LOGINKetukan tergesa terdengar dari balik pintu kamarnya. Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.
“Nona Josselyn… Ratu tak bisa tidur. Tubuhnya berkeringat hebat, perutnya melilit,” kata pelayan. Tubuh Josselyn menegang. Kilatan pedang Killian terbayang di depan matanya. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya. “Ayo kita ke sana.” Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati. ‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya. Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk. Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu. “Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu. Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Bajunya sedikit kuyup di bagian punggung. “Ini sudah ketiga kalinya Yang Mulia Ratu keluar masuk toilet, Nona Josselyn.” lapor salah satu pelayan. Josselyn mengangguk. Membantu Ratu untuk kembali tidur. Ia mengambil selembar handuk dan mengelap keringat di dahi wanita tua itu. Josselyn menatap Tabib, seolah menanyakan apakah kondisi Ratu baik-baik saja. Yorick memeriksa nadi Ratu. “Ramuannya bekerja,” katanya singkat. “Racunnya keluar.” Jawaban Yorick membuat Josselyn bernapas lebih lega. “Aku akan buatkan chamomile dan bubur hangat. Kau siapkan kain hangat untuk tengkuknya.” perintah Yorick. Josselyn mengangguk. Malam itu, dibantu oleh pelayan lainnya, Josselyn merawat Ratu hingga Ratu bisa tertidur kembali. ***~*** “Apa aku benar-benar harus hadir?” Josselyn berhenti di depan cermin kecil di kamarnya. Hari telah berganti. Ia terus mengamati gaun biru pucat yang diberikan pelayan istana. “Yang Mulia Ratu sendiri yang memerintahkan. Beliau ingin Nona Josselyn menemaninya sepanjang pesta berlangsung.” jawab pelayan itu, ia sedikit menundukkan kepala, lalu berbalik pergi. Begitu Josselyn memastikan pelayan itu pergi, senyumnya mengembang di depan cermin, bagaikan mendapatkan jackpot di siang bolong. “Padahal aku tak berencana seperti ini. Tapi Dewi Fortuna memihakku.” gumamnya, ia mengayunkan ujung gaunnya yang indah. “Kau menyukainya.” Sebuah suara muncul di ambang pintu. Josselyn terlonjak kaget. “Yang Mulia,” Josselyn buru-buru membungkuk, memberi hormat. Killian berjalan mendekat. Matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Lalu berakhir mengunci tatapannya di mata Josselyn. “Aku hanya ingin memperingatkanmu, kau diundang ke pesta untuk mengawasi kesehatan Ratu. Bukan sebagai tamu.” Josselyn menarik napas panjang, merutuk dalam hati. ‘Aku tahu.’ Tapi Josselyn hanya bisa menunduk dan mengatakan, “Baik, Yang Mulia. Saya akan ingat itu.” ***~*** Aula utama istana berubah menjadi lautan cahaya. Musik mengalun, gaun berkilau, suara tawa saling bertabrakan. Josselyn berdiri agak jauh di belakang Ratu. Jarinya saling bertaut, matanya menyapu ruangan, mengecek suasana. ‘Para putri bangsawan benar-benar bersolek untuk menarik perhatian Killian.’ ujar Josselyn dalam hati. Karena pesta ini bertujuan mencari jodoh untuk Putra Mahkota, yang hadir tak hanya dari keluarga bangsawan, tapi juga dari kerajaan lain. Yang itu artinya, saingan Josselyn menjadi lebih berat karena tak hanya tentang paras, tapi juga latar belakang keluarga. “Jangan berdiri seperti tahanan yang menunggu vonis,” bisik Yorick yang berdiri di sampingnya. Josselyn tersenyum tipis. Yorick pasti mengira ia resah berada di tengah keramaian ini. Padahal Josselyn sedang mengukur peluang untuk dirinya. “Saya tak menyangka seramai ini,” jawab Josselyn tanpa menoleh. “Itu hal yang bagus, bukan? Tak akan ada yang memperhatikan kita. Kau lihat meja di pojok sana?” Josselyn mengikut arah yang ditunjuk Yorick. “Banyak cemilan manis. Ambilah beberapa untukmu. Agar kau lebih santai.” “Lalu Ratu…?” “Serahkan padaku. Lagipula tak selama itu untuk makan cemilan kan?” Yorick mengedipkan sebelah matanya. Josselyn tersenyum lebar, kebetulan pagi tadi ia tak sempat sarapan karena Killian yang tiba-tiba datang ke kamarnya. “Baiklah, saya akan ke sana sebentar. Titip Ratu ya?” ujarnya senang. Josselyn segera menyelinap mendekati pojok ruangan. Matanya berbinar saat melihat berbagai macam kue warna-warni dengan bentuk yang