Share

Keadaan Terdesak

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-05-16 20:23:02

Tidak ada yang bisa Iris lakukan sekarang selain mengikuti langkah Silas menuju tangga darurat. Mereka turun dari lantai lima, dengan setiap langkah yang terasa berat. Kakinya masih gemetar gara-gara kejadian sebelumnya. Jantungnya memompa darah lebih cepat.

“Siapa sebenarnya mereka? Apa kau punya musuh? Mereka banyak.”

“Sstt.”

Iris refleks menutup mulutnya rapat-rapat dan menahan napas saat melihat di bawah. Di sana ternyata ada beberapa pria yang telah berjaga. Tujuh orang. Mereka berpakaia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Masih Tidak Terima

    "Akhirnya kau mengaku."Kemarahan Iris yang sudah mencapai puncak, seketika teredam ketika telinganya menangkap ucapan santai Silas. Tangannya membeku di kerah baju pria itu tanpa bergerak sedikit pun. Dia seolah tertampar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Wajahnya berubah pucat. Pegangan tangannya mengendur. Walau rahangnya yang menegang sama sekali tidak berubah. Dia menatap wajah Silas yang tampak menyeringai angkuh. Seolah akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Iris menurunkan tangannya kasar dan mengepal kuat. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Tidak bisa lagi membantah jika dia telah meracuni teh milik Silas. "Tidak usah basa-basi. Kau sudah tahu sejak awal aku mau meracunimu! Kau mau membunuhku?! Silakan!"Iris mendekat sambil mengangkat dagunya ke atas. Posisinya itu membuatnya sejajar dengan Silas. Dia menantang Silas. Meski tubuhnya sendiri terlihat sedikit gemeter. Ada rasa takut yang coba dia sembunyikan setelah ketahuan berniat jahat. Sayangnya, Silas terlalu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Harusnya Kau yang Mati

    "Nona, uhukkh—" "Berta, bersabarlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku janji." Iris bicara dengan suara bergetar dan mata yang buram oleh air mata. Dia masih memeluk Berta. Lalu beralih menatap marah penjaga gerbang yang menolak membukakan pintu. Sumpah serapah sudah siap meluncur dari mulutnya, tapi tangan lemah Berta menahannya. Seketika, dia kembali menatap wanita tua itu yang menggeleng. Wajah Berta tampak mulai memucat, tapi genggaman tangan itu masih terasa kuat. Sekilas, Iris mendapatinya tersenyum lemah. "T-terima kasih... hhhh... saya senang bisa bersama Anda, Nona." "Apa yang kau bicarakan, Berta? Ini bukan saatnya—" "Saya ... menyayangi Anda...." Berta tersenyum tipis. Mata tuanya menatap lekat Iris. Lama, tanpa berkedip. Keheningan terasa setelah Berta tak lagi berkata. Iris diam beberapa saat karena bingung. Lalu melirik dua pelayan yang berdiri di sampingnya. Mereka sama bingungnya. Hingga akhirnya, Iris mengguncang tubuh Berta dan ketika itulah dia meli

  • Tertawan oleh Don Mafia   Senjata Makan Tuan

    Kejadian yang begitu cepat membuat semua orang di sana terperanjat. Termasuk para pelayan yang melihat Berta tiba-tiba muntah.Iris terus mengguncang tubuh Berta, tetapi keadaan wanita itu justru semakin memburuk. Air mata mengalir tanpa disadarinya. Dia berusaha menyadarkan Berta.“Berta! Berta, bertahanlah!” pekik Iris nyaring.Suaranya memenuhi ruang makan dan membuat dua pelayan yang masih terpaku segera tersadar. Keduanya bergegas mendekat, membantu menopang tubuh Berta yang dipeluk Iris, lalu mendudukkannya di sebuah kursi.“Nona, kenapa Berta seperti ini? Apa yang terjadi?”Iris tidak menjawab. Bahkan, dia tidak menoleh sedikit pun. Fokusnya hanya tertuju pada Berta. Tangannya gemetar, sementara pandangannya buram dan wajahnya semakin pucat.Silas sendiri masih bergeming. Dia tidak menunjukkan keterkejutan ataupun rasa iba. Dia juga tidak mendekat atau sekadar bertanya apa yang terjadi, seolah sudah mengetahui semuanya.Iris yang sedari tadi terisak akhirnya mengangkat kepala.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Rencana yang Berantakan

    Wajah Iris berubah kaku. Dia melirik meja gelisah, lalu kembali menatap Silas. "Semua teh sama saja. Tidak ada yang berbeda. Hidungmu mungkin yang bermasalah."Iris menjawab dengan nada sedikit ketus. Dia meraih gelasnya sendiri dan menyesap teh miliknya, seolah menunjukkan kalau Silas terlalu berlebihan. Namun mata biru itu masih menatapnya. Membuat Iris sedikit gelisah. Hingga tanpa diduga, sebuah tangan meraih gelas yang baru diletakkan olehnya. Iris terkesiap saat melihat Silas mengendus gelas tersebut dan meletakkannya beberapa saat kemudian. "Ini berbeda. Tidak sama."Pupil matanya melebar. Wajahnya berubah lebih pucat. Iris menelan ludah saat matanya bertatapan dengan Silas. "Tidak sama apanya?! Itu sama! Itu teh baru yang bahkan baru dibuka." Iris mengalihkan pandangannya dari Silas ke arah para pelayan di belakangnya. Ketiganya yang menyadari tatapan Iris, seketika mengangkat kepala mereka. Begitu pun dengan Berta yang akhirnya angkat suara. "Maaf jika saya lancang, tap

  • Tertawan oleh Don Mafia   Teh Buatan Iris

    Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Para pelayan sedang menyiapkan makan malam seperti biasa, termasuk Berta yang ikut serta memasak di dapur. Ada sekitar tiga orang di sana. Semuanya sibuk dengan bagian masing-masing. Sampai ketika Iris melangkah masuk, tidak ada yang menyadarinya sama sekali. "Apa masakan sudah beres?" tanya Iris yang mendekat. Membuat ketiga pelayan termasuk Berta, seketika menoleh serempak. "Belum, Nona. Apa Anda sudah lapar?" Iris menggeleng pelan. "Tidak, Berta. Aku... hanya ingin membantu. Apa Silas sudah pulang?" Ketiga pelayan itu saling melirik, sebelum akhirnya Berta menggeleng. "Tuan sepertinya masih di perjalanan. Kami belum mendengar mobilnya." "Baguslah." Iris mengangguk paham. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Menarik perhatian tiga pelayan itu. "Bagus? Maksud Anda?" Seolah tersadar, senyum Iris lenyap. Ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi santai. Dia mendekati ketiganya. "Bagus karena aku bisa membantu kalian. Apa ya

  • Tertawan oleh Don Mafia    Jangan Terlalu Baik

    Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status