Share

2. Ciuman Paksa

Author: Phoenixclaa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-29 16:23:36

Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.

Felix bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit di bagian atas, memperlihatkan dada bidang yang masih dibalut perban. Tatapannya perlahan menatap tubuh Reya dari atas sampai bawah tanpa malu sedikit pun.

Senyum tipis langsung terbit di bibir Felix.

“Kau cocok memakai itu, terlihat sangat seksi..” Felix mengigit bibir bawahnya sambil menatap lekat wajah Reya.

Reya spontan memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah merah antara malu dan marah.

“JANGAN MENYENTUHKU!!” bentak Reya keras.

Felix tertawa pelan. Bukannya tersinggung, ia justru melangkah masuk perlahan mendekati Reya seperti predator yang menikmati kepanikan mangsanya.

“Kau pikir aku tidak berani menyetubuhmi sekarang?” tanya Felix rendah sambil mengangkat sebelah alis.

Reya mendelik tajam, “dasar mesum! Jangan bercanda!” 

Felix berhenti tepat di depan Reya. Jarak mereka begitu dekat sampai Reya bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur aroma rokok tipis dari tubuh pria itu.

Lalu tanpa diduga, Felix mengangkat tangannya perlahan dan membelai rambut Reya dengan lembut. Gerakan yang kontras dengan sifat pria itu hingga membuat Reya sedikit terdiam.

“Aku mana berani dengan wanita segalak kamu,” gumam Felix pelan sambil menyelipkan rambut Reya ke belakang telinga. “Tadi pelayan wanita di sini yang menggantikan bajumu.”

Reya langsung menatapnya curiga beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas lega.

Namun detik berikutnya tatapannya kembali tajam, “Mana bajuku?” tanya Reya dingin sambil menepis tangan Felix dari rambutnya. “Aku mau pulang.”

Felix tidak langsung menjawab, matanya justru menikmati wajah Reya yang masih memerah karena marah.

“Baru bangun sudah galak.” Bisik Felix sambil menaikkan alisnya.

“Aku serius.” Balas Reya sudah kesal sampai ubun-ubun.

“Aku juga.” Jawab Felix santai.

Sebelum Reya sempat membalas, Felix tiba-tiba meraih pergelangan tangannya lalu menariknya berjalan ke arah jendela besar di sudut kamar.

“Felix—”

Tubuh Reya terdorong pelan hingga punggungnya menempel pada kaca dingin setinggi langit-langit. Seketika pemandangan kota malam langsung terbentang luas di depan matanya.

Lampu-lampu Kota Milenium berkilauan seperti lautan bintang dari ketinggian. Jalan raya terlihat kecil dengan garis cahaya kendaraan yang bergerak tanpa henti. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah diterpa cahaya malam.

Mata Reya melebar kagum tanpa sadar.

“Wah…” Untuk pertama kalinya sejak tadi nada suaranya melembut.

Felix yang berdiri di belakangnya menyeringai tipis melihat reaksi itu.

“Indah?” bisik Felix rendah dekat telinga Reya.

Reya mengangguk pelan tanpa sadar. “Aku belum pernah lihat pemandangan seperti ini…”

Tapi tubuh Reya langsung menegang saat merasakan kedua tangan Felix perlahan memeluk pinggangnya dari belakang.

“Felix…” Suara Reya berubah waspada.

Felix menempelkan tubuhnya lebih dekat. Dada bidang pria itu terasa hangat di punggung Reya. Tangannya bergerak perlahan di pinggang ramping wanita itu sebelum mencengkeramnya sedikit lebih kuat.

“Kau lebih indah,” gumam Felix pelan.

Reya langsung berusaha melepaskan diri. “Jangan mulai lagi.”

Tetapi Felix justru menarik tubuh Reya semakin rapat hingga bokong wanita itu terdorong ke tubuhnya. Napas Reya tercekat saat Felix menekan pinggangnya perlahan membuat tubuhnya sedikit menekuk ke depan menghadap kaca.

“Ah… apa yang kau lakukan?!” protes Reya panik sambil mencoba bangkit tegak.

Tapi mendadak tubuh Reya membeku. Ia bisa merasakan jelas sesuatu yang keras menekan bagian belakang tubuhnya, barang pribadi mafia kejam itu sudah tegak maksimal, bahkan seolah ingin merobek celana dalam Reya.

