MasukDua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.
Perjalanan pulang ke wilayah pelabuhan benar-benar tidak menyenangkan. Iris mengalami hangover cukup parah karena baru pertama kali meminum alkohol dan ternyata tubuhnya menolak. Sepanjang perjalanan, dia hanya mampu bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Kepalanya masih berdenyut, meski sudah lebih baik setelah dia minum obat. Ketika mobil yang dikendarai Silas perlahan mendekati area gerbang rumah besar, Iris menghela napas lega. Dia ingin kembali tidur. Meski dia tahu jika matahari sudah mulai naik. Namun saat mobilnya berhenti di pelataran rumah, Iris yang mengangkat kepalanya dan hendak keluar, melihat Dominic yang tampak bergegas mendekati mobil. Termasuk beberapa staf rumah yang berkumpul, tapi ada yang berbeda kali ini. Iris tidak melihat mereka seperti hendak menyambut kedatangan Silas. Wajah mereka gelisah. Dominic juga terlihat lebih pucat. Pintu di sebelahnya dibuka pelan, dan seketika langsung menghentikan pengamatan Iris. Sebelum akhirnya d
Beberapa jam kemudian. Silas berjalan di lorong usai melakukan pemeriksaan bersama dengan Victor. Lorong itu sepi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar. "Apa dia akan baik-baik saja?" Victor melirik ke arah Silas. Namun pria yang dilirik itu hanya terus berjalan. Tidak sedikit pun melambatkan langkahnya. "Siapa?""Iris. Kau tahu dengan jelas CCTV itu rusak."Langkah Silas terhenti. Kali ini, perkataan Victor berhasil membuatnya menoleh. "Lalu?""Kau berbohong."Silas berkedip. Ada jeda sesaat, sebelum dia akhirnya melanjutkan langkahnya lagi. "Aku hanya mengatakan ada CCTV di sana."Victor tersentak. Tubuhnya langsung membeku. Diam menatap punggung Silas yang mulai menjauh. Sebelum akhirnya, senyum tipis tersungging di bibir keriputnya. Kakinya kembali melangkah sejajar dengan pria itu. "Aku dengar dari Elliot, dia pernah berniat mencuri sesuatu di ruangan Dominic dan kau mengampuninya.""Ya."Kerutan di kening keriput Victor semakin jelas terlihat. Matanya melir
Tak. Dua buah gelas minuman diletakkan Victor tepat di depan Iris dan Silas. Gelas itu berisi cairan berwarna merah yang Iris langsung tahu jika itu adalah wine. Dia tidak mengambilnya sama sekali, saat Silas dan Victor tampak dengan santai menenggaknya. "Maaf, aku tidak minum alkohol," ucap Iris saat Victor meliriknya dan gelas yang tak tersentuh di meja secara bergantian. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil jus—""Tidak usah."Iris spontan menggelengkan kepalanya saat Victor hendak memanggil anak buahnya yang berada di balik pintu ruangan. Membuat pria itu kembali menatapnya. "Aku tidak haus."Mata Victor bertahan beberapa detik padanya, sebelum akhirnya pria itu mengangguk. Membiarkan suasana canggung mengisi ruang kerja miliknya. Tidak seperti Dominic yang sangat ekspresif, Victor lebih tenang seperti Marcus. Hingga rasanya, Iris seperti terjebak oleh situasi, meski sebenarnya ini jauh lebih baik dibanding apa yang terjadi sebelu
"Awas!"Iris refleks berteriak. Tangannya mengambang di udara, tapi sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi selanjutnya, sebuah tendangan mendarat tepat di dada pria yang hendak memukul Silas. Tubuh itu seketika terjengkang dan membentur sebuah mesin permainan di belakangnya. Botol minuman meluncur dari tangannya dan pecah di lantai. Mulutnya tampak menyembur mengeluarkan darah, tapi pria itu masih sadar. Iris terkesiap. Tengkuknya langsung merinding dan matanya seketika tertuju pada Silas, pelaku yang menendang pria tadi. Suasana di kasino itu juga mendadak hening. Iris tidak sempat memerhatikan sekeliling, karena matanya dibuat terpaku pada cara Silas yang mencoba menghentikan kekacauan, dengan membuat kekacauan yang lebih besar. "Uhuk! KAU! BAJINGAN SIALAN!" Pria yang ditendang Silas batuk darah, tapi tetap berusaha berdiri sambil dibantu dua pengawalnya. Suasana kini tidak lagi terasa kondusif. Kemarahan pria tadi, tidak lagi tertuju pada permainan yang dianggapnya curang
"Huh?"Iris berkedip. Dia terbengong dan mendadak berhenti. Kepalanya kembali menoleh ke belakang untuk melihat wanita tadi sudah tidak ada. Lalu dia melihat wanita lainnya yang sudah sibuk dengan pria yang memangkunya. Matanya mengamati penampilan mereka yang sangat terbuka. Tampak memalukan untuk dilihat. "Kau mucikari? Kau menjalankan bisnis prostitusi?" tanya Iris, yang kini perhatiannya kembali tertuju pada Silas. Pria ikut berhenti dan meliriknya. "Mereka membutuhkan pekerjaan."Mulut Iris seketika tekunci rapat. Dia menatap Silas dengan wajah tak percaya yang bercampur kaget. "Menjadi pelacur adalah pekerjaan bagimu? Kau mengeksploitasi mereka, kau sadar?" Suara Iris terdengar lebih seperti bisikan, tapi penuh penekanan. Rahangnya tampak menegang karena kesal dengan apa yang dikatakan Silas. Selain menjijikkan, baginya itu adalah hal yang paling tidak bermoral dan merendahkan bagi seorang wanita. Namun Silas justru dengan santai menariknya dan kembali melanjutkan langkahny
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”







