تسجيل الدخولBab 95 Pagi hari sebuah rumah yang terletak di pinggiran London yang biasanya tenang, mendadak diselimuti kecemasan. Di dalam kamar utama yang hangat, Nara terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah yang sangat pucat. Usia kehamilannya baru memasuki bulan ketiga, namun morning sickness yang ekstrem membuatnya tidak bisa menjaga asupan makanan sedikit pun sejak subuh. Arkan duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang berantakan. Pria yang biasanya selalu tenang di ruang sidang itu, kini tampak sangat panik. Mata elangnya menatap lurus ke arah Nara dengan tatapan penuh ketakutan. "Minum air hangatnya sedikit saja, Nara. Kumohon," bisik Arkan pelan, suara baritonnya bergetar lembut saat ia menyodorkan cangkir ke bibir istrinya. Nara mencoba meminumnya satu teguk, namun sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya sambil memegangi perutnya yang mual. "Maaf, Arkan ... perutku menolaknya lagi, rasanya sangat sesak." Arkan meletakkan cangkir itu ke meja dengan sentakan yang sediki
Bab 94 "Aku hanya membiarkan kalian menari di atas panggung yang ku ciptakan sendiri, Kevin," desis Arkan dengan seringai tipisnya yang menyeramkan. Ia menoleh ke arah petugas kepolisian. "Petugas, silakan amankan kedua orang ini atas kasus konspirasi dan pemalsuan berkas internasional." "Arkan, lepaskan aku! Ini semua rencana Kevin! Aku tidak tau apa-apa!" teriak Clarissa dengan suaranya yang terdengar panik, sifat sombongnya hancur total saat petugas memasangkan borgol ke tangannya. "Bawa mereka keluar! Suara mereka merusak ketenangan istriku," perintah Arkan tegas. Kevin dan Clarissa akhirnya diseret keluar dari ruang kerja dengan paksa oleh petugas keamanan. Saat mereka sudah pergi, kedamaian kembali terasa diruangan yang sebelumnya mencekam itu. Setelah pintu ditutup kembali, Nara menghembuskan nafas panjang, ia bersandar di tepi meja kerjanya. "Huft ... Clarissa benar-benar nekat, ia bahkan tidak memperhitungkan dampak bagi pamannya, pamannya bisa jatuh ke dalam jurang
Bab 93 "Aku sudah memasang sistem proteksi pelacakan IP darurat di seluruh area kantorku, Valerie," ralat Nara dengan senyum percaya dirinya yang menawan. "Saat Kevin mencoba meretas draf internalku tadi malam untuk mencocokkan dokumen palsunya, sistem digitalku langsung melacak jejak lokasinya, yang ternyata kembali menuju kafe tersebut. Dan suamiku ... dia hanya perlu mengirim tim keamanan untuk meletakkan alat sadap kecil di bawah mejamu." Kevin mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras karena amarah dari masa lalunya. Kali ini, ia kembali mengalami hal yang serupa, rencana liciknya dipatahkan secara telak oleh Arkan. "Arkan, kamu bajingan yang sangat licik!" Lord Sterling berdiri dari kursi besarnya, dengan wajah yang memerah karena amarah yang membuncah. Pria paruh baya itu memukul meja dengan keras. Brak! "Cukup! Kevin, Julian, Valerie! Berani-beraninya kalian membawa berkas sampah dan rekaman konspirasi busuk ini ke hadapanku! Tindakan kalian adalah penghinaan be
Bab 92 Valerie menaikkan sebelah alisnya, sifat aslinya seketika keluar saat tau mereka memiliki musuh yang sama. "Jadi kamu juga korban dari kelicikkan Arkan? Benar, aku Valerie. Arkan baru saja mengancam akan memutus saham papaku hanya demi melindungi hasil kerja Nara yang sok pintar itu!" ujar Valerie dengan mukanya yang terlihat angkuh. "Kalian berdua terlalu berisik, dua orang amatir berkumpul dan mencoba untuk membentuk kekuatan." tiba-tiba datang seseorang yang menyela pembicaraan mereka, ia berjalan dengan langkah yang begitu tenang dan juga ekspresi yang terlihat begitu angkuh. Seorang pria muda bertubuh tegap dengan jas hitam kasual melangkah mendekat. Tatapan matanya memancarkan aura dingin dan kelicikan yang sangat pekat. Pria itu adalah Kevin. Julian mengerutkan kening, menatap pria asing itu penuh curiga. "Siapa kamu? Jangan asal ikut campur," celetuk Julian dengan raut wajah tidak sukanya. "Namaku Kevin," pria itu menarik kursi dan langsung duduk di antara Jul
Bab 91 Nara mendongak, menatap lurus ke dalam mata Valerie dengan sikap yang begitu tenang. "Jika Arkan butuh sokongan dari papamu, pasti dia sudah menikahimu sejak dua tahun lalu, Valerie. Tapi faktanya, dia memindahkan seluruh sistem operasional tim ke Den Haag, hanya untuk tetap berada di dekatku. Posisiku sebagai Senior Partner dan istrinya tidak akan pernah bisa kamu geser hanya dengan bermodalkan sikap manja dan saham milik keluargamu itu." Valerie menegang, wajah cantiknya seketika memerah karena menahan amarah akibat mendapatkan serangan balik dari Nara, dengan kata-kata yang begitu menusuk. "Kita lihat saja nanti, Kak Nara. Di kantor besok, aku akan memastikan Arkan akan sadar, siapa sebenarnya wanita yang paling menguntungkan untuk masa depannya." Valerie menunjukkan sifat aslinya yang bermuka dua untuk menjatuhkan Nara, namun ia belum tau seberapa tajam dan kuatnya benteng pertahanan dari seorang Nara Anindita. Pagi harinya di kantor hukum gabungan Den Haag, Nara ba
Bab 90 "Laporan faksi Paris itu cacat hukum!" potong Nara cepat dengan suara lantang. "Silakan buka lampiran internasional halaman tiga! Kantor gabungan kami dilindungi oleh Perjanjian Imunitas Zonasi Uni Eropa Pasal Lima. Seluruh bangunan fisik yang terafiliasi dengan Mahkamah Internasional memiliki kekebalan operasional secara penuh dari aturan zonasi lokal! Tindakanmu yang membawa surat pembekuan ini, termasuk pada pelanggaran berat!" Seketika wajah Mr.Visser memucat, matanya membelalak menatap Nara. "Pasal ... Pasal Lima?" "Tepat sekali, Mr.Visser," sahut Arkan tegas, ia melangkah satu langkah lagi hingga tubuh besarnya mengurung pandangan pria paruh baya itu. "Jika dalam waktu tiga puluh detik kamu tidak membawa surat sampah itu keluar dari apartemenku, aku sendiri yang akan melayangkan gugatan ganti rugi sebesar lima juta Euro atas pencemaran nama baik ke mejamu sore ini. Pilih dengan bijak!" Dua petugas keamanan di belakang Mr.Visser langsung mundur teratur, sementara Mr







