Accueil / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 3 – Protected by The Heir

Share

3 – Protected by The Heir

Auteur: Ivy Morfeus
last update Dernière mise à jour: 2026-02-27 15:10:47

“Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”

Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.

Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.

“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.

“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.

Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.

“Ayo kita ke sana.”

Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.

‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.

Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.

Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.

“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.

Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Bajunya sedikit kuyup di bagian punggung.

“Ini sudah ketiga kalinya Yang Mulia Ratu keluar masuk toilet, Nona Josselyn.” lapor salah satu pelayan.

Josselyn mengangguk. Membantu Ratu untuk kembali tidur. Ia mengambil selembar handuk dan mengelap keringat di dahi wanita tua itu.

Josselyn menatap Tabib, seolah menanyakan apakah kondisi Ratu baik-baik saja.

Yorick memeriksa nadi Ratu.

“Ramuannya bekerja,” katanya singkat. “Racunnya keluar.”

Jawaban Yorick membuat Josselyn bernapas lebih lega.

“Aku akan buatkan chamomile dan bubur hangat. Kau siapkan kain hangat untuk tengkuknya.” perintah Yorick.

Josselyn mengangguk. Malam itu, dibantu oleh pelayan lainnya, Josselyn merawat Ratu hingga Ratu bisa tertidur kembali.

***~***

“Apa aku benar-benar harus hadir?”

Josselyn berhenti di depan cermin kecil di kamarnya. Hari telah berganti. Ia terus mengamati gaun biru pucat yang diberikan pelayan istana.

“Yang Mulia Ratu sendiri yang memerintahkan. Beliau ingin Nona Josselyn menemaninya sepanjang pesta berlangsung.” jawab pelayan itu, ia sedikit menundukkan kepala, lalu berbalik pergi.

Begitu Josselyn memastikan pelayan itu pergi, senyumnya mengembang di depan cermin, bagaikan mendapatkan jackpot di siang bolong.

“Padahal aku tak berencana seperti ini. Tapi Dewi Fortuna memihakku.” gumamnya, ia mengayunkan ujung gaunnya yang indah.

“Kau menyukainya.”

Sebuah suara muncul di ambang pintu. Josselyn terlonjak kaget.

“Yang Mulia,” Josselyn buru-buru membungkuk, memberi hormat.

Killian berjalan mendekat. Matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Lalu berakhir mengunci tatapannya di mata Josselyn.

“Aku hanya ingin memperingatkanmu, kau diundang ke pesta untuk mengawasi kesehatan Ratu. Bukan sebagai tamu.”

Josselyn menarik napas panjang, merutuk dalam hati. ‘Aku tahu.’

Tapi Josselyn hanya bisa menunduk dan mengatakan,

“Baik, Yang Mulia. Saya akan ingat itu.”

***~***

Aula utama istana berubah menjadi lautan cahaya. Musik mengalun, gaun berkilau, suara tawa saling bertabrakan.

Josselyn berdiri agak jauh di belakang Ratu. Jarinya saling bertaut, matanya menyapu ruangan, mengecek suasana.

‘Para putri bangsawan benar-benar bersolek untuk menarik perhatian Killian.’ ujar Josselyn dalam hati.

Karena pesta ini bertujuan mencari jodoh untuk Putra Mahkota, yang hadir tak hanya dari keluarga bangsawan, tapi juga dari kerajaan lain. Yang itu artinya, saingan Josselyn menjadi lebih berat karena tak hanya tentang paras, tapi juga latar belakang keluarga.

“Jangan berdiri seperti tahanan yang menunggu vonis,” bisik Yorick yang berdiri di sampingnya.

Josselyn tersenyum tipis. Yorick pasti mengira ia resah berada di tengah keramaian ini. Padahal Josselyn sedang mengukur peluang untuk dirinya.

“Saya tak menyangka seramai ini,” jawab Josselyn tanpa menoleh.

“Itu hal yang bagus, bukan? Tak akan ada yang memperhatikan kita. Kau lihat meja di pojok sana?”

Josselyn mengikut arah yang ditunjuk Yorick.

“Banyak cemilan manis. Ambilah beberapa untukmu. Agar kau lebih santai.”

“Lalu Ratu…?”

“Serahkan padaku. Lagipula tak selama itu untuk makan cemilan kan?” Yorick mengedipkan sebelah matanya.

