Share

Terpaksa Menjadi Istri Pengganti
Terpaksa Menjadi Istri Pengganti
Author: Tina Asyafa

Melarikan Diri

Author: Tina Asyafa
last update Last Updated: 2025-06-04 21:17:18

--Happy Reading--

Tidak ada satu wanita pun yang menginginkan memiliki suami tidak sempurna. Namun, jika itu sudah takdir atas jodohnya dari Tuhan yang maha kuasa, mau dibilang apa? Percayalah, setiap apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Tuhan juga baik. Sebaliknya, setiap apa yang menurut kita buruk, boleh jadi menurut Tuhan itu sangat baik.

***

Pov Autor.

Asmara menarik koper besar miliknya dari dalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa cantiknya. Kamar yang menjadi impian setiap gadis yang akan menikah dan menghabiskan malam pengantin dengan pria yang menjadi suaminya kelak.

“Kamu mau ke mana, Asma?” tanya Dinda Ayu, ibu kandungnya.

“Aku mau ke kota, Bu. Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki cacat.” Tanpa menghentikan langkahnya, Asma terus menarik kopernya.

“T-tapi, Nak. Pernikahanmu besok, bagaimana?” Dinda Ayu gelagapan bingung. Dia pun mencoba menahan kepergian putri sulungnya itu. Apa yang akan dia hadapi besok? Bagaimana dengan para tamu undangan yang terlanjur sudah tersebar? Apa yang harus dikatakannya kepada keluarga besannya?

Asma seolah tidak perduli terus melewati para kerabat dan tetangga dekat yang sedang membantu untuk persiapan pernikahannya besok pagi, dia pun sukses menjadi perhatian semua pasang mata yang melihat ke arahnya.

“T-tunggu, Asma! Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Jangan main kabur seperti ini, Sayang! Ka…” lengan Dinda ditepis oleh Asma, ketika hendak menyentuhnya.

“CUKUP, BU!” bentak Asma dengan suara meninggi memotong ucapan Dinda. “Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Bu. Aku tidak bisa menikah terpaksa seperti ini. Aku tidak mau mengabdikan diri, seumur hidup untuk melayani pria lumpuh dan buta itu.”

Tanpa menoleh ke arah ibunya lagi, Asma terus melangkah pasti menuju mobil yang sudah terparkir di depan pagar rumah. Dia tidak perduli dengan tatapan para kerabat dan tetangga dekat yang sedang membantu memasak untuk persiapan pernikahannya besok. Dia menghilang dengan cepat, seiring kendaraan beroda empat itu melaju dengan cepat meninggalkan pekarangan rumah yang terbilang sederhana.

Tubuh Dinda Ayu bergetar hebat, kedua bola matanya menatap nanar kepergian putri pertamanya itu. Dia begitu lemah, tidak bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Asmara Ahmad, putri sulungnya.

Para kerabat dan tetangga pun sontak terkejut, ternyata Asma pergi karena tidak ingin menikah dengan calon suaminya yang lumpuh dan buta. Padahal, sepengetahuan mereka, calon suami Asma itu pria yang nyaris sempurna. Memiliki wajah tampan, kaya raya dan jabatan yang tinggi di kota.

Brukk…

Tubuh lemah Dinda ambruk menyusuri lantai, kedua kakinya lemas bagaikan tak bertulang. Kedua bola matanya berkunang, dengan tatapan berkabut. Pikirannya limbung, menerawang kosong. Jiwanya terguncang, dengan napasnya yang tersenggal-senggal. Rasa sesak di dalam dadanya semakin menyiksanya, hingga Dinda pun hampir tak sadarkan diri.

Kerabat yang melihatnya pun tidak bisa mencegah kepergian Asma. Mereka hanya bisa membopong tubuh kurus milik Dinda yang terkulai lemah di lantai, kemudian membaringkannya di tempat tidur kamarnya.

“Yang sabar, Bu Dinda. Ini, adalah cobaan,” ucap salah satu kerabatnya yang membantu memberikan minyak angin di leher dan dahi Dinda.

Dinda hanya tersenyum getir, tidak ada satu kata pun terucap dari bibirnya yang pucat.

