LOGIN“Ya.”Jawaban itu datang tanpa jeda.Josselyn menatap Yorick lekat. “Ya?”“Kau yang memaksaku malam itu,” lanjut Yorick tenang. “Kau bilang kau tidak punya waktu menunggu. Kau ingin segera menemukan racikan yang tepat untuk Ratu.”Josselyn mengerutkan kening, ragu dan tak percaya. “Saya… memaksa Anda?”Yorick tersenyum tipis. “Kau sangat keras kepala malam itu.”Josselyn terdiam. Matanya menerawang, mencoba menggali ingatannya. Ia tak ingat pernah sengaja mabuk dengan minum alkohol.‘Atau aku tak sengaja meminumnya?’ Suara di kepalanya saling bersahutan. Memberikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.“Apa saya mengatakan sesuatu yang aneh?” tanyanya kemudian.“Selain fakta bahwa kau hampir tidak mau berhenti?” Yorick mengangkat bahu ringan. “Tidak.”Wajah Josselyn memerah, tiba-tiba bayangan tak seharusnya muncul di pikirannya.“Tidak berhenti—memang apa yang saya lakukan?”Yorick sejenak menatapnya, tatapannya menimbang, lalu tersenyum tipis.“Terus memaksaku untuk menjawab pertany
“TURUNKAN TANGAN ANDA.”Suara Darius yang rendah, cukup untuk menghentikan udara di sekeliling mereka.Josselyn, dengan dada naik turun, melihat Edmund yang membeku.Beberapa saat lalu, pria tua itu tersulut amarah dengan perkataan terakhir yang ia lontarkan. Tangan yang tak pernah mengelus kepalanya sejak ia dilahirkan, masih terangkat tinggi—seperti yang biasa ia lakukan, bersiap mendarat di pipi Josselyn.Namun perbedaannya kini pergelangan tangannya sudah lebih dulu tertahan.Darius berdiri di antara mereka, mencengkeram kuat tanpa memberi ruang sedikit pun.“Lepaskan aku,” desis Edmund.“Bukan ide yang bagus,” balas Darius datar.Tatapan Edmund beralih ke tangan yang menahannya, lalu ke wajah Darius.“Sejak kapan seorang ksatria bayangan berani menyentuh bangsawan?”Darius tidak bergerak. “Sejak bangsawan itu lupa di mana dia berdiri.”Arabella langsung menarik lengan Edmund.“Sudahlah,” katanya pelan, tapi tajam. “Kita tidak perlu mengotori tangan kita di tempat seperti ini.”Ed
Josselyn hampir bernapas lega saat Killian keluar dari tepi kolam. Air menetes pelan dari tubuh pria berpostur tegap itu, saat ia meraih jubah panjang yang telah disiapkan. Tanpa tergesa, ia mengenakannya, menutup tubuhnya dengan gerakan tenang seolah tak terjadi apa pun barusan. Darius sudah berdiri tegak di dekat pintu keluar. “Yang Mulia,” ucapnya singkat, bersiap mengikuti. “Tidak,” potong Killian datar. Menghentikan langkahnya tepat di belakang pintu. Darius mengangkat pandangan. “Antar dia ke kamarnya,” lanjut Killian tanpa menoleh. “Dan pastikan, dia tidak sempat berpikir untuk kabur.” Nada suaranya rendah. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih dingin. Darius mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Killian melangkah pergi dan menghilang di balik pintu, tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Josselyn menghembuskan napas panjang. “Bagus, dia sudah pergi,” “Jadi… sampai kapan kau akan berendam di sana?” Suara Darius membuat Josselyn tersentak. Di
Air beriak pelan saat Josselyn mundur.Tangannya refleks menyilang di depan dada, menutupi tubuhnya yang terendam setengah di dalam kolam. Napasnya tercekat begitu sosok itu semakin jelas di hadapannya.Killian berdiri di tepi kolam, menatapnya tanpa berkedip.“Kenapa Anda ada di sini?” ucap Josselyn cepat. Tapi sedetik kemudian ia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.‘Bodoh! Ini tempat rahasia Killian. Dia bisa kapan saja berada di sini. Justru kau, Josselyn! Kenapa kau di—’Gumaman di pikiran Josselyn langsung terpotong, saat ia melihat Killian sudah bertelanjang dada dan kini masuk perlahan ke kolam.Mata biru keabuan itu terus mengamatinya. Seperti sedang menganalisa sesuatu.“Tempat ini milikku. Dan untuk selanjutnya, akan menjadi tempat pertemuan rahasia kita berdua.” gumamnya pelan.Josselyn mengernyit. “Apa maksud Anda?”Killian melangkah mendekat—tenang, tanpa riak.Josselyn kembali bergerak mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding kolam.“Berhenti di situ!” d
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahnya kaku seperti biasa.“Waktumu terbatas,” katanya dingin. “Bersiaplah.”Josselyn mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa berat. Bahkan tubuhnya juga terasa aneh.“Bersiap untuk apa?” suaranya serak. Ia mencoba untuk duduk.Darius menatapnya sekilas. “Kau dibebaskan.”Josselyn berhenti memijit kepalanya. Pandangannya naik, menatap manik mata Darius yang tertimpa cahaya obor.“…Apa?” “Dengan syarat.” Darius memotong cepat. Ekspresinya yang keras seolah tak nyaman melihat semburat harapan yang muncul di wajah gadis itu.Josselyn menghela napas berat. Wajahnya menunjukkan kelelahan luar biasa.“Syarat apa?” tanyanya sedikit malas.“Bukan tugasku menjelaskan,” jawab Darius singkat. “Be
“Yorick sudah meninggalkan penjara bawah tanah semalam, Yang Mulia.” Darius mempercepat langkahnya mengimbangi Killian. “Kau membiarkannya berdua saja dengan Josselyn di sel?” tanya Killian dingin, tanpa menoleh. “A-ada dua penjaga di luar sel. Saya pikir Josselyn butuh ruang untuk perawatan lukanya.” jawab Darius gugup. Killian belok di tikungan terakhir. Melewati dua penjaga berbadan kekar, lalu menuruni tangga yang curam menuju ruangan gelap gulita. Darius segera menyambar obor dari sisi dinding. Mengangkatnya lebih tinggi untuk menerangi koridor pengap itu. “Tapi, Yang Mulia… penjaga mendengar sesuatu yang aneh saat Yorick datang.” Darius melapor. Sontak Killian menghentikan langkahnya. Ia berbalik serong menghadap Darius. “Katakan.” “Tentang luka… dan….” Darius mencoba mengingat. “Menutup sempurna.” Killian mengernyitkan dahi. “Bicara yang jelas.” Ia melanjutkan langkahnya. Menyusuri lorong dingin dan panjang itu. Bayangan api yang meliuk-liuk di sekitar din