Josselyn tersenyum lebar, kebetulan pagi tadi ia tak sempat sarapan karena Killian yang tiba-tiba datang ke kamarnya.

“Baiklah, saya akan ke sana sebentar. Titip Ratu ya?” ujarnya senang.

Josselyn segera menyelinap mendekati pojok ruangan. Matanya berbinar saat melihat berbagai macam kue warna-warni dengan bentuk yang unik.

“Ah, rasanya aku ingin memakan semuanya!” Suaranya hampir seperti jeritan bahagia jika tak ia tahan. Ia segera mengambil sepotong kue berwarna merah.

“Putra Mahkota,” bisik seseorang.

Suasana berubah. Musik masih berjalan, tapi semua mata bergerak ke satu arah.

Killian masuk.

Aura dingin. Tegak. Tatapannya menyapu ruangan seperti sedang menghitung musuh. Bukan mencari pasangan.

Josselyn yang sedang mengunyah, bergumam. “Dia terlihat marah,”

Lalu mengambil sepotong lagi. “Tapi ia memang selalu terlihat seperti itu,”

Josselyn tak peduli. Toh, Killian pasti tak melihatnya. Saat ini yang ia butuhkan hanya mengisi perutnya agar ia tak pingsan.

Saat perhatian semua orang tertuju pada Killian, seorang bangsawan tua tiba-tiba mendekat. Matanya menilai Josselyn dari kepala sampai kaki.

“Oh, ternyata aku tak salah lihat. Anak Althea.” ucapnya, tanpa sopan santun. Volume suaranya yang sengaja ia naikkan, memancing beberapa orang di sekitarnya untuk menoleh.

“Kenapa kau bisa berada di sini? Kau menyelinap diam-diam?” katanya lagi, dengan senyuman sinis.

Di antara tatapan bangsawan-bangsawan lain, Josselyn minum segelas air putih dengan tenang. Setelah itu menatap bangsawan tua itu dengan ramah.

“Saya bekerja sebagai asisten tabib kerajaan,” jawabnya.

Pria tua itu menaikkan sebelah alisnya. “Asisten tabib? Jangan melantur.”

“Saya di sini atas perintah Raja dan Ratu.”

Bangsawan itu tertawa meremehkan.

“Seseorang yang memiliki darah pengkhianat tak seharusnya menunjukkan wajah di istana.”

Rahangnya mengeras.

Josselyn menjawab tanpa senyum.

“Jadi seharusnya yang seperti apa? Yang pandai menjilat seperti Anda?” Suaranya turun satu nada. Dingin.

Wajah pria itu memerah, seketika ia menampar Josselyn dengan keras. Tangan besar dan gemuk itu membuat Josselyn terhuyung.

“Raja terlalu murah hati,” ucap bangsawan itu. “Atau terlalu sabar,”

Ia mengelap tangannya bekas menampar Josselyn dengan wajah jijik.

“Membiarkan anak pengkhianat berkeliaran bebas di tempat hukuman ayahnya.” Bangsawan tua tersenyum sinis.

Josselyn menegang. Ia tidak menoleh, tapi setiap kata menempel di telinganya.

“Bukankah itu berbahaya? Aku dengar Ratu dalam keadaan kurang sehat.”

Suara bisik-bisik mulai terdengar.

“Bagaimana kalau dia justru akan meracuni Ratu untuk balas dendam?”

Bangsawan itu menoleh ke suara bisikan, lalu tersenyum lebar, seolah merasa mendapatkan dukungan.

“Tidak, selama ia masih berguna.” Tatapan mata bangsawan tua seolah menelanjangi Josselyn.

“Ratu senang dengan ramuannya. Raja senang melihat istrinya bernapas lebih lama.”

Bangsawan tua terkekeh. Lalu matanya menatap sekelilingnya, seakan meminta persetujuan.

“Dan ketika kesenangan itu selesai?”

Nada berikutnya lebih pelan. Lebih dingin.

“Maka pedang akan bekerja lebih cepat daripada pengadilan.”

Suara bisikan kali ini lebih riuh. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian menatap iba pada gadis itu. Josselyn merasakan tenggorokannya mengering.

“Kita hanya bisa berharap, Raja dan Ratu segera sadar sebelum gadis ini menghentikan napasnya.”

