Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 45 – She Heals, Then She Forgets

Share

45 – She Heals, Then She Forgets

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-04-17 23:27:12

“Kita berkumpul di sini untuk apa, tepatnya?”

Sebastian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besar di dekat jendela. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tajam, bergantian menatap tiga orang di hadapannya, termasuk Josselyn.

Gadis itu berdiri agak kaku di dekat meja. Tangannya saling menggenggam. Ia bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba melibatkan pria-pria di hadapannya ini. Terutama si pria berambut perak dikucir rendah itu.

Howarth bersandar santai di sisi dinding, tangan terlipat. Kael ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    45 – She Heals, Then She Forgets

    “Kita berkumpul di sini untuk apa, tepatnya?”Sebastian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besar di dekat jendela. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tajam, bergantian menatap tiga orang di hadapannya, termasuk Josselyn.Gadis itu berdiri agak kaku di dekat meja. Tangannya saling menggenggam. Ia bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba melibatkan pria-pria di hadapannya ini. Terutama si pria berambut perak dikucir rendah itu.Howarth bersandar santai di sisi dinding, tangan terlipat. Kael berdiri sedikit di belakang Josselyn, diam, tapi jelas memperhatikan setiap detail.“Aku juga ingin tahu yang terjadi di rumah—siapa tadi namanya? Garrick dan Lyria?” lanjut Sebastian. “Karena sejujurnya, ini terlihat seperti interogasi.”Tak ada yang langsung menjawab.Josselyn menelan ludah. Ia melirik Kael. Sekali. Lalu lagi.“Josselyn.” Howarth menghela napas pendek. “Dia menyembuhkan gadis kecil itu. Lyria yang lumpuh selama beberapa tahun, seketika bisa berdiri dengan kedua kakinya yang lemah

  • The Alchemist's Touch    44 – Echoes of the Miracle

    “B-berdiri…”Suara Garrick nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar hebat saat menatap putrinya.Lyria masih berdiri.Tidak stabil. Kakinya bergetar. Tapi jelas—ia berdiri.“Ayah…”Gadis itu memanggil pelan, seolah takut suaranya akan menghancurkan momen itu.Garrick menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa suara.“Lyria… kau… kau berdiri…”Ia melangkah satu langkah ke depan. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya lututnya menyerah.Garrick jatuh berlutut tepat di depan Josselyn.Gadis itu mundur setengah langkah. Dadanya terasa sesak.“Terima kasih…!”Suaranya pecah.“Terima kasih… terima kasih… terima kasih…”Ia mengulanginya berkali-kali. Kepalanya menunduk dalam. Bahunya bergetar.Josselyn membeku. Pria yang tadi menolak mereka kini berlutut di hadapannya. Berterima kasih.“Tuan… Anda tidak perlu—”“Perlu!” potong Garrick cepat. Ia mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah. “Aku sudah kehilangan harapan… bertahun-tahun… dan kau…”Suaranya kembali hilang.“...kau mengemba

  • The Alchemist's Touch    43 - The Miracle They Demanded

    Rumah itu lebih kecil dari yang Josselyn bayangkan.Dinding kayunya tampak rapuh. Cahaya dari beberapa lilin membuat bayangan bergerak gelisah di setiap sudut ruangan.Dan di tengah ruangan, seorang gadis kecil terbaring di ranjang. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun.Josselyn berhenti melangkah.“Dia…”Suara Josselyn tertahan di tenggorokannya. Kakinya tak bergerak.Gadis itu kurus. Terlalu kurus untuk anak seusianya. Kakinya terbungkus kain tipis, tapi bentuknya, tidak seperti kaki yang sehat.Tidak ada gerakan. Tidak ada reaksi. Hanya napas pelan yang nyaris tak terdengar.“Sudah bertahun-tahun,” suara pria tua itu serak. “Sejak hari itu.”Josselyn menoleh perlahan.Pria itu berdiri di dekat pintu. Mata merah. Rahang mengeras.“Dia tidak pernah berdiri lagi.”Hening.Howarth melangkah mendekat. Pelan. Dan terlalu santai. Ia berhenti tepat di samping Josselyn. Menunduk sedikit.“Jadi…” bisiknya rendah, hanya untuk Josselyn. “Bagaimana caramu menyembuhkannya?”Josselyn menoleh taj

