Share

Bab 4

last update Last Updated: 2025-10-30 19:36:02

"Saya sudah transfer uangnya. Jadi, sekarang pergi dari rumah ini." ucap Damar dengan tegas.

Pria itu tersenyum. "Baiklah. Ingat, mulai bulan depan kalian tidak boleh menunggak lagi." pungkasnya yang kemudian berlalu pergi dari sana.

Farah dan Surya akhir bisa bernapas lega setelah Damar membantu keluarganya.

“Terimakasih banyak atas bantuannya, Pak Damar. Kami berjanji akan mengembalikan uang Bapak secepatnya.” ucap Farah yang tak dapat membendung rasa bersyukurnya.

Damar muncul bak pahlawan yang membantu keluarganya. Damar melunasi tunggakan tiga bulan hingga membuat petugas itu akhirnya tidak jadi merampas motor mereka.

“Jangan pikirkan itu. Saya ikhlas membantu.”

"Mari masuk dulu, Pak. Biarkan kami menjamu Bapak sebagai gantinya."

Damar tak menolak dan akhirnya masuk ke dalam rumah milik keluarga Serina. Sebenarnya, Serina sedikit keberatan, tapi ia juga tak mau egois karena bagaimanapun Damar sudah membantu keluarganya.

Ketika orang tuanya tengah berbincang dengan Damar di ruang tamu, Serina tengah menyibukkan diri di dapur untuk membuatkan Damar minuman.

Serina masih tak percaya dengan situasi ini. Ia memang tahu, jika ada yang menyewa rumah Bu Juleha yang telah lama kosong. Tapi, Serina tak tahu jika Damar lah orangnya. Apalagi, mereka sudah terlibat insiden buruk pagi tadi ditambah dengan pertemuan mereka sebagai dosen dan mahasiswi. Itu sudah cukup membuat hidup serina rumit.

Dan sekarang ditambah lagi dengan Damar yang menjadi tetangga barunya. Hidup Serina tidak akan pernah tenang mulai sekarang.

“Serina , mana tehnya?”

“Iya, Bu.”

Serina kuatkan hatinya dan berjalan ke ruang tamu dengan membawa segelas teh hangat untuk Damar.

“Permisi, Pak.”

“Terimakasih.”

Serina kemudian duduk disana. Posisinya pas sekali berhadapan dengan Damar. Pembawaan Damar yang ramah kepada orang tuanya nyatanya membuat Damar cepat akrab dengan orang tuanya.

“Kami berjanji akan mencicil hutang kami kepada Bapak.” Surya akhirnya bersuara.

Ia tak mau berhutang budi kepada Damar yang notabene adalah tetangga baru mereka. Apalagi, uang yang Damar pinjamkan cukup banyak. Dan tentunya mereka tak mau dicap sebagai orang yang tak tahu malu.

“Bukankah sudah saya bilang, jika saya ikhlas membantu kalian. Jadi, itu artinya kalian tidak perlu mengembalikan uang saya.”

“Kami bukan pengemis, Pak. Jadi, jangan menolak orang tua saya untuk mengembalikan uang Bapak.” sambar Serina dengan cepat.

“Serina benar, Pak. Uang yang Bapak pinjamkan juga tidak sedikit. Jadi, jangan tolak itu.”

Damar tak menjawab dan kemudian menyesap teh buatan Serina. Rasanya sangat cocok di lidah Damar. Tak terlalu manis dan rasa pahit yang terasa diakhir adalah kesukaan Damar.

“Bapak tinggal dengan siapa disana?” tanya Farah basa-basi.

Damar memang baru pindah semalam dan tentu saja Farah tak tahu banyak mengenai tetangga barunya ini.

“Sendirian.”

“Istri Bapak?”

Damar menyulam senyuman tipis. “Istri saya sudah meninggal begitupun dengan putri saya.”

Serina tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ini adalah fakta baru yang ia dengar perihal Damar. Padahal, desas-desus yang beredar di kampus adalah Damar masih single dan belum pernah menikah.

“Oh, maaf Pak. Saya tidak bermaksud membahas ini.”

