Share

Pusat Perhatian

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 14:52:36

Iris nyaris tersandung saat mereka keluar dari lift dan tiba di lantai ballroom. Menjauh dari kilatan kamera yang berada di pelataran hotel. Efeknya masih terasa dan membuat penglihatannya sedikit kabur.

Silas tidak membantu. Tidak bertanya keadaannya, bahkan malah menariknya. Berjalan di lorong.

Iris mengimbangi langkahnya. Berjalan menuju foyer. Keadaan di sana lebih tenang. Tidak berisik dan tidak sekacau di bawah. Dia bisa melihat beberapa pria berseragam rapi di depan double door ruang b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menahan Diri

    "Kau akan mati hari ini."Wajah Iris memucat. Matanya terbelalak saat dia melihat Silas berdiri di depannya sambil memegang pedang. Sementara dirinya membungkuk di tanah, tepat di pinggir jurang tanpa dasar. Tidak ada siapa pun selain dia dan Silas. Hanya angin malam dingin dan pohon besar yang menakutkan menjadi saksi. Pria itu berdiri tepat di bawah sinar bulan dan tersenyum seakan menikmati ketakutannya. Iris tidak bisa menahan rasa sesak dan takut luar biasa. "J-jangan. Biarkan aku hidup. Tolong," pintanya dengan suara tercekat, tapi semakin dia memohon, senyum pria itu semakin lebar. Pedang ditarik pelan dan diayunkan ke arahnya. Menembus tepat di jantungnya. "Terlambat. Kau tidak berguna."Iris hanya terpaku melihat darah menetes di dadanya. Dia menatap pria itu lagi, tapi yang dilihatnya bukanlah wajah. Melainkan sebuah sepatu yang mendorong tubuhnya melayang jatuh ke dalam jurang gelap tanpa ujung. "TIDAKK!"Iris menjerit sejadi-jadinya dan terduduk dengan mata melotot. N

  • Tertawan oleh Don Mafia   Konsekuensi

    Pagi itu, Iris sarapan seorang diri di ruang tengah. Tidak ada yang menemaninya dan dia masih ragu untuk pergi ke ruang makan. Meski tidak ada Silas di sana. Pria itu pergi dan datang seperti hantu, tanpa bisa Iris prediksi. Tidak ada satu orang pun di manor yang tahu dengan pasti ke mana atau jam berapa dia kembali. Dia tidak tahu harus menyebutnya kutukan atau berkah saat Silas tidak ada, karena suasana manor tetap tidak berubah. Aroma khas pria itu masih terendus di setiap penjuru ruangan. “Nona, dokter akan datang sebentar lagi untuk memeriksa Anda.”Suara pelayan membuyarkan lamunan Iris. Dia menoleh. Menghentikan sejenak kegiatan makannya. Ini sudah hampir tiga bulan dan mungkin belum sebulan sejak Silas memindahkannya dari ruang bawah tanah, tapi dokter datang hampir setiap hari. Sekali pun Iris tidak pernah paham apa yang ada di kepala Silas. Setelah membuat tubuhnya memar dan mentalnya drop berkali-kali, pria itu membiarkan dokter datang untuk menyembuhkannya. Seakan dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Ejekan atau Motivasi?

    Mobil yang dikendarai Elliot akhirnya tiba dengan selamat di manor. Meski badan mobil terlihat lecet, entah oleh tembakan atau bekas tabrakan. Namun jelas ada bagian yang sedikit penyok. Beberapa penjaga yang ada di sana mendekat. Pelayan yang juga menyambut di pintu ikut tertarik saat Silas keluar, disusul oleh Iris. Wajahnya pucat. Jalannya sempoyongan. Kepalanya masih berputar akibat cara menyetir Elliot yang ekstrem dan kegilaan yang dilakukan Silas. Iris merasa nyawanya melayang. Sejenak dia lupa cara bernapas. Bahkan tidak sadar akan jatuh, jika Silas tidak menahannya. “Kau sangat lemah.” Iris yang masih lemas dan nyaris tidak ada tenaga, mendadak seolah mendapat kekuatan ketika mendengar perkataan Silas. Tubuhnya kembali berdiri. Tegak, meski kakinya masih goyah. Dia menyingkirkan tangan Silas dan mendongak. Menatap wajah pria itu yang sialnya masih menawan meski setelah semua kekacauan terjadi. Tidak ada tanda-tanda lelah di wajahnya. Hanya jejak darah di area

