Share

KARMA BERPUTAR 360°

Author: YOSSYTA S
last update publish date: 2026-08-29 13:08:06

6 BULAN KEMUDIAN. GEDUNG MEWAH. ACARA Resepsi pernikahan.

Dekorasi putih emas. Tamu undangan pejabat semua.

Di pelaminan, Syaqilla duduk. Pake kebaya putih. Cantik. Tenang.

Di sebelahnya Alvaro. Genggam tangannya erat.

Di baris depan, Bu Sintya nangis. Tapi nangis bahagia. "Anak Mama... akhirnya..."

Pak Hendrawan merangkul bahu istrinya. "Udah. Jangan nangis!"

Tiba-tiba pintu kebuka.

Winda masuk. Pake baju kebaya yang senada dengan Sintya dan Hendrawan. Jalan pelan. Di samping
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    KARMA BERPUTAR 360°

    6 BULAN KEMUDIAN. GEDUNG MEWAH. ACARA Resepsi pernikahan. Dekorasi putih emas. Tamu undangan pejabat semua. Di pelaminan, Syaqilla duduk. Pake kebaya putih. Cantik. Tenang. Di sebelahnya Alvaro. Genggam tangannya erat. Di baris depan, Bu Sintya nangis. Tapi nangis bahagia. "Anak Mama... akhirnya..." Pak Hendrawan merangkul bahu istrinya. "Udah. Jangan nangis!" Tiba-tiba pintu kebuka. Winda masuk. Pake baju kebaya yang senada dengan Sintya dan Hendrawan. Jalan pelan. Di samping ada suaminya juga Reno kakak angkat Alvaro. sementara di belakangnya dua bodyguard bawa hantaran. Semua orang diam. Winda langsung jalan ke Syaqilla. Berlutut di depan pelaminan. Depan ratusan orang. `DUG!' "Maafkan saya, Syaqilla?" Suara Winda pecah. "Selama ini saya buta. Saya pikir kamu anak wanita murahan itu. Ternyata... kamu menantu saya. Kamu putri keluarga Hendrawan." Syaqilla kaget. Turun. Ikut jongkok. "Bu... udah, bangun." "Tidak." Winda menggeleng. Air matanya jatuh. "S

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Rumah Yang Dingin

    RUANG PEMULIHAN. 2 HARI KEMUDIAN. Natasya sudah sadar. Tapi kondisinya lemah. Infus masih nempel. Di sudut ruangan, Pak Hendrawan duduk. Wajahnya tua 10 tahun dalam semalam. Bu Sintya berdiri di depan jendela. Membelakangi ranjang. "Mah!" bisik Natasya pelan. Suaranya serak. Sintya tak menoleh. Bahunya bergetar. "20 tahun..." Suara Sintya pelan. Tapi dingin. "20 tahun aku gendong kamu pas demam. Aku suapin kamu. Aku begadang pas kamu ujian." Mata Natasya mengerjap kebingungan melihat perubahan sikap Mama nya yang terasa aneh. "Pah, Mama kenapa?" Dia menoleh ke arah Hendrawan. "DIAM!" Sintya membentak. Matanya merah. Bukan karena sayang. Tapi karena marah dan sakit. Dia menatapnya tajam. "Kamu tau gak rasanya? Anak kandungku... dibuang di panti. Dipalak. Dihina. Sementara aku... aku sayang-sayanh kamu. Aku kasih semua yang terbaik buat anak orang!" `PLUK` Sintya buang vas bunga di meja. Pecah. Pak Hendrawan langsung berdiri. "Sudah, Mah. Cukup!" "CUKUP?! KAM

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Darah Yang Tidak Cocok

    `WIIIIINNN... WIIIIINNN...` Natasya langsung dilarikan ke IGD. Winda menunggu di luar. Cemas dia segera menghubungi Sintya. Pak Hendrawan dan Bu Sintya nyusul pake mobil, wajah pucat pasi. Dokter jaga langsung menghadang. "Keluarga pasien? Golongan darah Nona Natasya O. Butuh donor cepat. Ada yang O?" Pak Hendrawan maju. "Saya! Golongan darah saya O!" Bu Sintya juga. "Saya juga O Dok!" "Baik. Ikut ke ruang donor sekarang." 5 menit kemudian... Perawat keluar dengan wajah bingung. Bawa kertas lab. "Pak... Bu... maaf. Hasil crossmatch nya tidak ada yang cocok." `DUG` "APA! DARAH KAMI TIDAK COCOK?!" Pak Hendrawan membentak. "Bagaimana bisa?! Itu anak kandung kami!" Bu Sintya langsung lemas. Tangannya dingin. "Tidak... tidak mungkin... 20 tahun ini golongannya sama..." Rasa curiga menusuk di kepala mereka berdua. Tapi ditahan. Sekarang bukan waktunya. "Stok darah O di bank darah habis Pak Bu. Harus cari donor dari luar. Cepat!" desak dokter. Suasana IGD langs