“Tidak apa. Istri dan anak saya meninggal tiga tahun lalu karena sebuah kecelakaan. Jadi, sekarang saya sudah bisa menjalani hidup dengan baik tanpa mereka. Jadi, tidak perlu khawatir.” jawab Damar dengan bijak.

Pembawaan Damar yang tenang dan berwibawa membuat Serina dan orang tuanya begitu segan dengan Damar.

Suasana berubah menjadi hening. Nyatanya, pembahasan mengenai mendiang istri dan anak Damar membuat Farah sungkan untuk mencari obrolan baru.

“Bapak Surya sakit? Wajahnya pucat sekali.” Kini giliran Damar yang mengajukan pertanyaan. Sejak tadi, ia terus memperhatikan Surya yang duduk di dekatnya.

Nafas pria itu terasa sangat berat. Surya juga terus batuk sedari tadi. Mungkin, pria ini mengalami masalah pernapasan, pikir Damar.

“Suami saya memiliki riwayat asma. Dan sudah tiga hari ini, asma nya kumat.” jawab Farah.

“Terus, kesehariannya Pak Surya bekerja apa? Setahu saya, orang dengan riwayat penyakit asma tidak bisa bekerja berat.”

“Suami saya serabutan, Pak Damar. Kadang ada orang nyuruh bersih-bersih kebun, terus cuci motor dan lain-lain. Asalkan pekerjaannya tidak terlalu berat, suami saya akan lakukan. Selain itu, penglihatannya juga bermasalah sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun silam.”

Damar mendengarkan dengan seksama cerita dari Farah. Ke sepuluh jari Damar saling bertaut. Dari ekor matanya, ia melirik Surya dengan intens.

“Kecelakaan?”

“Iya. Bapak dulu supir truk. Tapi malam itu, Bapak mengalami kecelakaan hingga membuat penglihatannya terganggu.” jelas Serina.

“Kecelakaan dimana?”

“Di...”

“Saya juga enggak ingat. Waktu itu, saya tidak sadar dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” sambat Surya mendahului Serina yang hendak menjawab tadi.

“Ah begitu.” balas Damar dengan tersenyum.

“Terimakasih atas jamuannya. Tapi, saya harus pulang sekarang.”

Damar bangkit dari kursinya begitupun dengan Serina dan orang tuanya.

“Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak Damar. Kami berhutang budi kepada Bapak.”

“Sama-sama. Permisi...”

Sejenak, tatapan Damar bertubrukan dengan Serina. Mereka tak saling bicara namun Serina segera memutus pandangannya.

"Tunggu, Pak!"

Ayunan kaki Damar tertahan ketika Serina memanggilnya. Tubuhnya kemudian berputar dan menatap wanita yang masih berada di tempatnya itu.

"Kapan Bapak pindah disini?" tanya Serina sedikit ragu.

"Apa itu penting untukmu?"

"Saya hanya..."

Damar merendahkan kepalanya hingga sejajar dengan Serina. "Kenapa? Apa kamu juga ingin mengumumkan kepada semua warga komplek ini, jika saya pria mesum yang melecehkan mu di bus?"

Ucapan dari Damar membuat Serina diam seribu bahasa. Sungguh, Serina tak ada niatan sama sekali untuk melakukan itu.

"Bapak salah paham. Saya..."

"Sudah malam. Masuklah dan istirahat, jangan sampai kamu terlambat di kelas saya besok." sela Damar kemudian.

Damar menyeringai tipis lalu mengambil langkah pergi. Ekspresi Damar begitu dingin dan datar. Sorot mata Damar yang tenang seolah menyimpan banyak cerita di baliknya.

“Halo, Felix.”

Damar menghubungi salah satu orang kepercayaannya melalui sambungan telepon.

“Baca pesanku dan lakukan perintahku.”

Damar akhiri sambungan telepon itu dalam sekejap. Damar tipikal orang yang tak suka berbasa-basi. Dan tanpa menjelaskan panjang lebar, anak buahnya pasti akan tahu yang Damar inginkan.

Damar kemudian mengayunkan kakinya memasuki kamar. Bagi konglomerat seperti Damar, tidak sepantasnya ia tinggal di kontrakan kecil seperti ini. Dengan uang yang ia miliki, Damar tentu bisa membeli hunian mewah di kawasan komplek elit.

