Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 43 - The Miracle They Demanded

Share

43 - The Miracle They Demanded

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-04-15 23:54:20

Rumah itu lebih kecil dari yang Josselyn bayangkan.

Dinding kayunya tampak rapuh. Cahaya dari beberapa lilin membuat bayangan bergerak gelisah di setiap sudut ruangan.

Dan di tengah ruangan, seorang gadis kecil terbaring di ranjang. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun.

Josselyn berhenti melangkah.

“Dia…”

Suara Josselyn tertahan di tenggorokannya. Kakinya tak bergerak.

Gadis itu kurus. Terlalu kurus untuk anak seusianya. Kakinya terbungkus kain tipis, tapi bentuknya, tidak seperti kaki yang se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    44 – Echoes of the Miracle

    “B-berdiri…”Suara Garrick nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar hebat saat menatap putrinya.Lyria masih berdiri.Tidak stabil. Kakinya bergetar. Tapi jelas—ia berdiri.“Ayah…”Gadis itu memanggil pelan, seolah takut suaranya akan menghancurkan momen itu.Garrick menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa suara.“Lyria… kau… kau berdiri…”Ia melangkah satu langkah ke depan. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya lututnya menyerah.Garrick jatuh berlutut tepat di depan Josselyn.Gadis itu mundur setengah langkah. Dadanya terasa sesak.“Terima kasih…!”Suaranya pecah.“Terima kasih… terima kasih… terima kasih…”Ia mengulanginya berkali-kali. Kepalanya menunduk dalam. Bahunya bergetar.Josselyn membeku. Pria yang tadi menolak mereka kini berlutut di hadapannya. Berterima kasih.“Tuan… Anda tidak perlu—”“Perlu!” potong Garrick cepat. Ia mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah. “Aku sudah kehilangan harapan… bertahun-tahun… dan kau…”Suaranya kembali hilang.“...kau mengemba

  • The Alchemist's Touch    43 - The Miracle They Demanded

    Rumah itu lebih kecil dari yang Josselyn bayangkan.Dinding kayunya tampak rapuh. Cahaya dari beberapa lilin membuat bayangan bergerak gelisah di setiap sudut ruangan.Dan di tengah ruangan, seorang gadis kecil terbaring di ranjang. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun.Josselyn berhenti melangkah.“Dia…”Suara Josselyn tertahan di tenggorokannya. Kakinya tak bergerak.Gadis itu kurus. Terlalu kurus untuk anak seusianya. Kakinya terbungkus kain tipis, tapi bentuknya, tidak seperti kaki yang sehat.Tidak ada gerakan. Tidak ada reaksi. Hanya napas pelan yang nyaris tak terdengar.“Sudah bertahun-tahun,” suara pria tua itu serak. “Sejak hari itu.”Josselyn menoleh perlahan.Pria itu berdiri di dekat pintu. Mata merah. Rahang mengeras.“Dia tidak pernah berdiri lagi.”Hening.Howarth melangkah mendekat. Pelan. Dan terlalu santai. Ia berhenti tepat di samping Josselyn. Menunduk sedikit.“Jadi…” bisiknya rendah, hanya untuk Josselyn. “Bagaimana caramu menyembuhkannya?”Josselyn menoleh taj

  • The Alchemist's Touch    42 – Echoes Without Memory

    ‘Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’Josselyn mengernyitkan kening, memandang Howarth yang berada di depannya.Howarth melirik ke arahnya, tapi tidak langsung menjawab. Ia justru mundur ke belakang. Memposisikan diri sangat dekat dengan Josselyn.“Kau tak pernah berhenti membuatku terkejut, Josselyn.” bisiknya, cukup pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.Josselyn mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan. Seolah tak peduli.“Apa maksud Anda?”Howarth tersenyum tipis. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali naik ke mata Josselyn.“Beberapa jam lalu kau meninggalkanku begitu saja,” lanjutnya santai, seolah membicarakan hal sepele. “Dan sekarang… kau bangun, bukan meminta maaf, tapi malah membuat keributan di depan satu desa.”Ia mendekatkan wajahnya sedikit.“Aku mulai paham kenapa Killian begitu tertarik padamu.”Josselyn terdiam. Dahinya sedikit berkerut. Memikirkan ucapan pria itu.“Meninggalkan?” ulangnya pelan.Ia mencoba mengi

