LOGINSementara gelak tawa terdengar dari atas pelaminan mewah, suasana yang sangat kontras justru terasa di salah satu meja VIP di ujung ballroom.Tiga pria duduk mengelilingi meja bundar.John tampak paling tenang. Dengan postur tegap dan wajah kaku yang nyaris tanpa ekspresi, ia menikmati hidangan di hadapannya seolah tidak ada drama besar yang baru saja terjadi.Sementara itu, Deon dan Leon hanya duduk diam.Keduanya menatap kosong ke arah pelaminan tanpa sedikit pun menyentuh makanan mewah yang tersaji di depan mereka.John mengunyah perlahan.Setelah menelan makanannya, ia melirik kedua pria itu.“Apa kalian tidak ingin makan?”Deon menghela napas berat.Ia menatap John dengan ekspresi tidak percaya.“Setelah semua yang terjadi dengan keluarga kami barusan, kamu pikir kami masih bisa duduk santai sambil menikmati makanan?”Leon ikut menghela napas.Sebagai kakak tertua, rasa bersalah di dadanya justru semakin berat.“Aku merasa sangat malu,” katanya lirih sambil memijat pelipis. “Aku
Usai kekacauan di pelataran ballroom berangsur mereda, Martha dan David Dominic melangkah naik ke panggung pelaminan. Aura keanggunan dan wibawa dari kedua orang tua Xavier seketika menyelimuti area panggung, membuat Liora mendadak berdiri tegap dengan sedikit gugup.Martha tersenyum hangat, mengikis jarak lalu memegang lembut kedua bahu Liora."Halo sayang, ternyata kamu lebih terlihat cantik dari pada fotonya." Marta tersenyum memuji Liora."Tidak mami, ini hanya makeup nya saja." LIora Tersenyum canggung memandang mami mertuanya."Liora sayang, mulai hari ini kamu resmi menjadi menantu keluarga Dominic dan istri dari Xavier," ujar Martha dengan nada mengayomi yang begitu sejuk. "Sebagai istri dari pria dingin seperti dia, kamu harus sabar ya, Sayang. Kalau dia mulai keras kepala atau membuatmu kesal, jangan ragu untuk mengadu pada Mami. Mami yang akan menjewer telinganya untukmu."Liora tersenyum manis, mengangguk pelan seraya merasakan kehangatan yang luar biasa di dadanya. Namun
Bab 284Hantaman cambuk ke-duapuluh baru saja mendarat telak di tubuh Leli. Suara sabetan terakhir itu menggelegar sebelum sang algojo akhirnya menarik kembali cambuk kulit tebalnya.Leli ambruk telungkup di atas lantai marble yang dingin. Napasnya terengah-engah parah, air mata dan keringat melunturkan seluruh riasan mewahnya. Kulit mulusnya yang tertutup gaun merah norak kini penuh luka goresan membiru dan merembeskan darah. Rasa pedih yang membakar menyelimuti seluruh tubuhnya, membuatnya hanya bisa mengerang dan menangis tanpa daya sedikit pun.Setelah menangani Leli, pandangan dingin Martha perlahan bergeser. Manik matanya mengunci sosok Cynthia yang berdiri membeku."Sekarang... giliran putri kesayanganmu," ucap Martha datar.Cynthia seketika menggigil hebat. Seluruh persendiannya lemas bagaikan dilucuti. Melihat kondisi ibunya yang mengenaskan dengan luka berdarah di depan mata, kepanikan gila mencengkeram jiwanya. Hilang sudah seluruh keangkuhan dan topeng kebaikan yang selama
Tidak ada yang menjawab.Dua orang pengawal menahannya agar tidak melarikan diri.Cynthia yang berdiri tidak jauh darinya langsung mundur beberapa langkah.Tubuhnya gemetar hebat. Mengapa bisa seperti ini? Mengapa semua rencana yang telah disiapkan dengan sangat matang, jadi berantakan dan juga gagal? Bukankah orang yang telah dibayarnya mengatakan berhasil dan melihat secara langsung Liora meminum racun yang telah disiapkan? Dan lalu sekarang kenapa justru mereka yang harus merasakan dipermalukan di depan umum seperti ini?“Nyonya Martha...”Suaranya hampir tidak terdengar.“Jangan... jangan lakukan ini. Aku, maminya Liora, kita besanan.”Martha hanya menoleh sekilas.Tatapannya dingin.“Sekarang baru mengatakan bahwa kau ibu kandung Liora. Bukankah tadi suaramu sangat keras menceritakan fitnah untuk menantuku? Peraturan keluarga Dominic tidak mengenal pengecualian hanya karena seseorang sedang menangis.”Cynthia membeku.“Tidak...”Ia menatap Leli. Kemudian menatap para pengawal.
Senyum dingin perlahan terukir di wajah anggun Martha.Ia mengangkat satu tangan.Gerakannya begitu sederhana, bahkan nyaris lembut. Namun, seluruh pengawal pribadi keluarga Dominic langsung memahami perintah tersebut.“Siapkan cambuk sekarang.”Suara Martha terdengar tenang.Justru ketenangan itulah yang membuat seluruh ballroom seakan membeku.Tidak ada yang berani tertawa.Tidak ada yang berani berbisik terlalu keras.Bahkan para tamu yang sejak tadi menonton keributan itu kini menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Di atas pelaminan, Liora mematung.Matanya berkaca-kaca.Ia menatap wanita yang baru pertama kali ditemuinya hari itu.Martha.Ibu dari pria yang kini menjadi suaminya.Ibu mertuanya.Wanita itu bahkan belum mengenalnya dengan baik. Mereka belum pernah berbincang sebelumnya. Namun, tanpa ragu sedikit pun, Martha berdiri paling depan untuk membelanya.Bukan sekadar membela.Martha bahkan berani berhadapan langsung dengan ibu kandung Liora di depan sel
Para petugas keamanan baru saja hendak memegang dan menyeret Leli, Cynthia, serta Rian keluar dari ballroom ketika sebuah suara wanita yang tenang, tetapi penuh tekanan, tiba-tiba menghentikan langkah mereka.“Tunggu. Jangan bawa mereka keluar dulu.”Sesosok wanita paruh baya melangkah mendekat. Ia tampak begitu cantik dan terawat. Kulit wajahnya kencang tanpa cela, sementara setiap gerakannya memancarkan keanggunan dan kelas yang sulit diabaikan.Di sampingnya berjalan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tampan yang sangat mirip dengan Xavier.Para petugas keamanan seketika melepaskan pegangan mereka dan menunduk hormat.“Ternyata Anda, Nyonya Leli,” sapa wanita itu dengan suara lembut dan tata bahasa yang begitu halus khas kalangan atas. “Saya Martha. Dan ini suami saya, David Dominic—papinya Xavier.”Begitu mengetahui bahwa wanita di hadapannya adalah ibu kandung Xavier, Leli langsung mengembangkan senyum lebar.Dalam benaknya, rasa percaya diri kembali membum
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da