Napas Reya langsung kacau. Saat ia ingin berbalik, Felix justru menangkap kedua tangannya lalu menahannya ke atas dekat kaca.

“Felix jangan macam-macam!” bentak Reya menatap tajam.

Felix hanya tersenyum tipis lalu menunduk mendekat ke telinga Reya sambil tersenyum tipis, “Tenang,” bisiknya rendah dan berat. “Aku cuma ingin bersenang-senang.”

Jantung Reya berdetak begitu keras sampai ia yakin Felix bisa merasakannya.

“Lepas…”

“Kalau aku tidak mau?” lirik Felix menggoda.

Reya menggigit bibir bawahnya kesal. “Kamu menyebalkan.”

Felix tertawa pelan. Tangannya perlahan mengendur, tetapi tubuhnya masih mengurung Reya erat di depan kaca besar dengan gemerlap kota malam mengelilingi mereka.

Reya langsung membentak kesal sambil mendorong dada Felix kuat-kuat. “Kau benar-benar tidak tahu batas, ya?!”

Felix hanya tersenyum miring seolah kemarahan Reya justru menghiburnya. Tatapan pria itu semakin gelap penuh godaan saat matanya menyapu wajah Reya yang merah padam karena emosi dan gugup.

“Kalau marah terus, wajahmu malah makin cantik,” gumam Felix rendah.

“Diam!” bentak Reya hendak menjauh tapi tangan Felix tiba-tiba bergerak nakal. Jemarinya perlahan menarik ujung gaun hitam Reya sedikit ke atas, cukup membuat wanita itu langsung membeku.

“Felix!” Suara Reya terdengar panik.

Felix sama sekali tidak peduli. Tangannya membelai lembut pangkal paha Reya dari luar kain gaun dengan gerakan lambat yang membuat tubuh wanita itu langsung menegang parah. Napas Reya tercekat, jemarinya spontan mencengkeram lengan Felix.

“Jangan…” Protes Reya lemah menahan rasa geli.

Tetapi Felix malah semakin nekat. Dengan senyum menggoda, pria itu menunduk lalu menggigit pelan tali gaun Reya menggunakan giginya. Gerakan kecil itu membuat salah satu tali gaun melorot perlahan dari bahu Reya hingga kulit putih mulusnya terlihat samar bersama bh dengan renda hitam di baliknya.

“Felix…” napas Reya langsung kacau.

Pria itu mengecup leher Reya pelan. Satu kecupan lembut yang justru membuat lutut Reya melemas.

“Ahh…” Desahan kecil lolos begitu saja dari bibir Reya hingga membuat Felix tersenyum puas.

“Kau mengeluarkan suara yang manis,” bisik Felix dekat telinga Reya.

Reya menutup matanya rapat, berusaha melawan sensasi aneh yang terus mengacaukan tubuhnya. Tetapi Felix sama sekali tidak berhenti menggoda. Ia menarik tangan Reya turun perlahan lalu membalik tubuh wanita itu menghadap dirinya.

Tatapan mereka langsung bertemu. Felix tersenyum tipis penuh kemenangan sebelum akhirnya menunduk dan mencium bibir Reya perlahan. 

Bukan ciuman kasar, justru lambat dan sengaja membuat Reya kehilangan fokus sedikit demi sedikit.

Napas Reya memburu saat Felix mencuri kecupan demi kecupan kecil di bibirnya. Air mata menggenang di ujung matanya karena ini ciuman pertamanya.

“Felix… hentikan…Mhhhh…” bisik Reya frustasi.

“Tidak mau.” Bibir pria itu menyentuh ujung bibir Reya lagi sebelum berbisik rendah penuh godaan.

“Buka bibirmu sedikit, dan keluarkan lidahmu sayang...” bisik Felix dengan mata sudah sendu tak kuasa menahan nafsunya.

Reya langsung menggeleng cepat dengan wajah merah tak karuan.

Tetapi detik berikutnya Reya tersentak pelan.

“Ah!”

Tangan Felix malah mencolek bagian intimnya yang membuat tubuh Reya refleks melemah. Jemari pria itu membelai perlahan dari luar kulit halusnya dengan gerakan penuh godaan yang membuat napas Reya semakin berantakan.

Mata Reya mulai merem-melek kacau. Ia bahkan kesulitan menjaga pikirannya tetap jernih setiap kali Felix menyentuhnya seperti itu.