  • The Alchemist's Touch    41 – Prove It… Or Leave

    Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Padahal saat di dalam kereta malam-malam sebelumnya, Howarth sudah berharap bisa merasakan tidur nyaman di desa tempat tujuan mereka.Tapi di langit gelap seperti saat ini, Howarth berdiri di depan rumah tinggal, cahaya obor memantul di iris ambernya. Di hadapannya, puluhan warga berkumpul. Wajah-wajah tegang. Bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan.Di sampingnya, Sebastian ikut berdiri. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya perban yang membalut bahunya tak terlihat karena tertutup baju.Howarth meliriknya sekilas. “Kau seharusnya tetap di dalam.”Sebastian tidak menoleh. “Dan membiarkanmu keluar setelah tiga gelas alkohol?”Howarth mendengus pelan. “Aku masih sadar.”“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Sebastian datar.Howarth tersenyum miring. “Kau terlalu banyak berpikir.”“Dan kau tak pernah berpikir,” potong Sebastian.Suara dari kerumunan mulai meninggi.“Kami belum lupa!”“Jangan kira kami akan menyambut kalian dengan

  • The Alchemist's Touch    40 - What He Choose To Hide

    Howarth menatap Josselyn yang terpejam di atas kasur. Napasnya sudah terlihat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali.“Dia tertidur?” gumamnya, lalu mendengus. “Sangat egois.”Howarth menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.“Setelah semua kekacauan itu—dia lebih terlihat pingsan.”Suara ketukan di pintu terdengar lagi.Howarth menyambar kemeja putih satin dari lantai. Memakainya terburu-buru.“Oh, hai, Kael. Ada apa?” tanya Howarth basa-basi setelah membukakan pintu.“Kau di sini? Di mana Josselyn?” tanya Kael.Awalnya menatap Howarth dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berhenti di bagian dada kemejanya yang terbuka. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke belakang bahu Howarth.Howarth tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, bersandar di daun pintu. Bermaksud untuk menutup pandangan Kael.“Dia kelelahan karena perjalanan. Biarkan dia istirahat lebih dulu.” jawab Howarth dengan nada santai.Kael tak langsung menjawab. Pandanga

  • The Alchemist's Touch    39 – Ask Properly 🔞🔞🔞

    “Howarth…” Suara Josselyn pecah, nyaris seperti bisikan yang kehilangan bentuk. “Apa kau akan terus diam…?” napasnya tersengal, “atau kau sengaja membuatku seperti ini?” Howarth tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Terlalu lama. “Kau terlihat sangat menarik, Josselyn,” gumamnya pelan. Josselyn menggertakkan giginya. “Jangan mainkan aku sekarang.” “Mainkan?” alis Howarth sedikit terangkat. “Kau yang menarikku masuk, Josselyn.” “Aku tidak peduli,” potongnya cepat. “Aku butuh—” “Apa?” sela Howarth tenang. Josselyn terdiam. Matanya bergetar, seolah mencari kata yang tidak ingin ia ucapkan. “Howarth…” suaranya turun, melemah, “aku tidak bisa menahannya lagi.” Pria itu melangkah satu langkah mendekat. Hanya satu. Tapi itu cukup membuat napas Josselyn tercekat. “Tidak bisa,” ulangnya pelan. “Atau tidak mau?” Josselyn mencengkeram bajunya sendiri. “Jangan buat ini lebih sulit…” “Aku hanya penasaran,” Tangan Howarth mendekat. Mengambil beberapa helai anak ra

  • The Alchemist's Touch    37 – What the Body Remembers

    “Apa maksud mereka barusan?”Suara Josselyn nyaris tertelan oleh riuh orang-orang itu. Mereka yang tadinya hanya berlalu lalang, melakukan aktivitas masing-masing, sekarang mulai membentuk lingkaran di hadapannya.Kael tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk tegak di atas kudanya, matanya menyapu k

  • The Alchemist's Touch    36 - The Blood She Carries

    “Apa yang sebenarnya terjadi tadi?”Suara Josselyn pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.Sebastian terbaring tenang di bawah pohon, napasnya kini jauh lebih stabil. Sangat kontras dengan kondisinya beberapa saat lalu.“Itu yang ingin kutanyakan,” sahut Howarth dingin. “Karena itu je

  • The Alchemist's Touch    33 – The Arrow Meant for Her

    “Formasi! Lindungi tengah!”Suara Sebastian memotong kepanikan seperti bilah tajam, saat ia melihat ada sekelompok prajurit tersisa yang baru datang.Killian memang hanya menyediakan satu kereta penumpang, tapi rombongan ini tidak kecil. Kereta-kereta barang Edevan ikut serta—dan cukup banyak praju

  • The Alchemist's Touch    30 – Before The Winter Takes Her

    “Ya.”Jawaban itu datang tanpa jeda.Josselyn menatap Yorick lekat. “Ya?”“Kau yang memaksaku malam itu,” lanjut Yorick tenang. “Kau bilang kau tidak punya waktu menunggu. Kau ingin segera menemukan racikan yang tepat untuk Ratu.”Josselyn mengerutkan kening, ragu dan tak percaya. “Saya… memaksa An

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status