LOGIN“DIAM.”Fazwan yang lebih percaya pada Izora pun ingin menampar Tia. Laki-laki itu sudah mengangkat tangannya dan Tia sangat terkejut.“Kau ingin menamparku Fazwan?” tanya Tia.Laki-laki itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi menampar Tia. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.“Tampar saja aku Fazwan, kau juga memiliki kesempatan untuk menjadi seperti Izora dan ibunya, sekarang kau lebih mempercayainya kan? Kalau begitu lakukanlah hal yang sama seperti mereka agar kau puas. TAMPAR AKU DAN SAKITI AKU!” suruh Tia.Perempuan itu tidak ingin mennagis di depan Izora dan Fazwan, dia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar saat air mata itu hendak jatuh.“Sakit sekali Fazwan, dia menamparku dengan sangat kencang. Aku tidak tahu kenapa dia setega itu padaku.” Lagi lagi Izora mencari perhatian lebih pada Fazwan dan ingin memanas manasi Tia.“Kau baik-baik saja Izora? Harusnya kau tidak pergi ke sini. Ayo kita pergi ke tempat lain saja, aku akan mengobatimu.”Mendengar itu hati Tia b
“Jangan khawatir Tia, aku bahkan sudah menemukannya.”Zafar tidak pernah merasa sakit hati atas apa yang Tia katakan padanya. Walaupun Tia mengatakan dirinya tidak mencintainya dan menyuruhnya untuk berhenti mencintai wanita itu, Zafar tidak peduli.“Tidak ada yang kau dapatkan dari mencintaiku Zafar, kau mencintai orang yang sama sekali tidak memiliki cinta untukmu. Orang yang kau cintai hanya memiliki rasa sakit, kalau kau meneruskannya maka kau juga akan mendapatkan rasa sakit itu,” jelas Tia sambil menatap Zafar meyakinkan laki-laki di hadapannya ini.Zafar hanya tersenyum pada Tia.“Kenapa tidak Tia? Kalau aku bisa mengambil semua rasa sakitmu, aku akan sangat bahagia karena itu.”“Aku tidak memiliki cinta atau apapun itu Zafar, aku sudah membuang jauh-jauh rasa cinta yang aku miliki dan saat ini, aku hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu bertemu dengan ibuku.”Setelah Tia menegaskan itu pada Zafar dia pun pergi meninggalkan kamarnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan.Me
“Aaaaaaa.” Tia berteriak dan membalikkan badannya dari Zafar.“Ada apa Tia? Apa yang kau lihat? Apa ada kecoa di kamar ini?” tanya Zafar tidak mengerti dan khawatir dengan teriakan Tia.Sedangkan wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berteriak dan takut jika ayah mertuanya sampai mendengarnya. Tia berharap Kamal tidak mendengar teriakannya.“Ada apa Tia?” “Emm Zafar, kau ... kenapa kau tidak membenarkan kancing bajumu? Maksudku kenapa kau tidak merapikan bajumu di kamar mandi saja?” tanya Tia dan tentu saja itu membuat Zafar terheran.Jadi hanya karena hal itu, Tia hingga berteriak terkejut melihatnya yang baru akan membenarkan kancing bajunya. Zafar baru selesai mandi dan mengenakan bajunya di kamar, dia tidak tahu jika Tia akan masuk.Laki-laki itu hanya diam dan membenarkan kancing bajunya yang belum selesai ia benarkan.“Sudah Tia, jangan berteriak lagi.”“Aku tidak akan berteriak jika kau memakai bajumu dengan benar,” omel perempuan itu dengan kesal.Tia masih belum membalikka
“Ibu cepatlah pulang, kenapa kau lama sekali di rumah bibi? Aku tidak bisa mengurus rumah sendiri tanpamu,” ujar Zanira saat pagi hari menghubungi ibunya yang belum pulang. Tia yang hendak ke dapur untuk membuat teh pun mendengarnya.“Iya iya, aku sudah melakukannya, ayah baik-baik saja jangan khawatir bu.”Setelah menghubungi Jahama, Zanira pun bergegas untuk membuat teh dan menyiapkan sarapan.Tia yang melihat adik iparnya hendak melakukan itu pun mencegahnya dan ingin supaya dirinya saja yang membuatnya.“Biar aku saja, kau harus pergi ke kampus kan?” tanya perempuan itu.“Hmm mm.” Zanira masih terlihat dingin dengan Tia setelah kejadian itu.“Emmm, tidak apa-apa biar aku saja yang membuatnya Zanira.”“Satu sendok gula untuk ayah mertua dan setengah sendok teh untuk Zafar?” tanya Tia lagi saat Zanira hendak pergi meninggalkannya.“Iya.”“Dan ... untukmu?” tanya Tia dengan sedikit ragu ingin membuat teh juga untuk Zanira.“Kau tidak perlu melayaniku, aku tidak minum teh di pagi har
Tia membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan yang wanita itu rasakan saat ini."Tia, apa yang kau lakukan di sini?" Suara yang terdengar tidak asing bagi Tia, dia pun menoleh pada suara dan Zafar lah yang berada di depannya."Zafar, laki-laki itu ... dia mengejarku, aku ... Aku tidak tahu darimana dia datang, tapi memaksaku untuk ikut dengannya, aku ... Aku mencoba melarikan diri darinya dan bersembunyi di sini."Tua menjelaskan semuanya pada Zafar masih dalam keadaan ketakutan. Dia takut orang jahat itu masih berada di sekitar sini dan akan menemukan dirinya. Zafar tidak mengerti apa yang Tia katakan, tapi dia merasa khawatir saat melihat Tia ketakutan seperti ini.Zafar mengajak Tia duduk di sebuah kursi dibawah pohon. "Ada apa Tia? Siapa laki-laki yang kau maksud? Apa dia melukaimu?" tanyanya."Aku tidak tahu Zafar, tapi dia menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut dengannya.""Tenang Tua, kau bersamaku, dia tidak akan melukaimu."Zafar mencoba untuk m
“Tia—““Zanira memang benar Zafar.” Tia mengusap air matanya dengan cepat dan menyela perkataan Zafar. Dia menatap laki laki itu sebelum melanjutkan perkataannya.“Aku ... aku memang menyusahkan dirimu dan keluargamu selama ini—““Tia apa yang kau katakan?”“Aku tahu semua ini salahku Zafar. Hiks hiks, kita sama-sama terpaksa harus menikah dan kau membawaku ke rumahmu saat aku diusir oleh ayahku dan aku sudah tidak memiliki apapun lagi. Kau harus mendapatkan banyak masalah karena aku tinggal bersamamu.”Zafar menatap Tia, hanya raut wajahnya yang berbicara pada wanita itu bahwa semua itu tidaklah benar dan Khurram tulus mencintainya.“Zanira juga tidak salah saat dia mengatakan aku telah menjadikanmu sebagai seorang pelayan di rumahmu sendiri, karena ... karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan membuat teh saja aku tidak bisa. Aku tidak bisa memasak atau menyiapkan makananku sendiri. Aku tidak memiliki apapun dan harus merepotkan dirimu.”Tia sangat sedih saat dia mengatakan hal
“Sudahlah Tia, kau harus istirahat dan besok harus bangun pagi.”Tia hanya menurut saja dan segera memejamkan matanya. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu esok hari.Malam ini Tia tidur dengan senang hati dan merasa lebih lega dibandingkan hari-hari sebelumnya.Sedangkan Zafar harus menerima kenyataan
“Aku tidak akan membuatkannya untuknya Zanira,” ucap Tia.Perempuan itu berpikir dia tidak belajar membuat teh karena ingin membuatkannya untuk Zafar, melainkan untuk dirinya sendiri. Lagipula Tia juga berpikir kalau dia tidak akan lama berada di rumah ini.Hanya sampai menunggu Zafar menerima gajinya
"Cukup Zafar."Jahama memandang wajah Zafar dengan penuh kemarahan."Untuk apa kau membeli semua ini? Sepenting apa kebutuhan Tuan puterimu itu untukmu Zafar?" tanya Jahama dan membuat Zafar tidak enak dengan Tia."Tia, lebih baik kau bawa semua barang ini ke kamar," pinta Zafar supaya Tia tidak harus
"Wah bagus sekali Zafar. Kau dan Tia memang pasangan yang serasi. Dari caramu membelanya itu sudah menunjukkan status sosialnya yang sekarang. Rendahan!"Fazwan masih mencemooh lagi dan tidak takut kepada Zafar. Saat Zafar ingin membalas sikap Fazwan, Tia melarangnya dan menghentikan Zafar.Wanita itu