Felix memperhatikan semua reaksi Reya dengan senyum samar penuh kepuasan. Lalu tiba-tiba pria itu menarik tubuh Reya perlahan hingga wanita itu terduduk berjongkok tepat di depannya.

Reya mendongak kaget.

Felix menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Sorot matanya begitu tajam sekaligus penuh gairah tertahan. Perlahan ia mengangkat dagu Reya menggunakan jemarinya.

“Kau sangat cantik,” ucap Felix rendah sambil membelai pipi Reya lembut.

Untuk sesaat Reya hanya mampu menatap Felix dengan napas gemetar, sementara suasana kamar itu terasa semakin panas dan menyesakkan.

Tetapi detik berikutnya, mata Reya langsung melebar panik karena mendadak Felix menahan lembut belakang kepala Reya dengan satu tangan besar di rambutnya, sementara tangan satunya bergerak santai ke arah pinggangnya sendiri.

Clek.

Suara gesper sabuk terbuka terdengar jelas di tengah sunyinya kamar.

“Felix…” Reya langsung mendongak dengan wajah pucat campur gugup.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   166. Hasil Tes DNA

    "Felix, kau..." lirih Reya dengan napas yang makin memburu.Meskipun mulutnya berusaha memprotes, reaksi tubuh Reya justru bertolak belakang. Kedua tangannya bergerak refleks, mencengkeram erat rambut tebal Felix dan menekan kepala suaminya makin dalam di antara paha meleburnya. Pijatan dan jilatan basah yang makin memabukkan itu menghancurkan sisa kewarasan Reya seketika. Tubuhnya meliuk pasrah di atas ranjang."Ahh... ahh... jangan berhenti, sayang!" desah Reya parau, tak sanggup lagi menyembunyikan dahaga gairahnya.Felix terkekeh kecil di bawah selimut. Dengan sudut bibir yang sudah basah oleh cairan intim istrinya, ia makin mempercepat tempo sedotan dan permainannya, menghisap titik sensitif Reya tanpa ampun."AHHHH!"Jeritan nikmat meluncur dari tenggorokan Reya saat ledakan klimaks yang hebat menghantam seluruh saraf tubuhnya. Paha mulusnya berguncang hebat, menjepit kepala Felix erat-erat sebelum akhirnya terkulai lemas di atas kasur.Dengan napas berat dan bibir yang masih ba

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   165. Dibuat Basah Pagi-Pagi

    Felix terkekeh kecil, matanya berkilat nakal saat memperhatikan reaksi syok di wajah istrinya yang menggemaskan. Tangannya yang mengunci paha Reya makin merapat, mengusap kulit mulus itu dengan ritme yang memancing getaran halus."Jangan membulat begitu bibirnya, sayang... aku bisa tidak tahan untuk tidak melahapmu sekarang," goda Felix dengan suara berat yang teramat parau.Chittt!"Aww!" Felix meringis pelan saat jemari Reya mendaratkan cubitan keras di lengan tegapnya."Seriuslah!" tegur Reya dengan wajah memerah, berusaha menarik kakinya meski cengkeraman Felix di pahanya masih begitu protektif.Felix mendengus pelan, lalu merengkuh jemari Reya dan menggenggamnya erat. "Aku serius, Reya. Pengenalan Bella sebagai putri keluarga mereka hanya bermodalkan sebuah liontin tua dan gelang emas berukir. Itu sangat mencurigakan. Aku yakin kaulah anak kandung mereka karena aku ingat jelas itu liontin dan gelangmu saat kecil."Mendengar itu, Reya seketika tertegun sejenak. Ia mencoba menginga

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   164. Demi Kata Maafmu, Sayang

    Reya segera memutar tubuhnya, menghela napas panjang untuk mengurai gejolak aneh yang sempat singgah di dadanya sesaat setelah berinteraksi dengan Prof. Carlo. Tanpa membuang waktu lebih lama, Reya pun segera naik taksi untuk pulang. Tak butuh waktu lama, Reya pun selamat sampai di rumah kediaman megah milik Wicaksono.Begitu kaki Reya melangkah melewati pintu utama, suasana rumah terasa berbeda…Felix ternyata sudah berada di sana, berdiri menunggunya di dekat ruang tengah dengan kemeja yang sedikit terlipat di bagian lengan. Begitu menangkap sosok istrinya masuk, raut cemas di wajah Felix seketika berganti dengan kehangatan. Pria itu melangkah mendekat, hendak menyambut Reya ke dalam dekapannya."Kenapa kau lambat pulang, sayang?" tanya Felix dengan suara beratnya yang penuh perhatian. "Aku baru saja dari kantormu, tapi orang-orang di sana bilang kau sudah pulang jauh lebih awal."Reya menyetop langkahnya sejenak. Bayangan tentang bagaimana Felix memapah pinggang Bella dengan beg

