Share

Bab 34 : Kota Baru

Author: qia
last update Last Updated: 2025-12-31 06:40:51

Kota itu menyambut tanpa janji. Gedung-gedungnya lebih rapat, jalannya lebih cepat, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Seeyana tiba di pagi yang cerah, koper di tangan, peta sederhana di kepala.

Apartemen kecil yang ia sewa berada di lantai enam. Tidak luas, tapi cukup. Cahaya masuk dari jendela besar, memantul di lantai kayu yang masih bersih. Seeyana meletakkan koper, duduk di lantai sejenak, lalu menarik napas panjang.

Tidak ada rasa takut. Hanya rasa asing yang wajar.

Hari pertama di kantor baru berjalan ringkas. Perkenalan singkat, tur cepat, dan meja kerja di dekat jendela. Timnya beragam beberapa ramah, beberapa menjaga jarak. Seeyana menyukai itu. Ia tidak perlu segera disukai; ia perlu bekerja dengan baik.

Atasannya, Livia, berbicara langsung ke inti. “Kami menghargai keputusan yang rapi. Bukan kecepatan kosong.”

Seeyana mengangguk. “Itu cara kerjaku.”

Mereka mulai dari sana.

***

Mala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 55 : Tarik

    Tarikan selalu datang setelah pergeseran. Bukan untuk menghentikan, melainkan untuk menguji seberapa kuat seseorang berdiri di posisi barunya.Keira merasakannya nyaris seketika. Setelah perubahan-perubahan kecil itu mulai terlihat stabil, dunia seperti menariknya kembali pelan, halus, nyaris sopan. Bukan dengan tekanan terbuka, melainkan dengan tawaran yang terdengar masuk akal.Satu undangan kerja sama datang dengan nada bersahabat. Ruang lingkupnya lebih luas dari yang biasa mereka terima. Imbalannya menarik. Persyaratannya, di atas kertas, tampak fleksibel.“Ini kelihatannya aman,” kata Rina saat mereka menelaah dokumen itu bersama.Keira membaca tanpa terburu-buru. “Aman untuk siapa?”Rina terdiam. Ia tahu pertanyaan itu bukan retorika.Tarikan itu tidak datang sendirian.Beberapa kontak lama kembali menghubungi orang-orang yang dulu berada di sisi Keira saat masa-masa paling menekan, lalu menghilang ketika ia mulai

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 54 : Geser

    Pergeseran jarang terasa heroik.Ia terjadi pelan, hampir tak disadari sampai seseorang menoleh ke belakang dan menyadari posisinya sudah berbeda.Keira merasakan pergeseran itu sejak forum internal dibubarkan. Tidak ada sorak, tidak ada rasa menang. Yang tertinggal justru keheningan yang lebih jujur, seolah semua orang sedang menyesuaikan napas dengan ritme baru yang belum sepenuhnya dikenali.Struktur yang mereka longgarkan tidak runtuh. Namun ia juga tidak kembali ke bentuk semula.“Kita sedang bergerak,” kata Rina, mengamati papan kerja yang kini lebih kosong di beberapa sudut. “Tidak mundur, tidak maju lurus.”Keira mengangguk. “Kita menggeser pusatnya.”Pergeseran pertama terasa pada cara keputusan diambil.Keira tidak lagi menjadi titik akhir dari semua diskusi. Ia membiarkan beberapa keputusan lahir tanpa kehadirannya dan menahan dorongan untuk mengoreksi setelahnya.Tidak semua hasil rapi. Tidak semua p

