Masuk
--Happy Reading--
Tidak ada satu wanita pun yang menginginkan memiliki suami tidak sempurna. Namun, jika itu sudah takdir atas jodohnya dari Tuhan yang maha kuasa, mau dibilang apa? Percayalah, setiap apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Tuhan juga baik. Sebaliknya, setiap apa yang menurut kita buruk, boleh jadi menurut Tuhan itu sangat baik. *** Pov Autor. Asmara menarik koper besar miliknya dari dalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa cantiknya. Kamar yang menjadi impian setiap gadis yang akan menikah dan menghabiskan malam pengantin dengan pria yang menjadi suaminya kelak. “Kamu mau ke mana, Asma?” tanya Dinda Ayu, ibu kandungnya. “Aku mau ke kota, Bu. Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki cacat.” Tanpa menghentikan langkahnya, Asma terus menarik kopernya. “T-tapi, Nak. Pernikahanmu besok, bagaimana?” Dinda Ayu gelagapan bingung. Dia pun mencoba menahan kepergian putri sulungnya itu. Apa yang akan dia hadapi besok? Bagaimana dengan para tamu undangan yang terlanjur sudah tersebar? Apa yang harus dikatakannya kepada keluarga besannya? Asma seolah tidak perduli terus melewati para kerabat dan tetangga dekat yang sedang membantu untuk persiapan pernikahannya besok pagi, dia pun sukses menjadi perhatian semua pasang mata yang melihat ke arahnya. “T-tunggu, Asma! Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Jangan main kabur seperti ini, Sayang! Ka…” lengan Dinda ditepis oleh Asma, ketika hendak menyentuhnya. “CUKUP, BU!” bentak Asma dengan suara meninggi memotong ucapan Dinda. “Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Bu. Aku tidak bisa menikah terpaksa seperti ini. Aku tidak mau mengabdikan diri, seumur hidup untuk melayani pria lumpuh dan buta itu.” Tanpa menoleh ke arah ibunya lagi, Asma terus melangkah pasti menuju mobil yang sudah terparkir di depan pagar rumah. Dia tidak perduli dengan tatapan para kerabat dan tetangga dekat yang sedang membantu memasak untuk persiapan pernikahannya besok. Dia menghilang dengan cepat, seiring kendaraan beroda empat itu melaju dengan cepat meninggalkan pekarangan rumah yang terbilang sederhana. Tubuh Dinda Ayu bergetar hebat, kedua bola matanya menatap nanar kepergian putri pertamanya itu. Dia begitu lemah, tidak bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Asmara Ahmad, putri sulungnya. Para kerabat dan tetangga pun sontak terkejut, ternyata Asma pergi karena tidak ingin menikah dengan calon suaminya yang lumpuh dan buta. Padahal, sepengetahuan mereka, calon suami Asma itu pria yang nyaris sempurna. Memiliki wajah tampan, kaya raya dan jabatan yang tinggi di kota. Brukk… Tubuh lemah Dinda ambruk menyusuri lantai, kedua kakinya lemas bagaikan tak bertulang. Kedua bola matanya berkunang, dengan tatapan berkabut. Pikirannya limbung, menerawang kosong. Jiwanya terguncang, dengan napasnya yang tersenggal-senggal. Rasa sesak di dalam dadanya semakin menyiksanya, hingga Dinda pun hampir tak sadarkan diri. Kerabat yang melihatnya pun tidak bisa mencegah kepergian Asma. Mereka hanya bisa membopong tubuh kurus milik Dinda yang terkulai lemah di lantai, kemudian membaringkannya di tempat tidur kamarnya. “Yang sabar, Bu Dinda. Ini, adalah cobaan,” ucap salah satu kerabatnya yang membantu memberikan minyak angin di leher dan dahi Dinda. Dinda hanya tersenyum getir, tidak ada satu kata pun terucap