Tapi, diusianya yang sudah menginjak kepala tiga lebih tepatnya 35 tahun, Damar tak menginginkan itu. Damar ingin menenangkan dirinya setelah masalah yang hampir menghancurkan hidupnya sebagai seorang pria.

Damar mengambil sebuah foto yang dibingkainya dalam figura. Damar usap lembut foto dua orang terkasihnya yang sekarang sudah damai di syurga.

Perasaan Damar campur aduk ketika melihat foto mendiang istri dan juga putrinya yang saat itu berusia empat tahun. Damar meneteskan air matanya. Berat sekali menjalani hidupnya selama tiga tahun ini tanpa mereka.

Kecelakaan tragis yang sudah merenggut istri dan anaknya itu akan selalu Damar ingat sampai mati. Bahkan setiap Damar tidur, kilasan peristiwa mengerikan itu selalu berputar di kepala Damar. Dan mimpi buruk itu selalu menghantui Damar selama tiga tahun ini.

“Kalian tenang saja. Beristirahatlah dengan damai disana. Aku disini untuk membalaskan semuanya untuk kalian.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 119

    “Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Damar dengan suara penuh dengan penekanan. Tatapannya bgitu menusuk ke arah Serina. Ia tahu Serina pasti akan mulai melontarkan ancamannya.Dengan menyeka air matanya, Serina menatap Damar dengan berani. Serina tak punya pilihan. Jika dengan ancaman ini, Serina bisa membuat Damar membantunya, makatentu saja akn Serina lakukan.“Aku tidak akan pernah menyerahkan anak ini padamu, Mas.” ujar Serina penuh dengan ketegasan.“Kamu mengancamku?”“I-iya.” jawab Serina.Damar menyeringai tipis. ‘Jika memang kamu ingin melakukan itu, maka aku bisa memanggil polisi untuk membawa bapak kamu ke penjara.”Serina hanya bisa melongo mendengar jawaban dari Damar. “Bagaimana jika aku akan menggugu*kan janin ini.”“Berani kamu melakukan itu?” Damar mencengkram kuat pergelangan tangan Serina. “Apa kamu pikir aku main-main. Jika kamu bisa bersikap seperti ini, maka aku juga bisa. Sekarang kamu pilih, Mas. Kamu membantuku , maka akan pertahankan janinku. Tapi, jika kamu

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 118

    Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter Bryan tiba dan langsung memeriksa Surya yang ada di ruang ICU. Serina, Damar, dan juga Farah menunggu dengan khawatir di luar ruangan. Serina dan Farah terus berdoa agar Surya bisa diberikan jalan kesembuhan. Karena bagaimanapun, mereka tak siap menerima kenyataan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Surya nantinya.Damar yang berdiri di sebelah Serina, terus menggenggam tangan wanita itu. Telapak tangan Serina yang terasa sangat dingin menunjukkan betapa takutnya Serina sekarang. “Tenangkan dirimu, Serina. Jika kamu panik, ini akan mempengaruhi kehamilanmu,” ujar Damar setengah berbisik. Damar tentunya mulai menunjukkan rasa egoisnya sekarang. Damar tentunya tak ingin melihat Serina berada dalam kepanikan dan tekanan karena secara tidak langsung itu akan berpengaruh pada kehamilannya. “Bagaimana bisa aku tenang sekarang, Mas? Bapak sedang kritis di dalam sana.” Serina menjawabnya dengan berurai air mata. Bahkan, Serina tak bisa berpi

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 117

    Serina tak lagi membuang waktunya. Ia keluar dari apartemen Damar untuk pergi ke rumah sakit. Kabar buruk baru saja ia dapatkan dari sang ibu jika Surya dilarikan ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi dengan Surya sebenarnya. Serina tak menanyakannya lebih lanjut. Yang terpenting sekarang, Serina harus cepat sampai di rumah sakit untuk melihat kondisi Surya secara langsung. Beberapa kali, Serina sudah mencoba untuk menghubungi Damar namun panggilannya tak diangkat oleh pria itu. Entah karena sibuk atau karena Damar marah pada Serina. Alhasil, Serina hanya meminta ijin dan mengabari Damar lewat pesan saja. Ia harap, Damar mengerti kondisinya sekarang. Sesampainya di rumah sakit, Serina langsung berlari menuju ke IGD. Dari kejauhan, Serina melihat sang ibu yang menunggu di depan ruang IGD. “Ibu!” panggil Serina seraya berlari kecil. Farah yang semula menangis pun langsung mendongak ketika melihat kedatangan putrinya. “Serina!” Farah memeluk putrinya sangat erat. Farah sa

