Home / Romansa / Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin / Bab 35 : Rahasia untuk Narasi

Share

Bab 35 : Rahasia untuk Narasi

Author: qia
last update Last Updated: 2026-01-01 07:44:30

Ruang pertemuan itu terlalu bersih untuk disebut netral.

Dindingnya polos, meja oval tanpa hiasan, dan jendela besar yang membiarkan cahaya siang masuk dengan sudut yang terukur. Tidak ada simbol lembaga. Tidak ada plakat. Seolah siapa pun yang duduk di sana diharapkan meninggalkan afiliasi di luar pintu.

Keira datang tepat waktu.

Ia tidak membawa map tebal. Hanya satu buku catatan tipis dan pulpen. Ia memilih kursi di sisi, tidak di tengah, tidak pula di ujung.

Beberapa menit kemudian, orang-orang mulai masuk. Wajah-wajah yang familiar dari rapat lain, bercampur dengan dua nama yang jarang muncul di permukaan figur yang lebih sering disebut lewat keputusan, bukan pernyataan.

“Terima kasih sudah datang,” kata seorang pria paruh baya membuka pertemuan. Suaranya datar, profesional. “Kami ingin mendengar langsung.”

Keira mengangguk. “Tentang apa?”

Pria itu tersenyum tipis. “Tentang arah.”

Mereka memulai dengan ring
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 50 : Ambang

    Ambang adalah tempat paling rapuh. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia memaksa seseorang memilih mundur, atau melangkah penuh.Keira berdiri tepat di sana.Ia merasakannya sejak pagi perasaan menggantung yang tidak sepenuhnya gelisah, tapi juga belum tenang. Semua berjalan, namun tidak ada yang benar-benar selesai. Sistem menunda keputusan. Mitra menunggu sinyal. Tim bekerja dengan fokus yang dijaga rapat-rapat.Dan dirinya sendiri… sedang menimbang.Hari itu dimulai dengan rapat internal yang lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada adu argumen. Tidak ada presentasi panjang. Hanya laporan singkat dan tatapan yang saling membaca.“Kita sampai di titik ambang,” kata Rina akhirnya. “Setelah ini, apa pun yang kita lakukan akan mengunci arah.”Keira mengangguk. “Dan tidak semua orang akan ikut.”Kalimat itu tidak diucapkan sebagai ancaman. Ia hanya fakta.Satu per satu anggota tim menyampaikan posisi. Beberapa me

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 49 : Guncang

    Guncangan tidak selalu datang sebagai ledakan.Kadang ia hadir sebagai perubahan kecil yang terus berulang, sampai keseimbangan terasa goyah.Keira merasakannya pada minggu kedua setelah risiko-risiko itu mulai terbaca jelas. Tidak ada satu kejadian besar. Yang ada justru rangkaian kecil: jadwal yang bergeser, jawaban yang tertunda, keputusan yang tak lagi mendapat respons cepat.Semua tampak wajar. Namun jika disusun, polanya terlihat.“Mereka sedang menguji daya tahan kita,” kata Rina suatu pagi.Keira menatap papan catatan. “Atau menguji kesabaran kita.”Perbedaannya tipis. Tapi dampaknya besar.Guncangan pertama terasa di internal tim.Salah satu anggota kunci mengajukan cuti mendadak. Alasannya pribadi, disampaikan dengan sopan, tapi waktunya tidak ideal.“Kita bisa menunda beberapa agenda,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan kita tidak mempersoalkan alasannya.”Ia sadar, tekanan e

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 48 : Resiko

    Resiko selalu hadir setelah garis ditarik.Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai konsekuensi.Keira merasakannya segera setelah kesepakatan parsial itu diumumkan secara internal. Tidak ada sorak, tidak ada kelegaan berlebihan. Hanya kesadaran sunyi bahwa apa pun yang mereka lakukan selanjutnya akan diperhatikan lebih tajam.“Kita sekarang terlihat,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan itu berarti setiap langkah harus disengaja.”Risiko pertama datang dari arah yang tidak terduga.Satu klien lama menunda kerja sama tanpa alasan jelas. Tidak menutup pintu, tapi juga tidak melangkah maju. Sinyalnya samar, namun cukup untuk dibaca sebagai kehati-hatian.“Mereka menunggu,” kata Rina.“Menunggu apa?” tanya Keira.“Apakah kita akan menyesuaikan diri,” jawab Rina. “Atau bertahan.”Keira tersenyum tipis. “Biarkan mereka melihat.”Di sisi lain, muncul peluang kecil tidak spektakuler, tidak meng