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 53 : Retak

    Retakan tidak selalu terdengar.Sering kali ia muncul sebagai perubahan kecil yang terlalu mudah diabaikan.Keira menyadarinya bukan dari satu peristiwa besar, melainkan dari detail-detail yang bergeser. Cara orang berhenti menyela rapat. Cara pertanyaan menjadi lebih hati-hati. Cara keputusan yang dulu lahir dari diskusi kini datang sebagai persetujuan cepat.Di permukaan, semuanya tampak stabil. Namun stabilitas yang terlalu mulus sering kali menyembunyikan ketegangan yang tertahan.“Kita mulai terlalu rapi,” kata Rina suatu pagi, nada suaranya datar tapi penuh makna.Keira menoleh. “Rapi seperti apa?”“Rapi seperti orang-orang yang tidak ingin mengguncang apa pun,” jawab Rina. “Bukan karena setuju, tapi karena lelah.”Kalimat itu menetap di kepala Keira lebih lama dari yang ia duga.Retakan pertama terlihat saat satu keputusan kecil dipertanyakan secara tertutup.Seorang anggota tim menghampiri Keira

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 52 : Bertahan

    Bertahan bukan soal keras kepala.Ia soal memilih tetap berdiri ketika godaan untuk berbelok datang dengan alasan yang masuk akal.Keira menyadarinya pada minggu-minggu setelah keterbukaan itu menjadi nyata. Ritme kerja tidak lagi padat, tapi juga tidak longgar. Setiap keputusan terasa lebih berat karena tidak ada lagi kabut untuk bersembunyi. Semua terlihat jelas dan itu menuntut konsistensi yang tidak bisa dipalsukan.“Kita mulai diuji bukan oleh tekanan,” kata Rina suatu sore, “tapi oleh kelonggaran.”Keira mengangguk. “Itu yang sering membuat orang lengah.”Tawaran baru berdatangan, sebagian lebih rapi, sebagian lebih licin. Tidak ada yang melanggar batas secara terang-terangan. Mereka hanya mencoba menggesernya sedikit demi sedikit meminta pengecualian kecil, fleksibilitas sementara, kompromi yang katanya tidak akan berdampak jangka panjang.Keira membaca setiap detail dengan teliti.“Kalau kita mengiyakan ini,” kat

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 51 : Terbuka

    Hal yang paling menegangkan bukanlah keputusan. Melainkan saat dunia akhirnya menanggapi keputusan itu dengan jujur.Keira merasakannya pagi itu ketika notifikasi mulai berdatangan hampir bersamaan. Bukan banjir pesan, tapi cukup untuk mengubah suasana: satu konfirmasi, satu penjadwalan ulang, satu pembatalan tanpa alasan rinci.Respons dunia mulai terbuka.“Peta mulai berubah,” kata Rina sambil menutup tabletnya.Keira mengangguk. “Dan kita tidak lagi berdiri di tengah kabut.”Respons pertama datang dari dalam.Dua anggota tim memilih mundur. Tidak dengan marah, tidak dengan drama. Mereka datang satu per satu, menyampaikan keputusan dengan suara rendah dan mata jujur.“Aku butuh stabilitas yang lebih jelas,” kata salah satunya.Keira mengangguk. “Aku mengerti.”Tidak ada bujukan. Tidak ada upaya menahan. Keira tahu, mempertahankan orang dengan arah berbeda hanya akan menciptakan kelelahan baru.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 50 : Ambang

    Ambang adalah tempat paling rapuh. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia memaksa seseorang memilih mundur, atau melangkah penuh.Keira berdiri tepat di sana.Ia merasakannya sejak pagi perasaan menggantung yang tidak sepenuhnya gelisah, tapi juga belum tenang. Semua berjalan, namun tidak ada yang benar-benar selesai. Sistem menunda keputusan. Mitra menunggu sinyal. Tim bekerja dengan fokus yang dijaga rapat-rapat.Dan dirinya sendiri… sedang menimbang.Hari itu dimulai dengan rapat internal yang lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada adu argumen. Tidak ada presentasi panjang. Hanya laporan singkat dan tatapan yang saling membaca.“Kita sampai di titik ambang,” kata Rina akhirnya. “Setelah ini, apa pun yang kita lakukan akan mengunci arah.”Keira mengangguk. “Dan tidak semua orang akan ikut.”Kalimat itu tidak diucapkan sebagai ancaman. Ia hanya fakta.Satu per satu anggota tim menyampaikan posisi. Beberapa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status