--Happy Reading--
Jadilah sebuah lilin, meskipun kecil dia mampu memberikan penerangan dan kehangatan. Jadilah sebuah tali, meskipun rapuh dia mampu menyambungkan dan menyatukan. Betapa pun besarnya cinta dan kebaikan seorang anak kepada orang tuanya, tidak mampu membalas jasa dari kedua orang tuanya yang telah melindunginya sepanjang masa. Maka dari itulah, contoh lilin dan tali bisa memberikan kita sebagai anak untuk sebuah pelajaran yang berharga. *** Detik berjalan, aku terpejam dengan pikiran menerawang. Aku masih gamang dengan pernyataan ayah yang ingin aku menggantikan posisi kak Asma. “Anna, Putriku!” panggil ibuku lirih, berdiri di ambang pintu kamarku. Aku dan ayah menoleh ke arah suara ibu hampir bersamaan. Aku segera bangkit dari tempat dudukku. “Ibu!” air mataku berjatuhan membasahi pipi. Entah perasaan apa yang sedang aku hadapi kali ini. Apakah rasa bahagia telah terbayar akan rinduku bertemu ibu, atau rasa sedih atas permintaan ayah yang baru saja aku dengar? Aku mencium punggung tangan ibu dengan takzim, lalu berhambur masuk ke dalam dekapan ibu yang begitu kurindukan. Isak tangisku semakin menjadi dalam dekapan sang ibu. “Aku merindukanmu, Bu.” “Ibu juga merindukanmu, Sayang.” Ibu membelai rambutku yang panjang sebahu. “Ayo, duduk di sini, Bu!” ajakku setelah mengurai pelukkan, lalu mengusap air mata ibuku dengan lembut. Ibu pun melakukan hal yang sama kepadaku, mengusap air mataku dengan kedua tangan-nya yang lembut. Ibu menggandeng lenganku, berjalan mendekat kepada ayah. Ibu duduk berjarak di bibir ranjang dengan ayah dan memintaku duduk di tengah-tengan mereka. Ayah dan Ibuku menatap wajahku dengan mengiba. Hanya aku lah harapan satu-satunya untuk mereka, setelah apa yang dilakukan oleh Kak Asma yang kabur semalam, untuk menghidari pernikahan-nya. Hanya karena pria yang akan menikah dengan-nya mengalami kelumpuhan dan kebutaan secara tiba-tiba, sehingga kak Asma menolak menjadi istri dari pria yang menurut-nya itu cacat. “Ayah berharap, kamu bisa mengerti, Anna.” “Ibu dan Ayah, tidak ada pilihan lain, selain kamu, Sayang.” Ingin rasanya aku pergi dan menghilang dari rumah, andai saja itu bisa aku lakukan. Tapi, aku tidak bisa melihat ibu dan ayah bersedih dan menanggung malu, jika sampai aku pun seperti kak Asma yang melarikan diri dan tidak bertanggung jawab. Aku benar-benar merutuki perbuatan kakakku itu. Gara-gara dirinyalah, aku yang menjadi korban di sini. Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik aku tidak pulang ke rumah dan menghabiskan liburan semesterku di kost saja. “Bantu Ayah, Nak! Hanya kamu harapan Ayah satu-satunya, yang bisa menyelamatkan nyawa Ayah dari tangan para rentenir itu.” Ayah memohon dengan sangat. “Ya, Anna. Ibu percaya, kamu ini anak yang baik dan patuh.” Dinda ikut bicara. “Demi keluarga kecil kita, Sayang.” Ibu begitu memohon dengan sangat dan menggenggam jemariku dengan erat. Hanya air mata yang membasahi wajahku, sebagai jawaban atas hatiku yang mau tidak mau menerima keputusan tersebut. Perasaanku begitu hancur, ketika membayangkan esok hari aku akan menjadi istri pengganti kakakku sendiri. Bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana dengan impianku? Bagaimana dengan cita-citaku yang telah aku rencanakan jauh-jauh