LOGINSementara itu, Angel tiba di sebuah klub malam di Jakarta Selatan. Mal? Itu hanyalah alasan usang.
“Hai, Guysss,” teriak Angel. “Akhirnya Nyonya Besar datang, cuyy,” balas Clara, tawa pecahnya tenggelam dalam musik keras dan bau alkohol yang memabukkan. Angel melepas penat, kepenatan yang datang dari drama yang ia ciptakan sendiri. Saat Angel sedang asyik menari, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang. Kevin. Pacarnya. “Sayang, aku kangennn,” bisik Kevin, bibirnya bergerak liar mencium leher Angel. Angel hanya mendesah geli. Inilah kebebasan yang sesungguhnya. “Ayo, kita ke apartemen aku,” ajak Kevin, membalikkan badan Angel dan memeluknya erat. “Ayoo,” Angel berbisik balik, matanya berkobar penuh hasrat yang terlarang. Di apartemen itu, Angel langsung menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Ketika selesai pintu kamar mandi yang Angel gunakan terbuka, ia terkesiap, Kevin sudah menunggunya, hanya berbalut boxer. Kevin langsung mendorongnya ke wastafel, mengangkatnya, dan berbisik serak, “Aku sudah tidak tahan.” Cup. Ciuman mereka menyatu, mendalam, buas. Angel melingkarkan tangan ke leher Kevin, membalas setiap dorongan hasrat. Gaun itu dilepaskan perlahan, zipper ditarik, dress yang Angel kenakan jatuh ke lantai. Kevin memuja setiap inci tubuh Angel. Desahan Angel yang tertahan, jambakan lembut di rambut Kevin. semua adalah simfoni gairah yang dibangun di atas fondasi pernikahan yang mereka rencanakan untuk menguras kekayaan Angga. Mereka hanyut, tenggelam dalam kenikmatan yang memabukkan. Setiap sentuhan, setiap ciuman, adalah penegasan bahwa Angel telah memilih jalannya sendiri, jalan yang penuh dosa dan tanpa penyesalan. **************************************************** Aku dan Angga tiba di sebuah Rumah Mewah kediaman keluarga Diningrat. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “ini Rumah siapa??” Tanyaku dengan penasaran. “Ini rumah kedua orang tua ku” Ucap Angga dengan santai sambil menatapku. Mataku membelalak. “Hah rumah orangtua nya?? Ini adalah rahasia, tapi kenapa Angga membawaku ke sini?” Batinku yang benar benar sangat terkejut Jantungku berdebar kencang, kali ini bukan karena canggung, melainkan karena rasa takut akan pengkhianatan yang akan ku lakukan pada Angel. “Mah, ini kenalin, namanya Putri,” ucap Angga dengan senyum lebar, sorot mata penuh harap. Ibu Sonya, dengan kelembutan yang mengejutkan, menarik kedua tangannya. “Halo Putri, Nama saya Bu Sonya. Saya adalah Mamahnya Angga ” ucapnya ramah. Aku membeku saat Bu Sonya meraih kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada hal yang jauh lebih besar yang terjadi. “Put,,, kenapa melamun?” Tanya Angga mencoba menyadarkanku. Aku tersadar dari lamunanku. “Halo juga Bu, nama saya Putri” Ucapku tersenyum kecil. Ternyata Angga sudah menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Sonya tahu bahwa Angga menyukaiku sejak lama. “Putri memang benar-benar cantik, dan polos. Pantas saja Angga suka dengannya dari dulu. Baik hati pula sampai dulu mendonorkan darahnya untukku tanpa meminta imbalan” Batin Ibu Sonya, menatapku dengan kasih. “Ayo masuk” Ucap Bu sonya sambil mengandeng tanganku untuk masuk. Aku hanya mengikuti langkahnya Bu Sonya. “Ayo duduk, kamu mau minum apa?” Ibu Sonya antusias. “Tidak usah repot-repot, Bu,” tolakku “Tidak repot, Sayang. Bibi, tolong buatkan minuman dan bawakan kue,” perintah Ibu Sonya. Saat mereka berbincang, aku menceritakan tentang pekerjaannya di minimarket dan neneknya yang sakit. Tiba-tiba, Bibi datang. Ibu Sonya mengambilkan kue, menyodorkannya padaku. Aku menatap kue itu, lalu pada wajah hangat Ibu Sonya. Mataku mulai berkaca-kaca. Sudah begitu lama aku tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Kedua orang tuanku meninggal saat aku kecil. Bu Sonya tersadar, dengan mataku yang mulai berkaca-kaca lalu panik. “Kamu kenapa, Put? Gak suka, ya, dengan makanan ini? Atau mau Ibu ganti?” “Tidak... tidak, Bu,” suaraku tercekat. “Saya hanya terharu... Ibu begitu baik dan perhatian kepada saya.” Ucapku dengan tersenyum kecil menahan tangisan yang ingin tumpah. Lalu tidak tertahankan lagi akhirnya Air mataku tumpah juga. Ibu Sonya, yang sudah tahu kisah sedihku, langsung menariknya dalam pelukan. Pelukan yang menghancurkan dinding