Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 4 – The Sword Raised For Me

Share

4 – The Sword Raised For Me

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-02-27 15:11:52

‘Edevan?’

Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.

Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.

“Namamu…”

“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.

“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”

Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.

“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.

“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”

Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.

“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”

Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya Howarth terasa jelas, sekaligus menggoda.

“Yang Mulia!”

Sebuah suara memecah fokusnya. Ia menoleh ke arah singgasana. Ratu sudah tak berada di kursinya. Josselyn segera berlari menghampiri.

“Yang Mulia, ada a—”

Percikan darah menodai tangan Ratu, dan cairan yang sama mengalir dari mulutnya.

Josselyn menegang.

Jika Ratu mati malam ini, semua mata akan tertuju padanya.

“Kita harus segera membawa Yang Mulia ke kamar.” bisik Yorick.

“Tapi, bagaimana caranya? Banyak orang yang meli—”

Tiba-tiba sebuah bayangan besar menutupi mereka—dirinya, Yorick, dan Ratu.

Josselyn menoleh. Sosok Killian berdiri membelakanginya. Menghalangi pandangan para tamu dari mereka.

“Bawa Ratu segera ke kamar!” perintahnya.

Tanpa pikir panjang, Josselyn dan Yorick segera mengangkat Ratu, dibantu prajurit lainnya, membopongnya hingga ke kamar.

Setelah itu, Josselyn tak tahu menahu apa yang terjadi di aula istana. Ia sibuk menghabiskan malam untuk merawat Ratu.

***~***

“Aku tidak mau bertemu dengannya.”

Josselyn berhenti di ambang koridor Sayap Ratu. Kedua tangannya masih membawa nampan berisi tabung ramuan dan semangkuk kecil air. Ia baru saja buru-buru keluar dari kamar Ratu, setelah mendengar dari penjaga pintu bahwa Killian akan mengunjungi ibunya.

Yorick menoleh. “Kau sudah tidak bertemu dengannya sejak pesta.”

“Itu disengaja.”

“Kenapa menghindar?”

“Setelah malam itu…”

Ia menggenggam pinggiran nampan hingga ujung jarinya memutih.

Memori pedang Killian masih membakar pikirannya. Suasana pesta yang kacau balau. Ketua Dewan Menteri yang marah besar. Memperkeras bisikan-bisikan di aula itu. 

“Tugas saya hanya fokus pada kesehatan Ratu.” jawab Josselyn mengalihkan pembicaraan.

“Tapi malam itu, jika Putra Mahkota tak menutupi pandangan tamu, bisa terjadi kekacauan lebih besar. Nyawamu juga taruhannya.”

Josselyn menarik napas berat. Yorick benar.

Ia sadar betul posisinya saat itu. Jika rakyat—bahkan kerajaan lain tahu kondisi Ratu bertambah parah sejak Josselyn berada di istana, pasti akan ada fitnah yang ditujukan untuknya.

Yorick menatap pintu kamar Ratu yang tertutup rapat, dijaga dua ksatria.

“Di istana, hidup bawahan itu rapuh.” 

Yorick mengangkat tangannya, lalu membaliknya cepat, seolah menjatuhkan sesuatu. “Bergulir ke tangan orang berkuasa—lalu… pyarr. Mati.”

Senyum di wajah Yorick membuat Josselyn bergidik.

‘Bagaimana bisa dia bicara tentang kematian dengan begitu santai?’ pikir Josselyn.

Yorick tertawa geli melihat ketakutan di wajah asisten mudanya itu. “Kau akan terbiasa melihat hal-hal mengerikan di sini.”

Josselyn mengerucutkan bibirnya, menundukkan kepala. “Aku tak ingin terbiasa melihat hal-hal mengerikan.”

Ucapannya separuh benar, tapi juga salah. Ia melangkahkan kaki pertama kali di istana ini untuk membalas dendam. Tapi tidak dengan menghunus pedang ke segala arah.

Saat ini, ia hanya membutuhkan satu hal—kepercayaan Killian. Dan itu lebih mematikan daripada balas dendam yang terburu-buru.

Tepat saat namanya melintas di kepalanya, sosok Killian muncul dari ujung koridor.

Tubuh Josselyn menegang. “Dia datang.”

Langkahnya melambat sesaat. Seolah memastikan degup jantungnya yang mendadak berdegup kencang.

Ia bukan takut pada tatapan Killian. Ia takut pada dirinya sendiri yang mulai memikirkannya terlalu sering.