hari sebelum aku masuk kuliah. Ayah terpaksa meminjam banyak uang terhadap rentenir untuk biaya kuliah kak Asma dan aku di kota. Hasil gaji yang didapat dari pekerjaan ayah yang seorang kepala buruh di perkebunan teh, masih belum cukup untuk biaya kuliah kami berdua. Ayah terlalu sungkan untuk meminjam uang dengan nominal yang besar kepada juragan Zein. Selepas kak Asma lulus kuliah, kak Asma belum juga mendapatkan pekerjaan. Kak Asma pun terpaksa tinggal di rumah untuk sementara waktu, sambil berusaha mengirimkan surat lamaran pekerjaan lewat online ke berbagai perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang diambil kak Asma. Uang yang ayah pinjam dari rentenir, bunganya semakin menggunung. Ayah kebingungan harus dengan cara apa lagi dia melunasi hutang-hutangnya itu. Dia begitu pusing memikirkan hutang-hutang yang bunganya tidak habis-habis. Suatu hari, pemilik perkebunan teh tempat ayah bekerja mengeluhkan cucu semata wayangnya yang tidak kunjung menikah kepada ayah yang sedang bertugas menemaninya berkeliling perkebunan. Ayah pun diminta oleh pemilik perkebunan teh yang biasa dipanggil juragan Zein itu, untuk membantunya mencarikan jodoh cucunya tersebut. Juragan Zein berjanji, akan memberikan imbalan yang cukup besar untuk ayah, jika ayah bisa mencarikan jodoh untuk cucu kesayangannya yang masih betah melajang di kota. Akhirnya, ayah pun mendapatkan ide untuk menjodohkan putri sulungnya dengan cucu juragan Zein. Selain ayah akan mendapatkan imbalan sejumlah uang yang tentu bisa melunasi hutang-hutangnya kepada rentenir, ayah pun memiliki kesempatan memiliki menantu kaya raya pewaris tunggal juragan Zein. *** Hari di mana aku akan menjadi istri pengganti untuk Kak Asma. Wajah berseri yang terukir dari sudut bibir Diana, Ibuku, begitu nampak bahagia kala melihat aku yang sudah mengenakan busana pengantin dengan adat sunda, sesuai dengan desa tempatku tinggal. Aku hanya membeku, mengikuti arahan dari MUA yang merias wajahku dan menata rambutku dengan sanggul yang dihiasi melati dan mahkota khas jawa barat. “Tersenyumlah, Sayang!” ucap ibuku lirih, seraya membingkai wajahku yang terus ditekuk. “Seharusnya, Kak Asma lah yang saat ini berada di sini, Bu. Bukan diriku.” Air mataku mengiringi kepedihan hatiku yang gusar dan bimbang. Ibuku menggeleng lemah, dengan sedikit tertunduk dia merasa bersalah terhadapku. Air mata ibu pun kembali meluncur di kedua pipinya, seolah ucapanku itu sebuah pukulan keras yang menghantam seonggok daging yang bersarang di dadanya. “Demi Ibu dan Ayah, aku ikhlas,” tuturku kembali dengan bibir bergetar dan senyum yang sedikit aku paksakan. Aku tidak ingin melihat ibu dan ayahku bersedih. Biarlah, rasa pedih ini aku tahan sendiri. Kebahagiaan ayah dan ibuku adalah hal yang utama. “Terima kasih, Sayang,” ucap ibuku dengan air mata yang masih berderai. “Maafkan Ibu dan Ayah, sudah memaksamu untuk menggantikan pernikahan Kakakmu,” sesalnya lirih, dengan tersenyum pilu dan bibirnya yang bergetar. Aku tersenyum miris mendengar ucapan ibu. Air mataku tidak kuasa untuk kutahan agar tidak menetes. “Ayo, sayang! Keluarga mempelai pria sudah tiba,” ajak Ibuku menggandeng lenganku, setelah mengusap air mataku dengan lembut. Aku hanya mengikuti saja langkah kaki ibuku dengan