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   163. Perasaan Familiar

    Reya baru saja hendak mengikis jarak untuk mengejar Felix ketika lengan bajunya ditarik paksa dari samping."Reya! Cepat kemari!" panggil Dihyas panik, menuntunnya menuju ruang radiologi untuk mengambil hasil CT scan adik kandungnya.Kehadiran Reya di Rumah Sakit Grand Medika memang bukan untuk memata-matai suaminya, melainkan karena kabar duka yang ia terima dari Dihyas beberapa jam lalu. Begitu seluruh prosedur hukum dan pemecatan Alex di Henderson Group selesai ditangani Beno, Reya langsung bergegas menyusul Dihyas. Kei ternyata menjadi korban tabrak lari hingga bagian belakang kepalanya terluka parah dan harus dirawat intensif.Reya melirik sekali lagi ke arah koridor tempat Felix memapah Bella. Meski dadanya dihantam rasa panas dan kepala dipenuhi rentetan pertanyaan melihat kemesraan suaminya, Reya memilih menekan semua emosi itu. Ia mengabaikan Felix dan memfokuskan pikirannya pada keselamatan Kei.Beruntung, hasil CT scan menunjukkan tidak ada pendarahan otak yang membahayaka

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   162. Kejutan Demi Kejutan!

    Reya membeku saat punggungnya makin terhimpit dinding lift. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hugo tanpa sedikit pun rasa takut, melainkan menyiratkan peringatan yang teramat dingin."Jangan salah paham, Tuan Hugo," bisik Reya tegas. "Aku berdiri di sini bukan untuk kau goda."Hugo terkekeh rendah, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat membakar kulit leher Reya. Mata kelam sang CEO itu bergulir turun, menggigit pelan ujung bibir bawahnya sendiri seraya menatap bibir ranum Reya yang masih sedikit bengkak. Sensasi aura intim itu begitu pekat, namun Hugo tahu batasnya. Ia perlahan menjauhkan tubuhnya saat pintu lift terbuka."Aku tidak akan ingkar janji kemarin," gumam Hugo dingin sebelum melangkah keluar.Reya pun langsung menarik napas dalam-dalam, dan segera ke ruang kerjanya mengabaikan sikap Hugo yang ia anggap biasa saja sebagai sikap klasik seorang playboy.Begitu sampai di ruang kerjanya, Reya mengunci pintu dari dalam. Dengan jemari bergetar, ia buru-buru me

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   161. Terjebak Dua Obsesi

    Melihat jejak-jejak cupang di sekujur tubuh Felix, wajah Reya menyala membara. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Reya buru-buru menyambar selimut tebal dan menariknya hingga menutupi seluruh kepala, mengutuk dirinya sendiri dari balik kain sutra itu."Sialan... Mabuk benar-benar membuatku terlihat bodoh!" erang Reya tertahan, merutuki keberanian liarnya semalam yang kini tercetak nyata pada dada dan leher tegap Felix.Tawa kecil yang berat dan penuh kemenangan lolos dari tenggorokan Felix. Pria itu menindih tubuh Reya dari atas selimut, lalu menyibak kain itu secara perlahan. Wajahnya yang basah menunduk rendah, meneteskan sisa air mandi tepat di atas dada mulus Reya yang menyingkap."Terlihat bodoh?" bisik Felix dengan nada nakal yang amat meremangkan. "Semalam kau tidak terlihat bodoh sama sekali, Reya. Kau bertingkah seperti wanita liar yang haus belaian, menggoyangkan pinggulmu di atasku dan menuntutku untuk memuaskanmu tanpa ampun. Kau bahkan menggigit bibirku sampai robek.""Fel

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   3. Makan Malam Mewah

    Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   1. Tingkah Gila Felix

    Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   Cupang Hangat Tuan Felix

    Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek

  • Terpaksa Jadi Dokter Pribadi Tuan Mafia   Pertemuan Pertama

    “Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status