dari bibirnya yang pucat. “Si Asma itu memang keterlaluan. Seleranya itu memiliki level yang terlalu tinggi. Kenapa waktu dilamar seminggu yang lalu dia mau, tapi akhirnya jadi seperti ini?” “Padahal, cucu Juragan Zein itu sangat tampan, katanya.” “Selain tampan, cucu Juragan Zein juga pasti kaya raya. Secara, Juragan Zein kan pemilik perkebunan teh di desa ini.” “Aneh, memang si Asma itu.” “Tidak tahu diuntung memang si Asma.” “Tapi, kata Asma tadi, calon suaminya itu lumpuh dan buta, bukan?” “Ya, pantas saja si Asma melarikan diri.” “Kalau memang buta dan lumpuh, kenapa kemarin-kemarin Asma menerima lamaran cucu Juragan Zein?” “Tidak habis pikir, si Asma itu.” “Bagaimana nasibmu nanti, Dinda? Pasti, Juragan Zein akan marah besar, jika tahu pernikahan cucunya akan gagal.” Ocehan dan cibiran yang dilontarkan oleh para kerabat dan tetangga itu pun, membuat Dinda tidak sanggup menahan kepedihan hatinya. Sungguh, mau ditaruh di mana lagi mukanya yang kini sudah sangat memerah menahan malu. “Sudah-sudah! Biarkan Bu Dinda, istirahat. Lebih baik kalian kembali ke dapur dan lanjutkan pekerjaan kalian!” ujar salah satu tetangga dekat Dinda yang bernama Atun. Dia tidak tega melihat kondisi Dinda yang memperihatinkan, malah harus mendengarkan cibiran dan ocehan para kerabat dan tetangganya. Akhirnya, semua orang yang berkerumun di kamar Dinda pun kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat terbengkalai, karena masalah kaburnya Asma. “Terima kasih. Bu Atun,” ucap Dinda lirih. “Sama-sama, Bu Dinda. Istirahat saja dulu. Nanti, setelah suaminya kembali, baru dibicarakan lagi perihal masalah ini.” Dinda pun mengangguk lemah, lalu mencoba memejamkan matanya sebentar. Meskipun dirinya tidak yakin bisa terpejam dengan masalah yang sedang dihadapinya saat ini. *** Pov Annaya Ahmad. Namaku Annaya Ahmad, usiaku baru genap dua puluh tahun. Aku biasa dipanggil Anna oleh orang-orang yang mengenalku. Statusku masih anak mahasiswa semester empat, jurusan ekonomi. Aku anak kedua dari dua bersaudara, atau disebut anak bungsu yang harus selalu jadi anak yang penurut. Nurut sama perintah kedua orang tua dan nurut sama perintah kak Asma. Aku pulang ke desaku, dijemput oleh ayah dengan sepeda motor kesayangannya. Meskipun motor tua, tapi sangat berjasa untuk kami sekeluarga. Sesampainya kami di rumah, kedua bola mataku menyapu semua sudut ruangan yang tertata rapi dan indah. Semua warna didominasi dengan nuansa hijau, kesukaan kak Asma. Banyak bunga-bunga tersebar di beberapa bagian, dengan semerbak harum yang menyeruwak menusuk indra penciumanku. Aku terpejam, menikmati setiap hembusan harum bunga mawar dan melati yang tersetuh semilir angin malam. “Ayo, sayang!” ajak ayahku, membuat aku tersadar dari belaian harum bunga yang membuat aku sekejap terbuai. “Eeh, iya, Ayah.” Aku mengekori langkah kaki ayah yang bergerak, sambil menarik koper kecilku yang berisi pakaian dan barang-barang berhargaku yang tidak seberapa itu. Banyak para kerabat dan tetangga rumah yang menyambut kedatanganku dengan raut wajah yang sulit aku terka. Begitu juga dengan ayah, ternyata merasakan hal yang serupa denganku. “Ada apa?” tanya Sabda, ayahku. Dia terlihat bingung, aku pun sama. “Di mana istri dan putriku, Asma?” tanyanya lagi. “B-bu Dinda ada di dalam kamarnya,” sahut ibu Atun terbata. “Ya, Ibu Dinda ada di kamarnya,” sahut yang lainnya ikut menimpali. Ayahku mengangguk, kemudian bergegas menuju kamar, setelah mendengar jawaban dari kerabat dan tetanggaku. Aku hanya mengekori langkah kaki ayah, untuk menemui ibu. Setelah menemui ibu, baru aku berencana menemui kak Asma. “Kamu di sini saja, Anna. Jangan masuk dulu!” cegah ibu Atun menahan lenganku. “Kenapa? Aku hanya ingin bertemu dengan Ibuku. Aku merindukannya.” Aku berusaha untuk membantah. “Kamu akan segera tahu, setelah ini,” ujarnya. “Lebih baik sekarang kamu segera membersihkan diri. Biarkan kedua orang tuamu bicara berdua.” Aku menaikkan satu alisku dan mengernyitkan dahiku heran. Di dalam otakku banyak pertanyaan yang sedang berkecamuk. Ada apa dan kenapa? Mengapa aku tidak diizinkan menemui ibuku sendiri? *** Aku terpaksa melangkahkan kakiku ke dalam kamarku terlebih dahulu, untuk membersihkan tubuhku yang sangat lengket dan capai. Setelah itu, baru aku akan menemui ibu dan kak Asma. Aku ingin menghabiskan malam terakhir kak Asma sebagai seorang gadis lajang, karena esok hari kak Asma sudah berubah statusnya menjadi seorang istri. Baru saja aku berganti pakaian, pintu kamarku sudah diketuk dari luar. Aku tersenyum riang, berpikir ibu dan kak Asma yang datang menemuiku. Pasti, mereka sangat merindukanku, karena sudah lama kami tidak bertemu. “A-ayah,” ucapku lirih. Apa yang aku pikirkan ternyata salah. “Bolehkah Ayah masuk, Anna?” “Silahkan, Ayah!” aku memberi jalan ayahku masuk ke dalam kamar. “Ada apa, Ayah? Ibu dan Kak Asma di mana?” tanyaku sambil menatap heran wajah ayah yang terlihat muram dan sendu. Ayah duduk di bibir ranjang, lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku, terlihat bibirnya mulai terbuka. “Ayah ingin meminta tolong kepadamu, Anna.” Ayah menatapku dengan wajah nanar dan kedua bola matanya berkaca-kaca. Bibirnya pun nampak bergetar dengan suara yang terdengar parau. Aku tersenyum tipis, melihat ekspresi ayah yang tidak biasa. Hanya sekedar meminta tolong, mengapa harus sampai seperti itu? “Selama Anna bisa membantu, Anna akan menolong. Apa yang bisa Anna lakukan, Ayah?” “B-begini, Sayang. Ayah ingin…” Ayah menjeda ucapannya untuk beberapa saat, sambil memejamkan matanya. Nampak sekali bibirnya bergetar kala mengucapkan kata di hadapanku dengan tatapan sendu. Aku masih menunggu ayah melanjutkan ucapannya, tidak berniat untuk mencecarnya. “A-apakah kamu bersedia menggantikan posisi Kakakmu, Anna?” Ayah menyambung ucapannya dengan pertanyaan yang sangat mengejutkanku. “M-maksud, Ayah?” aku belum sepenuhnya mencerna pertanyaan ayah. “Kakakmu melarikan diri, saat Ayah menjemputmu pulang tadi. Ayah ingin, kamu yang menggantikan Kakakmu untuk menikah dengan cucu juragan Zein,” ungkapnya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Ayahku sudah tidak sanggup membendung air matanya yang kian mendesak untuk menetes. Akhirnya, jebol juga benteng pertahanan yang dia tahan sedari tadi. DUARRR… Bagai disambar petir, jantungku tersentak. Kedua bola mataku pun terbelalak, hampir ke luar dari sarangnya. Bagaimana mungkin, aku yang menggantikan pernikahan kak Asma? Usiaku pun baru dua puluh tahun, masih jauh dari harapan dan cita-citaku untuk menikah secepat ini. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kepulanganku ke rumah malah jadi seperti ini? "Apa Ayah tidak salah bicara?" "Tidak, Sayang," ucapnya menggeleng pelan. "Ayah berharap, kamu bisa mengerti, Sayang," sambung Ayah lirih, menatap penuh dengan harap. Aku menggeleng pelan, aku masih belum bisa mengambil keputusan sebesar ini. "Sejujurnya, Ayah pun tidak ingin semua ini terjadi. Namun, pernikahannya hanya tinggal besok pagi. Ayah pun tidak mungkin mencari Kakakmu untuk kembali ke rumah. Bagaimana dengan keluarga Juragan Zein? Bagaimana dengan para kerabat dan tetangga yang sudah membantu? Bagaimana dengan nasib Ayah dan Ibumu, nanti?" Aku hanya bisa bergeming, air mataku tidak terasa menetes dan tubuhku begitu lemas bagai tak bertulang. Aku tidak mampu untuk menolak permintaan Ayah. Akan tetapi, aku pun tidak tahu, apakah aku bisa menjalani pernikahan ini? Menjadi istri pengganti untuk kak Asma. --To be Continue--Asmara sangat menyayangkan kesempatan untuk membuat adiknya cemburu, ke depannya ia akan lebih berhati-hati lagi. Ia merasa kalau adik iparnya tersebut sudah menaruh curiga terhadapnya, karena gelagat yang selalu terbaca setiap apa yang hendak ia lakukan.Untuk beberapa hari ke depan, Asmara akan berpura-pura bersikap baik dan ramah kepada seluruh penghuni di mansion itu. Tanpa terkecuali, termasuk bersikap ramah terhadap kepala pelayan yang membuatnya jengkel setengah mati.Asmara merasa hanya dengan cara itu lah, keberadaannya akan diterima dan dipandang oleh Adam, pastinya. Ya, hanya itu yang terlintas dalam pikirannya untuk merebut hati seorang Adam Kusuma Wardana. Bahkan, Asmara harus mengorbankan adiknya sendiri untuk menghalalkan segala cara.“Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Sebenarnya itu ruangan apa?!” gumam Asmara bertanya-tanya dengan rasa penasaran.Ya, selepas sarapan tadi, Asmara memang mengikuti dari kejauhan langkah kaki mereka yang masuk ke ruangan itu. Sudah
Anna terus menatap cukup lama dalam diam antara suami dan kakaknya. Ada yang ia lewatkan, karena tanpa menyadari mereka pulang bersamaan. Meskipun diam, tetap saja dalam isi kepalanya begitu berisik layaknya berada di keramaian.“Ada apa memangnya, Kak Asma?” tanya Anna menyelidik, lalu menatap bergantian ke arah suaminya. “Memangnya Mas Adam sudah melakukan apa, huem?!” tanyanya juga penasaran.Asmara hendak membuka mulutnya, ketika pertanyaan dilontarkan oleh adiknya. Namun, langsung dipotong cepat oleh Adam. “Kak…..”“Tidak ada apa-apa, Sayang,” sela Adam berusaha untuk meyakinkan istrinya. “Hanya incident kecil, yang tidak cukup berarti,” jelas Adam sambil menatap sinis seperkian detik ke arah kakak iparnya tersebut.Beruntung kakak iparnya langsung bungkam, dengan kata-kata Adam. Kalau tidak, istrinya bisa salah paham dan cemburu kepadanya.‘Sialan…., Mas Adam bisa membaca pikiranku,’ dengkus Asmara dalam hatinya dengan tatapan memerah saking kesalnya. Kedua tangannya mengepal k
Karena belum juga istrinya ketemu, Adam berinisiatif untuk menghubungi ponsel istrinya dengan meminjam ponsel Asmara. Namun, Asmara mengatakan tidak membawa ponsel saat ini. Adam menghela napas berat, panic mulai menguasai pikirannya. Sementara Asmara mencoba menenangkannya dengan pikiran-pikiran positif, meskipun tidak dalam hatinya. “Tidak bisa, Kakak ipar. Aku tidak bisa tenang, kalau semua hal yang menyangkut istriku.” Adam menggeleng dengan penolakan. “Bodohnya aku, kenapa lupa membawa ponsel tadi,” umpatnya penuh sesal. ‘Aku harap, Anna hilang atau diculik saja,’ gumam Asmara dalam hatinya sambil mengulum senyum, melihat adik iparnya yang nampak frustasi. Namun, ia tetap mencoba perhatian dan merasa perduli dengan adiknya. Hening…. “Apa mungkin Anna sudah pulang duluan, Mas…,” ujar Asmara, memecah keheningan. Adam menoleh sekilas, mencoba memikirkan apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu. ‘Kenapa aku tidak kepikiran sampai situ? Bisa jadi, Anna pulang lebih dulu. Tapi…,
