Share

Jejak di Arsip Lama

Penulis: Mentari Senja
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 09:34:45

Layar laptop di hadapan Alya masih menyala sejak satu jam yang lalu.

Namun tidak ada satu pun desain interior yang berhasil ia selesaikan malam itu.

Pikirannya terlalu penuh, ucapan Arsen dari malam sebelumnya terus terngiang di kepalanya.

"Jangan pernah mencari tahu tentang keluargaku, Alya. Karena saat kamu menemukan jawabannya, mungkin kamu akan membenciku."

Tatapan Arsen saat mengucapkannya justru terlihat berbeda, bukan marah, melainkan ada rasa takut.

Dan itu yang membuat Alya gelisah, k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Perjalanan ke Bandung terasa seperti mimpi buruk yang bergerak terlalu lambat. Mobil hitam Arsen melaju kencang di tol yang nyaris kosong tengah malam, dikawal dua kendaraan Dante di depan dan belakang. Alya duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram ponsel, mencoba menghubungi ibunya untuk kesekian kali. Tidak ada jawaban. "Kenapa nggak diangkat," gumamnya, suara panik mulai merayap masuk meski ia berusaha menahannya. "Bisa jadi sinyal terputus," kata Arsen, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Tangannya di setir mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Atau bisa jadi..." "Jangan," potong Arsen tegas, sekilas menoleh padanya. "Jangan pikirkan yang terburuk sebelum kita sampai di sana." Alya menahan napas, menelan ketakutan yang mengancam meledak jadi air mata. Ia menatap keluar jendela, kegelapan jalan tol yang berkelebat cepat, dan mencoba mengingat kembali kata-kata Arsen semalam.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Malam Pengakuan

    Ruang rapat Mahardika Corporation masih berbau darah dan tinta printer. Alya berdiri di ambang pintu, memandangi kekacauan yang tersisa dari pertemuan dewan direksi tadi siang, kertas berserakan, satu kursi terguling, dan noda merah kering di sudut meja kaca yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu persis apa yang terjadi di sana. Satu orang kepercayaan Selena tewas sebelum sempat membuka mulut. "Kamu seharusnya istirahat," suara Arsen datang dari belakang, berat dan pelan, seperti biasa saat ia lelah tapi menolak mengakuinya. Alya berbalik. Arsen berdiri dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dan ada bercak darah kering di pergelangan tangan kanan yang belum sempat ia cuci. Bukan darahnya sendiri. "Aku nggak bisa tidur selama ada mayat di ruang rapat kantor kita, Arsen." "Sudah dibereskan." Ia melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Alya seolah mencari retakan yang bisa ia perbaiki. "Yang belum dibereskan adalah kepalamu. Kamu mikirin sesuatu." Alya tidak menj

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kejatuhan Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Selena Terpojok

    Pagi itu, ponsel Alya berdering tepat jam tujuh, nomor tidak dikenal yang sama seperti sebelumnya. Ia melirik ke arah Arsen yang sedang bersiap-siap di ruang ganti, kemudian menjawab panggilan itu dengan suara pelan. "Alya," suara Selena terdengar tegang, jauh berbeda dari ketenangan yang ia tunjukkan kemarin. "Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin bekerja sama dengan kalian, tapi aku butuh perlindungan segera. Reza mulai curiga bahwa aku ragu-ragu, dan aku takut dia akan bertindak lebih cepat dari rencana." "Di mana kau sekarang?" Alya bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Aku di apartemen pribadiku di kawasan Kemang. Tapi Alya, aku pikir aku sedang diawasi. Ada mobil yang sudah parkir di depan gedung sejak semalam, dan aku yakin itu bukan kebetulan." Alya segera memberi isyarat pada Arsen yang langsung mendekat begitu melihat ekspresi seriusnya. "Tunggu, Selena. Aku akan memberitahu Arsen sekarang. Kami akan mengirim bantuan segera."

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pengkhianatan Terakhir

    Dua hari sebelum rapat pemegang saham darurat, suasana di Mahardika Corporation semakin tegang. Setiap sudut gedung dipenuhi bisik-bisik ketakutan, dan Alya bisa merasakan tatapan curiga dari para karyawan setiap kali ia melintasi lorong kantor bersama Arsen. Tim hukum sudah bekerja siang malam untuk menyusun berkas yang akan membongkar identitas asli David Halim sebagai Reza Aditama, menggunakan dokumen yang diberikan Bima Prasetyo. Namun ada satu masalah besar yang mengganjal pikiran Arsen. "Kita butuh saksi hidup untuk menguatkan bukti dokumen ini di pengadilan, jika mereka menggugat balik," kata pengacara utama Mahardika Corporation, seorang wanita bernama Ibu Sari, dalam rapat strategi pagi itu. "Dokumen saja bisa dipertanyakan keasliannya." "Bima Prasetyo sudah setuju untuk bersaksi," Arsen menjawab, meski nada suaranya menunjukkan betapa rumitnya keputusan itu baginya. "Itu bagus, tapi mengingat keterlibatannya dalam penipuan aset l

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Pagi menyingsing dengan cahaya keemasan yang menembus tirai kamar, namun suasana di Mahardika Mansion jauh dari kata tenang. Alya terbangun mendapati Arsen sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinganya, suaranya rendah namun tegas, mode kerja yang sudah sangat dikenalnya. "...aku ingin laporan lengkap tentang pergerakan David Halim dalam dua puluh empat jam terakhir," Arsen berkata pada seseorang di ujung telepon. "Jangan ada yang terlewat, sekecil apa pun itu." Ia menutup telepon begitu menyadari Alya sudah bangun, ekspresinya melunak sedikit meski ketegangan masih terlihat jelas di garis rahangnya. "Selamat pagi," katanya, melangkah mendekat dan mengecup dahi Alya. "Bagaimana tidurmu?" "Lebih baik dari yang kuduga," Alya menjawab jujur, duduk bersandar pada headboard ranjang. "Ada kabar baru?" Arsen duduk di tepi ranjang, wajahnya serius. "Dante menemukan sesuatu semalam. David Halim, ata

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Mansion yang Terlalu Sunyi

    Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pernikahan Tanpa Pilihan

    Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status