LOGINUdara malam di Jakarta Selatan terasa lebih dingin dari biasanya, seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti Mahardika Mansion. Setelah kebenaran tentang masa lalu terungkap, suasana di dalam rumah itu berubah total. Tidak ada lagi rasa curiga yang menyelimuti, melainkan kesadaran baru bahwa bahaya yang sesungguhnya masih mengintai dari balik bayang-bayang. Arsen kembali ke ruang kerjanya dengan langkah berat. Di tangannya tergenggam dokumen-dokumen penting yang baru saja ia bawa dari rumah Bima. Ia duduk di kursi besarnya, menatap tumpukan kertas itu dengan tatapan kosong namun pikirannya berpacu cepat. Jika Bima bukan dalangnya, lalu siapa? Siapa yang cukup berkuasa dan berani untuk merencanakan pembunuhan Nyonya Elvira dan memutarbalikkan fakta selama bertahun-tahun? Pintu ruang kerja terbuka, dan Dante masuk dengan langkah tegap. Wajahnya tetap datar, sama seperti biasanya, penuh kesetiaan dan ketenangan yang selama ini mem
Suasana di ruang tamu rumah tua di Bandung itu terasa kaku dan berat. Udara seolah berhenti bergerak, hanya diisi oleh suara detak jam dinding yang terdengar sangat nyaring. Di tengah ruangan itu, duduk empat orang yang nasibnya sudah terikat sejak lama: Arsen dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas, Alya yang duduk di antara mereka dengan wajah pucat, Bima Prasetyo yang menunduk dalam seolah tak berani menatap siapa pun, dan Ratna yang terisak pelan sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat. Setelah insiden penculikan yang hampir merenggut nyawa Alya, Arsen tidak mau menunggu lagi. Ia membawa Alya langsung ke rumah orang tuanya, tanpa peringatan, tanpa basa-basi. Saat ini, tidak ada lagi topeng kesopanan atau sandiwara pernikahan yang bisa menutupi kebenaran yang selama ini tersembunyi. “Sudah cukup waktu untuk diam, Pak Bima,” suara Arsen terdengar rendah namun menusuk, penuh tekanan yang membuat siapa pun merinding. “Selama 15 tahun k
Suasana di ruang kerja Arsen terasa lebih tegang dari biasanya. Udara seolah berat, hanya diselingi suara detikan jam dinding yang terasa sangat nyaring. Di tengah ruangan itu, Arsen duduk tegak di balik meja besarnya, rahangnya mengeras sementara matanya menatap laporan yang baru saja diserahkan Dante. “Semua berkas yang berkaitan dengan kasus 15 tahun lalu… hilang begitu saja?” ulang Arsen dengan suara rendah, namun sarat amarah yang tertahan. Tangannya mencengkeram kertas itu hingga ujung-ujungnya terlipat kuat. Dante berdiri di hadapannya, wajahnya tegang dan penuh rasa bersalah. “Benar, Tuan. Kami sudah memeriksa setiap lemari arsip, ruang penyimpanan rahasia, bahkan salinan cadangan yang tersimpan di server terenkripsi. Tidak ada satu pun yang tersisa. Seolah semuanya sengaja dihapus dan dibawa pergi.” Di sudut ruangan, Alya duduk diam, mengamati percakapan itu dengan hati yang berdebar kencang. Ia baru saja mendengar sedikit gambaran tentang masa
Udara di dalam gudang tua itu terasa pengap dan berbau debu bercampur besi tua. Saat Arsen baru saja membebaskan ikatan di pergelangan tangan Alya, suara tepuk tangan yang lambat namun menusuk tiba-tiba bergema dari arah pintu masuk.“Hebat sekali… benar-benar layak disebut penguasa yang ditakuti.”Sosok pria bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas luka melangkah masuk, diikuti belasan orang bersenjata yang langsung mengelilingi ruangan. Senyumnya sinis, matanya menatap Arsen seolah sedang menantang.Arsen langsung berdiri tegak, tubuhnya menutupi Alya sepenuhnya. Wajahnya yang baru saja sedikit melunak kembali berubah dingin, bahkan lebih tajam dari sebelumnya.“Kamu… Ken masih hidup?” desis Arsen, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan.Ken Hardinata, musuh lama yang telah ia anggap mati sejak tujuh tahun lalu. Pria yang pernah bekerja sama dengan ayahnya, lalu mengkhianati keluarga Mahardika dan mencoba merebut seluruh kekuasaan sebelum akhirnya dilumpuhkan dan dianggap t
Suasana di ruang kerja Arsen terasa seperti neraka yang membeku. Telepon genggam yang baru saja ia terima pesannya tergenggam erat di tangannya, hingga tulang-tulang jari memutih dan urat-urat di lengannya menonjol.Di layar itu tertulis pesan singkat namun cukup untuk membuat darahnya mendidih:“Wanita yang kau jaga itu kini ada di tangan kami. Serahkan seluruh saham dan kendali perusahaan dalam 24 jam, atau kau akan menerima mayatnya sepotong demi sepotong.”Arsen melempar ponsel itu ke dinding dengan kekuatan penuh. Benda itu pecah berkeping-keping, menyisakan suara benturan yang memekakkan telinga.“Mereka berani… mereka benar-benar berani menyentuh milikku!”Suaranya menggelegar, dingin namun sarat amarah yang meledak-ledak. Selama ini, tidak ada satu pun orang yang berani menantangnya secara terbuka, apalagi mengambil apa yang ia anggap sebagai haknya. Namun kini, mereka menyentuh titik terlemahnya Alya.Dante, yang baru saja masuk membawa laporan, langsung membeku di tempat. Ia
Suasana di halaman belakang Mahardika Mansion terasa gelap dan sunyi. Hanya diterangi lampu taman yang redup, menciptakan bayangan panjang di atas rumput yang basah embun. Alya berjalan perlahan, berniat mencari udara segar setelah seharian terkurung di dalam ruangan. Ia tidak menyadari bahwa malam itu, bahaya sedang mengintai dari balik kegelapan.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba dua sosok pria muncul dari balik semak-semak. Wajah mereka tertutup topeng, dan di tangan mereka tergenggam senjata tajam yang berkilau samar.“Jangan bergerak!” bentak salah satu dari mereka, suaranya berat dan kasar.Alya tertegun, napasnya tertahan. Ia berusaha mundur, namun punggungnya sudah menyentuh dinding tembok. “Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”“Kami hanya menjalankan perintah,” jawab pria lainnya sambil melangkah mendekat. “Kau menjadi beban bagi banyak orang, Nona Mahardika. Dan beban harus disingkirkan.”Saat salah satu pria itu hendak menyergapnya, tiba-tiba suara langkah