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 116

    Pagi harinya, Serina bangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih segar. Rasa pusingnya mendadak hilang dan tubuhnya kini semakin terasa berbeda dari kemarin. Namun, pagi Serina langsung disambut dengan aroma masakan yang sangat enak. Kelopak mata Serina terbuka. Ia menatap ke kesekelilingnya dan ternyata ia tidur di kamar lantai dua semalaman. Sungguh, Serina tak ingat karena ia tertidur di dalam mobil. Namun, fokus Serina terabaikan kembali dengan bunyi gesekan alat masak yang berasal dari pantry. Serina buru-buru turun dari kasur dan menuruni anak tangga. Sungguh, ia akan merasa sangat bersalah sekali jika Damar lebih dulu bangun dan memasak sarapan untuk mereka. Sedangkan, Serina saja baru bangun. Itu akan mencoreng nama baik Serina sebagai seorang istri tentunya. Dan benar saja, ketika Serina sampai di lantai dasar, nampak Damar yang sibuk di pantry dengan menggunakan apron masak. Pria itu terlihat sangat lihai sekali menggunakan peralatan dapur. Serina perlahan mendekat . “Ma

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 115

    Selesai makan, mereka masih belum beranjak dari sana. Serina dan Damar masih ingin menikmati suasana malam yang terasa tenang. Namun, hawa dingin mulai menyeruak menusuk kulit halus Serina. Serina yang hanya mengenakan dress lengan pendek pun mengelus lengannya yang terbuka untuk menghalau rasa dingin itu. Dan tentunya, hal itu tak terlepas dari pandangan damar. Tanpa mengucapkan apapun, Damar melepaskan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya kepada Serina. “Eh...” Serina yang asik menatap jalanan itu pun seketika tersentak dengan tindakan Damar. “Pakai saja. Kamu pasti kedinginan.” ujar Damar. “Tapi, kamu juga pasti akan kedinginan nanti, Mas. Aku tidak masalah kok kalau...” Damar menajamkan matanya hingga membuat mulut Serina berhenti berbicara. Bahkan tanpa bersuara sedikitpun, Serina merasa terintimidasi dengan tatapan Damar itu. “Kamu suka makan di jalanan seperti ini?” tanya Damar. “Enggak juga sih. Dulu, aku malah jarang keluar. Aku lebih suka di rumah.” Damar m

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 114

    Ini bukan kali pertama Serina menginjakkan kaki di apartemen ini. Ini kedua kalinya bagi Serina. Yang pertama dulu, sewaktu Damar menjemputnya ketika Serina pergi bersama dengn Vero. Dan setelah itu, Damar mengajak Serina datang kemari. Namun, ada memori yang tak terlupakan bagi Serina yaitu mereka menghabiskan waktu cukup lama di lantai dua. Dan tentu saja itu membuat Serina merasa malu sekali. “Kenapa dengan wajahmu? Kamu tidak suka tinggal disini?” tanya Damar. Serina akhirnya bergerak untuk duduk di samping Damar. “Kenapa kita tinggal disini? Aku hanya butuh jawaban itu.” Damar menyilangkan satu kakinya dan mulai menyalakan TV. Damar menyetel chanel TV yang tengah menayangkan berita penangkapan Abraham dan juga Aidan. “Kamu lihat itu.” Serina menatap ke layar dan betapa terkejutnya ia melihat Abraham dan Aidan yang di bawa oleh polisi. “J-jadi, mereka sudah di tangkap?” “Iya. Mereka sudah di tangkap.” “Secepat itu?” Serina bertanya dengan penuh kebingungan. “Mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status