Anna membuka layar ponselnya, mencoba menghubungi sang suami. Sudah cukup lama ia menunggu, namun suaminya belum kembali juga.“Angkat dong, Mas!” gumam Anna sambil menghembuskan napas berat, karena suaminya tak kunjung menjawab.Sudah lebih dari dua kali Anna menghubungi nomor suaminya, kendati tetap tak ada jawaban. “Kamu di mana sih, Mas? Apa jangan-jangan kamu tidak membawa ponsel?” Anna nampak cemas.Akhirnya Anna memutuskan untuk pulang ke mansion saja, sambil menunggu suaminya kembali.Sesampainya di mansion, Anna tidak menemukan suami dan juga kakaknya. Pak Surip pun berkata jika mereka belum kembali pulang, justru Anna yang pertama kembali sejak pergi pagi tadi.“Apa Pak Surip tahu, Kak Asma pergi ke mana?!” tanya Anna sedikit penasaran.Pak Surip menggeleng lirih, karena Asmara tidak mengatakan mau pergi kemana pagi tadi. “Saya tidak tahu, Non,” jawabnya jujur.Anna nampak terdiam sejenak, detik berikutnya mencoba bertanya kembali. “Memangnya Pak Surip tidak bertanya? Atau,
Pagi hari ini, Adam dan Anna sudah bangun seperti biasanya. Meskipun di hari minggu, mereka tetap membiasakan diri untuk tidak bangun siang.Selepas mandi dan sholat shubuh, kebiasaan Adam selalu mengajak istrinya untuk olah raga santai tidak jauh dari taman di sekitaran mansion. Namun, sejak istrinya positif hamil, Adam memutuskan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, karena ia khawatir akan berdampak dengan kondisi bayi dalam kandungannya.“Mas…, ayo kita jalan-jalan pagi!” ajak Anna dengan penuh semangat, setelah melipat peralatan sholatnya.Adam tersenyum tipis, lalu menggeleng lirih menatap istrinya. “Sepertinya, mulai hari ini kita tidak jalan-jalan ke luar dulu, Sayang.”Alis Anna mengernyit heran, padahal ia sudah sangat siap untuk pergi mencari udara pagi yang menyegarkan tubuh. “Kenapa, Mas?” Anna seolah membaca isi pikiran suaminya. “Apa karena Anna…, sedang hamil?!” tebaknya.“Heem…, iya, Sayang.” Adam mengangguk mantap dengan senyuman tipis. “Mulai dari sekarang, Mas, ol
Sepanjang makan malam, Anna dan Adam nampak menikmati dengan caranya mereka sendiri. Mereka terlihat asik dan santai, sesekali menyapa Asmara meskipun raut wajahnya nampak jelas tak suka. Adam yang tak sungkan menunjukkan rasa sayang dan cintanya terhadap Anna, membuatnya merasa malu dan tak enak hati. “Mas…, malu ih, ada Kak Asma juga,” tegurnya berbisik lirih sambil melirik ke arah kakaknya dengan senyum malu-malu. Adam terkekeh pelan, lantas berbisik di telinga istrinya, “Untuk apa harus malu, Sayang…., dia ‘kan bagian dari keluarga kita. Kalau dia merasa terganggu, salah sendiri kenapa mau tinggal bersama kita…?” Anna tergelak, bahwa sang suami bisa-bisanya berkata seperti itu. “Ish…, parah nih, Mas Adam….,” rutuknya. Sementara Asmara, harus menahan rasa kesal dan dongkol yang bercokol dalam hati dengan kondisi yang tidak berpihak kepadanya. ‘Kamu masih bisa tertawa dan bahagia malam ini, Anna. Tapi, tidak untuk malam-malam berikutnya. Kita lihat saja, sampai kapan kamu akan be