pertahanan ku. “Kamu boleh menganggap saya sebagai orang tuamu,” bisik Ibu Sonya dengan pelukan hangat Aku hanya mengangguk, tersedu-sedu. Sorot mata Ibu Sonya yang penuh ketulusan meyakinkannya. Angga yang melihat, hatinya diliputi rasa bangga dan syukur. Mamahnya telah melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan, memberikan Putri sedikit kebahagiaan tulus. “Udah, udah, ayo dicicipi dulu makanannya,” kata Ibu Sonya. “Iya, Bu,” jawabku, berusaha tersenyum. “Eh, panggil Mamah, ya,” Ibu Sonya menegaskan. Aku terdiam, merasa tidak pantas. “Sepertinya itu tidak pantas, Bu. Saya hanya orang biasa...” “Ets,” potong Ibu Sonya lembut, tapi tegas. “Pokoknya mulai sekarang, kamu anak Mamah. Jadi Angga ataupun kamu itu sama-sama anak Mamah. Jadi panggil saya Mamah. Ayo.” Aku menoleh pada Angga, alisnya terangkat, meminta izin. Angga mengangguk mantap. Air mata kebahagiaan yang tak disadari menetes lagi. “Mamah,” ucapku, senyumnya kini benar-benar lebar. Ibu Sonya memeluknya erat. “Pokoknya sekarang, kamu kalau ada apa-apa, bilang ke Mamah, ya.” “Iya, Mah.” Ucapku dengan memeluk Bu Sonya, yang benar benar terasa seperti dipeluk orang tua sendiri. Aku dan Bu Sonya berbincang dan tertawa bahagia. Aku nyaman sekali berbicara dengannya, benar benar seperti memiliki orang tua kandungku sendiri. Angga sedari tadi memerhatikanku dan Mamahnya bisa ngobrol dan tertawa tanpa canggung. Angga sedikit mulai kesal. ”huft,,, gilirang denganku, Putri selalu diam dan canggung. Tapi dengan Mamah bisa akrab begitu kayak sama sahabatnya aja, bisa berbicara panjang lebar begitu” Batin Angga dan memanyunkan bibirnya. Bersambung….Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?""Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia.""Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.
Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu."Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau...""Gak usah, Pah," potongku cepat, sed
Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men
Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah. "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengekAngga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecilMendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes
Setelah ritual mandi yang menyegarkan, aku keluar dari kamar mandi. Aroma sedap langsung menyeruak, menggelitik hidung dan membangunkan selera makanku yang baru saja tertidur. Aku mengikuti jejak aroma itu, menemukan Angga sedang sibuk di dapur, dengan sentuhan terakhir pada masakannya. "Mas, wangi sekali," ujarku, suaraku sedikit tercekat oleh aroma yang menggoda. Angga menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya saat melihatku."Sudah rapi rupanya, Tuan Putri," godanya, kemudian mengambil sedikit makanan dengan sendok. "Cobain deh, coba kurang apa?." Ia menyuapiku dengan lembut.Aku mengecapnya perlahan, membiarkan setiap rasa menari di lidah. "Hmm, Mas... ini enak sekali! Tidak kurang apa-apa, pas banget. Sumpah, ini paling enak yang pernah aku makan. Bagaimana bisa kamu memasak seenak ini?" Aku menatapnya penuh kekaguman.Angga terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah. "Mama yang ngajarin. Kata Mama, walaupun laki-laki, harus bisa masak. Biar nanti bisa bahagiain istri," uc
Di Mobil Angga, Perjalanan Pulang Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak menikmati keheningan setelah hiruk pikuk kantor. Namun, pandanganku jatuh ke kakiku sendiri. Ada lecet kecil di bagian tumit, bekas gesekan sepatu kerja seharian. Aku meringis pelan saat menyentuhnya. "Kaki kamu kenapa, Put?" Suara berat Angga terdengar. Rupanya dia menyadari gerak-gerikku dari sudut matanya saat menyetir. Aku menoleh, tersenyum tipis. "Oh, ini, Mas. Kaki aku agak sedikit lecet. Tapi gapapa kok, lecet biasa aja." Ucapku Angga mengerem perlahan di lampu merah. Alih-alih melihat lampu, matanya justru menatap kakiku, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan serius. "Bukan 'gapapa.' Lecet itu luka, dan luka itu harus diobati. Ambil P3K di dashboard depanmu, obati sekarang." Nada bicaranya tegas, tidak menerima penolakan. "nanti aja di rumah. Ini cuma lecet kecil, beneran deh. Lagian, aku enggak bisa mengobati sambil mobil jalan begini," kataku, berusaha mengali







