LOGIN“Kenapa aku jadi tidak mengantuk ya?”Malam itu terasa terlalu panjang.Josselyn menatap langit-langit kamarnya tanpa benar-benar melihat. Cahaya lilin di samping tempat tidurnya bergetar pelan, nyaris padam.Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Memejamkan mata hanya membuat ingatan siang itu kembali.“Oh ya? Bukankah itu hal yang biasa?”Ucapannya kala itu terdengar santai dan kosong, tapi Josselyn menangkap kilat tak biasa di matanya. Walaupun ia buru-buru mengembalikan ekspresi hangatnya.Josselyn menghela napas panjang.“…Kenapa…”Ia berbisik pelan.Sejak pertama kali datang ke istana, hanya ada satu orang yang tidak membuatnya merasa seperti orang asing.Yorick.Hangat. Tenang. Mudah dipercaya.Terlalu mudah, ia seharusnya sadar itu.Josselyn menutup matanya. Denyutan nyeri muncul di sudut hatinya.Semuanya semakin jelas. Ramuan yang Yorick berikan pagi itu di ruang herbal. Aroma yang sama dari ramuan Kael di Desa Frostmere.Keduanya sama-sama memunculkan efek yang… tidak sepenuhnya ia
Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut meja.Darius berdiri diam di dekat jendela, napasnya berat. Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Ia sudah mencoba mengalihkan pikirannya.Lebih gagal lagi.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.“... Sial.”Ia memejamkan mata.Dan itu kesalahan.Semua kembali.Air yang beriak. Suara yang terlalu jelas untuk dilupakan. Dan wajah itu—Josselyn.Darius membuka mata cepat, seolah ingin memutus sesuatu yang tak terlihat.“Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri...” gumamnya pelan.Ia mengusap wajahnya kasar.“Dia milik Putra Mahkota.”Kalimat itu seharusnya cukup untuk menghentikannya.Tapi tidak.Langkah kaki terdengar dari luar.Darius langsung berdiri tegak. Ekspresinya kembali waspada.Tak lama pintu diketuk.Darius menyambar sebuah belati di laci meja nakas samping tempat tidurnya.Ia berjalan mendekati pintu, belati tersembunyi di balik punggungnya.Perlahan, pintu dibuka.“Ada apa?”Seorang pelayan berdiri dengan sedikit men
"Cepat sedikit lagi!" suara Darius terdengar tegang dari belakang.Angin malam menerpa wajah mereka saat kuda melesat menembus jalan tanah.Killian tidak menjawab. Tangannya mencengkeram kendali lebih erat, sementara lengan satunya menahan tubuh Josselyn di depannya.Tubuh gadis itu panas.“…panas…” gumam Josselyn lirih, hampir tak terdengar. Kepalanya jatuh ke bahu Killian. Napasnya tidak teratur.Killian mengatupkan rahangnya.“Aku tahu,” bisiknya pelan. “Tahan sedikit lagi.”Josselyn menggeleng lemah. Tangannya mencengkeram bagian depan pakaiannya sendiri, lalu berpindah ke punggungnya.“Tidak… ini… terlalu panas…”Darius menoleh cepat.“Danau,” katanya singkat. “Kita dekat. Itu satu-satunya cara menurunkan suhu tubuhnya.”Killian tak ragu lagi. Ia mengarahkan kudanya ke arah hutan yang lebih gelap. Beberapa saat kemudian, suara air mulai terdengar.‘Air!’ seru Josselyn dalam hati.Dada Josselyn berdebar keras. Keinginan untuk menyentuh air tiba-tiba meluap. Dan sebelum kuda itu be
“Sebenarnya…”Suara itu memotong udara di dapur yang sempit.Josselyn langsung menoleh.“Apa yang sedang kalian lakukan sedari tadi?”Howarth berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu pada kusen, alisnya sedikit terangkat. Tatapannya bergantian antara Josselyn dan Kael—lalu berhenti.Di meja. Botol kaca itu terlihat kosong.Mata Howarth menyipit.Sebelum Howarth melontarkan kata lagi, Josselyn bergerak lebih cepat. Ia melangkah mendekat, hampir menutup pandangan Howarth dengan tubuhnya sendiri.“Kami sedang menyelesaikan ramuan,” katanya cepat.Howarth tidak langsung menjawab. Tatapannya turun lagi. Ke meja. Ke botol itu.Lalu kembali ke wajah Josselyn.“Dan itu?” tanyanya pelan.Josselyn tidak mengikuti arah pandangannya.“Tidak ada hubungannya dengan ini.”Terlalu cepat—hampir seperti menutup sesuatu.Howarth tersenyum tipis. Tapi tidak dengan sorot matanya.Kael di belakang hanya diam, mengamati sebelum bertindak lebih jauh.“Kalau sudah selesai,” lanjut Howarth ringan, “anak-a
“Ini tidak akan cukup…”Suara Josselyn nyaris tak terdengar saat ia menatap anak laki-laki di hadapannya.Tubuh kecil itu menggigil. Bibirnya pucat. Dan noda merah yang mengering di sudut mulutnya membuat dada Josselyn terasa sesak.Kael berdiri di sampingnya.“Kondisinya memburuk sejak semalam.”Josselyn tidak menjawab. Tangannya sudah bergerak lebih dulu.Ia berlutut. Tangannya menyentuh dahi anak itu—panas, dengan suhu yang tak wajar.“Sejak kapan muntah darah?” tanyanya pelan.“Dua anak mulai tadi malam. Yang lain… pagi ini,” jawab salah satu wanita desa di belakang mereka.Josselyn mengangguk kecil.“Semua mundur.”Nada suaranya berubah. Lebih tegas.Orang-orang langsung menurut. Mereka mundur beberapa langkah, memberi ruang.Kael tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan di samping Josselyn.Gadis itu menarik napas panjang. Matanya terpejam sesaat. Fokus. Seperti yang selalu ia lakukan. Seperti yang biasanya berhasil.Tangannya mulai menghangat. Cahaya samar muncul di ujung jarinya
“Brengsek…”Gumamannya pelan, hampir seperti desisan. Ia menyeka bibirnya dengan kasar.Udara malam terasa lebih dingin saat Josselyn keluar dari kamar itu.Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi keras—hampir seperti ia sengaja membantingnya.Langkahnya cepat. Tidak teratur.Dadanya masih naik turun, bukan hanya karena marah, tapi juga karena sesuatu yang lebih mengganggu.Sentuhan itu.Ciuman itu.Dan cara Killian menatapnya, seolah semua yang ia katakan tadi tidak ada artinya sama sekali.“Aku benar-benar butuh udara.”Ia berbelok ke arah belakang rumah, mencari udara. Mencari jarak untuknya bernapas.Dan di sanalah ia berhenti.Seseorang sudah lebih dulu berdiri di sana.“Darius.”Bersandar santai pada pagar kayu, satu kaki terangkat sedikit, seolah ia sudah berada di sana cukup lama.Tatapannya langsung beralih ke Josselyn. Perlahan turun. Seakan sedang mengamati.Josselyn mengerutkan kening. “Apa?”Dia langsung membalikkan tubuh dan ikut bersandar di samping Darius.Pria bert
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe







