"Baiklah, sekarang serahkan kalung dan kartu kredit tersebut," pinta Sandra menadahkan tangan ke arah Dewi. 'Dengan begini Dewi tidak akan bisa sombong lagi. Aku mau melihat sampai kapan dia akan bertahan dengan Farel yang hidup berpapasan.' "Tidak, aku tidak mau. Kartu dan kalung ini milik aku," tolak Dewi. "Apa kamu tidak dengar, tadi kata Farel kalung dan kartu kredit itu dititipkan sama Farel oleh nek Ningsih buat aku. Bukan buat kamu," kata Sandra. "Ini sudah menjadi milik aku," bantah Dewi tidak terima. "Oh, jadi kamu mau merebut kalung itu. Tidak takut jika nek Ningsih tahu hal ini," ancam Sandra. "Dewi, kamu kasih aja kalung dan kartu kreditnya. Itu punya Sandra, bagaimana kalau nenek aku tahu," suruh Farel. "Aku tidak mau Farel. Kamu suruh saja Sandra mengikhlaskan semua ini," suruh Dewi balik. 'Apa? Mengikhlaskan? Dia pikir itu gorengan. Main ikhlasin aja. Gorengan aja aku tidak sudi kasih untuk dia. Apalagi yang jumlahnya bisa membeli toko atau rumah,' isi hati San
Terakhir Diperbarui : 2026-01-03 Baca selengkapnya