MasukSerina berjalan gontai keluar dari ruangan Damar. Ucapan dari Damar cukup menampar Serina. Pria itu seolah ingin menunjukkan jika dirinya bukanlah pelakunya. Dari nada bicara Damar, tak sedikitpun menunjukkan keraguan.
Serina hampir percaya dengan itu. Tapi, Serina juga tak bisa mengabaikan firasatnya. Jelas sekali, jika Damar yang berdiri di belakangnya. Jika bukan Damar, lalu siapa yang melakukannya? Apa benar pria tua itu? Entahlah, sampai saat ini, Serina masih meyakini jika Damar lah pelakunya. “Apa aku yang salah? Bagaimana jika Pak Damar bukan pelakunya? Lebih baik aku tidak mengusiknya lagi." Ketakutan Serina terhadap ancaman Damar tadi, jelas memunculkan rasa waspada dalam diri Serina. Bagaimana jika Damar serius dengan ancamannya? Sungguh, Serina tak mau menjadi penghuni sel di usianya yang masih sangat muda. Serina terus memikirkan hal ini hingga membuatnya tidak fokus mengikuti sisa perkuliahannya hari ini. Serina lebih banyak bengong di kelas karena bayangan wajah Damar terus berputar-putar di kepalanya. “Bareng yuk!” ajak Ajeng ketika mereka hendak pulang. “Tidak. Aku pulang sendiri saja.” “Ih, ayo dong bareng. Aku akan antar kamu sampai rumah.” Desakan dari Ajeng tak merubah keputusan Serina. “Tidak usah. Rumah kamu bahkan berlawanan arah denganku. Aku tidak mau merepotkan mu terus-terusan. Lagipula, aku harus mampir ke pangkalan ojek untuk menemui bang Beni.” Mendengar penolakan itu, tentu saja mengecewakan untuk Ajeng. Tapi, ia hargai keputusan Serina. “Ya sudah. Aku pulang duluan. Sampai bertemu besok.” Tangan Serina melambaikan ketika mereka berpisah di loby fakultas. Serina kemudian bergegas juga untuk pulang dan kali ini ia memutuskan untuk naik ojek. Ia harus menemui sang kakak yang sudah tak pulang selama tiga hari. “Berhenti di pangkalan ojek ya, Bang.” pinta Serina kepada driver ojek yang membawanya. “Iya, Mbak.” Driver itu menghentikan motornya tepat di dekat pangkalan ojek yang ada di dekat pasar. “Terimakasih, Bang.” “Sama-sama.” Serina tak langsung kesana. Ia mengamati apakah Beni sang kakak memang berada disana atau tidak. Dan setelah memastikan jika Beni ada, barulah Serina berani mendekat. “Bang Beni.” panggilnya tanpa basa-basi. “Serina.” Beni yang tengah duduk berdua dengan temannya disana pun terkejut sekali dengan kedatangan adik semata wayangnya itu. Beni langsung membuang putung rokoknya yang masih menyala dan turun dari gardu itu. “Apa yang kamu lakukan disini?" “Aku ingin mengajak abang pulang.” “Tidak. Aku tidak akan pulang.” “Kenapa? Kasihan Bapak sama ibu, Bang. Sejak, kepergian Abang, asma Bapak sering kumat.” Serina seolah ingin membuka mata Beni. Serina tahu jika hubungan Beni dan orang tuanya sedang tak akur ketika Beni ketahuan memiliki banyak hutang kepada rentenir. Gara-gara judi online, Beni sampai rela berhutang pada lintah darat tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dan tentu saja, hutang yang semula tak seberapa berubah menjadi menggunung karena bunganya yang sangat besar. Beberapa hari lalu, rentenir itu datang dan mengancam Beni akan menyita rumah yang mereka tempati saat ini. Dari situlah, Farah dan Surya baru tahu kalau Beni terlilit hutang. Mereka murka dan akhirnya terlibat pertengkaran hebat. Sampai-sampai, Beni memutuskan untuk pergi dari rumah dan tak mau kembali sampai sekarang. “Aku tidak peduli. Mereka sudah mengusirku, jadi untuk apa aku