  • Tertawan oleh Don Mafia    Keadaan Terdesak

    Tidak ada yang bisa Iris lakukan sekarang selain mengikuti langkah Silas menuju tangga darurat. Mereka turun dari lantai lima, dengan setiap langkah yang terasa berat. Kakinya masih gemetar gara-gara kejadian sebelumnya. Jantungnya memompa darah lebih cepat. “Siapa sebenarnya mereka? Apa kau punya musuh? Mereka banyak.” “Sstt.”Iris refleks menutup mulutnya rapat-rapat dan menahan napas saat melihat di bawah. Di sana ternyata ada beberapa pria yang telah berjaga. Tujuh orang. Mereka berpakaian sama dan membawa senjata. Hanya saja mereka dalam posisi membelakangi, tampak tak menyadari kehadirannya. Sialnya, Iris yang berusaha berjalan hati-hati malah jatuh dan cukup menimbulkan suara yang membuat orang-orang itu menoleh. Pistol diarahkan pada mereka, tapi sebelum pelatuknya ditarik, Silas bergerak menendang salah satu dari mereka yang membuat beberapa orang di belakangnya ikut jatuh. Pistol berputar di tangannya dan suara tembakan yang cepat tak terhindarkan. Mereka mati tanpa sem

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekacauan di Tengah Pesta

    Gala amal terus berjalan, setelah insiden di mana Iris berniat mempermalukan Silas gagal total. Semua kembali tenang seolah tak terjadi apa pun, kecuali Iris yang kini duduk pasrah di sebelah Silas.Dia memandang lurus ke depan, bukan karena acara yang menarik, tapi karena rasa syok yang masih membekas. Tidak terdengar suara yang menggunjingnya lagi atau tatapan mengganggu seperti sebelumnya. Semuanya berkurang, tapi dia tidak pernah benar-benar merasa keadaan menjadi lebih baik. Perutnya bahkan terasa penuh. Dia makan terlalu banyak dari yang seharusnya. Iris ingin ini berakhir lebih cepat, tapi tampaknya acara masih lama. Dia menyaksikan MC turun dan seorang musisi naik. Suara musik berubah. Temponya melambat, lebih lembut dan lampu perlahan redup.Beberapa pasangan mulai berdiri. Melangkah ke lantai tengah tanpa aba-aba. Percakapan masih berjalan, tapi beberapa orang kini mulai bergerak mengikuti irama. “Tanganmu.”Iris berkedip saat suara di sebelahnya memecah fokus. Dia menole

  • Tertawan oleh Don Mafia   Mengikuti Permainan

    “Bajingan itu, dia meninggalkanku seenaknya. Dia pasti sengaja ingin membuatku jadi makanan mereka.”Iria bergumam sambil menggerutu dalam salah satu bilik kamar mandi. Dia melarikan diri karena malas terus menjadi pusat perhatian, apalagi menjadi bahan gosip. Dia ingin sekali kabur sejauh mungkin. Oh--haruskah dia melakukannya sekarang? Saat Silas tidak ada?Batinnya bergelut. Ini jelas kesempatan baginya, tapi di sisi lain dia juga takut jika Silas mengancam panti. Apalagi koneksinya yang tak main-main dengan seorang menteri, membuat posisi Iris semakin sulit. Sialnya, Silas juga bukan orang mudah ditebak dan dia tidak pernah tahu kapan pria itu akan meledak. “Sial.” Iris mengerang dan mengusap wajahnya. Dia duduk di closet. Mencoba memilih berlama-lama di sana dari pada kembali ke ballroom. Namun sayangnya, keheningan kamar mandi itu terganggu saat terdengar suara langkah dan tawa kecil beberapa wanita. “Pestanya tidak buruk. Ini lebih menarik dari yang kuduga.”“Kau benar. Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status