Mata pria itu melirik tabung ramuan yang Josselyn bawa sedari tadi.

“Itu ramuan untuk Ratu? Jangan-jangan dia sudah membubuhkan racun di dalamnya.” bisikan lain terdengar.

Tubuh Josselyn bergetar. Ia melihat kerumunan bertambah besar. Di antara mereka, Josselyn sempat melihat sosok Yorick bergerak mendekatinya, lalu berhenti. Terlambat.

Kilatan logam. Bergerak terlalu cepat, menggores leher bangsawan tua itu. Darah menetes ke kerah bajunya.

Suasana seketika hening. Josselyn menoleh ke arah pemilik pedang.

“Yang Mulia…”

Itu Killian. Sedang menghunus pedangnya ke leher pria tua itu.

“Ulangi,” kata Killian pelan. “Aku tidak mendengar dengan jelas.”

Josselyn membeku. Tangannya gemetar hebat.

“Yang Mulia!” suara Kepala Dewan Menteri terdengar panik. “Ini pesta—!”

“Dan dia merusaknya,” jawab Killian.

Bangsawan tua itu menelan ludah. “Aku… aku minta maaf.”

Killian menarik pedangnya kembali, dan memasukkannya ke dalam sarung pedangnya.

“Pergi,” perintahnya.

Bangsawan itu mundur tergesa, hampir berlari meninggalkan aula. Disusul bisik-bisik ngeri di sekitarnya.

Josselyn merasa lututnya melemas. Rumor yang selama ini ia dengar: Putra Mahkota yang mudah melayangkan pedang, benar-benar terjadi di hadapannya. Beruntungnya, tak terjadi pertumpahan darah.

“Dia gila,” bisiknya tanpa sadar.

“Tidak,” jawab suara asing di sampingnya. “Dia hanya tidak peduli.”

Josselyn menoleh.

Dua pria berdiri di sana.

Yang pertama tersenyum santai, rambut peraknya dikuncir asal, matanya menyimpan rasa ingin tahu.

Yang kedua berwajah datar, rambut cokelatnya rapi, tatapannya penuh perhitungan.

“Aku Howarth,” kata yang pertama. “Dan ini adikku, Sebastian.”

“Kami dari Edevane, kerajaan tetangga,” lanjut Sebastian.

“Senang bertemu denganmu, Gadis yang Dibela Putra Mahkota.” Tatapan Howarth berhenti di mata Josselyn.

Di saat itulah Josselyn merasakan sesuatu yang tak nyaman. Seolah ia akan berurusan panjang dengan kedua pria itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    6 - Between Blame and Fire

    Yang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang menarik leher belakangnya dengan kasar, dan detak jantungnya yang sangat berisik.Nafasnya tercekat saat wajah mereka hanya berjarak satu hembusan angin.Aroma anggur dan sesuatu yang terbakar bercampur dalam udara sempit kamar itu.“Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.”Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak mundur. Tidak gemetar.“Karena saya?”“Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini—” rahang Killian mengeras. “Kondisi ibuku memburuk. Dewan menuntutku. Dan aku—”Ia terdiam. Tangannya masih mencengkeram tengkuk Josselyn, tapi kekuatannya melemah tanpa ia sadari.“Apa?” Josselyn mendesak pelan. “anda apa, Yang Mulia?”Killian menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan.“Aku membuat kesalahan,” bisiknya.Josselyn membeku.‘Kesalahan?’ pikirnya.Itu bukan kata yang biasa keluar dari mulut Putra Mahkota.“Kau seharusnya dibiarkan hancur malam

  • The Alchemist's Touch    5 – Wine, Steel, and Unwanted Heat

    “Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tingg

  • The Alchemist's Touch    4 – Whispers Behind the Throne

    ‘Edevan?’Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.“Namamu…”“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Aku bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya How

  • The Alchemist's Touch    3 – Protected by The Heir

    “Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.“Ayo kita ke sana.”Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Baj

  • The Alchemist's Touch    2 – Under the Queen’s Gaze

    “Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka. “Josselyn.” Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi t

  • The Alchemist's Touch    1 – A Bitter Taste of Trust

    “Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Kau menginginkannya.” Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya. “Jangan… berhenti.” Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh. Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah. ***~*** “Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status