unik. “Ah, rasanya aku ingin memakan semuanya!” Suaranya hampir seperti jeritan bahagia jika tak ia tahan. Ia segera mengambil sepotong kue berwarna merah. “Putra Mahkota,” gumam seseorang. Suasana berubah. Musik masih berjalan, tapi semua mata bergerak ke satu arah. Killian masuk. Aura dingin. Tegak. Tatapannya menyapu ruangan seperti sedang menghitung musuh. Bukan mencari pasangan. Josselyn yang sedang mengunyah, bergumam. “Dia terlihat marah,” Lalu mengambil sepotong lagi. “Tapi ia memang selalu terlihat seperti itu,” Josselyn tak peduli. Toh, Killian pasti tak melihatnya. Saat ini yang ia butuhkan hanya mengisi perutnya agar ia tak pingsan. Saat perhatian semua orang tertuju pada Killian, seorang bangsawan tua tiba-tiba mendekat. Matanya menilai Josselyn dari kepala sampai kaki. “Oh, ternyata aku tak salah lihat. Anak Althea.” ucapnya, tanpa sopan santun. Volume suaranya yang sengaja ia naikkan, memancing beberapa orang di sekitarnya untuk menoleh. “Kenapa kau bisa berada di sini? Kau menyelinap diam-diam?” katanya lagi, dengan senyuman sinis. Di antara tatapan bangsawan-bangsawan lain, Josselyn minum segelas air putih dengan tenang. Setelah itu menatap bangsawan tua itu dengan ramah. “Saya bekerja sebagai asisten tabib kerajaan,” jawabnya. Pria tua itu menaikkan sebelah alisnya. “Asisten tabib? Jangan melantur.” “Saya di sini atas perintah Raja dan Ratu.” Bangsawan itu tertawa meremehkan. “Seseorang yang memiliki darah pengkhianat tak seharusnya menunjukkan wajah di istana.” Rahangnya mengeras. Josselyn menjawab tanpa senyum. “Jadi seharusnya yang seperti apa? Yang pandai menjilat seperti Anda?” Suaranya turun satu nada. Dingin. Wajah pria itu memerah, seketika ia menampar Josselyn dengan keras. Tangan besar dan gemuk itu membuat Josselyn terhuyung. “Raja terlalu murah hati,” ucap bangsawan itu. “Atau terlalu sabar,” Ia mengelap tangannya bekas menampar Josselyn dengan wajah jijik. “Membiarkan anak pengkhianat berkeliaran bebas di tempat hukuman ayahnya.” Bangsawan tua tersenyum sinis. Josselyn menegang. Ia tidak menoleh, tapi setiap kata menempel di telinganya. “Bukankah itu berbahaya? Aku dengar Ratu dalam keadaan kurang sehat.” Suara bisik-bisik mulai terdengar. “Bagaimana kalau dia justru akan meracuni Ratu untuk balas dendam?” Bangsawan itu menoleh ke suara berisik, lalu tersenyum lebar, seolah merasa mendapatkan dukungan. “Tidak, selama ia masih berguna.” Tatapan mata bangsawan tua seolah menelanjangi Josselyn. “Ratu senang dengan ramuannya. Raja senang melihat istrinya bernapas lebih lama.” Bangsawan tua terkekeh. Lalu matanya menatap sekelilingnya, seakan meminta persetujuan. “Dan ketika kesenangan itu selesai?” Nada berikutnya lebih pelan. Lebih dingin. “Maka pedang akan bekerja lebih cepat daripada pengadilan.” Suara-suara kali ini lebih lantang dan rendah. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian menatap iba pada gadis itu. Josselyn merasakan tenggorokannya mengering. “Kita hanya bisa berharap, Raja dan Ratu segera sadar sebelum gadis ini menghentikan napasnya.” Mata pria itu melirik tabung ramuan yang Josselyn bawa sedari tadi. “Itu ramuan untuk Ratu? Jangan-jangan dia sudah membubuhkan racun di dalamnya.” bisikan lain terdengar. Tubuh Josselyn bergetar. Ia melihat kerumunan bertambah besar. Di antara mereka, Josselyn sempat melihat sosok Yorick bergerak mendekatinya, lalu berhenti. Terlambat. Kilatan logam. Bergerak terlalu cepat, menggores leher bangsawan tua itu. Darah menetes ke kerah bajunya. Suasana seketika hening. Josselyn menoleh ke arah pemilik pedang. “Yang Mulia…” Itu Killian. Sedang menghunus pedangnya ke leher pria tua itu. “Ulangi,” kata Killian pelan. “Aku tidak mendengar dengan jelas.” Josselyn membeku. Tangannya gemetar hebat. “Yang Mulia!” suara Kepala Dewan Menteri terdengar panik. “Ini pesta—!” “Dan dia merusaknya,” jawab Killian. Bangsawan tua itu menelan ludah. “Aku… aku minta maaf.” Killian menarik pedangnya kembali, dan memasukkannya ke dalam sarung pedangnya. “Pergi,” perintahnya. Bangsawan itu mundur tergesa, hampir berlari meninggalkan aula. Disusul gerutuan ngeri di sekitarnya. Josselyn