kembali?” “Mereka tidak mengusir kamu, Bang. Tapi, kamu sendiri yang pergi dari rumah.” “Ah, sudahlah. Lebih baik kamu pulang dan jangan datang kesini lagi.” “Abang...” Belum juga Serina menyelesaikan kalimatnya, Beni sudah lebih dulu pergi dari pangkalan ojek itu. “Bang Beni!” teriakan keras Serina seolah sia-sia. Beni masih keras kepala tak mau pulang dan itu sangat menyedihkan bagi Serina. “Sabar ya, Serina. Beni memang keras kepala. Lebih baik, kamu pulang saja. Hari sudah mulai petang.” Serina coba paksakan senyumnya, “Iya, Pak Asep. Aku pulang dulu.” Serina menyusuri jalanan yang mulai gelap.Tak terhitung sudah berapa kali Serina mencoba membujuk Beni untuk pulang. Tapi, sang kakak tetap saja tak mau pulang bersamanya. Dan tentu saja itu membuat Serina sedih. Namun, kesedihan Serina berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa ketika ia melihat pertengkaran antara orang tuanya bersama dengan pria bertubuh gempal di depan rumahnya sendiri. “Tolong, jangan bawa motor ini! Kami janji akan membayarnya segera.” “Ibu, Bapak...” lirih Serina. Tanpa pikir panjang, Serina langsung berlari ke halaman rumahnya. Terlihat sangat jelas, bagaimana orang tuanya tengah mempertahankan motor milik Surya yang tengah diambil paksa oleh pria tersebut. “Ada apa ini?” tanya Serina tak kenal takut. Melihat wajah pria itu, Serina sudah tak asing lagi. Pria bertubuh gempal itu adalah petugas bank tempat dimana orang tua Serina memiliki pinjaman disana. “Orang tua kamu sudah menunggak pembayaran selama tiga bulan. Dan kami tidak bisa memberikan toleransi lagi. Jadi, motor ini harus kami sita sebagai jaminannya.” “Jangan seperti ini, Pak. Kita bisa bicarakan baik-baik.” bujuk Serina. “Saya sudah memberikan kalian kelonggaran, tapi kalian tidak berusaha sama sekali. Jadi, jangan salah saya jika saya bertindak tegas.” Farah bersimpuh di bawah kaki pria itu dan memohon, “Berikan kami waktu dua hari lagi. Kami berjanji akan membayarnya. Tapi, tolong jangan bawa motor ini. Jika tidak ada motor ini kami...” “Aku tidak peduli. Ini sudah perintah dari atasan.” potong pria itu dengan cepat. “Jangan semena-mena, Pak. Apa susahnya memberikan kelonggaran lagi. Saat ini, orang tua saya memang tidak punya uang.” sungut Serina. “Jangan ikut campur kamu anak kecil. Menyingkir lah!” Tubuh Serina terdorong hingga tubuhnya menjadi tak seimbang. Serina sudah pasrah jika tubuhnya akan membentur tanah. Namun, siapa sangka jika ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya. “Kamu baik-baik saja?” Suara yang sangat familiar itu masuk dengan lembutnya di telinga Serina. Mata Serina yang semula terpejam pun kini akhirnya terbuka. Dan betapa terkejutnya Serina melihat sosok Damar sekarang ada di depan matanya. “P-pak Damar.” ucap Serina tergagap. Tubuhnya masih berada dalam dekapan Damar. Dan dari jarak sedekat ini, Serina harus mengakui jika wajah Damar sangatlah tampan. “Ada apa ini?” Namun, pertanyaan lanjutan dari Damar akhirnya menyadarkan Serina dari pikirannya yang nakal. Tubuhnya kembali berdiri tegak ketika Damar melepaskan tubuhnya. “Siapa kamu? Jangan ikut campur masalah kami.” Serina terus memperhatikan Damar yang ada di sampingnya. Serina bertanya-tanya, apa yang Damar lakukan di rumahnya. Bagaimana bisa pria ini tahu alamat rumahnya? Atau jangan-jangan, Damar memata-matainya? Apakah kesalahannya sangat fatal hingga Damar mengikutinya sampai