Share

Bab 52 Pesan

Penulis: Kai24
last update Tanggal publikasi: 2026-09-17 06:36:51

​“Bagaimana mungkin…” ujar Penelope lirih. Matanya tertahan pada punggung seorang gadis yang dengan santai menyeret seekor rusa mati—lengkap dengan beberapa anak panah yang masih menancap—menuju tempat pengumpulan hewan buruan.

​“Ada apa, Pen?”

​Sentuhan Ruby di pundaknya membuat Penelope terlonjak. “Ruby! Kau mengejutkanku,” tegurnya dengan nada sedikit gusar, walau ia cepat-cepat mengulas senyum.

​“Wajahmu pucat sekali.” Ruby mengernyit cemas, menangkap gelisah yang sejak tadi menyelimu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 63 Sihir ilusi

    ​Hailey berjalan dengan pikiran melayang, teringat tatapan menelisik yang dilayangkan Putra Mahkota padanya. Ia sudah berhati-hati dan merasa tak ada perilakunya yang mencurigakan, tetapi kenapa pria itu memicingkan mata? ​Tiba-tiba ia hampir terjungkal. Hailey menoleh ke bawah dan mendapati tali sepatu botnya terurai. ​“Rasanya tadi sudah kuikat kuat,” gumamnya seraya berjongkok untuk membenahi simpulnya. ​Ia melirik teman-temannya yang berjalan pelan di depan, menyimak penjelasan pemandu mengenai sejarah bagian-bagian istana. Hailey mempercepat gerakan jemarinya agar tak tertinggal. Namun, begitu mendongak, seluruh temannya—bahkan Profesor Elena—telah jauh dari pandangan. ​Hailey yakin ia hanya mengikat sepatu beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang saat instingnya memberi tanda bahaya. Ada sesuatu yang salah. ​“Celine!” teriak Hailey sekuat tenaga. ​Gadis tukang gosip itu tak menoleh sedikit pun, seolah rintihan suaranya tak pernah menembus udara. ​“Profesor Elena!” ​Sa

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 62 Kesadaraan saat mengingatmu

    Keringat dingin mulai merayapi pelipis Hailey. Tangannya memilin rok hingga terasa kebas, manakala netra safirnya menangkap sesuatu yang janggal, yang seharusnya tak ada di meja jamuan. "Kenapa itu ada di sana?" tanya Hailey pada Celine dengan napas yang terasa tertahan di tenggorokan. Ia menatap kembali ke tengah meja dan menelan ludah. "Katanya, Putra Mahkota memang selalu menyajikan segelas darah di meja jamuan untuk mengetahui apakah tamunya vampir atau bukan." Celine berbisik di telinga Hailey dengan tangan menutupi mulutnya. "Katanya lagi, Putra Mahkota yang sekarang sangat keras pada vampir. Dia yang membuat titah untuk menumpas semua makhluk monster itu," tambahnya, tanpa menyadari kulit Hailey yang sudah pucat pasi. "Be-benarkah?" Celine mengangguk sebelum akhirnya mereka duduk di kursi paling jauh dari sana. "Tapi memang pantas dibasmi, setelah mereka membuat banyak keonaran. Satu murid sekolah bahkan mati karena makhluk itu. Benar-benar menjijikkan." Seorang g

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 61 Firasat buruk

    "Oh, bukan." Hailey segera menggeleng, meski ia tahu itu memang benar. Ia teringat Cedric pernah berkata akan mengganti syal yang tiba-tiba disobeknya dengan belati. Untungnya dalam suratnya hanya rertulis 'pakai selama musim dingin' tidak menunjukkan ciri khusus yang mengarah pada Cedric. "Ini dari Celine Montclair, temanku di kelas." Ia berdalih dengan menumbalkan gadis berkuncir yang duduk di hadapannya saat pelajaran. Di sisi ranjang yang lain, Ruby, yang hampir menerjang Hailey, mengurungkan niatnya setelah mendengar jawaban itu. Sejak tadi ia memang tidak tidur sedikit pun, hanya malas bertemu siapa pun kecuali Penelope. Ia mulai menajamkan telinga, jaga-jaga kalau Hailey membual. Ia berharap Penelope mau mengoreknya sampai gadis itu jujur. "Tiba-tiba memberi hadiah?" Penelope mengernyit penasaran. "Itu karena ulang tahunku di musim gugur tidak akan terlewati saat lulus nanti, jadi dia bilang ingin memberikan kado lebih dulu," kilah Hailey dengan nada yang terdengar alami.

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 60 Pujian

    ​Hailey menarik napas panjang saat jemarinya hampir menyentuh gagang pintu asrama. Ia kembali ke kamar setelah seharian memilih mencari kesibukan di luar. Ia bahkan dengan sukarela membantu membersihkan salju di halaman belakang dan memberi makan beberapa hewan magis milik para peneliti Velmor—semuanya ia lakukan hanya agar tidak perlu pulang ke kamar lebih cepat. ​Namun, tampaknya bukan hanya dirinya yang enggan menjejakkan kaki di sana. Di waktu yang bersamaan, Laura dan Sherina juga baru tiba. Ketiganya hanya saling melirik tanpa kata di depan pintu. ​Hailey enggan menceritakan perkelahiannya dengan Ruby; Laura punya alasan serupa untuk bungkam; sementara Sherina masih menyimpan kecurigaan mendalam pada Penelope—meski orang yang disangkanya diracuni hingga kini masih berdiri sehat walafiat. Tanpa disadari, ketiganya memasang raut enggan yang sama sebelum melangkah memasuki kamar yang tak lagi terasa nyaman. ​Di dalam, Penelope masih sibuk menulis di bawah pendar lilin meja be

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 59 Kabar burung

    ​“Oh, pesannya itu… Cedric—” ​Belum sempat Laura menyelesaikan ucapannya, teriakan memekakkan telinga dari tengah lapangan membuat mereka tersentak. ​“Laura! Giliranmu! Berhenti berbisik-bisik dan segera maju!” teriak sang guru gusar. Ia telah memanggil nama gadis itu lebih dari tiga kali, tetapi telinga Laura seolah tuli. ​Laura bergegas berlari meninggalkan Hailey yang masih diliputi rasa penasaran. Hailey tak bisa menahan Laura lebih lama untuk menuntut jawaban melihat kondisi sahabatnya yang hampir kena damprat. ​“Yah, lain kali saja,” gumam Hailey. ​Meski begitu, ia sempat menangkap nama Cedric terlontar dari mulut Laura—yang justru makin membakar rasa ingin tahunya. Hailey memutuskan untuk menunggu Penelope bicara sendiri padanya. Namun, bahkan hingga dua hari berlalu, Penelope tak mengatakan apa-apa dan Hailey perlahan mulai melupakannya. --- ​“Minggu depan kita akan berkunjung ke perpustakaan istana. Di sana terdapat arsip kuno mengenai sejarah pendirian kekaisara

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 58 Pion

    ​Hailey mengembuskan napas kasar yang terasa berat. Belum genap sehari ia memikirkan bisikan aneh Penelope di belakangnya kemarin, kini ia justru harus berhadapan langsung dengan Damian dalam kelas gabungan berpedang. Hailey memasang kuda-kudanya dengan perasaan tertekan. ​Ia benar-benar ingin menghindari situasi ini. Terlebih kelas Penelope—yang belum mendapat giliran—sedang menonton dari tribun sayap kanan. Hailey mengedarkan pandangan dan mendapati Laura, yang tak tahu-menahu soal ketegangan ini, bersorak riang memberi dukungan. ​Di titik ini, entah pikiran liar apa yang merasukinya, Hailey mendadak teringat pada pesan singkat seseorang. ​“Jangan melakukan kecerobohan selama aku tidak ada.” ​Kalimat Cedric terpatri kuat di ingatan. Namun, takdir seolah sengaja menjerumuskannya ke dalam jeratan kerumitan ini. ​“Maju duluan, tidak perlu sungkan,” ujar Damian lembut. Surai birunya tampak memikat tatkala dibelai terpaan butiran salju. ​“Tentu,” balas Hailey seraya memalingka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status