/ Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 45 – She Heals, Then She Forgets

공유

45 – She Heals, Then She Forgets

작가: Ivy Morfeus
last update 게시일: 2026-04-17 23:27:12

“Kita berkumpul di sini untuk apa, tepatnya?”

Sebastian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besar di dekat jendela. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tajam, bergantian menatap tiga orang di hadapannya, termasuk Josselyn.

Gadis itu berdiri agak kaku di dekat meja. Tangannya saling menggenggam. Ia bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba melibatkan pria-pria di hadapannya ini. Terutama si pria berambut perak dikucir rendah itu.

Howarth bersandar santai di sisi dinding, tangan terlipat. Kael ber
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • The Alchemist's Touch    97 – She Choose The Enemy

    “Howarth—lepaskan aku!”Suara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.“Diam,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.”“Aku harus kembali—!” Josselyn berusaha memberontak lagi. “Anne—dia—”“Sudah mati.”Kalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewati—hutan kecil di dekat danau

  • The Alchemist's Touch    96 – The Letter in Her Dead Hand

    Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.“Seorang Alkemis… berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.”Suara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.“Saya hanya… mencari udara segar, Yang Mulia.”Sepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.‘Howarth!’Sekali lagi, ia memanggil di kepalanya.“Ah, jadi kau di sini.,” Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. “Aku mencarimu ke mana-mana.”Howarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar

  • The Alchemist's Touch    95 – The Girl in the Dungeon

    “Nona Josselyn, ini… surat untuk Anda.”Suara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersih—tapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakan—dingin, lembap dan… rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknya—napas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah… ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,

  • The Alchemist's Touch    94 – The King’s Hidden Hand

    Josselyn tidak langsung menjawab.Kata-kata Howarth masih menggantung di udara, seperti benang tipis yang tak terlihat… tapi perlahan menarik pikirannya ke arah yang tak ingin ia tuju.Orang yang salah.Itu tidak masuk akal.Atau… mungkin terlalu masuk akal.Ia menelan ludah. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.“Apa maksud Anda?” ulangnya pelan, suaranya nyaris berbisik.Howarth terdiam. Matanya yang tajam justru mengamati Josselyn. Menunggu sekaligus menilai respons gadis itu.Seolah ingin memastikan… apakah gadis itu benar-benar siap mendengar.“Kau sempat merasa aneh, kan?” katanya ringan, seolah sedang membahas gosip yang menarik.Josselyn mengernyit.“Aneh?”Howarth mengangkat bahu santai.“Raja,” lanjutnya santai. “Putranya dituduh mencoba membunuh Ratu… dan dia hanya duduk diam. Tenang sekali. Nyaris mengagumkan.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat dada Josselyn menegang. Ia memang memikirkannya.Sejak sidang itu. Sejak tatapan Raja yang terlalu tenang.“T

  • The Alchemist's Touch    93 – The Wrong Target

    ‘Kami tidak melakukan apapun. Jangan gegabah!’Josselyn tidak mengucapkannya. Tapi pikirannya menjerit jelas. Matanya tertuju pada Howarth.Dan pria berambut perak panjang itu—tertawa pelan. Seolah mendengar jeritan di hatinya.“Hmm… untuk saat ini?” kata Howarth santai sambil menyilangkan tangan, membalas tatapan Josselyn. “Mempercayai siapa pun terdengar seperti ide yang buruk.”Darius mendengus pelan. Ia merasa ucapan itu untuknya. Langkahnya maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Josselyn. Protektif. Menghalangi.“Oh ya?” balasnya dingin. “Kalau begitu, bagaimana denganmu?”Howarth mengangkat alis. Tatapannya bergeser pada Darius.“Kau mulai terdengar menarik,” Howarth memiringkan kepala. “Lanjutkan.”Darius menatapnya tajam.“Apakah kau yakin bisa dipercaya?” lanjutnya. “Bukankah kau yang merencanakan Madame Angeline muncul di istana ini?”Josselyn membeku. Nama itu mengusiknya.“Apa…?” bisiknya pelan.Matanya langsung beralih ke Howarth. Dengan tatapan menuntut

  • The Alchemist's Touch    92 – The King Who Said Nothing

    Josselyn menghela napas.Ia di sini lagi. Ruang sidang kerajaan, dipenuhi bisik-bisik.Para bangsawan duduk berderet, mengenakan pakaian terbaik mereka, tapi tak satu pun dari mereka terlihat benar-benar tenang. Mata mereka saling bertukar pandang. Suara-suara rendah memenuhi ruangan.Di ujung ruangan, singgasana berdiri megah.Dan di sana—Raja duduk. Wajahnya tenang. Terlalu tenang mengingat putra satu-satunya, pewaris tahta, akan disidang karena rumor yang mengerikan sebentar lagi.Josselyn berdiri di sisi ruangan, bersama para tabib dan alkemis lainnya. Tangannya terlipat di depan tubuhnya, tapi jemarinya terasa dingin.Di seberangnya—Killian.Putra Mahkota berdiri tegak, meskipun jelas bahwa semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya. Tatapannya lurus ke depan. Dingin. Tidak terbaca.Tapi Josselyn tahu, ada sesuatu yang pria itu sembunyikan.“Sidang dimulai.”Suara anggota dewan utama menggema di ruangan.“Putra Mahkota Killian,” lanjutnya, “Anda dituduh terlibat dalam percob

  • The Alchemist's Touch    91 – She Became His Accuser

    “Perintah siapa?” tanya Killian, nadanya meninggi.Tak ada jawaban. Atau lebih tepatnya—tak ada yang berani menjawab.Di dalam ruangan, Josselyn berdiri kaku. Cangkir itu masih ada di tangannya. Tangannya gemetar. Napasnya tidak lagi teratur.Ia tidak berani melihat ke arah pintu sekarang.Karena i

  • The Alchemist's Touch    90 – The Moment She Betrayed Him

    Kamar Ratu dipenuhi suara.Langkah kaki. Instruksi terburu-buru. Napas yang ditahan. Semua bercampur menjadi satu, menekan udara hingga terasa sesak.“Cepat, air hangat!”“Panggil tabib istana!”“Di mana alkemis itu?!”Suara-suara itu berloncatan tanpa arah hingga ke luar kamar. Membuat debaran jan

  • The Alchemist's Touch    89 – The Night He Was Denied

    Napas Josselyn belum sepenuhnya stabil.Punggungnya masih menempel pada dinding dingin ruang herbal, sementara kehangatan yang ditinggalkan Yorick di kulitnya belum benar-benar menghilang. Sentuhan itu… masih terasa. Terlalu nyata untuk diabaikan.Josselyn memejamkan matanya.“Dan hanya aku yang ta

  • The Alchemist's Touch    88 – The Kiss That Silenced the Truth

    “Kenapa rasanya jadi mereka yang mengontrolku?”Gumaman Josselyn keluar dari mulutnya tanpa sengaja.Josselyn mengingat kejadian beberapa menit lalu, di ruang sidang, tentang kata-kata Killian,“Jangan setengah-setengah…”Ucapan Darius,“... orang yang ragu akan hancur…”Dan kalimat yang paling ber

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status