Ia segera menunduk, meraih baju belakang Yorick untuk mempercepat langkah kakinya.

Dan saat berpas-pasan dengan Killian, ia menunduk terlalu dalam. Seakan dengan begitu ia bisa menghindari bukan hanya tatapannya, tapi juga perasaannya sendiri. Kemudian ia membalikkan badan dan cepat-cepat menyusul Yorick.

***~***

Angin malam itu terasa dingin. Ia berdiri di taman pinggir danau istana yang sepi, menatap kilau sinar bulan di permukaan air.

“Aku pikir, dengan aku menghindarinya, aku bisa lebih tenang. Tapi apa ini?” Dia memukul-pukul kepalanya dengan frustasi. “Sosoknya justru selalu muncul di kepalaku!”

Kini ia berkacak pinggang. Matanya tanpa sengaja menangkap batu yang cukup besar. Di kepalanya langsung muncul ide acak.

Ia mundur selangkah, lalu mengangkat kaki kanannya, bersiap menendang batu itu ke danau. Namun kakinya justru tersandung oleh sebelah kaki yang lain.

“Huaaa….”

Matanya terbelalak ngeri saat ia merasakan tubuhnya hampir tercebur ke dalam danau, sebelum sebuah tangan menarik bagian belakang gaunnya.

Karena tarikannya yang kuat, tubuh Josselyn terjatuh ke belakang, tepat di pelukan seseorang.

“Hei, hati-hati!”

Suara itu terdengar lembut dan ringan.

Dan wangi. Itu hal yang pertama kali ditangkap indra tubuhnya.

Josselyn membuka matanya. Seorang pria berambut perak dikucir rendah. Wajahnya cantik, dengan mata besar berwarna amber, hidung mancung dan bibir merah natural. 

“Sampai kapan kau akan memeluknya begitu, Howarth?”

Suara yang lain menyahut. Membuat Josselyn melepaskan pelukan Howarth terburu-buru.

“M-maafkan saya,” ucap Josselyn, sedikit menunduk.

“Selain ceroboh, ternyata kau berat juga.” ujar Howarth, ia menepuk-nepuk bagian lengan bajunya untuk merapikan.

Josselyn mengangkat kepalanya, dahinya berkerut kesal karena kata-kata Howarth barusan.

‘Tak sopan!’ teriak Josselyn dalam hati.

Howarth tertawa. “Suara di pikiranmu terlalu lantang terdengar.”

Wajah Josselyn langsung memerah. Seakan ia habis tertangkap basah.

“Jangan menggodanya,” Sebastian menyenggol bahu Howarth. “Kau membuatnya panik.”

Howarth mengendikkan bahu. “Maaf. Aura frustasimu menyeretku kemari, terlihat sangat tebal walaupun dari jauh.”

Sebastian melirik Josselyn. Seperti sedang berpikir, apakah ia harus menanyakan pertanyaan ini atau tidak.

“Apa karena hawa ‘panas’ yang tiba-tiba terjadi di istana?” tanyanya akhirnya.

Mata Josselyn bergerak bingung. Hawa malam ini terasa dingin, kontras dengan pertanyaan Sebastian.

Howarth berdiri bersandar di pohon, satu kakinya disilangkan santai. Sebastian berdiri di sampingnya—tegak, rapi, tanpa ekspresi.

“Saya tak mengerti, Tuan.” jawab Josselyn jujur. “Tapi… kenapa Anda berdua masih di istana? Bukankah pesta sudah selesai beberapa hari yang lalu?”

“Kami masih ada urusan perdagangan di Valenroth,” jawab Howarth ringan. “Dan Raja Alaric mengijinkan kami tinggal di istana sementara waktu.”

Sebastian menatap lurus Josselyn. “Kau sering berada di Sayap Ratu.”

“Aku bertugas di sini,” jawab Josselyn singkat.

Howarth tersenyum. “Oh, apakah kabar di Pusat Istana terdengar sampai ke sini?”

Pertanyaan Howarth memancing rasa penasaran Josselyn.

“Kabar apa?”

Howarth menaikkan sebelah alisnya. “Putra Mahkota sedang dalam masalah besar.”

“Kau pasti tahu. Kau ada di sana.” timpal Sebastian, nadanya sedikit sinis.

Josselyn mengepalkan jarinya. Instingnya tentang insiden pedang di aula muncul.