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 47 : Garis

    Garis tidak selalu terlihat. Sering kali ia baru terasa saat seseorang melangkah terlalu jauh.Keira menarik garis itu pada pagi yang tenang, justru ketika tidak ada desakan langsung. Ia memutuskan satu hal sederhana: tidak semua komunikasi harus segera dijawab. Beberapa surel ia baca tanpa membalas. Beberapa pesan ia tandai untuk dibicarakan bersama tim, bukan diputuskan sendiri.Keputusan kecil itu terasa asing seolah ia melanggar kebiasaan lama yang mengukur nilai diri dari kecepatan merespons.Namun dunia tidak runtuh.Hari berjalan. Pekerjaan tetap bergerak. Dan untuk pertama kalinya, Keira menyadari bahwa kendali tidak selalu hadir lewat kehadiran konstan, melainkan lewat kejelasan posisi.Rina memperhatikan perubahan itu.“Kamu mulai membiarkan ruang kosong,” katanya.“Ruang itu perlu,” jawab Keira. “Agar orang lain tahu di mana mereka berdiri.”“Dan agar kamu tidak berdiri di semua tempat sekaligus,” tam

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 46 : Tekanan

    Tekanan tidak selalu datang sebagai benturan. Kadang ia hadir sebagai undangan yang terlalu rapi untuk ditolak.Keira menerimanya pada pagi yang tampak biasa. Sebuah surel resmi, bahasanya netral, tanpa ancaman terselubung. Tidak ada tenggat keras. Tidak ada tuntutan langsung. Hanya permintaan pertemuan—tertutup, terbatas, dan “bersifat klarifikasi”.Rina membaca isi surel itu dua kali.“Mereka kembali,” katanya akhirnya.Keira mengangguk. “Mereka tidak pernah benar-benar pergi.”Namun kali ini, tubuhnya tidak menegang seperti sebelumnya. Tidak ada rasa dikejar. Yang ada hanya kesadaran bahwa fase tenang memang selalu punya harga.“Apa kamu akan datang?” tanya Rina.Keira menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menjawab. “Ya. Tapi dengan caraku.”Pertemuan itu diadakan di ruang kecil yang terlalu bersih untuk disebut ramah. Dua orang dari sistem sudah duduk ketika Keira masuk. Wajah mereka sopan, nyaris

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 45 : Arah

    Jeda tidak menghapus arah. Ia justru membuatnya terlihat lebih jelas.Keira merasakannya pada pagi ketika ia tidak lagi bangun dengan dorongan panik. Pikirannya masih penuh, tetapi tidak berisik. Ia tahu apa yang harus dikerjakan hari itu dan yang lebih penting, apa yang tidak.Di kantor kecil mereka, Rina sudah lebih dulu datang.“Ada kabar,” kata Rina tanpa nada mendesak. “Bukan tekanan. Lebih… pergeseran.”Keira duduk. “Ceritakan.”“Sistem mulai mengalihkan fokus,” lanjut Rina. “Mereka tidak lagi menyorot kita secara langsung. Mereka sibuk merapikan forum baru itu.”Keira mengangguk pelan. “Artinya kita tidak lagi prioritas.”“Atau,” kata Rina hati-hati, “mereka menunggu kita membuat kesalahan sendiri.”Keira tersenyum tipis. “Itu selalu kemungkinan.”Dengan sorotan yang mereda, ruang kerja mereka terasa berbeda. Lebih longgar. Lebih jujur. Keira menggunakan ruang itu bukan untuk mempercepat, melaink

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status