ini akan menjadi bukti yang kuat untuk memenjarakan mereka berdua. Mereka sudah berencana melakukan pembunuhan berenca

  • Terpaksa Berbagi Suami   Bab 17. Mengumpulkan Bukti

    Nek Ningsih membuka galeri punya Sandra. Tidak banyak foto maupun video yang ada di sana. Hanya ada beberapa foto tentang makanan atau random. "Kenapa foto Sandra hanya segini. Kalau begini, apa Sandra tidak pernah mengupload foto di sosmed ya. Anak itu itu benar-benar masih polos. Tapi, ini video apa ya," ujar nek Ningsih penasaran. Nek Ningsih membuka video tentang Sandra yang merekam kejadian Deni dan Dewi. Nek Ningsih menonton dari awal sampai akhir. "Ternyata perempuan ini memang iblis. Dia sudah berniat mencelakai kami semua untuk merebut harta kami. Kamu pikir, kamu bisa mengambil semuanya. Ini video yang bagus, dengan ini aku punya bukti kejahatan Dewi. Farel juga bisa berpisah dengan Dewi. Farel tidak mungkin akan menyukai Dewi lagi setelah melihat bukti ini." Nek Ningsih segera mengirimkan video itu ke dalam handphonenya. Dia akan menggunakan video tersebut untuk mempermalukan Dewi dan juga memecat Deni. "Ini Nek, handphone punya Nenek. Apa Nenek menunggu lama?" tanya S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status