Se connecterUcapan Yorick itu terus terngiang. Seolah menempel di kepalanya, tak mau pergi.“Putra Mahkota tak benar-benar menginginkan kesembuhan Ratu.”Josselyn berdiri diam di depan meja kayu Ruang Herbal. Tangannya yang semula sibuk memilah daun kering kini terhenti begitu saja.“Itu tidak masuk akal…”Gumamannya nyaris tak terdengar.Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu. Tidak. Ia tidak bisa begitu saja mempercayai kata-kata Yorick.Ia melihat sendiri.Bagaimana Killian berdiri di sisi ranjang Ratu. Bagaimana tatapannya berubah, lebih lembut dari biasanya. Cara tangannya menyentuh selimut itu—perlahan, hati-hati, seolah takut melukai sesuatu yang rapuh.Itu bukan sikap seseorang yang ingin kehilangan ibunya.“Aku tidak salah kan?”Josselyn meyakinkan dirinya. Tangannya mengumpulkan daun-daun kering yang telah dipilih dan memasukkannya ke sebuah wadah.Tapi pikirannya masih terasa penuh.Killian adalah anak satu-satunya. Pewaris tahta yang tak tergantikan. Seluruh kerajaan menaruh
“Aku sudah terlalu lama terlena…”Josselyn menyisir rambutnya ke belakang. Kilauan hitam rambutnya jatuh rapi di bahunya. Tapi yang ia lihat di cermin bukan lagi gadis yang sama seperti kemarin.Bayangan tentang kelima pria, yang hadir semenjak kehidupannya di istana, muncul.Lima pria.Dengan cara masing-masing… berhasil membuatnya lupa. Terutama Killian, Howarth, dan kini Yorick.“Seharusnya dari awal aku tak boleh mempercayai Yorick. Dia memang yang paling mencurigakan kan?” Tarikan napas panjangnya mengartikan kekecewaan pada dirinya.“Seluruh istana membicarakanku dari belakang, bahkan pelayan, prajurit sengaja menghindar. Hanya Yorick satu-satunya yang menyambutku dengan hangat.”Selimut itu.Kata “Ibu”.Aroma pahit yang familiar.Dan tatapan Yorick… yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Tangannya mengepal.“Baiklah. Aku tidak akan menunda lagi. Kepercayaan Killian sudah di tanganku. Jadi kau bisa lebih leluasa bergerak di istana ini.”Ucapannya penuh dengan kepercayaan diri.
Pintu kamar Ratu terbuka dengan cepat.Aroma obat langsung menyambut begitu Josselyn melangkah masuk—pekat, pahit, bercampur dengan wangi bunga yang mulai layu di sudut ruangan.“Lady Josselyn!”Seorang pelayan bergegas menghampirinya, wajahnya pucat. “Kami sudah mencoba memanggil Tuan Yorick, tapi—”“Aku di sini.”Suara tenang itu datang dari dalam ruangan.Josselyn mengangkat pandangannya.Yorick berdiri di sisi tempat tidur Ratu, jubahnya sedikit berantakan. Tapi wajahnya terlihat tenang—atau mungkin memang berusaha untuk tenang. Tangannya bergerak dengan pasti saat memeriksa denyut nadi Ratu.“Bagaimana kondisinya?” tanya Josselyn pelan, melangkah mendekat.“Tidak stabil,” jawab Yorick singkat. “Demamnya naik turun. Napasnya juga tidak teratur.”Josselyn mengangguk kecil. “Mungkin karena sudah mulai memasuki musim dingin.”Langkahnya berhenti tepat di sisi tempat tidur. Dan saat itulah matanya menangkap sesuatu.Selimut.Wol tebal, halus, dengan pola yang familiar. Ia seperti pern
Josselyn tidak langsung bergerak.Beberapa detik ia hanya berdiri di depan kaca kecil di sisi kedai teh, memandangi pantulan dirinya sendiri.Jepit rambut berbentuk kupu-kupu itu masih terpasang di sisi rambutnya. Biru, berkilau lembut setiap kali cahaya matahari menyentuhnya dari sela kanopi jalan festival.Ia mengangkat tangan perlahan, menyentuhnya.“…Cantik.”Suara itu keluar nyaris tanpa sadar.“Kau menyukainya?” Suara Killian muncul begitu dekat, nyaris menyentuh telinganya.Josselyn benar-benar menyukainya.Terlalu fokus pada pantulan itu, ia tidak menyadari bagaimana bibirnya sedikit melunak, bagaimana bahunya tidak lagi setegang sebelumnya.Sampai suara itu memecah pikirannya.“Kelompok prajurit sedang bergerak di sekitar area ini.”Josselyn menoleh.Darius berdiri tidak jauh dari Killian, wajahnya seperti biasa—dingin, terkontrol. Tapi matanya lebih tajam dari biasanya.“Kalau identitas Anda terbongkar, seluruh kota akan tahu Putra Mahkota kabur tanpa pengamanan.” lanjutnya
“Kenapa aku masih memikirkannya…”Josselyn menatap kosong ke arah jendela. Cahaya pagi sudah masuk sejak lama, tapi ia belum juga beranjak dari tempat tidurnya.Semalam seharusnya hanya menjadi malam biasa.Tapi tidak.Yorick yang keluar dari kamar Ratu.Tatapan Darius yang terlalu lama.Dan—sentuhan itu.Tangannya tanpa sadar bergerak ke pinggangnya sendiri. Ia masih bisa merasakan hangat telapak tangan itu, seolah belum benar-benar hilang dari kulitnya.Josselyn menggigit bibirnya.“...Kenapa justru itu yang kuingat…”Ia menarik tangannya cepat, seakan tersentuh api. Lalu, mengusap wajahnya dengan kasar.“Itu pasti hanya perasaanku saja.”Tapi bahkan saat ia mengatakannya, jantungnya tidak ikut setuju.“Yorick,” Tangannya masih tersangkut di atas kepalanya, di sela-sela rambut hitam indahnya.“Apa aku langsung bertanya padanya ya?” Tapi detik berikutnya ia menggelengkan kepala. “Aku ragu dia mau menjawabnya.”Josselyn menghembuskan napas panjang.“Tidak. Sudah cukup.”Ia menyingkap
“Kenapa aku jadi tidak mengantuk ya?” Malam itu terasa terlalu panjang. Josselyn menatap langit-langit kamarnya tanpa benar-benar melihat. Cahaya lilin di samping tempat tidurnya bergetar pelan, nyaris padam. Ia sudah mencoba tidur. Gagal. Memejamkan mata hanya membuat ingatan siang itu kembali. “Oh ya? Bukankah itu hal yang biasa?” Ucapannya kala itu terdengar santai dan kosong, tapi Josselyn menangkap kilat tak biasa di matanya. Walaupun ia buru-buru mengembalikan ekspresi hangatnya. Josselyn menghela napas panjang. “…Kenapa…” Ia berbisik pelan. Sejak pertama kali datang ke istana, hanya ada satu orang yang tidak membuatnya merasa seperti orang asing. Yorick. Hangat. Tenang. Mudah dipercaya. Terlalu mudah, ia seharusnya sadar itu. Josselyn menutup matanya. Denyutan nyeri muncul di sudut hatinya. Semuanya semakin jelas. Ramuan yang Yorick berikan pagi itu di ruang herbal. Aroma yang sama dari ramuan Kael di Desa Frostmere. Keduanya sama-sama memunculkan efek yang… tid
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan