LOGINRiana tak pernah membayangkan hidupnya berubah drastis setelah kepergian sahabat terbaiknya, Cinta. Di saat-saat terakhir, Cinta membuat permintaan tak terduga—agar Riana menikahi tunangannya, Arga, pria yang awalnya dijodohkan dengannya. Terjebak antara janji kepada sahabatnya dan ketidakpastian masa depan, Riana akhirnya menerima pernikahan itu. Namun, Arga bukanlah pria biasa—di balik sikap dinginnya, dia menyimpan luka yang belum sembuh. Riana dan Arga harus menghadapi banyak dilema dan pergulatan batin seiring berjalannya waktu. Mampukah mereka menemukan jalan keluar dari hubungan yang diawali keterpaksaan ini?
View More“Congratulations, you're pregnant!”
Larisa seemed a little absent-minded tonight... all she could think about was what the doctor had said to her that afternoon.
"What are you thinking about?” Ryan asked as he unbuttoned his shirt.
Looking at Ryan's sexy chest, Larisa blushed. They had been married for three years, but every time she saw Ryan's nakedness, Larisa couldn’t help but be shy.
Without waiting for Larisa's answer, Ryan turned and went to take a shower.
When she heard the shower go on, Larisa opened the drawer and pulled out a pregnancy test report.
In the afternoon, she had gone to the hospital because she was unwell. She thought it was an ordinary stomach ache, but the doctor told her that she was pregnant.
Finally, after three years of trying, she was finally going to have a baby!
She beamed and held the report to her chest as she waited for her husband to finish his shower.
They had been married for three years, however, their marriage remained a secret to the outside world.
Even though they had not made it public since they got married, and even though others thought she was just his secretary, she still felt very sweet. She could already imagine herself with a little baby in her arms.
With a huge smile on her face, she decided to tell her husband the news. She couldn't wait to see his reaction when he learned about her pregnancy.
Minutes later, Ryan had just come out of the bathroom when Larisa excitedly rushed to his side.
“Ryan, I’ve got something to tell you,” she stated, holding the document in her hands. Her heart was pounding erratically in her chest from the excitement she was feeling.
“Oh, what is it?” Ryan asked with an arched eyebrow, his gray eyes studying her.
“Well, you won’t believe it. After so long, I’m finally-”
Unfortunately, Ryan’s phone started ringing, stopping Larisa’s words mid-sentence. He furrowed his eyebrows and went to the balcony to pick up the call.
Larisa glanced at her phone and saw that it was almost twelve o'clock in the middle of the night. Who could be calling Ryan? Larisa felt inexplicably uneasy.
Whatever the person who called said made Ryan change his expression. He was no longer calm and he looked a bit anxious when he returned from the balcony.
“I’m coming,” he said to whoever was on the other side of the phone.
Larisa’s heart sank when Ryan quickly changed his clothes and began to walk away. She ran after him and called out, “Wait! Ryan. It's too late, you can't-”
“Something important has come up,” Ryan replied without looking back at her.
Before Larisa could tell him she had good news, Ryan was already out the door.
It seemed he was in a hurry to get wherever he wanted to go.
Larisa stood at the door, her heart clenching in pain. It had always been like this. Ryan never put her first.
It didn’t matter if she had an important issue to discuss with him or if she just wanted to spend time with him, to him, she always came last.
The only time he gave her attention was when he wanted to sleep with her. Afterwards, they lived like strangers.
Larisa thought having a child would improve their relationship and that was why she was excited to share the news with Ryan.
However, just like always, he left without hearing what she had to say.
A few hours passed and Larisa couldn’t fall asleep. She was in bed when she received a call from her best friend, Bianca Jones.
“Hey, Lisa, are you in a wheelchair now?” Bianca asked on the phone.
Larisa furrowed her eyebrows at her friend’s question. She replied, “No, I’m not. Why would you ask me that?”
“Strange, I just saw someone who looks like Ryan. He went into a fancy restaurant while pushing a woman in a wheelchair. I thought you were with him.”
Larisa’s eyes widened. ‘A woman? Who could that be?’ She thought in her mind.
“I might be wrong anyway,” Bianca added.
When the call cut, Larisa’s heart felt heavy for some reason. She was about to put her phone away when a piece of gossip news popped up on her notifications.
It had something to do with jewelry design, so she developed an interest in the news.
[The famous jewelry designer Ivy Williams has returned. A mysterious male friend accompanies her.]
The man's name was not mentioned in the news. But the news stated that Ivy was accompanied by the Moonstone City’s most eligible bachelor who was also a billionaire.
Although the picture of the couple wasn’t clear, Larisa recognised the man. It was Ryan, her husband.
Ivy was back.
Larisa’s heart pounded hard as she read the comments that praised the lovely couple.
“Miss Williams might be in a wheelchair but she’s still elegant and sophisticated. Her fiance is rich and looks handsome too. I wish I could see his face.”
“Miss Williams is back! Are we about to get a new collection of her jewelry? It’s been so long since we got new designs from her. I can’t wait!”
“Who’s the rich guy she’s with? Are they getting married soon?”
“I managed to get a close-up photo. He’s so handsome!”
As it turned out, Bianca was right after all. The man she saw with another woman was none other than Ryan Kingsley.
Larisa’s heart felt like it had been stabbed by a knife.
So he left his wife late at night just to pick up his ex-girlfriend, his first love, his beloved as soon as he knew she returned to the country?
Sejak Arga mengungkapkan sebagian kecil dari masa lalunya, Riana merasa terombang-ambing dalam lautan emosi yang rumit. Arga memang telah membuka dirinya, namun hanya sekadar menunjukkan kepingan yang tak utuh, menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Semakin dalam ia mencoba mengerti, semakin kuat perasaan bahwa ada satu sosok yang terus membayangi hubungan mereka—sosok yang tak akan pernah hilang, yaitu Cinta.Riana duduk di sofa sambil memandangi foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Setiap kali ia melihat senyum yang dipaksakan pada wajah mereka di foto itu, ia teringat akan alasan mengapa pernikahan ini terjadi. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena sebuah janji yang harus ditepati. Janji yang diberikan kepada Cinta, sahabatnya sekaligus tunangan Arga.Malam itu, ketika Arga baru pulang dan tengah duduk di meja makan, Riana memberanikan diri untuk membahas sesuatu yang selama ini ia simpan dalam hatinya.“Arga…” panggilnya pelan.Arga mendon
Keesokan harinya, Riana bangun dengan perasaan campur aduk. Pikirannya terus kembali pada kejadian tadi malam, saat Arga tiba-tiba mencium dirinya. Riana ingin meyakinkan dirinya bahwa ciuman itu lebih dari sekadar pelampiasan emosi atau akibat pengaruh alkohol, tapi sikap dingin Arga seolah menjadi tembok yang tak bisa ia lewati. Di ruang makan, Arga sudah duduk di meja dengan wajah serius, membaca laporan yang terbuka di depannya. Meski terlihat seperti biasa—tegas dan dingin—Riana menangkap jejak kelelahan yang tersembunyi dalam sorot matanya. Sejenak ia ragu apakah harus menyapanya, tapi Riana sadar bahwa mereka perlu membicarakan apa yang terjadi. Dengan langkah pelan, Riana duduk di kursi di hadapan Arga. Ia menatap Arga, berharap pria itu akan mulai bicara terlebih dahulu. Namun, saat beberapa menit berlalu dalam keheningan yang kaku, Riana akhirnya menghela napas panjang dan memberanikan diri.“Arga…” panggilnya, suaranya terdengar lembut namun penuh keinginan untuk mengurai
Riana mulai merasa putus asa. Setiap upaya untuk lebih mengenal Arga hanya berakhir dengan penolakan dan kata-kata dingin. Rasanya seperti mencoba meraih sesuatu yang tak terlihat. Namun, jauh di dalam hati, Riana masih berharap ada sisi lain dari Arga yang bisa dia temukan—sisi yang tidak diselimuti oleh misteri dan jarak.Malam itu, Riana sedang di kamarnya ketika terdengar suara pintu depan yang terbanting keras. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan suasana rumah yang sebelumnya sunyi tiba-tiba berubah mencekam. Riana keluar dari kamarnya dan melihat Arga yang berjalan sempoyongan, aroma alkohol yang tajam memenuhi udara di sekitarnya.“Arga?” panggil Riana, sedikit khawatir.Arga menoleh, dan untuk pertama kalinya, Riana melihat ekspresi kelelahan di wajahnya, tatapan yang penuh dengan kepedihan dan keputusasaan. Wajahnya yang biasanya dingin tampak lain malam ini—seolah seluruh beban hidupnya terungkap tanpa perlu kata-kata. Dia mengabaikan Riana dan berjalan menuju rua
Hari-hari berlalu dengan penuh ketegangan. Setelah malam ketika Arga mengungkapkan sebagian masa lalunya, Riana merasa ada yang berubah dalam perasaannya. Meski mengetahui bahaya yang mengintai, ada sisi dirinya yang mulai mencoba memahami Arga. Namun, di balik usahanya untuk percaya, kecurigaan perlahan tumbuh, menebarkan rasa tidak aman di hatinya.Suatu malam, Riana terbangun karena suara-suara pelan dari luar kamar. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Rasa kantuknya lenyap, berganti dengan rasa penasaran yang mendorongnya untuk keluar dari kamar. Ia melangkah dengan hati-hati menuju ruang kerja Arga, sumber suara yang tadi mengusiknya. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Arga berbicara di telepon, wajahnya tampak serius, bahkan sedikit gelisah.Riana tidak bisa mendengar apa yang Arga bicarakan, tapi setiap gerak-gerik pria itu membuat rasa curiga di hatinya semakin tumbuh. Setelah bebe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews