MasukSetelah persiapan singkat yang dilakukan oleh Mama Saras, akhirnya hari ini acara tujuh bulanan akan dilaksanakan di taman belakang rumah Dewa. Semua dekorasi sudah siap dan para tamu undangan yang hadir hanya keluarga serta teman-teman terdekat saja."Bil, sini Mama kenalin sama adik Mama," panggil Mama Saras."Nah ini, Tante Farida dan ini suaminya, Om Mateo," ucap Mama Saras memperkenalkan adik kandungnya."Nabila, Om, Tante" sapa Nabila sambil tersenyum lebar."Duh, Maaf banget ya Waktu kalian Nikah Tante sekeluarga gak datang karena lagi ada acara keluarga di Belanda.""Iya, gapapa Tante.""Wah, Dewa hebat ya bisa dapet istri yang lebih muda," ucap Om Mateo.Nabila hanya tersenyum tipis."Ini si Leo mesti berguru ni sama Dewa yang bisa taklukin cewe." Ucap Tante Farida yang membuat Mama Saras tertawa."Ah namanya juga anak cowo dulu juga Dewa sama kaya begitu. Sampe Mba pikir dia gak akan nikah lah eh tapi ternyata malah nikah sama temen anaknya sendiri.""Owalah, ini kira-kira
Dewa tak bisa menahan senyum tipisnya. Ia mengecup kedua mata Nabila bergantian, lalu mendaratkan kecupan hangat di hidung istrinya yang memerah."Kamu tetep cantik di mata Mas,""Bohong..." cibir Nabila pelan, berusaha memalingkan wajah."Pasti kamu cuma mau nenang-nenangin aku aja kan? Laki-laki mana coba yang betah liat istrinya segendut ini?"Dewa memegang dagu Nabila lembut, memaksa sang istri kembali menatap matanya."Mas enggak pernah bohong. Kamu gemuk karena apa? Karena di dalam sini ada anak kita yang lagi tumbuh," ucap Dewa seraya mengusap perut buncit Nabila dengan penuh kasih sayang."Ini bukan lemak, Sayang. Ini tanda kalau kamu lagi berjuang jadi seorang ibu. Mas justru makin sayang dan makin kagum sama kamu setiap hari.""Beneran?"Dewa mengangguk."Kamu tuh makin cantik tau, badan berisi gini semok, enak banget kalo di peluk belom lagi goyangan nya beh mantap betul,"Mata Nabila seketika membelalak lebar mendengar ucapan suaminya. Tangannya yang bebas refleks memukul
Selama perjalanan pulang, Nabila menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam, mencoba mengatur napas untuk meredakan kram yang kembali melilit perutnya. Mama Saras yang duduk di sampingnya terus mengusap telapak tangan Nabila yang terasa sedikit dingin."Tahan sebentar ya, Bil. Sebentar lagi kita sampai rumah, nanti langsung istirahat total. Kalau masih sakit, nanti baru ke dokter," ucap Mama Saras cemas."Iya, Ma... makasih ya," jawab Nabila dengan suara lirih.Tak lama kemudian, mobil mewah itu memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu utama. Belum sempat Mama Saras turun sepenuhnya, pintu rumah terbuka dan sesosok pria berjas rapi dengan dasi yang sedikit longgar muncul dengan langkah tergesa-gesa.Dewa!Pria itu langsung menghampiri pintu mobil bagian Nabila begitu melihat sang istri turun dengan wajah yang tampak pucat."Sayang! Kamu kenapa, Sayang?" panik Dewa, langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya. Tangannya dengan sigap meraba lembut per
Suasana restoran terasa begitu sejuk dan menenangkan. Di meja dekat jendela, Mama Saras dan Diana sudah asyik melihat-lihat menu makanan, sementara Nabila memegangi perutnya yang mendadak terasa sedikit menegang."Ma, Diana, aku ke kamar mandi sebentar ya... kebelet pipis," pamit Nabila halus sambil perlahan menegakkan tubuhnya dari kursi."Oh iya sayang, pelan-pelan jalan nya ya. Perlu Diana temenin gak?" tanya Mama Saras penuh perhatian."Enggak usah Ma, cuma sebentar kok," tolak Nabila lembut disertai senyuman manis.Nabila berjalan perlahan menuju area toilet restoran. Begitu masuk ke dalam kubikel toilet dan mengunci pintu, Nabila menghela napas panjang. Ia mengelus perut buncitnya yang terasa agak mengeras."Duh, Adek... jangan begini dong sayangnya Mama," bisik Nabila pelan pada perutnya sendiri. Usai menuntaskan hajatnya, ia berdiri di depan wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin.Nabila membasuh wajahnya tipis-tipis, lalu mencoba merapikan riasan dan mengatur napas."Ga
Perjalanan menuju butik dipenuhi dengan obrolan ringan dan tawa riang Diana yang semangat menceritakan rencananya membeli baju-baju lucu untuk calon adik nya. Tak terasa, mobil mereka sudah terparkir rapi di depan sebuah butik megah bernuansa modern elegan."Selamat pagi Bu Saras!" sapa seorang wanita berpenampilan modis yang langsung menyambut mereka di pintu masuk."Pagi Mbak Mia. Ini nih calon ibu yang mau kita dandanin buat Sabtu besok," pamer Mama Saras bangga sambil merangkul pundak Nabila."Aduh, cantik banget menantunya Bu Saras. Perutnya juga makin kelihatan lucu ya," puji Mbak Mai ramah."Mari masuk, bajunya sudah disiapkan di ruang ganti utama."Mereka bertiga melangkah menuju area VIP. Di sana, sebuah gaun panjang berwarna hijau sage yang amat cantik sudah terpajang anggun di patung manekin. Potongannya sangat mewah dengan payet-payet halus di bagian dada."Wah, cantik banget Oma bajunya! Mama pasti kelihatan cantik kalau pakai ini," puji Diana berbinar-binar."Pilihan Mam
Jam 8 pagi, dewa belum juga berangkat ke kantor. Penyebabnya adalah karena Nabila tadi sempat mengeluh perutnya terasa kram."Udah lah Mas kamu berangkat aja kantor. Aku udah gak apa-apa.""Kamu jadi pergi sama Mama hari ini?""Ya jadi lah. Kan udah janjian dari kemarin,Diana juga ikut kok.""Beneran perutnya udah nggak kram lagi?" Dewa mengusap perut istrinya."Udah enggak. Mungkin tadi itu gara-gara kamu terlalu sering minta jatah."Dewa langsung tertawa mendengarkan ucapan Nabila yang frontal itu. Ia memajukan wajahnya, merapatkan dahinya ke dahi Nabila dengan senyuman jahil yang mengembang sempurna."Lho, kok disalahin ke situ lagi sih, Sayang? Kan kamu juga menikmati, malah akhir-akhir ini kamu sering minta nambah kalau Mas gak salah ingat," bisik Dewa goda."Mas Dewa! Jangan diperjelas bisa nggak sih?!" Nabila menepuk dada Dewa cukup keras, wajahnya langsung merona merah sampai ke telinga. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong depan kamar, takut-takut ada asisten rumah
Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara
Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma







