Share

76. Kemarahan Lark.

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-06-02 23:09:23

Sementara Kael diam-diam menyaksikan dari balkon samping dan masturbasi dengan penuh amarah serta nafsu, ada satu pasang mata lain yang juga menyaksikan semuanya dari tempat yang lebih tersembunyi.

Lark. Penyihir Agung Istana, ahli sihir kuno yang paling dihormati dan ditakuti setelah Arthur sendiri. Tubuhnya tinggi kurus tapi elegan, rambut perak panjang, dan mata ungu pucat yang selalu tampak tenang dan penuh perhitungan. Ia bukan sekadar penyihir—ia adalah penjaga keseimbangan magis kerajaan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   102.

    Hantamannya berubah menjadi semakin cepat, pendek, dan bertenaga penuh. Setiap tubrukan daging kami terdengar menggema di ruangan yang hancur itu. Air mataku mengalir deras, membasahi sofa beludru saat tubuhku mencapai klimaks yang dipaksakan oleh kekerasan serangannya. Seluruh otot intiku menjepit dirinya dengan jepitan yang menjeritkan rasa sakit dan kenikmatan. "Arthur—*cukup*—aku mohon—" "Tidak ada kata cukup untuk pengkhianatanmu, Lylia," geram Arthur, rahangnya menegang dengan mata yang sepenuhnya memerah. Dengan satu raungan terakhir yang menggetarkan seluruh istana, Arthur menyentakkan pinggulnya maju dalam satu hantaman yang paling dalam, mengunci tubuhku dengan erat pada tubuh besarnya. Cairan benihnya yang sepanas lava menyembur keluar di dalam rahimku, membanjiri bagian dalam diriku dengan kepemilikan yang mutlak dan mengikat jiwaku dengan rantai tak kasat mata. Aku memekik panjang sebelum akhirnya suaraku habis, tubuhku ambruk sepenuhnya ke atas sofa, gemetar he

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   101.

    "Sopan santun?" Arthur melangkah maju. Setiap pijakan sepatunya meninggalkan bekas gosong yang membara di lantai batu. Kamar perpustakaan yang luas itu kini terasa seperti bagian dalam gunung berapi. "Kau menyentuh wanitaku di tempat aku baru saja menandainya, Lark. Kau menggunakan sihir murahanmu untuk mengotori apa yang sudah kuklaim sebagai milikku!" "Dia bukan barang pajangan yang bisa kau beri label, Yang Mulia," Lark membalas, mengangkat tongkatnya saat api hitam Arthur mulai merayap di lantai menuju ke arah sofa. "Dia memiliki potensi sihir yang—" "Aku tidak peduli dengan potensinya!" raung Arthur. *BOM!* Sebuah hantaman energi kegelapan melesat secepat kilat. Lark mengangkat perisai ungu berlapis-lapis, namun daya hancur amarah Arthur terlalu masif. Perisai itu pecah berkeping-keping dalam satu hantaman, melempar sang penyihir agung hingga menabrak rak buku besar di ujung ruangan. Buku-buku kuno berjatuhan menyelimuti tubuh Lark yang terbatuk darah, sihir ungunya mer

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   100.

    Sentuhan Lark di area paling sensitifku membuatku melengkungkan punggung seketika. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan ritme yang begitu presisi, mengusap dan menekan dengan keahlian yang hanya dimiliki oleh seorang penyihir yang memahami setiap jengkal anatomi tubuh manusia. Namun, yang membuatku hampir kehilangan akal adalah untaian sihir ungu yang mengalir dari ujung jemarinya, meresap langsung ke dalam pusat kenikmatanku. Setiap sentuhan fisiknya berlipat ganda karena manipulasi magisnya. Rasanya seperti ada jutaan aliran listrik halus yang meledak serentak di bawah kulitku, menjalar ke ujung jari kaki hingga membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. "Lark... *ah*! Tunggu... ini terlalu..." Desahanku berubah menjadi rintihan pasrah. Tanganku yang dibebaskan dari kunciannya langsung meremas bahu kokoh Lark, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang menghantam tanpa ampun. Lark tidak berhenti. Ia justru menepikan kain gaunku yang menghalangi, memberikan pandangan penuh pad

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   99.

    Sengatan dari ibu jari Lark di bibirku membuat kewarasanku berada di ujung tanduk. Aliran sihir keemasan yang baru saja bangkit di dalam dadaku tidak hanya memberikan kekuatan, tetapi juga memicu rasa lapar yang sama sekali baru. Rasa lapar yang menuntut untuk dilepaskan. Tanpa sadar, aku mencondongkan wajahku, bibirku menyapu ibu jarinya dengan napas yang terputus-putus. Mataku yang kini berpendar keemasan menatap lurus ke dalam zamrudnya yang berkilat gelap. Senyum Lark melebar, tapi kali ini bukan senyum seorang guru—melainkan senyuman seekor predator yang sangat sabar, yang akhirnya melihat mangsanya masuk sendiri ke dalam perangkap dengan sukarela. "Bagus," bisiknya, suaranya turun satu oktaf, bergetar dengan hasrat yang tak lagi ia sembunyikan. "Jangan ditahan, Lylia. Biarkan apimu menyala." Lark membuang jarak milimeter terakhir di antara kami. Bibirnya menempel di bibirku, tidak dengan agresi seperti Kael atau tuntutan mutlak seperti Arthur, melainkan dengan kelembutan yan

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   98.

    Aku menatap tangan bersarung sutra hitam itu sejenak. Ada keraguan yang mengakar, insting alami dari seorang manusia yang terjebak di istana penuh makhluk abadi yang berbahaya. Namun, mata zamrud Lark memancarkan ketenangan absolut, sebuah janji tanpa paksaan. Perlahan, kuletakkan jemariku di atas telapak tangannya. Lark tersenyum tipis, membalikkan tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan elegan. Bersamaan dengan sentuhan bibirnya, sebuah aliran energi yang sejuk dan menenangkan mengalir menyapu seluruh tubuhku. Cahaya keunguan berpendar lembut menutupi gaunku. Dalam sekejap mata, kain yang robek dan kusut itu merajut dirinya sendiri, noda-noda menghilang, dan keringat yang membuat tubuhku lengket menguap tanpa sisa. Bahkan napasku yang tadinya memburu kini terasa ringan. Aku menatap gaunku yang kembali sempurna dengan takjub. "Bagaimana..." "Sihir restorasi dasar," sahut Lark santai, melepaskan tanganku dan melangkah mundur untuk memberiku ruang turun dari meja kayu terseb

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   97.

    Tatapan zamrud Lark mengunci mataku, menembus jauh ke dalam seolah ia sedang menguraikan setiap rahasia yang kusembunyikan di balik tulang rusukku. Sihirnya yang mengalir tanpa sentuhan fisik itu benar-benar luar biasa; ia tidak memaksakan kehendak seperti Arthur, tidak menuntut seperti Kael, melainkan *merayu* tubuhku untuk menyerah dengan sendirinya. Setiap kali jarinya bergerak melukis rune tak kasat mata di udara, gelombang kenikmatan yang halus namun tajam menjalar di sepanjang tulang belakangku. Kakiku melemah. Napasku terputus-putus, terjebak di tenggorokan saat kehangatan magis itu menyentuh titik-titik sensitif yang bahkan belum sempat dieksplorasi oleh Arthur maupun Kael. "Hentikan sihirmu, Lark!" raung Kael. Suhu ruangan tiba-tiba anjlok drastis. Bunga es merambat cepat dari ujung sepatu Kael, membekukan lantai batu perpustakaan dan menjalar ke kaki meja tempatku bersandar. Aura dinginnya memecahkan dinding udara Lark seperti kaca yang dihantam palu besi. Dalam sekejap,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status