wajah tertunduk pasrah. Para tamu undangan yang akan menyaksikan prosesi Ijab Qabul pun telah memenuhi ruangan yang tersedia. Keluarga mempelai pria pun sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Terlihat bapak penghulu yang duduk di samping Ayah dan di depannya terlihat mempelai pria yang menggunakan kursi roda dengan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang buta. Jantungku berdegup dengan sangat cepat, kala kakiku melangkah semakin dekat menuju tempat akan segera dilangsungkannya Ijab Qabul tersebut. “Bismillahirohmanirohim,” gumamku, untuk memulai langkah kakiku yang akan segera menjadi seorang istri dalam hitungan menit. Aku mencoba menahan mati-matian air mataku agar tidak menetes. Aku ingin tetap tegar berdiri, meskipun duniaku kini telah runtuh, seiring pernikahan paksa yang harus aku jalani. Pernikahan tanpa cinta dan tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Bagaimana cinta, kenal saja nggak pernah. Begitulah kira-kira. Bisik-bisik para tamu undangan disaat melihat calon pengantin wanita yang ternyata digantikan olehku mulai santer terdengar di telingaku. Sungguh ironi nasibku, yang terpaksa menjadi istri pengganti dari kakakku sendiri. “Kenapa calon pengantinnya jadi si Anna, Adiknya? Kemana si Asma?” “Dengar-dengar si Asma kabur, jadi mempelai wanitanya terpaksa digantikan oleh Adiknya, si Anna.” “Ya, kasihan banget si Anna. Padahal, di surat undangannya ditulis nama Asmara Ahmad calon pengantin wanitanya.” “Mungkin, si Asma tidak mau menikah dengan pria lumpuh dan buta seperti itu.” “Bisa jadi.” “Aku yakin, cucu Juragan Zein itu terlihat tampan meski buta dan lumpuh. Sayang, kaca mata hitam itu menutupi sebagian wajahnya.” “Ya, benar. Lihat saja perawakannya yang tegap, gagah dan keren itu.” “Kulitnya juga putih dan bersinar.” “Hidungnya mancung dan bibirnya itu loh, sexy.” “Tapi, kalau lumpuh dan buta begitu, untuk apa?” “Ya, aku pun tidak sudi menjadi istrinya.” “Malang benar, nasib si Anna.” “Nasib si Anna, memang selalu siall.” "Kasihan, si Anna." Luruh juga air mataku yang sedari tadi aku tahan mati-matian. Namun, hanya sesaat air mataku yang ke luar, lalu dengan perlahan aku mengusapnya, melewati para tamu yang mencibir dan mengabaikan ucapan-ucapan mereka yang menyentil, sesaat membuat dadaku begitu sesak. Aku tetap tegar dan berdiri, menyusuri langkah demi langkah hingga sampai di samping calon suamiku. *** Aku duduk di samping pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, dengan tubuh bergetar. Peluh dingin membasahi dahi dan tengkukku dengan deras-nya. Aku meremat kedua jemari tanganku yang terasa dingin. Aku tahan air mata yang sudah membendung di pelupuk mata, mencoba menahan perih di hati, ketika ayahku mulai melapalkan Ijab Qabul untuk pernikahan kami. Pria yang baru disebutkan namanya oleh ayahku itu, seakan menoleh ke arahku sekilas. Seolah-olah, pria itu bisa melihat wajahku dari balik kaca mata hitam-nya yang besar, hingga menutupi sebagian wajah-nya. Hanya hidung-nya yang mancung dan bibir-nya yang tipis kemerahan terlihat jelas di mataku. Entah apa yang kurasa, tiba-tiba darahku berdesir kala melihat pria itu menyunggingkan bibirnya ke arahku. "Annaya Ahmad? Bukan Asmara Ahmad?" Deg! Jantungku tersentak, kala laki-laki di sampingku menyebut nama aku dan kak Asma dengan lengkap. Aku bergeming, seolah tertangkap basah menjadi pengantin pengganti wanita untuk laki-laki itu. Namun, ada yang aneh dengan sikap-nya. Aku merasa, jika calon suamiku itu sedang memindai wajahku. “Katanya, Pria ini buta. Tapi, kenapa perasaanku mengatakan lain?” tanyaku dalam hati. --To be Continue----Happy Reading--POV Autor.Di kediaman Arumi.Arumi dan Satria sedang menikmati pesta kemenangan mereka, bersama beberapa orang yang telah ikut membantunya, hingga terwujud apa yang keduanya inginkan.Ya, walaupun lebih besar keinginan Arumi untuk menguasai harta peninggalan suaminya itu. Namun, Satria pun ikut andil untuk mengabulkan semua rencana licik sang ibu.Rencana ibu dan anak itu pun tidak akan pernah tercapai, tanpa bantuan beberapa orang yang ikut terlibat dalam rencana busuknya. Arumi pun berani membayar mahal mereka semua, dengan memberikan mereka bonus yang sangat besar atas usaha yang mereka lakukan.“Mari bersulang!” seru Arumi dan Satria serta beberapa orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Masing-masing mereka, memegang satu gelas berisi minuman beralkohol lalu saling membenturkan gelas tersebut secara serempak, satu dengan yang lainnya.“Triing!” bunyi suara gelas yang saling beradu.“Minumlah sampai puas, kalian! Hari in
--Happy Reading--Aku dan kak Asma buru-buru mengusap air mata kami, sesaat melihat siapa yang datang.“Ibu…” gumamku dan kak Asma hampir bersamaan.“Katanya kamu mau tidur, Anna? Kenapa malah menangis?” tanya ibu menatapku. “Lalu, kamu juga, Asma. Kenapa kamu malah mengganggu Adikmu di sini, dan membuat Adikmu malah menangis bersamamu?” tanya ibu menoleh menatap kak Asma.“Ini, aku mau tidur kok, Bu.” Aku lekas meraih selimut tidurku yang biasa aku kenakan saat tidur bersama mas Adam.“I-itu… a-anu, Asma hanya ingin melihat kamar Adik Anna ajah, Bu.” Kak Asma nampak gugup, terdengar dari suaranya yang terbata.“Oh…” ucap ibu singkat, seraya menyapu seluruh ruangan kamarku. “Kamar ini sangat besar dan lengkap juga nyaman. Ibu sangat bahagia, kamu memiliki semua ini, Anna. Ibu pun tidak terlalu menyesal, karena sudah memaksa kamu untuk menikah, malam itu.” Air mata ibu tidak kuasa menetes di pipinya.Aku yang teringat masa itu, langsung bangkit dan memeluk
--Happy Reading--Aku masih terpaku, sesaat mendengar ucapan kak Asma, meski pelan. Kuperhatikan gerak-gerik kak Asma yang terlihat bergumam pelan, bibirnya. Apakah mungkin, kak Asma sedang menyesali semua yang telah ia lakukan, dulu? Ataukah kak Asma ingin meminta balik, apa yang menjadi haknya, dulu? Aku sungguh tidak rela, jika semua itu terjadi.Ya, kuakui memang dulu aku terpaksa menerima pernikahan ini. Namun, setelah mas Adam menaburiku dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus, aku tidak akan sanggup untuk melepaskannya.“Kak Asma….” Panggilku dengan suara lirih. Aku pun menyetuh punggungnya.“Eh, iya, Dik!” kejut kak Asma.Rupanya, Kak Asma begitu terkejut dengan suara seruanku. Padahal, suaraku tidak keras sama sekali. Akan tetapi, kak Asma seperti sangat tersentak begitu namanya aku panggil.“Kak Asma melamun, bukan? Kok, kaget gitu?” tanyaku mengernyit heran.“Nggak, Dik. Kakak hanya…” Bola mata Kak Asma seperti sedang mencari sesuatu.