disini? “Saya tetangga mereka. Rumah saya berada persis di samping rumah ini.” “Apa?” Serina terkejut bukan main ketika Damar menunjuk rumah bekas milik Bu Juleha. Apa ini mimpi? Jadi, orang yang menyewa rumah Bu Juleha adalah Damar dosennya di kampus. Oh tidak, takdir benar-benar mempermainkan Serina sekarang. “Mereka tidak bisa membayar pinjaman mereka selama tiga bulan. Jadi, sesuai dengan aturan, kami harus mengambilnya.” “Tinggalkan saja motor itu. Saya yang akan membayar tunggakannya.” “Jangan bercanda.” ucap pria itu dengan remeh. Damar kemudian mengeluarkan black card nya yang mana hanya orang kaya saja yang bisa memilikinya. Tentu saja, pria itu hanya bisa melongo melihatnya. “Berapa hutang mereka? Saya yang akan membayarnya.”“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Damar dengan suara penuh dengan penekanan. Tatapannya bgitu menusuk ke arah Serina. Ia tahu Serina pasti akan mulai melontarkan ancamannya.Dengan menyeka air matanya, Serina menatap Damar dengan berani. Serina tak punya pilihan. Jika dengan ancaman ini, Serina bisa membuat Damar membantunya, makatentu saja akn Serina lakukan.“Aku tidak akan pernah menyerahkan anak ini padamu, Mas.” ujar Serina penuh dengan ketegasan.“Kamu mengancamku?”“I-iya.” jawab Serina.Damar menyeringai tipis. ‘Jika memang kamu ingin melakukan itu, maka aku bisa memanggil polisi untuk membawa bapak kamu ke penjara.”Serina hanya bisa melongo mendengar jawaban dari Damar. “Bagaimana jika aku akan menggugu*kan janin ini.”“Berani kamu melakukan itu?” Damar mencengkram kuat pergelangan tangan Serina. “Apa kamu pikir aku main-main. Jika kamu bisa bersikap seperti ini, maka aku juga bisa. Sekarang kamu pilih, Mas. Kamu membantuku , maka akan pertahankan janinku. Tapi, jika kamu
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter Bryan tiba dan langsung memeriksa Surya yang ada di ruang ICU. Serina, Damar, dan juga Farah menunggu dengan khawatir di luar ruangan. Serina dan Farah terus berdoa agar Surya bisa diberikan jalan kesembuhan. Karena bagaimanapun, mereka tak siap menerima kenyataan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Surya nantinya.Damar yang berdiri di sebelah Serina, terus menggenggam tangan wanita itu. Telapak tangan Serina yang terasa sangat dingin menunjukkan betapa takutnya Serina sekarang. “Tenangkan dirimu, Serina. Jika kamu panik, ini akan mempengaruhi kehamilanmu,” ujar Damar setengah berbisik. Damar tentunya mulai menunjukkan rasa egoisnya sekarang. Damar tentunya tak ingin melihat Serina berada dalam kepanikan dan tekanan karena secara tidak langsung itu akan berpengaruh pada kehamilannya. “Bagaimana bisa aku tenang sekarang, Mas? Bapak sedang kritis di dalam sana.” Serina menjawabnya dengan berurai air mata. Bahkan, Serina tak bisa berpi
Serina tak lagi membuang waktunya. Ia keluar dari apartemen Damar untuk pergi ke rumah sakit. Kabar buruk baru saja ia dapatkan dari sang ibu jika Surya dilarikan ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi dengan Surya sebenarnya. Serina tak menanyakannya lebih lanjut. Yang terpenting sekarang, Serina harus cepat sampai di rumah sakit untuk melihat kondisi Surya secara langsung. Beberapa kali, Serina sudah mencoba untuk menghubungi Damar namun panggilannya tak diangkat oleh pria itu. Entah karena sibuk atau karena Damar marah pada Serina. Alhasil, Serina hanya meminta ijin dan mengabari Damar lewat pesan saja. Ia harap, Damar mengerti kondisinya sekarang. Sesampainya di rumah sakit, Serina langsung berlari menuju ke IGD. Dari kejauhan, Serina melihat sang ibu yang menunggu di depan ruang IGD. “Ibu!” panggil Serina seraya berlari kecil. Farah yang semula menangis pun langsung mendongak ketika melihat kedatangan putrinya. “Serina!” Farah memeluk putrinya sangat erat. Farah sa