merasa lututnya melemas. Rumor yang selama ini ia dengar: Putra Mahkota yang mudah melayangkan pedang, benar-benar terjadi di hadapannya. Beruntungnya, tak terjadi pertumpahan darah. “Dia gila,” bisiknya tanpa sadar. “Tidak,” jawab suara asing di sampingnya. “Dia hanya tidak peduli.” Josselyn menoleh. Dua pria berdiri di sana. Yang pertama tersenyum santai, rambut peraknya dikuncir asal, matanya menyimpan rasa ingin tahu. Yang kedua berwajah datar, rambut coklatnya rapi, tatapannya penuh perhitungan. “Aku Howarth,” kata yang pertama. “Dan ini adikku, Sebastian.” “Kami dari Edevane, kerajaan tetangga,” lanjut Sebastian. “Senang bertemu denganmu, Gadis yang Dibela Putra Mahkota.” Tatapan Howarth berhenti di mata Josselyn. Josselyn menelan ludah. Tatapan mereka—dingin, tajam, mengancam—membuatnya sadar: pertemuan ini baru permulaan. Sebuah kekacauan yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada balas dendamnya sendiri sedang menantinya.“B-berdiri…”Suara Garrick nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar hebat saat menatap putrinya.Lyria masih berdiri.Tidak stabil. Kakinya bergetar. Tapi jelas—ia berdiri.“Ayah…”Gadis itu memanggil pelan, seolah takut suaranya akan menghancurkan momen itu.Garrick menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa suara.“Lyria… kau… kau berdiri…”Ia melangkah satu langkah ke depan. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya lututnya menyerah.Garrick jatuh berlutut tepat di depan Josselyn.Gadis itu mundur setengah langkah. Dadanya terasa sesak.“Terima kasih…!”Suaranya pecah.“Terima kasih… terima kasih… terima kasih…”Ia mengulanginya berkali-kali. Kepalanya menunduk dalam. Bahunya bergetar.Josselyn membeku. Pria yang tadi menolak mereka kini berlutut di hadapannya. Berterima kasih.“Tuan… Anda tidak perlu—”“Perlu!” potong Garrick cepat. Ia mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah. “Aku sudah kehilangan harapan… bertahun-tahun… dan kau…”Suaranya kembali hilang.“...kau mengemba
Rumah itu lebih kecil dari yang Josselyn bayangkan.Dinding kayunya tampak rapuh. Cahaya dari beberapa lilin membuat bayangan bergerak gelisah di setiap sudut ruangan.Dan di tengah ruangan, seorang gadis kecil terbaring di ranjang. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun.Josselyn berhenti melangkah.“Dia…”Suara Josselyn tertahan di tenggorokannya. Kakinya tak bergerak.Gadis itu kurus. Terlalu kurus untuk anak seusianya. Kakinya terbungkus kain tipis, tapi bentuknya, tidak seperti kaki yang sehat.Tidak ada gerakan. Tidak ada reaksi. Hanya napas pelan yang nyaris tak terdengar.“Sudah bertahun-tahun,” suara pria tua itu serak. “Sejak hari itu.”Josselyn menoleh perlahan.Pria itu berdiri di dekat pintu. Mata merah. Rahang mengeras.“Dia tidak pernah berdiri lagi.”Hening.Howarth melangkah mendekat. Pelan. Dan terlalu santai. Ia berhenti tepat di samping Josselyn. Menunduk sedikit.“Jadi…” bisiknya rendah, hanya untuk Josselyn. “Bagaimana caramu menyembuhkannya?”Josselyn menoleh taj
‘Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’Josselyn mengernyitkan kening, memandang Howarth yang berada di depannya.Howarth melirik ke arahnya, tapi tidak langsung menjawab. Ia justru mundur ke belakang. Memposisikan diri sangat dekat dengan Josselyn.“Kau tak pernah berhenti membuatku terkejut, Josselyn.” bisiknya, cukup pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.Josselyn mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan. Seolah tak peduli.“Apa maksud Anda?”Howarth tersenyum tipis. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali naik ke mata Josselyn.“Beberapa jam lalu kau meninggalkanku begitu saja,” lanjutnya santai, seolah membicarakan hal sepele. “Dan sekarang… kau bangun, bukan meminta maaf, tapi malah membuat keributan di depan satu desa.”Ia mendekatkan wajahnya sedikit.“Aku mulai paham kenapa Killian begitu tertarik padamu.”Josselyn terdiam. Dahinya sedikit berkerut. Memikirkan ucapan pria itu.“Meninggalkan?” ulangnya pelan.Ia mencoba mengi
Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Padahal saat di dalam kereta malam-malam sebelumnya, Howarth sudah berharap bisa merasakan tidur nyaman di desa tempat tujuan mereka.Tapi di langit gelap seperti saat ini, Howarth berdiri di depan rumah tinggal, cahaya obor memantul di iris ambernya. Di hadapannya, puluhan warga berkumpul. Wajah-wajah tegang. Bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan.Di sampingnya, Sebastian ikut berdiri. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya perban yang membalut bahunya tak terlihat karena tertutup baju.Howarth meliriknya sekilas. “Kau seharusnya tetap di dalam.”Sebastian tidak menoleh. “Dan membiarkanmu keluar setelah tiga gelas alkohol?”Howarth mendengus pelan. “Aku masih sadar.”“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Sebastian datar.Howarth tersenyum miring. “Kau terlalu banyak berpikir.”“Dan kau tak pernah berpikir,” potong Sebastian.Suara dari kerumunan mulai meninggi.“Kami belum lupa!”“Jangan kira kami akan menyambut kalian dengan
Howarth menatap Josselyn yang terpejam di atas kasur. Napasnya sudah terlihat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali.“Dia tertidur?” gumamnya, lalu mendengus. “Sangat egois.”Howarth menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.“Setelah semua kekacauan itu—dia lebih terlihat pingsan.”Suara ketukan di pintu terdengar lagi.Howarth menyambar kemeja putih satin dari lantai. Memakainya terburu-buru.“Oh, hai, Kael. Ada apa?” tanya Howarth basa-basi setelah membukakan pintu.“Kau di sini? Di mana Josselyn?” tanya Kael.Awalnya menatap Howarth dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berhenti di bagian dada kemejanya yang terbuka. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke belakang bahu Howarth.Howarth tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, bersandar di daun pintu. Bermaksud untuk menutup pandangan Kael.“Dia kelelahan karena perjalanan. Biarkan dia istirahat lebih dulu.” jawab Howarth dengan nada santai.Kael tak langsung menjawab. Pandanga
“Howarth…” Suara Josselyn pecah, nyaris seperti bisikan yang kehilangan bentuk. “Apa kau akan terus diam…?” napasnya tersengal, “atau kau sengaja membuatku seperti ini?” Howarth tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Terlalu lama. “Kau terlihat sangat menarik, Josselyn,” gumamnya pelan. Josselyn menggertakkan giginya. “Jangan mainkan aku sekarang.” “Mainkan?” alis Howarth sedikit terangkat. “Kau yang menarikku masuk, Josselyn.” “Aku tidak peduli,” potongnya cepat. “Aku butuh—” “Apa?” sela Howarth tenang. Josselyn terdiam. Matanya bergetar, seolah mencari kata yang tidak ingin ia ucapkan. “Howarth…” suaranya turun, melemah, “aku tidak bisa menahannya lagi.” Pria itu melangkah satu langkah mendekat. Hanya satu. Tapi itu cukup membuat napas Josselyn tercekat. “Tidak bisa,” ulangnya pelan. “Atau tidak mau?” Josselyn mencengkeram bajunya sendiri. “Jangan buat ini lebih sulit…” “Aku hanya penasaran,” Tangan Howarth mendekat. Mengambil beberapa helai anak ra
“Apa maksud mereka barusan?”Suara Josselyn nyaris tertelan oleh riuh orang-orang itu. Mereka yang tadinya hanya berlalu lalang, melakukan aktivitas masing-masing, sekarang mulai membentuk lingkaran di hadapannya.Kael tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk tegak di atas kudanya, matanya menyapu k
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi?”Suara Josselyn pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.Sebastian terbaring tenang di bawah pohon, napasnya kini jauh lebih stabil. Sangat kontras dengan kondisinya beberapa saat lalu.“Itu yang ingin kutanyakan,” sahut Howarth dingin. “Karena itu je
“Formasi! Lindungi tengah!”Suara Sebastian memotong kepanikan seperti bilah tajam, saat ia melihat ada sekelompok prajurit tersisa yang baru datang.Killian memang hanya menyediakan satu kereta penumpang, tapi rombongan ini tidak kecil. Kereta-kereta barang Edevan ikut serta—dan cukup banyak praju
“Ya.”Jawaban itu datang tanpa jeda.Josselyn menatap Yorick lekat. “Ya?”“Kau yang memaksaku malam itu,” lanjut Yorick tenang. “Kau bilang kau tidak punya waktu menunggu. Kau ingin segera menemukan racikan yang tepat untuk Ratu.”Josselyn mengerutkan kening, ragu dan tak percaya. “Saya… memaksa An