0--Happy Reading--Sepanjang malam, mataku nyaris tidak lagi bisa terpejam. Aku hanya menatap wajah pulas dan lelah ibu dan kak Asma yang masih bergelut dalam mimpinya.Bukannya aku tidak ingin tidur kembali, setelah bermimpi buruk. Namun, memang pikiranku saja yang terpecah menjadi dua. Tubuh dan ragaku ada di kamar ini, sementara hati dan pikiranku ada bersama mas Adam.Sepertinya, aku sudah terbiasa tidur dalam dekapan hangat selimut hidupku. Yaitu tubuh mas Adam yang keharumannya, selalu menenangkan pikiranku. Aku benar-benar candu, tak bisa tidur tanpa belaian tangannya, ciuman hangatnya dan cumbuan mesranya.Aku lirik mesin waktu yang ada di ponselku, sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun segera membersihkan diri untuk berwudhu. Menunaikan sholat wajib shubuh, dua rakaat. Setelah itu, segera kupanjatkan doa terbaik untuk suamiku dan dapat mengatasi semua masalah yang sedang menimpanya.Mas Adam bukan orang yang mudah menyerah untuk memperjuangkan sesua
--Happy Reading--POV Annaya Ahmad.Pesta resepsi pernikahanku dengan Mas Adam pun terancam dibubarkan. Asisten Bisma pun segera mengerahkan semua anak buahnya untuk mengatasi kericuhan dan kekacauan yang terjadi.Tak hentinya aku menangisi Mas Adam yang sedang dibawa ke kantor polisi, memaksa pula ibu dan kak Asma untuk mengantarku segera menyusul.“Aku tidak perduli, Bu, Kak. Yang aku perdulikan sekarang, bagaimana kondisi dan perasaan Mas Adam? Dari pada kita di sini, lebih baik kita ikut menyusul Ayah dan Kakek Zein,” desakku terus memaksa. Karena ibu dan kakakku terus menahan, agar aku tidak pergi menyusulnya.“Apa kamu tidak dengar apa kata Ayahmu tadi, Nak?” tanya ibuku lirih. Ia pun nampak bersedih dengan apa yang sudah terjadi. “Ya, Dik! Kamu harus turuti perintah Ayah. Lebih baik, kita kembali ke kamarmu. Dari pada ke kantor Polisi sekarang.” Kak Asma ikut menimpali.“Ayo, Sayang! Kita ke kamar saja!” ajak ibuku dengan merangkul tubuhku yang mu
--Happy Reading--Di kediaman Arumi.Arumi nampak kesal dan geram dengan kelakuan putra kesayangannya itu. Dari semalam, ponselnya tidak aktif dan mendapati sosoknya yang pulang menjelang shubuh.“Satria!” teriak Arumi dengan berkacak pinggang dan kedua bola matanya yang melotot.“Apa sih, Mom? Aku nggak budek!” Satria menghentikan langkahnya yang baru saja ingin naik ke lantai dua menuju kamarnya. “Tumben, masih shubuh Mommy udah bangun?” tanyanya sambil cengengesan, sesaat sadar dengan tatapan marah Arumi.“Dari mana saja kamu, Satria? Ponsel nggak aktif, pulang sepagi ini. Apa kamu tidak berpikir, bagaimana khawatirnya Mommymu ini, huh?” tegur Arumi masih dengan bernada emosi.Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membuka tas punggungnya untuk mengambil ponselnya. Ia pun terkekeh saat melihat layar ponselnya yang mati toatal. “Ponselku baterainya lowbat, Mom,” ucap Satria seraya menunjukkan benda pintar berbentuk pipih itu ke hadapan Arumi.