Pagi harinya, Serina bangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih segar. Rasa pusingnya mendadak hilang dan tubuhnya kini semakin terasa berbeda dari kemarin. Namun, pagi Serina langsung disambut dengan aroma masakan yang sangat enak. Kelopak mata Serina terbuka. Ia menatap ke kesekelilingnya dan ternyata ia tidur di kamar lantai dua semalaman. Sungguh, Serina tak ingat karena ia tertidur di dalam mobil. Namun, fokus Serina terabaikan kembali dengan bunyi gesekan alat masak yang berasal dari pantry. Serina buru-buru turun dari kasur dan menuruni anak tangga. Sungguh, ia akan merasa sangat bersalah sekali jika Damar lebih dulu bangun dan memasak sarapan untuk mereka. Sedangkan, Serina saja baru bangun. Itu akan mencoreng nama baik Serina sebagai seorang istri tentunya. Dan benar saja, ketika Serina sampai di lantai dasar, nampak Damar yang sibuk di pantry dengan menggunakan apron masak. Pria itu terlihat sangat lihai sekali menggunakan peralatan dapur. Serina perlahan mendekat . “Ma
Selesai makan, mereka masih belum beranjak dari sana. Serina dan Damar masih ingin menikmati suasana malam yang terasa tenang. Namun, hawa dingin mulai menyeruak menusuk kulit halus Serina. Serina yang hanya mengenakan dress lengan pendek pun mengelus lengannya yang terbuka untuk menghalau rasa dingin itu. Dan tentunya, hal itu tak terlepas dari pandangan damar. Tanpa mengucapkan apapun, Damar melepaskan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya kepada Serina. “Eh...” Serina yang asik menatap jalanan itu pun seketika tersentak dengan tindakan Damar. “Pakai saja. Kamu pasti kedinginan.” ujar Damar. “Tapi, kamu juga pasti akan kedinginan nanti, Mas. Aku tidak masalah kok kalau...” Damar menajamkan matanya hingga membuat mulut Serina berhenti berbicara. Bahkan tanpa bersuara sedikitpun, Serina merasa terintimidasi dengan tatapan Damar itu. “Kamu suka makan di jalanan seperti ini?” tanya Damar. “Enggak juga sih. Dulu, aku malah jarang keluar. Aku lebih suka di rumah.” Damar m
Ini bukan kali pertama Serina menginjakkan kaki di apartemen ini. Ini kedua kalinya bagi Serina. Yang pertama dulu, sewaktu Damar menjemputnya ketika Serina pergi bersama dengn Vero. Dan setelah itu, Damar mengajak Serina datang kemari. Namun, ada memori yang tak terlupakan bagi Serina yaitu mereka menghabiskan waktu cukup lama di lantai dua. Dan tentu saja itu membuat Serina merasa malu sekali. “Kenapa dengan wajahmu? Kamu tidak suka tinggal disini?” tanya Damar. Serina akhirnya bergerak untuk duduk di samping Damar. “Kenapa kita tinggal disini? Aku hanya butuh jawaban itu.” Damar menyilangkan satu kakinya dan mulai menyalakan TV. Damar menyetel chanel TV yang tengah menayangkan berita penangkapan Abraham dan juga Aidan. “Kamu lihat itu.” Serina menatap ke layar dan betapa terkejutnya ia melihat Abraham dan Aidan yang di bawa oleh polisi. “J-jadi, mereka sudah di tangkap?” “Iya. Mereka sudah di tangkap.” “Secepat itu?” Serina bertanya dengan penuh kebingungan. “Mereka







