Home / Mafia / Tertawan oleh Don Mafia / Keadaan Terdesak

Share

Keadaan Terdesak

last update publish date: 2026-05-16 20:23:02

Tidak ada yang bisa Iris lakukan sekarang selain mengikuti langkah Silas menuju tangga darurat. Mereka turun dari lantai lima, dengan setiap langkah yang terasa berat. Kakinya masih gemetar gara-gara kejadian sebelumnya. Jantungnya memompa darah lebih cepat.

“Siapa sebenarnya mereka? Apa kau punya musuh? Mereka banyak.”

“Sstt.”

Iris refleks menutup mulutnya rapat-rapat dan menahan napas saat melihat di bawah. Di sana ternyata ada beberapa pria yang telah berjaga. Tujuh orang. Mereka berpakaia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memilih Jalan Takdir

    "Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Berawal darimu

    "Kau harus menjelaskan semuanya."Iris tidak berhenti bicara. Dia menuntut jawaban dari Silas atas berita yang baru didengarnya. Meski sepanjang perjalanan, pria itu memilih bungkam. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di manor, Silas masih tetap tidak bicara. Iris harus menahan gelisah saat dirinya digendong dan dipindahkan oleh pria itu. "Silas!""Penjelasan apa? Kau sudah mendengar semuanya," jawab Silas sambil mendorong kursi roda Iris untuk masuk. Suasana di manor tampak hening dan sepi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tapi langkah Silas tidak berhenti. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar Iris. "Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."Iris berusaha memutar kursi rodanya untuk menghadap pria itu. Matanya menatap dengan rasa gelisah yang tidak bisa lenyap. "Kau baru saja menantang mereka. Kau membuat masalah. Bagaimana kalau mereka semakin berniat menargetkanku? Kau membuatku dalam bahaya!""Mereka tidak akan bisa menyentuhmu sekarang."Iris mendengkus kasar dan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Salahmu

    Iris mendongak. Dia mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya. Matanya menatap ibu Lona dengan sedih. Tangannya terulur untuk menggapai."Tante—"Belum sempat melengkapi kalimatnya, tangan Iris ditepis kasar. Tubuhnya yang tidak siap dengan penolakan itu, seketika goyah. Hingga buket bunga yang digenggamnya terjatuh. "Pergi dari sini!"Iris terhenyak ketika ibu Lona tiba-tiba membentaknya. Dia bisa menyaksikan ekspresi marah dan tidak senang di sana. Sesaat, mulutnya hanya bisa terkatup.Dia sadar jika dirinya penyebab kematian Lona, tapi kedatangannya memiliki niat baik. "T-tante, tolong izinkan aku melihat Lona untuk terakhir kalinya." Iris mengiba. Dia kembali mencoba meminta izin untuk mengikuti acara pemakaman Lona. Ekspresi wajahnya yang keras, tidak berubah. Ibu Lona tampak memandang marah pada Iris. Dia bukan tidak tahu jika Iris telah bersama putrinya beberapa hari terakhir. Lona pernah bercerita soal Iris yang muncul kembali setelah menghilang berbulan-bulan. Bahkan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Satu-satunya?

    "Nona, itu tidak—""Aku akan mengantarmu."Suara lain menyela, tepat ketika Elliot hendak menolak keinginan Iris. Pintu ruangan terbuka semakin lebar dan di sana, Silas muncul bersama dengan dokter di belakangnya. Elliot seketika segera bergeser. Memberi ruang bagi Silas untuk mendekat. "Tuan, bukankah Nona sedang sakit?"Silas melirik Elliot sekilas. Lalu beralih cepat pada dokter yang segera berdehem pelan. "Anda benar, Sir Elliot. Kondisi Nona Iris memang tidak memungkinkan untuk berkeliaran bebas. Apalagi berjalan terlalu jauh."Iris menatap sang dokter dengan pandangan tidak setuju. Dia hendak mengeluarkan protes, tapi dokter kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi itu bisa diatasi jika Nona tidak perlu berjalan. Saya sudah menduga hal ini, dan untunglah kursi roda telah tersedia untuk digunakan."Elliot mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobil dan—""Tidak perlu." Silas segera memotong sebelum Elliot sempat pergi. Hingga langkah pria itu tertahan di tempat.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kepedulian?

    "Ini adalah ancaman. Seseorang telah mengusik keluarga kami dan bertindak seenaknya. Kami tidak bisa tinggal diam!"Suara seorang pria terdengar jelas di layar televisi. Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Kamera kemudian beralih, memperlihatkan beberapa video yang diambil di area gerbang kediaman Valenfort dari beberapa titik berbeda. Namun karena dianggap terlalu sadis, beberapa bagian dari video tampak disensor. Tidak ada yang tahu apa itu, jika pembawa acara tidak menjelaskannya. "Mereka langsung mengangkat ini menjadi drama," ucap Elliot, setelah menonton siaran berita sore itu. Penemuan tiga kepala yang ditancapkan di ujung gerbang kediaman Valenfort berhasil membuat heboh publik. Kemarahan mereka, terutama tuan muda Raphael terdengar sangat keras di layar TV. Berita mereka bahkan segera menggeser kasus kematian Lona dengan cepat. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan? Sepertinya mereka tahu itu Anda."Elliot menoleh dan mendapati Silas yang ternyata malah as

  • Tertawan oleh Don Mafia   Terganggu?

    "Anda terlihat kurus. Anda tidak makan dengan benar, Nona." Iris hanya diam mendengar perkataan Berta. Dia mengunyah makanan yang telah dilembutkan oleh pelayan itu. Rasanya hambar. Membuatnya sama sekali tidak berselera makan, tapi dia telah kelaparan. Air matanya sendiri telah surut. Hanya jejak-jejaknya yang masih tersisa di kedua pipinya yang penuh luka. "Wajah Anda juga lebam. Anda seperti habis berkelahi." Dia menarik napas sambil terus mengunyah. Perkataan Berta mengingatkannya pada orang yang telah memukulnya. Dia tidak tahu seperti apa penampilannya, hanya memang wajahnya sedikit sakit. "Aku dipukul, bukan berkelahi. Apa aku terlihat jelek?" Berta tidak menjawab. Hanya segera mengeluarkan cermin kecil dan memperlihatkannya pada Iris. Saat itulah, dia melihat salah satu pipinya bengkak dan tepat di dekat pelipis, ada warna keunguan. Sementara yang lainnya tampak hanya lecet. Sial. Iris sangat jelek sekarang. Wajahnya benar-benar tidak seperti sebelumnya. "Ternyat

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status