MasukPagi ini Nabila dan Dewa benar-benar akan pergi berduaan."Udah siap sayang?" Tanya Dewa sambil memakai jam tangan nya."Menurut kamu aku cocoknya pake sendal, heels, atau sneakers?" Tanya Nabila yang berdiri di depan rak sepatu nya."Jangan pake heels nanti kamu ngeluh pegel. Lagian kita kan mau pergi ke banyak tempat sayang jadi pake yang kamu merasa nyaman aja,""Tapi aku jadi tinggi kalo pake heels jadi gak jomplang banget berdiri di samping kamu yang tinggi banget.""Udah pake sendal aja biar cepet." Usul dewa saat Nabila sudah mengambil sepatu heels 15cm nya."Aku udah lama loh gak peke ini. Dulu waktu aku masih kerja selalu pake heels ini Mas.""Ya tapi itu terlalu tinggi sayang. Nanti kalo keseleo gimana coba kamu kan udah lama gak pake.""Ahh.. ribet kamu, yaudah lah kalo gitu gak usah aja kita pergi males dari tadi aku pake baju kamu kontarin terus," sewot Nabila yang memilih menjauhi rak sepatu nya dan duduk di sofa pojok kamarnya."Duhh... Salah ngomong nih aku," batin Dew
Beberapa Minggu setelah mpasi Nevan sudah mulai berkurang menyusu,hampir setiap weekend Mama Saras dan Papa Wira selalu mampir untuk bermain bersama Nevan."Nevan akhir-akhir ini jadi jarang nyusu Ma, apa itu wajar ya?" Tanya Nabila pada Mama Saras yang sedang duduk di sofa ruang keluarga."Wajar itu, Bil. Nevan kan makin pintar makannya, perutnya udah keisi. Makanan utamanya tetap ASI atau susu formula, tapi jelas frekuensi nyusunya nggak bakal sebanyak waktu dia cuma mengandalkan ASI," jelas Mama Saras telaten saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga sore itu.Nevan sendiri tampak asyik merangkak di atas matras bermainnya, mencoba meraih mainan bunyi-bunyian bersama Papa Wira."Tapi kadang payudara aku kerasa kenceng dan agak nyeri, Ma, kalau jam nyusunya kelewat gara-gara dia gak mau nyusu," aduh Nabila sambil mengelus dadanya pelan, memasang wajah sedikit meringis."Nah, itu harus rajin dipumping sedikit biar gak keras. Jangan dibiarkan menumpuk, nanti bisa meriang kamu k
Hari berlalu begitu cepat hari ini adalah hari pertama Nevan mpasi. Semua anggota keluarga sangat senang dan menunggu momen ini sejak Nevan lahir."Di suapnya sedikit-sedikit aja, Bil." Ucap Mama Saras yang menginap di rumahnya sejak kemarin karena tau Nevan akan mulai makan hari ini."Aduhhh, aduhhh cucu Opa makannya doyan ya," suara Papa Wira yang sama senang nya melihat cucunya itu lahap."Ihhh lucu bangett, Nevannn, manyun-manyun gitu bibirnya" girang Diana yang sejak awal siap mendokumentasikan dengan kamera handphone nya.Suapan demi suapan Nevan makan dengan lahap sampai tak bersisa di mangkuk kecilnya."Udah habiss yeeeyyyy...." Ucap Nabila sambil di iringi tepukan tangan dari seluruh anggota keluarga."Yaampun lucunya anak ayah, duhh jadi pengen punya anak bayi lagi deh sayang," celetuk Dewa yang langsung mendapati jeweran di telinganya dari Mama Saras."Anak baru 6 bulan kok ya kepikiran tambah anak lagi, Dewa, Dewa kamu pikir hamil itu gampang hah...""Aduhh.. Ma sakit loh
Dan saat mereka sampai di pekarangan rumahnya Nabila di buat takjub melihat dekorasi seperti acara pernikahan terlihat di sana."Ini acara apaan sih?" Tanya Nabila yang mengerutkan keningnya."Mana Mas Tau." Jawab Dewa cepat."Kamu mau nikah lagi Mas,""Astaghfirullah sayang, mulutnya. Mana ada Mas kepikiran begitu. Ini kerjaan siapa sih sumpah Mas gak tau,"Diana yang melihat itu senyum-senyum sendiri karena semua ini dia sendiri yang menyiapkan sebagai hadiah untuk Mama sambungnya sekaligus sahabat sejak hari pertama kuliah."Udah, udah jangan ribut mending ayo kita masuk ke rumah. Nevan nanti aku aja yang gendong. Lagian Mama kok bisa-bisanya kepikiran ayah Nikah lagi sih, ini tuh aku yang siapin buat kelulusan Mama.""Ya itu dekorasinya kaya dekorasi orang mau nikahan.""Ah, iya juga ya." Ringis Diana menggit bibirnya ia memang sengaja membuat kejutan ini supaya Mama nya senang tapi malah membuat Mama sambungnya overthinking."Nah tuh kan Diana aja merasa gitu.""Udah-udah gak usa
Pagi harinya, Nabila sudah selesai menyusui Nevan langsung bergerak cepat mandi dan makeup sendiri."Mas itu Nevan tolong di ajak main dulu lah, jangan malah lihatin aku gitu." Ucap Nabila menahan rasa kesalnya karena sejak tadi suaminya itu terus menatapnya yang sedang makeup."Kan ada kakaknya sayang, biar aja Nevan main sama Diana.""Ya terus kamu mau lihatin aku terus gitu?" Sinis Nabila yang menghentikan sejenak kegiatannya membingkai alis."Ya memangnya kenapa? Kamu grogi ya?""Grogi apanya? Aku tuh risih, Mas! Muka aku lagi bentol-bentol kena sisa bedak, belum selesai di-blend, kamu ngeliatinnya kayak mau ngerampok," semprot Nabila tanpa menoleh, tangannya kembali lihai memoleskan beauty blender ke pipinya.Dewa malah tertawa kecil. Ia beranjak dari tepi tempat tidur, berjalan perlahan mendekati meja rias, lalu menyandarkan kedua tangannya di sandaran kursi tempat Nabila duduk. Wajahnya menunduk, menyejajarkan posisinya tepat di samping telinga Nabila lewat pantulan kaca."Ngap
Dengan hati-hati, Dewa membaringkan Nabila di sisi ranjang yang kosong, tepat di samping Nevan yang masih terlelap tenang berpagarkan bantal."Masih lemes banget, Hm?" bisik Dewa seraya menyibak beberapa helai rambut yang menempel di dahi Nabila akibat keringat."Pikir aja sendiri. Kamu tadi kesetanan banget, tau gak?" omel Nabila dengan suara seraknya. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, mencari posisi paling nyaman untuk memejamkan mata."Ya udah tidur, Mas juga mau tidur atau kamu pengen Mas peluk lagi sampai pagi, hmmm..""Mas udah ya jangan banyak omong tidur aja sana, pokonya aku gak mau tau kalo Nevan bangun nanti malam kamu yang urus ya.""Iya sayang ku." Dewa mengecup kening istrinya.Saat jam 2 pagi Nevan rewel membuat Dewa bingung sudah di gendong, di kasih susu tapi tetep saja Nevan nangis."Sayang, bangun dulu dong ini gimana Nevan kok nangis terus dari tadi sayang," Dewa membangunkan Nabila yang tertidur lelap.Nabila pun yang mendengar suara langsung bangun."Kenapa
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal