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kecelakaan Maut

    `l"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta!"Teriakan Amira menggema, memantul di dinding pagar rumahnya sendiri yang reot. Udara sore yang tadinya tenang, mendadak terasa menyesakkan.Syaqilla terdiam. Lututnya lemas. Air matanya jatuh satu-satu tanpa suara. "Bu... aku... aku bukan boneka yang bisa Ibu jual," suaranya serak, patah-patah. "Aku manusia, Bu. Aku adalah putrimu.""MANUSIA?! Putri?!" Amira mendengus sinis, matanya melotot merah. Ia melangkah maju, jari telunjuknya menuding wajah Syaqilla. "Selama 20 tahun aku yang ngerasain capek ngurus dan biayain kamu! Aku yang ngerasain sakit! Terus sekarang giliran kamu hidup enak, mau lepas gitu aja? Bayar! 500 juta! Kalau enggak, aku umbar ke media kalau kamu anak haram!"Winda menutup mulutnya, syok. Juga geleng kepala. "Gila! Sebenarnya kau ini ibu macam apa? Bahkan tega mau menjual anak sendiri."Dari dalam mobil Alphard hitam, suara gedoran semakin keras. 'Buk buk buk!'"BUKA PINTUNYA! SYAQILLA!!" Suara Alvaro serak, pe

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kemarahan Winda

    "Mama!" pekik Alvaro syok. Sungguh ia tak mengira, kalau ternyata Mamanya tengah berada tepat di hadapannya kini. Refleks, ia ingin melindungi Syaqilla. "Syaqilla, kamu gak papa?" Seraya meraih wajah Syaqilla, hatinya teriris sedih, ikut merasakan sakit, tatkala ia melihat ada ruam kemerahan di sebelah pipinya. Ia mengusap lembut bekas tamparan keras yang diberikan oleh Mamanya tadi. "Aww!" Syaqilla tampak sedikit meringis kesakitan. Sambil tersenyum kecil, gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa kok," ucapnya berbohong. Tentu, ia merasakan sensasi panas juga sedikit perih di pipi. Namun, ia tak mau membuat Alvaro khawatir dan juga tidak ingin memperkeruh keadaan. Winda yang sudah merasa sangat geram melihat kedekatan putranya dengan Syaqilla, langsung saja memisahkan keduanya. Kasar, ia mendorong tubuh Syaqilla agar menjauh dari putra kesayangannya. "Dasar wanita jalang! Menjauh lah dari putraku!" Lagi, baik itu Syaqilla juga Alvaro kembali kaget, saat melihat tind

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Keputusan Laura

    Di tempat lain. Dalam sebuah kamar hotel. Laura yang masih tampak sangat terpukul, juga kecewa tengah menangis pilu, duduk di sofa panjang yang berada di dekat jendela. Wajahnya basah oleh air mata, hatinya merasa hancur berkeping-keping. Dalam sekejap kepercayaan terhadap suaminya telah rusak dan tidak bisa untuk diperbaiki lagi. Sengaja wanita itu memilih untuk tidak pulang ke rumah. Ia masih tidak siap dan butuh waktu untuk menerima semua kenyataan pahit ini. Dan untuk sementara, ia tidak ingin bertemu dengan lelaki yang telah menorehkan luka di hatinya kini. Natasya yang sama kecewanya, merasa tak tega melihat kesedihan Mamahnya. Dengan setia ia menemaninya, berusaha menenangkan dan memberi semua dukungan untuknya. "Mah, yang sabar, Mah! Kita harus kuat dan tidak boleh kalah dalam menghadapi semua keadaan ini. Pokoknya kita harus menang melawan wanita si pelacur itu, Mah," ucap Natasya pelan, namun tampak berapi-api merasa sangat marah dan tak terima. "Tapi, ini terlalu

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Ibu Yang Kejam

    Tamara terdiam, tidak menjawab. Dirinya bingung mau menjawab apa. Apakah harus berkata jujur, atau akan tetap membiarkan putrinya berfikiran entah seperti apa tentang dirinya. "Sudah cukup dramanya! Mending sekarang kau ikut denganku saja gadis cantik!" sahut Bramantyo tiba-tiba. Wajah sembab S

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Pelunasan Hutang

    "Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta. Aku jamin kalau dia benar-benar masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapa pun!" tandas Tamara, dengan entengnya menyebutkan nominal harga yang ia inginkan. Wanita paruh baya itu bagai sedang menawarkan suatu barang dagangan saja. Padahal, yang ia j

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Dijual Ibu

    Flashback. Di suatu malam, tepat di jam sembilan. Seorang gadis yang baru selesai bekerja, tampak sangat kelelahan. Gadis berkemeja putih dan bercelana jeans itu kini berjalan menelusuri kota. Menapaki jejak di pinggiran pertokoan. Malam yang sepi, ia terus melangkah pelan. Sambil menikmati semi

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Malaikat Penolong

    Berapa jam kemudian. Di suatu ruang bernuansa putih, dua orang paruh baya terduduk di sofa panjang, yang ada di sudut ruang. Dengan perasaan khawatir dua orang tersebut tampak cemas, menunggu seorang gadis yang kini terbaring lemas di atas pembaringan. Dua mata gadis itu tertutup rapat, masih d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status