“Apa orang tua itu menuntut sesuatu?”

Howarth mengangkat bahu. “Dia memegang setengah jalur garam dan kain dari selatan.”

Ia tersenyum tipis.

“Setengah garam yang mengawetkan makanan rakyat, dan setengah kain yang menutup tubuh para bangsawan.”

Sebastian melanjutkan dengan tenang,

“Jika dia menarik dukungannya, Valenroth tidak akan kelaparan… tapi akan terguncang.”

Josselyn terdiam. “Dia tidak mati.”

“Hidup atau mati tak penting bagi Dewan,” ujar Sebastian datar.

“Asal Putra Mahkota menunduk.”

Josselyn memilin kain gaunnya. Kemudian, meremasnya hingga mencetak garis-garis tebal. 

“Apa dia akan meminta maaf?”

Howarth terkekeh. “Dia lebih memilih memotong lidahnya sendiri.”

Josselyn memejamkan mata. “Itu akan membuat segalanya lebih buruk.”

“Benar,” kata Sebastian. “Dan Ratu mengetahuinya siang tadi.”

Josselyn menegang. Ia sudah tahu narasi yang akan beredar sebentar lagi.

“Dan itu semua gara-gara Putra Mahkota membela anak pengkhianat.” ujar Josselyn lirih.

Howarth tersenyum miring. “Dia sangat pandai membaca situasi.”

Sebastian melirik pria di sampingnya tajam. “Howarth.”

“Apa?” Howarth mengangkat tangan. “Aku memujinya.”

“Josselyn!”

Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari jauh.

“Sepertinya kami harus pamit.” kata Sebastian. Lalu menarik Howarth untuk berjalan menjauh.

“Josselyn!”

Suara itu makin mendekat. Josselyn menoleh. Itu Yorick. Pria berusia 34 tahun itu terengah-engah begitu sampai di hadapannya.

“Tuan Yorick, ada apa? Kenapa Anda berlari-lari…”

“Ratu…” potong Yorick di sela napasnya yang satu-satu, “Ratu muntah darah lagi. Kita harus membuat ramuan herbal itu lagi. Bisakah menaikkan dosisnya?”

Josselyn membeku. Seakan sebuah batu raksasa ditumpukan di atas bahunya. 

Belum ada sebulan di istana, tapi ia merasa sudah dihadapkan kedua pilihan: 

Kehilangan kesempatan membalas dendam atau kehilangan kepalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    99 – The Kiss That Brought Him Back to Life

    Keheningan di dalam sel itu terasa lebih berat daripada rantai yang melilit pergelangan tangan Killian.Tatapan Josselyn tidak goyah.“Kami tidak datang untuk menyelamatkanmu.”Suara itu dingin. Seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang tidak memiliki emosi sama sekali.Killian tersenyum tipis, napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk, meringis, lalu menekan dadanya.“Bagus.”Ia mengangkat sedikit kepalanya, meski gerakan itu membuat luka di lehernya kembali terbuka.“Aku hanya khawatir kau datang dengan niat bodoh.”Josselyn tidak menjawab. Tapi matanya menyapu seluruh tubuh Killian.Darah. Luka terbuka. Memar. Bekas cambukan yang bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.Satu titik di hati terdalamnya merasakan perih.Ia seperti melihat dirinya. Disiksa, dikhianati oleh sosok yang seharusnya melindunginya.Terdengar suara tarikan napas yang terseret dari Killian.Dan itu cukup untuk membuat satu hal jelas—dia tidak akan bertahan lama.“Howarth,” gumamnya pelan tanpa menoleh.L

  • The Alchemist's Touch    98 – The Prince They Chose to Use

    Keheningan setelah kata-kata Yorick terasa lebih menekan di dada Josselyn.Tatapannya masih tertuju pada nama yang terpahat di batu nisan itu.Anne.Jari-jarinya mengepal pelan. Lalu akhirnya, ia berbicara.“Aku tidak akan membuat keputusan dalam keadaan seperti ini.”Suaranya rendah. Stabil. Tapi dingin.Yorick mengerutkan kening.“Kita tidak punya waktu untuk—”“Waktu?” potong Josselyn tajam.Ia menoleh, menatap Yorick untuk pertama kalinya sejak tamparan itu.“Waktu adalah sesuatu yang Anda miliki sejak awal. Tapi Anda memilih diam.”Kalimat itu menghantam tanpa ampun.Yorick terdiam. Untuk sesaat, tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.Hanya napas berat yang tertahan di antara mereka.“Howarth.”Suara itu memecah ketegangan.Howarth melangkah maju dari bayangan. Tatapannya tidak tertuju pada siapa pun secara khusus. Tapi terasa seperti melihat semuanya sekaligus.“Masalahnya bukan lagi siapa yang bersalah,” ujar Howarth tenang.Ia berhenti di antara mereka.“Tapi siapa yang masi

  • The Alchemist's Touch    97 – She Choose The Enemy

    “Howarth—lepaskan aku!”Suara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.“Diam,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.”“Aku harus kembali—!” Josselyn berusaha memberontak lagi. “Anne—dia—”“Sudah mati.”Kalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewati—hutan kecil di dekat danau

  • The Alchemist's Touch    96 – The Letter in Her Dead Hand

    Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.“Seorang Alkemis… berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.”Suara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.“Saya hanya… mencari udara segar, Yang Mulia.”Sepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.‘Howarth!’Sekali lagi, ia memanggil di kepalanya.“Ah, jadi kau di sini.,” Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. “Aku mencarimu ke mana-mana.”Howarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar

  • The Alchemist's Touch    95 – The Girl in the Dungeon

    “Nona Josselyn, ini… surat untuk Anda.”Suara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersih—tapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakan—dingin, lembap dan… rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknya—napas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah… ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,

  • The Alchemist's Touch    94 – The King’s Hidden Hand

    Josselyn tidak langsung menjawab.Kata-kata Howarth masih menggantung di udara, seperti benang tipis yang tak terlihat… tapi perlahan menarik pikirannya ke arah yang tak ingin ia tuju.Orang yang salah.Itu tidak masuk akal.Atau… mungkin terlalu masuk akal.Ia menelan ludah. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.“Apa maksud Anda?” ulangnya pelan, suaranya nyaris berbisik.Howarth terdiam. Matanya yang tajam justru mengamati Josselyn. Menunggu sekaligus menilai respons gadis itu.Seolah ingin memastikan… apakah gadis itu benar-benar siap mendengar.“Kau sempat merasa aneh, kan?” katanya ringan, seolah sedang membahas gosip yang menarik.Josselyn mengernyit.“Aneh?”Howarth mengangkat bahu santai.“Raja,” lanjutnya santai. “Putranya dituduh mencoba membunuh Ratu… dan dia hanya duduk diam. Tenang sekali. Nyaris mengagumkan.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat dada Josselyn menegang. Ia memang memikirkannya.Sejak sidang itu. Sejak tatapan Raja yang terlalu tenang.“T

  • The Alchemist's Touch    49 – Lines You Shouldn’t Cross

    “Apa maksudmu dengan ‘efek’?”Suara Killian rendah, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa menegang. Josselyn, masih di antara naik turun napasnya, mencoba mendengarkan lebih jelas.Sebastian menelan ludah. “Aku… sudah bilang, ini bukan—”“Kau bilang dia menggunakan kekuatan,” potong Killian. “Kek

  • The Alchemist's Touch    48 – You Shouldn’t Have Come

    “Kau pikir aku akan diam saja setelah diperlakukan seperti itu?” Kata itu menggantung di udara. Tubuh Josselyn membeku. Tatapan Howarth padanya terasa menusuk. Ditambah langkahnya yang terus mendesaknya untuk mundur. Air kini sudah menyentuh pahanya. Dingin menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia menggi

  • The Alchemist's Touch    47 - Don't Pretend You Didn't Want It

    ‘Argh, sial. Dia melihatku seperti ini lagi.’ Josselyn menutup mata, napasnya masih naik turun saat gejolak itu perlahan mereda. “Jadi, kau sudah sadar?” Getaran suara di punggung Josselyn makin membuat wajah gadis itu memerah. Ingin sekali dia turun dari kuda, menjauh dari pria yang melihat sisi

  • The Alchemist's Touch    46 – Don’t Let It Happen Again 🔞🔞

    Angin dingin masuk melalui celah jendela, membuat tubuh Josselyn meremang.“Tidak.”Suara Josselyn jatuh tegas di tengah ruangan kecil itu.Semua mata langsung tertuju padanya.Sebastian mengerutkan kening. “Kau menolak?”“Ya,” jawab Josselyn cepat. “Saya tidak akan menjelaskan tentang Tuan Yorick.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status