Share

Bab 32

Author: PUCHA
last update publish date: 2026-09-24 22:21:51

Bab 32

"Malam ini saja ... jangan bahas soal hukum atau persidangan perceraian itu," ucap Nara.

Arkan tidak menjawabnya, ia langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Nara, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan sangat erat.

Arkan menundukkan kepala, mengecup kening, kelopak mata, hingga pipi Nara yang basah oleh sisa air mata dengan begitu lembut, seolah sedang menandai kepemilikanya di setiap inchi tubuh Nara.

Di balik jendela yang membeku oleh salju,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 103

    Bab 103 Pintu kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta begitu ramai siang itu. Udara khas Jakarta yang hangat langsung menyergap begitu Nara melangkah keluar sambil mendorong kereta bayi tempat Elang tertidur pulas. Di sampingnya, Arkan berjalan tegap dengan kemeja hitam santai dan kacamata hitam, sementara tangan kirinya merangkul pinggang Nara. Dua orang berbadan tegap yang ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi, berjalan beberapa langkah di belakang mereka untuk mengamankan perimeter. Di antara kerumunan penjemput, seorang wanita paruh baya dengan kebaya kasual berwajah teduh melambaikan tangannya dengan mata berkaca-kaca. "Nara! Anakku!" seru Ratna, suaranya bergetar menahan haru. Nara langsung mempercepat langkahnya, melepas pegangan kereta bayi, dan berlari ke dalam pelukan ibunya. "Mama ... Nara kangen banget sama Mama." "Mama juga kangen sekali, Nak. Akhirnya kamu pulang," ucap Ratna sambil mengusap punggung Nara dengan gerakan lembut. Setelah bebera

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 102

    Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 101

    Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 100

    Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 99

    Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status