Compartir

Wanita Silas

last update Fecha de publicación: 2026-05-12 13:28:25

Matahari pagi masih bersinar cerah, terang, saat Iris menyibak tirai jendela dan membiarkan sinarnya masuk. Namun entah mengapa, pemandangan itu seolah mengejeknya. Cuaca hari ini berlawanan dengan suasana hatinya.

Iris melamun sesaat. Menatap keadaan di luar yang begitu tenang. Suara burung bernyanyi. Dia terpaku sampai ketukan pintu terdengar. Tanpa menoleh, dia mendengar suara pelayan.

"Nona, sarapan sudah siap. Apa Anda ingin makan di sini atau—"

"Aku akan ke bawah."

Iris menoleh. Dia mel
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tertawan oleh Don Mafia   Terus Waspada

    Pagi itu, Iris telah bangun lebih dulu dibanding Lona. Dia telah selesai menyiapkan sarapan dengan beberapa bahan yang ditemukannya di kulkas. Membersihkan apartemen, termasuk mengecek jendela dan area balkon. Dia terlalu sibuk. Hingga tidak menyadari Lona telah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"Iris yang sedang fokus memeriksa jendela, seketika terkejut. Dia menoleh cepat menatap Lona. "Ah, kau. Aku hanya memeriksa apakah jendela ini kokoh atau tidak. Apakah kuncinya ini masih berfungsi atau tidak?"Perkataan Iris terdengar aneh di telinga Lona. Kerutan samar terlihat menghiasi dahinya. Dia mendekat dengan senyum kecil. "Tentu saja kokoh. Pertanyaanmu aneh sekali."Iris menghembuskan napas kasar. "Aku hanya takut ada orang asing yang memanjat masuk.""Orang asing? Iris, aku sudah tiga tahun di apartemen ini. Meski tempat ini murah, tapi hampir tidak ada kejadian seperti itu."Lona tertawa kecil sembari menggeleng, seol

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Sama Lagi

    Beberapa saat setelah luapan kekesalan Iris dan pelukan menenangkan Lona, mereka kini duduk satu meja sambil makan malam bersama. Lona tidak lagi membahas soal kejadian sebelumnya atau mengomeli Iris lagi. Sedangkan Iris, dia kini menyantap makanannya dengan lahap. Menikmati makanan itu seperti orang yang belum makan tiga hari. Sampai Lona menatapnya sedikit aneh. "Pelan-pelan, kau seperti belum makan seminggu."Iris tidak berhenti mengunyah. "Masakanmu enak, Lona. Aku merindukannya.""Ckck, apa itu pujian atau kau memang lapar?"Iris tidak menjawab. Dia hanya nyengir. Tak dipungkiri, dia memang kelaparan setelah melarikan diri dari pelabuhan. Iris naik kendaraan umum dari sisa perhiasan yang menempel di tubuhnya, dan uang yang tertinggal di saku bajunya. Sisanya, Iris harus jalan kaki saat berpindah-pindah untuk mengirit ongkos perjalanan yang memang jauh. Beruntung, dia bisa sampai tanpa harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. "Ngomong-ngomong, kau sudah kembali, kau akan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Siapa yang Gila?

    "Aku senang kau masih di sini, Lona."Iris mendongak. Menatap langit-langit ruangan yang tak asing dalam ingatannya. Dia berjalan menyusuri apartemen sederhana temannya. Sementara Lona muncul sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas minuman. Dia meletakkan nampan itu di meja sambil mengamati punggung temannya yang dulu tiba-tiba menghilang. "Aku masih tidak percaya kau ada di sini."Iris membalikkan badannya saat mendengar suara temannya. Dia tersenyum kecil. Senyum yang tampak lega, yang nyaris tidak pernah terlihat saat bersama Silas. Kakinya mendekat. Melangkah dan duduk di sofa tua, di mana Lona juga duduk di hadapannya. Iris mengambil minuman itu tanpa sungkan. Menikmati kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dirinya dulu. "Aku juga. Aku... aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi."Suaranya melemah. Iris meletakkan gelasnya kembali. Menatap mata Lona yang tidak menunjukkan senyum sama sekali sejak tadi. Ekspresi temannya tampak serius dan sedikit te

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diizinkan Pergi

    Suara memelas Iris membuat Viviane dn Sebastian saling memandang. Keduanya tampak berkomunikasi lewat gerakan mata. Menatap tubuh Iris yang menunduk pasrah. Tampak kecil dan rapuh, seolah tidak memiliki harapan selain bebas. "Pergilah." Satu kalimat singkat keluar dari bibir Vivienne. Memecah kesunyian dan ketegangan di ruang tengah. Hingga ucapan itu berhasil menyentak Iris. Memaksanya kembali mengangkat wajah. Mata Iris membulat. Ada ketidakpercayaan yang sekilas terlihat. Dia mematung. Namun sebelum satu kata keluar dari mulutnya, Sebastian menyela, "Jangan gegabah, Vivienne. Silas tidak akan senang. Iris juga saksi kejadian.""Ada banyak saksi di sana, bukan hanya dia dan Silas tidak ada sekarang," jelas Vivienne sambil melirik suaminya yang tidak setuju. Ekspresi gusar terlihat di wajah keriput Sebastian. "Vivienne—""Apa yang kau tunggu? Kau ingin bebas kan? Pergilah sekarang."Iris terperanjat saat tatapan Vivienne tertuju kembali padanya. Wanita paruh baya itu mengambil m

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Ingin Terlibat

    Ruang tengah diselimuti hawa dingin. Bukan karena AC yang menyala, tapi karena tatapan dua orang yang kini duduk di hadapan Iris. Tidak ada siapa pun lagi di rumah itu. Hanya mereka bertiga. Tubuh Iris sedikit kaku di sofa. Dia nyaris tidak bergerak, sosial gerakan sedikit saja, bisa membuatnya mati. Namun diam-diam, matanya melirik sepasang suami istri paruh baya yang tidak asing. Orang yang ingin Iris hindari sejauh mungkin dan berharap tidak bertemu lagi. Sebastian dan Vivienne. Mereka adalah orang tua Silas yang sebelumnya Iris kira adalah Silas dan Dominic. Sialnya karena mereka telah melihatnya, dia harus terjebak untuk menjamu mereka. Meski sejak lima belas menit berlalu, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kedua orang di depannya juga tidak membuka mulut. Hanya diam menatap menatapnya dengan penuh penilaian. Iris tidak tahu niat mereka, tapi kini, dia merasa seolah duduk di atas kursi panas, di bawah tuntutan hakim. Hingga untunglah, terdengar suara langka

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pertemuan Kembali

    Dua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status