  • The Alchemist's Touch    42 – Echoes Without Memory

    ‘Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’Josselyn mengernyitkan kening, memandang Howarth yang berada di depannya.Howarth melirik ke arahnya, tapi tidak langsung menjawab. Ia justru mundur ke belakang. Memposisikan diri sangat dekat dengan Josselyn.“Kau tak pernah berhenti membuatku terkejut, Josselyn.” bisiknya, cukup pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.Josselyn mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan. Seolah tak peduli.“Apa maksud Anda?”Howarth tersenyum tipis. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali naik ke mata Josselyn.“Beberapa jam lalu kau meninggalkanku begitu saja,” lanjutnya santai, seolah membicarakan hal sepele. “Dan sekarang… kau bangun, bukan meminta maaf, tapi malah membuat keributan di depan satu desa.”Ia mendekatkan wajahnya sedikit.“Aku mulai paham kenapa Killian begitu tertarik padamu.”Josselyn terdiam. Dahinya sedikit berkerut. Memikirkan ucapan pria itu.“Meninggalkan?” ulangnya pelan.Ia mencoba mengi

  • The Alchemist's Touch    41 – Prove It… Or Leave

    Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Padahal saat di dalam kereta malam-malam sebelumnya, Howarth sudah berharap bisa merasakan tidur nyaman di desa tempat tujuan mereka.Tapi di langit gelap seperti saat ini, Howarth berdiri di depan rumah tinggal, cahaya obor memantul di iris ambernya. Di hadapannya, puluhan warga berkumpul. Wajah-wajah tegang. Bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan.Di sampingnya, Sebastian ikut berdiri. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya perban yang membalut bahunya tak terlihat karena tertutup baju.Howarth meliriknya sekilas. “Kau seharusnya tetap di dalam.”Sebastian tidak menoleh. “Dan membiarkanmu keluar setelah tiga gelas alkohol?”Howarth mendengus pelan. “Aku masih sadar.”“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Sebastian datar.Howarth tersenyum miring. “Kau terlalu banyak berpikir.”“Dan kau tak pernah berpikir,” potong Sebastian.Suara dari kerumunan mulai meninggi.“Kami belum lupa!”“Jangan kira kami akan menyambut kalian dengan

  • The Alchemist's Touch    40 - What He Choose To Hide

    Howarth menatap Josselyn yang terpejam di atas kasur. Napasnya sudah terlihat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali.“Dia tertidur?” gumamnya, lalu mendengus. “Sangat egois.”Howarth menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.“Setelah semua kekacauan itu—dia lebih terlihat pingsan.”Suara ketukan di pintu terdengar lagi.Howarth menyambar kemeja putih satin dari lantai. Memakainya terburu-buru.“Oh, hai, Kael. Ada apa?” tanya Howarth basa-basi setelah membukakan pintu.“Kau di sini? Di mana Josselyn?” tanya Kael.Awalnya menatap Howarth dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berhenti di bagian dada kemejanya yang terbuka. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke belakang bahu Howarth.Howarth tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, bersandar di daun pintu. Bermaksud untuk menutup pandangan Kael.“Dia kelelahan karena perjalanan. Biarkan dia istirahat lebih dulu.” jawab Howarth dengan nada santai.Kael tak langsung menjawab. Pandanga

  • The Alchemist's Touch    26 – The Marks He Left

    Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny

  • The Alchemist's Touch    21 – A Lie Too Far

    “Memang benar Putra Mahkota mengatakan itu?”Pertanyaan Yorick membuat langkah Josselyn terhenti sesaat.Yorick—pria berambut coklat terang dengan mata hijau lumutnya—berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan, nada suaranya terdengar lembut seperti biasa, hanya saja bagi Josselyn terdengar baga

  • The Alchemist's Touch    20 - A Lie In His Name

    “Ada yang mencoba meracuniku.”Josselyn mengatakannya tanpa basa-basi.Yorick berhenti melangkah. Menatap asistennya itu selama beberapa detik lalu tertawa kecil.Mata Josselyn bergerak-gerak bingung dengan reaksi Yorick. Ia sadar, tawa pria itu bukan tawa hangat seperti biasanya. Tapi seperti tawa

  • The Alchemist's Touch    18 – The Secret We Saw

    “Seharusnya aku tak bisa menerima tamu.”Suara Killian terdengar datar. Ia melirik ke arah Darius, menatapnya tajam.“Maafkan hamba, Paduka. Lord Edevan memaksa untuk bertemu, katanya ada hal penting tentang kerajaan—”Pria berambut perak itu menepuk bahu Darius, tersenyum santai sambil melangkah k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status