“Si Asma itu memang keterlaluan. Seleranya itu memiliki level yang terlalu tinggi. Kenapa waktu dilamar seminggu yang lalu dia mau, tapi akhirnya jadi seperti ini?”

“Padahal, cucu Juragan Zein itu sangat tampan, katanya.”

“Selain tampan, cucu Juragan Zein juga pasti kaya raya. Secara, Juragan Zein kan pemilik perkebunan teh di desa ini.”

“Aneh, memang si Asma itu.”

“Tidak tahu diuntung memang si Asma.”

“Tapi, kata Asma tadi, calon suaminya itu lumpuh dan buta, bukan?”

“Ya, pantas saja si Asma melarikan diri.”

“Kalau memang buta dan lumpuh, kenapa kemarin-kemarin Asma menerima lamaran cucu Juragan Zein?”

“Tidak habis pikir, si Asma itu.”

“Bagaimana nasibmu nanti, Dinda? Pasti, Juragan Zein akan marah besar, jika tahu pernikahan cucunya akan gagal.”

Ocehan dan cibiran yang dilontarkan oleh para kerabat dan tetangga itu pun, membuat Dinda tidak sanggup menahan kepedihan hatinya. Sungguh, mau ditaruh di mana lagi mukanya yang kini sudah sangat memerah menahan malu.

“Sudah-sudah! Biarkan Bu Dinda, istirahat. Lebih baik kalian kembali ke dapur dan lanjutkan pekerjaan kalian!” ujar salah satu tetangga dekat Dinda yang bernama Atun. Dia tidak tega melihat kondisi Dinda yang memperihatinkan, malah harus mendengarkan cibiran dan ocehan para kerabat dan tetangganya.

Akhirnya, semua orang yang berkerumun di kamar Dinda pun kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat terbengkalai, karena masalah kaburnya Asma.

“Terima kasih. Bu Atun,” ucap Dinda lirih.

“Sama-sama, Bu Dinda. Istirahat saja dulu. Nanti, setelah suaminya kembali, baru dibicarakan lagi perihal masalah ini.”

Dinda pun mengangguk lemah, lalu mencoba memejamkan matanya sebentar. Meskipun dirinya tidak yakin bisa terpejam dengan masalah yang sedang dihadapinya saat ini.

***

Pov Annaya Ahmad.

Namaku Annaya Ahmad, usiaku baru genap dua puluh tahun. Aku biasa dipanggil Anna oleh orang-orang yang mengenalku. Statusku masih anak mahasiswa semester empat, jurusan ekonomi. Aku anak kedua dari dua bersaudara, atau disebut anak bungsu yang harus selalu jadi anak yang penurut. Nurut sama perintah kedua orang tua dan nurut sama perintah kak Asma.

Aku pulang ke desaku, dijemput oleh ayah dengan sepeda motor kesayangannya. Meskipun motor tua, tapi sangat berjasa untuk kami sekeluarga.

Sesampainya kami di rumah, kedua bola mataku menyapu semua sudut ruangan yang tertata rapi dan indah. Semua warna didominasi dengan nuansa hijau, kesukaan kak Asma.

Banyak bunga-bunga tersebar di beberapa bagian, dengan semerbak harum yang menyeruwak menusuk indra penciumanku. Aku terpejam, menikmati setiap hembusan harum bunga mawar dan melati yang tersetuh semilir angin malam.

“Ayo, sayang!” ajak ayahku, membuat aku tersadar dari belaian harum bunga yang membuat aku sekejap terbuai.

“Eeh, iya, Ayah.”

Aku mengekori langkah kaki ayah yang bergerak, sambil menarik koper kecilku yang berisi pakaian dan barang-barang berhargaku yang tidak seberapa itu.

Banyak para kerabat dan tetangga rumah yang menyambut kedatanganku dengan raut wajah yang sulit aku terka. Begitu juga dengan ayah, ternyata merasakan hal yang serupa denganku.

“Ada apa?” tanya Sabda, ayahku. Dia terlihat bingung, aku pun sama. “Di mana istri dan putriku, Asma?” tanyanya lagi.

“B-bu Dinda ada di dalam kamarnya,” sahut ibu Atun terbata.

“Ya, Ibu Dinda ada di kamarnya,” sahut yang lainnya ikut menimpali.

Ayahku mengangguk, kemudian bergegas menuju kamar, setelah mendengar jawaban dari kerabat dan tetanggaku. Aku hanya mengekori langkah kaki ayah, untuk menemui ibu. Setelah menemui ibu, baru aku berencana menemui kak Asma.

“Kamu di sini saja, Anna. Jangan masuk dulu!” cegah ibu Atun menahan lenganku.

“Kenapa? Aku hanya ingin bertemu dengan Ibuku. Aku merindukannya.” Aku berusaha untuk membantah.

“Kamu akan segera tahu, setelah ini,” ujarnya. “Lebih baik sekarang kamu segera membersihkan diri. Biarkan kedua orang tuamu bicara berdua.”

Aku menaikkan satu alisku dan mengernyitkan dahiku heran. Di dalam otakku banyak pertanyaan yang sedang berkecamuk. Ada apa dan kenapa? Mengapa aku tidak diizinkan menemui ibuku sendiri?

***

Aku terpaksa melangkahkan kakiku ke dalam kamarku terlebih dahulu, untuk membersihkan tubuhku yang sangat lengket dan capai. Setelah itu, baru aku akan menemui ibu dan kak Asma. Aku ingin menghabiskan malam terakhir kak Asma sebagai seorang gadis lajang, karena esok hari kak Asma sudah berubah statusnya menjadi seorang istri.

Baru saja aku berganti pakaian, pintu kamarku sudah diketuk dari luar. Aku tersenyum riang, berpikir ibu dan kak Asma yang datang menemuiku. Pasti, mereka sangat merindukanku, karena sudah lama kami tidak bertemu.

“A-ayah,” ucapku lirih. Apa yang aku pikirkan ternyata salah.

“Bolehkah Ayah masuk, Anna?”

“Silahkan, Ayah!” aku memberi jalan ayahku masuk ke dalam kamar. “Ada apa, Ayah? Ibu dan Kak Asma di mana?” tanyaku sambil menatap heran wajah ayah yang terlihat muram dan sendu.

Ayah duduk di bibir ranjang, lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku, terlihat bibirnya mulai terbuka.

“Ayah ingin meminta tolong kepadamu, Anna.” Ayah menatapku dengan wajah nanar dan kedua bola matanya berkaca-kaca. Bibirnya pun nampak bergetar dengan suara yang terdengar parau.

Aku tersenyum tipis, melihat ekspresi ayah yang tidak biasa. Hanya sekedar meminta tolong, mengapa harus sampai seperti itu?

“Selama Anna bisa membantu, Anna akan menolong. Apa yang bisa Anna lakukan, Ayah?”

“B-begini, Sayang. Ayah ingin…” Ayah menjeda ucapannya untuk beberapa saat, sambil memejamkan matanya. Nampak sekali bibirnya bergetar kala mengucapkan kata di hadapanku dengan tatapan sendu.

Aku masih menunggu ayah melanjutkan ucapannya, tidak berniat untuk mencecarnya.

“A-apakah kamu bersedia menggantikan posisi Kakakmu, Anna?” Ayah menyambung ucapannya dengan pertanyaan yang sangat mengejutkanku.

“M-maksud, Ayah?” aku belum sepenuhnya mencerna pertanyaan ayah.

“Kakakmu melarikan diri, saat Ayah menjemputmu pulang tadi. Ayah ingin, kamu yang menggantikan Kakakmu untuk menikah dengan cucu juragan Zein,” ungkapnya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.

Ayahku sudah tidak sanggup membendung air matanya yang kian mendesak untuk menetes. Akhirnya, jebol juga benteng pertahanan yang dia tahan sedari tadi.

DUARRR…

Bagai disambar petir, jantungku tersentak. Kedua bola mataku pun terbelalak, hampir ke luar dari sarangnya. Bagaimana mungkin, aku yang menggantikan pernikahan kak Asma? Usiaku pun baru dua puluh tahun, masih jauh dari harapan dan cita-citaku untuk menikah secepat ini.

"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kepulanganku ke rumah malah jadi seperti ini?

"Apa Ayah tidak salah bicara?"

"Tidak, Sayang," ucapnya menggeleng pelan.

"Ayah berharap, kamu bisa mengerti, Sayang," sambung Ayah lirih, menatap penuh dengan harap.

Aku menggeleng pelan, aku masih belum bisa mengambil keputusan sebesar ini.

"Sejujurnya, Ayah pun tidak ingin semua ini terjadi. Namun, pernikahannya hanya tinggal besok pagi. Ayah pun tidak mungkin mencari Kakakmu untuk kembali ke rumah. Bagaimana dengan keluarga Juragan Zein? Bagaimana dengan para kerabat dan tetangga yang sudah membantu? Bagaimana dengan nasib Ayah dan Ibumu, nanti?"

Aku hanya bisa bergeming, air mataku tidak terasa menetes dan tubuhku begitu lemas bagai tak bertulang. Aku tidak mampu untuk menolak permintaan Ayah. Akan tetapi, aku pun tidak tahu, apakah aku bisa menjalani pernikahan ini? Menjadi istri pengganti untuk kak Asma.

--To be Continue--

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
maaf kk mau Tanya sebelumnya.novel ini kyknya agak2 kenal loh aq......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 86. Memainkan Sandiwara.

    --Happy Reading--POV Autor.Di kediaman Arumi.Arumi dan Satria sedang menikmati pesta kemenangan mereka, bersama beberapa orang yang telah ikut membantunya, hingga terwujud apa yang keduanya inginkan.Ya, walaupun lebih besar keinginan Arumi untuk menguasai harta peninggalan suaminya itu. Namun, Satria pun ikut andil untuk mengabulkan semua rencana licik sang ibu.Rencana ibu dan anak itu pun tidak akan pernah tercapai, tanpa bantuan beberapa orang yang ikut terlibat dalam rencana busuknya. Arumi pun berani membayar mahal mereka semua, dengan memberikan mereka bonus yang sangat besar atas usaha yang mereka lakukan.“Mari bersulang!” seru Arumi dan Satria serta beberapa orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Masing-masing mereka, memegang satu gelas berisi minuman beralkohol lalu saling membenturkan gelas tersebut secara serempak, satu dengan yang lainnya.“Triing!” bunyi suara gelas yang saling beradu.“Minumlah sampai puas, kalian! Hari in

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 85. Rencana Asisten Bisma.

    --Happy Reading--Aku dan kak Asma buru-buru mengusap air mata kami, sesaat melihat siapa yang datang.“Ibu…” gumamku dan kak Asma hampir bersamaan.“Katanya kamu mau tidur, Anna? Kenapa malah menangis?” tanya ibu menatapku. “Lalu, kamu juga, Asma. Kenapa kamu malah mengganggu Adikmu di sini, dan membuat Adikmu malah menangis bersamamu?” tanya ibu menoleh menatap kak Asma.“Ini, aku mau tidur kok, Bu.” Aku lekas meraih selimut tidurku yang biasa aku kenakan saat tidur bersama mas Adam.“I-itu… a-anu, Asma hanya ingin melihat kamar Adik Anna ajah, Bu.” Kak Asma nampak gugup, terdengar dari suaranya yang terbata.“Oh…” ucap ibu singkat, seraya menyapu seluruh ruangan kamarku. “Kamar ini sangat besar dan lengkap juga nyaman. Ibu sangat bahagia, kamu memiliki semua ini, Anna. Ibu pun tidak terlalu menyesal, karena sudah memaksa kamu untuk menikah, malam itu.” Air mata ibu tidak kuasa menetes di pipinya.Aku yang teringat masa itu, langsung bangkit dan memeluk

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 84. Semua Karena Malu.

    --Happy Reading--Aku masih terpaku, sesaat mendengar ucapan kak Asma, meski pelan. Kuperhatikan gerak-gerik kak Asma yang terlihat bergumam pelan, bibirnya. Apakah mungkin, kak Asma sedang menyesali semua yang telah ia lakukan, dulu? Ataukah kak Asma ingin meminta balik, apa yang menjadi haknya, dulu? Aku sungguh tidak rela, jika semua itu terjadi.Ya, kuakui memang dulu aku terpaksa menerima pernikahan ini. Namun, setelah mas Adam menaburiku dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus, aku tidak akan sanggup untuk melepaskannya.“Kak Asma….” Panggilku dengan suara lirih. Aku pun menyetuh punggungnya.“Eh, iya, Dik!” kejut kak Asma.Rupanya, Kak Asma begitu terkejut dengan suara seruanku. Padahal, suaraku tidak keras sama sekali. Akan tetapi, kak Asma seperti sangat tersentak begitu namanya aku panggil.“Kak Asma melamun, bukan? Kok, kaget gitu?” tanyaku mengernyit heran.“Nggak, Dik. Kakak hanya…” Bola mata Kak Asma seperti sedang mencari sesuatu.

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 82. Kantor Polisi.

    0--Happy Reading--Sepanjang malam, mataku nyaris tidak lagi bisa terpejam. Aku hanya menatap wajah pulas dan lelah ibu dan kak Asma yang masih bergelut dalam mimpinya.Bukannya aku tidak ingin tidur kembali, setelah bermimpi buruk. Namun, memang pikiranku saja yang terpecah menjadi dua. Tubuh dan ragaku ada di kamar ini, sementara hati dan pikiranku ada bersama mas Adam.Sepertinya, aku sudah terbiasa tidur dalam dekapan hangat selimut hidupku. Yaitu tubuh mas Adam yang keharumannya, selalu menenangkan pikiranku. Aku benar-benar candu, tak bisa tidur tanpa belaian tangannya, ciuman hangatnya dan cumbuan mesranya.Aku lirik mesin waktu yang ada di ponselku, sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun segera membersihkan diri untuk berwudhu. Menunaikan sholat wajib shubuh, dua rakaat. Setelah itu, segera kupanjatkan doa terbaik untuk suamiku dan dapat mengatasi semua masalah yang sedang menimpanya.Mas Adam bukan orang yang mudah menyerah untuk memperjuangkan sesua

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 81. Mimpi Buruk.

    --Happy Reading--POV Annaya Ahmad.Pesta resepsi pernikahanku dengan Mas Adam pun terancam dibubarkan. Asisten Bisma pun segera mengerahkan semua anak buahnya untuk mengatasi kericuhan dan kekacauan yang terjadi.Tak hentinya aku menangisi Mas Adam yang sedang dibawa ke kantor polisi, memaksa pula ibu dan kak Asma untuk mengantarku segera menyusul.“Aku tidak perduli, Bu, Kak. Yang aku perdulikan sekarang, bagaimana kondisi dan perasaan Mas Adam? Dari pada kita di sini, lebih baik kita ikut menyusul Ayah dan Kakek Zein,” desakku terus memaksa. Karena ibu dan kakakku terus menahan, agar aku tidak pergi menyusulnya.“Apa kamu tidak dengar apa kata Ayahmu tadi, Nak?” tanya ibuku lirih. Ia pun nampak bersedih dengan apa yang sudah terjadi. “Ya, Dik! Kamu harus turuti perintah Ayah. Lebih baik, kita kembali ke kamarmu. Dari pada ke kantor Polisi sekarang.” Kak Asma ikut menimpali.“Ayo, Sayang! Kita ke kamar saja!” ajak ibuku dengan merangkul tubuhku yang mu

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 80. Resepsi Pernikahan.

    --Happy Reading--Di kediaman Arumi.Arumi nampak kesal dan geram dengan kelakuan putra kesayangannya itu. Dari semalam, ponselnya tidak aktif dan mendapati sosoknya yang pulang menjelang shubuh.“Satria!” teriak Arumi dengan berkacak pinggang dan kedua bola matanya yang melotot.“Apa sih, Mom? Aku nggak budek!” Satria menghentikan langkahnya yang baru saja ingin naik ke lantai dua menuju kamarnya. “Tumben, masih shubuh Mommy udah bangun?” tanyanya sambil cengengesan, sesaat sadar dengan tatapan marah Arumi.“Dari mana saja kamu, Satria? Ponsel nggak aktif, pulang sepagi ini. Apa kamu tidak berpikir, bagaimana khawatirnya Mommymu ini, huh?” tegur Arumi masih dengan bernada emosi.Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membuka tas punggungnya untuk mengambil ponselnya. Ia pun terkekeh saat melihat layar ponselnya yang mati toatal. “Ponselku baterainya lowbat, Mom,” ucap Satria seraya menunjukkan benda pintar berbentuk pipih itu ke hadapan Arumi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status